Selamat Tinggal Yohana!

Hari yang disebutkan Ami tiba juga. Hari dimana Yohana dan Alif akan terbang ke Sumatra, lalu menikah di sana. Aku tersentak membayangkan ia akan menikah untuk kedua kalinya. Apakah kami benar-benar tak akan berjodoh?

"Ahhh,apa peduliku dengan semua itu!" aku kembali berpaling, menyibukkan diri sendiri dengan komik yang sudah lama dibeli namun belum sempat dibaca. Sialnya, bukannya larut dengan bacaan, aku malah terpikir akan Yohana.

Kala itu, kami baru saja menjadi murid SMA. pertama kalinya kami merasakan kalau sebenarnya kami sama-sama saling menyukai namun baru terungkap saat itu. Meski ada debar-debar dan punya kesempatan untuk bersama, tapi kami selalu memilih menjaga jarak agar tak kelepasan sehingga membuat Abah curiga. Meski begitu kami sudah merasa sangat bahagia.

Kami juga ingin sama-sama menjaga diri agar nanti setelah halal bisa merayakan kemenangan sebab berhasil menjaga diri di saat teman-teman lain bisa bebas pacaran, jalan berdua ataupun nonton seperti muda-mudi yang lain. Rasanya lebih nikmat jika menikmati sesuatu yang halal.

Sayangnya, sepandai-pandainya kami menutupi perasaan satu sama lain, pada akhirnya ketahuan oleh Abah juga. Tak sengaja Abah menemukan buku penghubung antara kami yang disebabkan oleh keteledoranku, dan membacanya. Abah naik pitam, nyaris memberhentikan kami sekolah tapi untungnya Abah masih mengikuti masukan bunda hingga kami dibiarkan ikut ujian kelulusan. Begitu resmi lulus, Abah langsung memerintahkan bang Sigit untuk menikahi Yohana. Alasan Abah, bang Sigit sudah punya pekerjaan, sementara aku hanya lulusan SMA yang belum tahu masa depannya.

Harapanku untuk bersama Yohana pupus setelah bang Sigit mengucap ijab dan wali hakim mewakili menjawab Qabul. Aku telah kehilangan Yohana untuk selamanya. Perasaan cinta yang begitu besar padanya telah hilang, berganti dengan kebencian dan dendam. Bahkan aku benar-benar tak Sudi untuk melihatnya. Saat kepergian bang Sigit selamanya mempertemukan kembali kami di ruang tamu rumah. Ia masih duduk termenung di depan jenazah, aku duduk di hadapannya. Kami tak saling lihat, tak saling bicara. Namun sama-sama merasa sedih kehilangan salah satu anggota keluarga.

Beberapa waktu lalu, setelah tiga bulan kepergian bang Sigit, ibu menawarkan agar aku menjadi suami Yohana, menggantikan posisi abangku, demi Alif. Aku tak mau namun juga tak menolak sebab sejujurnya aku tak tahu bagaimana perasaanku sekarang padanya. Yang aku tahu, aku membencinya karena hanya perasaan itu yang ku pelihara untuknya.

Pukul delapan lewat lima belas, aku langsung berlari keluar, mengambil kunci motor dan memacunya sekencang yang ku bisa. Entah apa yang ada di pikiranku, aku juga tak ingin tahu perasaanku pada Yohana saat ini, yang kuinginkan hanya bisa melihatnya, entah ini adalah pertemuan terakhir kami, yang jelas aku ingin melihatnya, melihat orang yang paling ku benci di muka bumi ini.

Sialnya, jalanan Jakarta Selatan pagi ini cukup padat, aku sampai tak berhenti mengklakson, berharap mereka minggir namun yang ku dapat malah makian dari penghuni jalan lainnya.

"Sabar dong, kayak mau ma-- aja Lo!" maki salah satu supir angkot yang sempat ku pepet. Aku tak peduli, terus melaju di antara kemacetan. Dimana ada kesempatan nyalip, maka aku akan masuk.

Karena jalanan masih saja macet, aku memutuskan untuk lewat jalan tikus. Berusaha semaksimal yang ku bisa. Bersamaan dengan itu, Hp ku terus berbunyi. Rupanya Ami yang menelepon, mengabari kalau Yohana sudah berangkat ke Bandara.

"Sial, benar-benar sial!" aku nyaris ingin menangis. Merasa sudah tak punya kesempatan lagi untuk mengejar Yohana.

[Bang, coba kejar kak Yohana ke bandara, siapa tahu dapat. Di keberangkatan ya. Kemungkinan ini terakhir bisa bertemu dengannya. Kak Yohana pergi tak membawa Alif, ia pulang bersama paman dan bibinya, kecil kemungkinan untuk bisa bertemu lagi.] Ami menjelaskan terminal keberangkatan Yohana.

Merasa mendapat kesempatan meski sangat kecil, aku langsung putar arah menuju bandara. Mencoba membelah kemacetan kota Jakarta. Motor tua ini benar-benar ku andalkan. Saat itu aku hanya bisa pasrah pada Tuhan. Jika memang aku dan Yohana masih ada jodoh, kami pasti bertemu, apapun caranya.

