Semua peristiwa yang baru saja berlangsung itu terjadi dengan sangat cepat. Berbeda dengan menulisnya yang membutuhkan waktu lama.
Setelah terbunuhnya semua anggota Partai Panji Hitam yang ikut bersama Lima Siluman Tanpa Ampun, sekarang suasana di sana langsung sepi hening.
Tidak ada suara apapun lagi yang terdengar. Kecuali hanya suara hembusan angin pegunungan dan kicau burung di dalam hutan.
Puluhan mayat manusia bergelimpangan di tengah lapang yang luas itu. Darah segar sudah membanjiri seluruh area. Seolah-olah di sana telah terjadi banjir. Tapi bukan banjir air, melainkan banjir darah.
Bau amis tercium dengan jelas. Sedikit bau gosong sesekali juga tercium terbawa angin gunung.
Lima Siluman Tanpa Ampun masih berdiri mematung di tempatnya berdiri. Tatapan mereka kosong. Entah apa yang ada dalam pikiran orang-orang itu.
Yang jelas mereka tampak berbeda dari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, si Telapak Tangan Kematian seolah-olah baru tersadar dari mimpinya. Mendadak ia menoleh ke arah Zhang Xin yang pada saat itu sudah mandi darah.
Ia berlutut, lalu segara memeriksa urat nadi di tangan si Pedang Kilat. Dilanjut lagi dengan memeriksa detak jantungnya.
Ternyata denyut nadi dan detak jantung si Pedang Kilat Zhang Xin masih ada meksipun memang sudah sangat lemah sekali.
Walaupun begitu, baginya masih ada harapan.
Ia segera menyalurkan hawa murni ke tubuh pendekar pedang itu. Segenap tenaga dan kekuatan segera dikeluarkan olehnya.
Lewat beberapa saat kemudian, usaha yang ia berikan itu tidak sia-sia. Zhang Xin mendadak batuk beberapa kali.
"Pe-percuma saja. Aku ... aku sudah tidak kuat, luka ini terlalu parah," ia berkata dengan susah payah dan batuk-batuk tiada hentinya.
Kondisinya memang sudah mengkhawatirkan. Seluruh tubuhnya sudah dipenuhi oleh darah segar. Bahkan di beberapa bagian tubuh masih terdapat senjata musuh yang menancap cukup dalam.
"Jangan terlalu banyak bergerak, Tuan. Setidaknya kau masih bisa bicara untuk beberapa saat," kata tokoh sesat itu.
Sambil bicara, dia juga tidak menghentikan usahanya. Si Telapak Tangan Kematian terus menyalurkan hawa murni sampai Zhang Xin benar-benar pulih.
Setelah dirasa cukup, ia segera menarik kembali kedua telapak tangannya.
"Hahh ..."
Orang tua itu menghela nafas berat. Walaupun ia menyalurkan hawa murni sebentar, tapi tenaga yang harus dikeluarkan tentunya tidak sedikit. Karena itulah ia merasa cukup lelah.
"Sekarang kalau ada yang ingin kau katakan, coba katakanlah, Tuan Zhang," ucapnya kemudian.
Zhang Xin tersenyum. Senyuman yang dipenuhi oleh darah.
Diam-diam ia sangat merasa berterimakasih kepada musuhnya itu. Walaupun sebagai musuh, tapi ternyata dia bahkan mau menyelamatkan selembar nyawanya.
Hutang budi di masa lalu sudah terbayar dengan lunas.
"Aku ... aku hanya ingin menitipkan ini apabila anakku kembali nanti," Zhang Xin mengeluarkan sepucuk surat dari balik saku bajunya.
Setelah berhenti sejenak, dia segera berkata lagi. "Aku juga mempunyai satu permohonan kepadamu,"
"Apa itu?" tanya si Telapak Tangan Kematian dengan cepat.
"Ubah jalan hidupmu. Dan aku menitipkan anakku kepadamu. Jaga dia baik-baik, angkatlah sebagai muridmu,"
Walaupun si Pedang Kilat Zhang Xin tahu bahwa orang tua yang ada di depannya itu bukan tokoh dari aliran putih, tapi di sisi lain dia juga yakin bahwa si Telapak Tangan Kematian bisa dan mau mengubah jalan hidupnya.
Meskipun tokoh sesat tersebut tidak mengatakan apapun. Tapi Zhang Xin tahu bagaimana dan apa yang dikatakan oleh hati kecilnya.
Maka dari itulah ia berkata seperti barusan.