"Han, aku nggak tahu bagaimana perasaanku sekarang padamu, tapi yang jelas, aku tak bisa membohongi diri sendiri, meski aku sangat membenci kamu, tapi saat ini aku ingin bertemu. Aku butuh kamu, ditengah banyaknya masalah yang menimpaku, aku ingin melihat wajahmu sekali lagi agar hatiku tenang. Ikhlas merelakan masa lalu kita." aku menyelipkan doa di antara zikir saat perjalanan menuju bandara.

***

"Yohana, kamu dimana?" Aku terus menyelinap di antara kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang akan berangkat. Aku menyesal tadi tak meminta nomor Yohana dari Ami sehingga sekarang harus kesulitan mencari keberadaannya. Saat benar-benar putus asa, tiba-tiba seseorang memanggil namaku.

"Ben?" suara seseorang yang entah kenapa sekarang menjadi seseorang yang sangat aku rindukan.

"Han," saat aku berbalik, Yohana sudah berdiri beberapa meter dariku. "Han ... Yohana!" kataku, aku berjalan mendekat.

"Kamu datang Ben?" Ia menatapku penuh haru.

"Ya. Aku ingin bertemu kamu ... apakah ini terakhir kita bertemu?"

"Aku akan dinikahkan Ben,"

"Ya, aku sudah tahu. Ami sudah menceritakannya."

"Maafkan aku Ben, aku tak bisa menolaknya sebab aku tak berani berharap padamu lagi, aku sudah mengecewakan kamu. Maafkan aku Ben." ucap Yohana.

"Yohana!" salah satu kerabat yang menjemput Yohana memanggilnya. "Ayo pergi."

"Iya paman, sebentar." Kata Yohana. "Ben, maafkan aku, jika ini pertemuan terakhir kita, aku memohon keikhlasan kamu atas apa yang pernah terjadi di masa lalu. Percayalah, aku tak ingin mengkhianati kamu Ben, tapi keadaan yang tak memungkinkan, membuatku tak bisa menolak permintaan Abah dan Bunda. Maafkan aku Ben, ku harap kamu mau mengerti dan memaafkan aku." Pinta Yohana.

Saat itu, kebencian yang teramat besar pada Yohana hilang. Berganti dengan rasa takut. Takut kehilangannya untuk kedua kalinya. Tapi semua sudah sangat terlambat, aku sudah terlanjur menolak Yohana dan sekarang harus merasakan kehilangan untuk kedua kali. Itulah kenapa penyesalan selalu datang belakangan. Menyesal sudah mengambil keputusan saat dalam keadaan emosi, padahal itu paling dilarang karena biasanya keputusan yang diambil dalam keadaan marah adalah keputusan yang tak bijak karena mengedepankan ego saja.

"Han, aku berdoa ... Semoga kamu bahagia. Bisa bersama dengan orang yang mencintai kamu dan kamu pun dengan suka rela mencintainya." Kataku.

Yohana mengangguk, ia sempat menitikkan air mata. Kami mengakhiri pembicaraan ini sebab sudah tak baik jika dilanjutkan. Yohana saat ini sudah dipinang orang, pantang mengucapkan cinta pada perempuan yang sudah dilamar orang.

Terpopuler

Comments

ig: ananda.putri865

ig: ananda.putri865

Aku mampir😍

2023-01-12

1

Penggemar

Penggemar

waahhh....benar2 kisah hidup yang rumit.....semoga semakin bagus thor

2023-01-12

1

lihat semua
Episodes
1 Disuruh Pulang
2 Dalam Penjara Kuasa Abah
3 Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4 Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5 Permintaan Atau Paksaan
6 Abah Yang Toxic
7 Reni ... Reni
8 Permintaan Maaf Yohana
9 Kacau
10 Kabar Buruk Tentang Reni
11 Jangan Pergi, Ren!
12 Selamat Tinggal Yohana!
13 Ada Reni!
14 Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15 Buku Catatan Abah
16 Cerita Ami
17 Rahasia Yang Sebenernya
18 Permintaan Ayah Reni
19 Tanggung Jawab
20 Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21 Kabar Ingin Menikah
22 Isi Hati Bunda
23 Setelah Akad
24 Setelah Enam Bulan
25 Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26 Bersama Yohana
27 Harapan Membahagiakan Yohana
28 Usaha Untuk Bertahan
29 Baju Kurung Untuk Yohana
30 Apakah Kamu Bahagia, Han?
31 Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32 Reni Datang
33 Berdebat Dengan Reni
34 Reni Sakit
35 Reni Belum Bisa Dipulangkan
36 Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37 Hinaan Reni
38 Orang Tua Reni Datang
39 Nasib Orang Miskin
40 Saling Adu
41 Hanya Kamu Seorang
42 Double Date?
43 Penolakan Reni
44 Ketahuan?
45 Yohana, Kamu Dimana?
46 Reni Meniru Yohana
47 Reni Akhirnya Pergi
48 Pulanglah, Ben!
49 Demi Sebuah Bakti
50 Putusan Cerai
51 Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52 Tiga Ganjalan Besar (1)
53 Tiga Ganjalan Besar (2)
54 Bertemu Anak-anak Pak Diki
55 Bunda Meninggal
56 Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57 Dua Hambatan Telah Selesai
58 Akhirnya Bertemu Yohana
59 Yohana: Pergilah Ben!
60 Lelaki Yang Disebut Monster
61 HAMBATAN SEBELUM PERGI
62 Menjemput Upik Dan Puti
63 Kejutan Tasyakuran
64 Membesuk Abah
65 Yohana Yang Suci
66 Mbak Lila Ingin Pergi
67 Hambatan-hambatan
68 Membawa Abah Pulang
69 Kecurigaan Ami
70 Kecurigaan Ami (2)
71 Sebelum Abah Pergi
72 Peristirahatan Terakhir
73 Mbak Lila Menikah
74 Tahun Pertama Pernikahan
75 Tentang Anak
76 Marah
77 Menjadi Pelayan Yohana
78 Salam Perpisahan
79 Anak-anak Hilang
80 Mencari Anak-anak
81 Bangkitlah Yohana
82 Seorang Anak Yang Terpilih
83 Tiga Orang Putri
84 Setelah 12 Tahun
85 Anak Magang
86 Desas-desus
87 Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88 Pulang
89 Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90 Dugaan
91 Kamu Harus Pergi
92 Kejutan Dari Nilam
93 Masalah Demi Masalah
94 Informasi Genta
95 Bertemu Upik
96 Cerita Upik
97 Caca Cemburu
98 Keinginan Puti
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Disuruh Pulang
2
Dalam Penjara Kuasa Abah
3
Dalam Penjara Kekuasaan Abah (2)
4
Kepergian Bang Sigit Yang Ditangisi.
5
Permintaan Atau Paksaan
6
Abah Yang Toxic
7
Reni ... Reni
8
Permintaan Maaf Yohana
9
Kacau
10
Kabar Buruk Tentang Reni
11
Jangan Pergi, Ren!
12
Selamat Tinggal Yohana!
13
Ada Reni!
14
Ada Abah Dimakam Bang Sigit
15
Buku Catatan Abah
16
Cerita Ami
17
Rahasia Yang Sebenernya
18
Permintaan Ayah Reni
19
Tanggung Jawab
20
Ayah Reni: Tolong Nikahi Putriku!
21
Kabar Ingin Menikah
22
Isi Hati Bunda
23
Setelah Akad
24
Setelah Enam Bulan
25
Takdir Bertemu Kembali Dengan Yohana
26
Bersama Yohana
27
Harapan Membahagiakan Yohana
28
Usaha Untuk Bertahan
29
Baju Kurung Untuk Yohana
30
Apakah Kamu Bahagia, Han?
31
Jalan-jalan Keliling Bukittinggi
32
Reni Datang
33
Berdebat Dengan Reni
34
Reni Sakit
35
Reni Belum Bisa Dipulangkan
36
Reni: Ben, Ayo Kita Pulang Bersama
37
Hinaan Reni
38
Orang Tua Reni Datang
39
Nasib Orang Miskin
40
Saling Adu
41
Hanya Kamu Seorang
42
Double Date?
43
Penolakan Reni
44
Ketahuan?
45
Yohana, Kamu Dimana?
46
Reni Meniru Yohana
47
Reni Akhirnya Pergi
48
Pulanglah, Ben!
49
Demi Sebuah Bakti
50
Putusan Cerai
51
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah
52
Tiga Ganjalan Besar (1)
53
Tiga Ganjalan Besar (2)
54
Bertemu Anak-anak Pak Diki
55
Bunda Meninggal
56
Hari Pertama Setelah Kepergian Bunda
57
Dua Hambatan Telah Selesai
58
Akhirnya Bertemu Yohana
59
Yohana: Pergilah Ben!
60
Lelaki Yang Disebut Monster
61
HAMBATAN SEBELUM PERGI
62
Menjemput Upik Dan Puti
63
Kejutan Tasyakuran
64
Membesuk Abah
65
Yohana Yang Suci
66
Mbak Lila Ingin Pergi
67
Hambatan-hambatan
68
Membawa Abah Pulang
69
Kecurigaan Ami
70
Kecurigaan Ami (2)
71
Sebelum Abah Pergi
72
Peristirahatan Terakhir
73
Mbak Lila Menikah
74
Tahun Pertama Pernikahan
75
Tentang Anak
76
Marah
77
Menjadi Pelayan Yohana
78
Salam Perpisahan
79
Anak-anak Hilang
80
Mencari Anak-anak
81
Bangkitlah Yohana
82
Seorang Anak Yang Terpilih
83
Tiga Orang Putri
84
Setelah 12 Tahun
85
Anak Magang
86
Desas-desus
87
Mungkin Sudah Masuk Jebakan
88
Pulang
89
Seseorang Yang Datang Ke Rumah Kami
90
Dugaan
91
Kamu Harus Pergi
92
Kejutan Dari Nilam
93
Masalah Demi Masalah
94
Informasi Genta
95
Bertemu Upik
96
Cerita Upik
97
Caca Cemburu
98
Keinginan Puti

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!