Si Telapak Tangan Kematian sebenarnya ingin menjawab, namun sebelum jawaban keluar dari mulutnya, nyawa pendekar besar itu malah sudah keluar dari badan.
Si Pedang Kilat telah tewas. Tewas setelah mengungkapkan keinginannya.
Mengetahui tokoh besar itu telah tiada, tanpa disadari dua titik air mata segera terjatuh membasahi pipinya.
"Pergilah dengan tenang," ucapnya lirih.
Sementara itu, berbarengan dengan kejadian barusan, di sisinya empat anak buah yang ada juga segera melakukan hal yang sama.
Mereka pun mencoba menyalurkan hawa murni kepada Liu Lin.
Sayangnya usaha itu tidak berhasil. Liu Lin tidak bisa mempertahankan selembar nyawanya lebih lama.
Luka yang dia derita pun sangat parah. Wanita itu tidak bisa menahan diri lagi. Karenanya, ia tewas lebih dulu sebelum suaminya.
Sekarang orang hidup yang ada di sana hanyalah Lima Siluman Tanpa Ampun. Mereka belum pergi, orang-orang itu masih berdiam di sisi mayat sepasang pendekar tersebut.
"Segera kuburkan keduanya," perintah si Telapak Tangan Kematian.
"Baik,"
Empat anak buahnya menjawab secara serempak. Baru saja mereka berniat untuk membawa dua jasad itu, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar ada seseorang yang berseru dengan kencang.
"Ayah ... Ibu ..."
Teriakan itu menggelegar dan menggetarkan langit bumi.
Tidak lama kemudian, terlihat ada satu bayangan manusia yang sudah melesat dengan cepat ke arahnya.
Zhang Fei!
Orang yang berteriak barusan bukan lain adalah dirinya.
Saat mengetahui kedua orang tuanya telah tiada, tanpa sadar ia langsung menjatuhkan belanjaan yang sebelumnya telah dibeli di kota.
"Manusia jahanam! Kubunuh kalian," Zhang Fei berteriak kembali.
Tanpa memikirkan hal apapun, anak muda itu langsung menyerang Lima Siluman Tanpa Ampun dengan kalap.
Serangan beruntun langsung digelar. Berbagai macam jurus yang telah ia pelajari belakangan ini juga segera dilepaskan mengarah kepada lima orang musuhnya.
Pukulan dan tendangan tampak tiada henti. Teriakan yang menggetarkan jiwa terus terdengar.
Lima Siluman Tanpa Ampun kaget. Tapi sebagai tokoh kelas atas, tentu saja tingkat kewaspadaan mereka melebihi siapa pun.
Ketika mengetahui ada seseorang yang menyerangnya dengan cara mendadak, secara serempak mereka mengambil langkah.
Dua orang anggota langsung menyambut datangnya serangan yang diberikan oleh Zhang Fei. Adu pukulan dan tendangan tidak terhindarkan lagi.
Wushh!!! Wushh!!!
Angin tajam menderu-deru mengibarkan pakaian yang mereka kenakan.
Anak muda itu terus menyerang mengandalkan segenap tenaga dan kekuatan yang dimiliki olehnya.
Ia tidak perduli siapa dan seberapa kuat lawannya. Yang ada di pikirannya saat ini, lima orang itu harus dibunuh!
Sebab mereka yang telah membuat kedua orang tuanya tewas!
Wutt!!! Wutt!!!
Belasan jurus telah berlalu. Semua jurus sudah digelar. Segenap tenaga telah dikeluarkan.
Namun usaha yang dilakukan oleh Zhang Fei belum juga membuahkan hasil. Kedua lawannya itu belum juga tewas. Jangankan begitu, terluka oleh serangannya saja belum.
'Kuat sekali dua orang ini. Kalau begini terus, mustahil aku bisa membunuhnya,' batin anak muda itu di tengah-tengah pertarungan.
Wutt!!! Blarr!!!
Dari sisi kiri tiba-tiba melesat sebuah pukulan jarak jauh. Ledakan besar tercipta. Tiga orang yang terlibat dalam pertarungan itu langsung melompat mundur ke belakang sana.
"Anak muda, tahan dulu. Jangan kau ikuti nafsumu. Kita bisa bicarakan semua ini dengan kepala dingin," ujar si Telapak Tangan Kematian sambil berjalan ke arah Zhang Fei.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Iron Mustapa
mantap jiwa Thor
2023-11-13
1
Imam Sutoto Suro
beneran keren thor lanjut
2023-09-04
1
Randy
😎😎👍👍
2023-01-17
2