Pertarungan tokoh kelas atas seperti mereka selalu saja menimbulkan akibat yang luar biasa. Contohnya saja sekarang, pertempuran antara si Pedang Kilat melawan si Telapak Tangan Kematian baru mencapai dua puluh jurus, namun akibatnya sungguh tidak main-main.
Batu-batu karang berterbangan seolah dihempaskan oleh angin ****** beliung. Debu mengepul tinggi ke angkasa, seakan-akan di sana ada ribuan kuda yang berlari dengan kencang.
Belum lagi dengan hawa pembunuh yang terasa begitu pekat.
Hawa pembunuh tersebut tentu saja berasal dari kedua belah pihak yang terlibat.
Para anggota Partai Panji Hitam yang terdapat di sana tidak ada satu pun yang mampu menyaksikan jalannya pertarungan dengan jelas. Terutama sekali pertarungan milik si Pedang Kilat.
Orang-orang itu hanya mampu melihat ada sekelebat bayangan dan cahaya yang tidak pernah berhenti. Selain daripada itu, rasanya tidak ada lagi yang sanggup mereka saksikan.
Saat ini, si Pedang Kilat Peang berada di pihak penyerang. Pendekar besar itu sudah mengeluarkan jurus ketiga yang merupakan tingkatan terakhir dari jurus Jari Awan.
"Jurus Jari Guntur!"
Diberi nama seperti itu tak lain karena setiap tusukan jari maupun gerakannya, mempunyai tenaga dan perbawa menyeramkan layaknya guntur yang menggelegar.
Setiap tusukan jari itu mengandung tenaga sangat dahsyat. Konon katanya, kalau ia sudah mengeluarkan seluruh tenaga sampai ke titik maksimal, maka batu pun bisa ia lubangi dengan cukup mudah.
Dari sini saja, siapa pun tentunya sudah bisa membayangkan betapa hebat dan menakutkannya jurus terakhir itu.
Suara desingan tajam seperti kelebatan pedang terdengar dan terasa dengan jelas. Si Telapak Tangan Kematian tidak berani bertindak gegabah.
Terutama sekali setelah si Pedang Kilat mengeluarkan jurus terakhirnya itu.
Sebagai tokoh angkatan tua, apalagi mempunyai nama besar dan memiliki pengalaman banyak, tentu saja dia pun mengerti dengan kehebatan lawannya.
Maka dari itu, untuk menanggulangi sesuatu yang tidak diinginkan, si Telapak Tangan Kematian memutuskan pula untuk mengeluarkan jurusnya yang jauh lebih hebat.
"Telapak Rembulan Kesepian!"
Wushh!!!
Ia membentak dengan nyaring. Disusul kemudian dengan serangan kedua telapak tangan yang membawa hawa dingin. Dingin seperti es.
Setelah mengeluarkan jurus kelima itu, dirinya berusaha untuk terus mencecar si Pedang Kilat.
Kelebatan tubuhnya bertambah cepat. Tidak ada celah kosong dari setiap serangan yang ia berikan. Semua jalan keluar lawan sudah tertutup rapat oleh bayangan telapaknya.
Tinggal menunggu waktu yang tepat, maka dia akan menyerang titik paling mematikan di tubuh manusia.
Tetapi, kapan waktu yang tepat itu akan tiba?
Si Pedang Kilat pun sekarang sedang berusaha bertahan dari gempuran lawannya. Beberapa kali ia hampir terkena telapak tangan yang mematikan itu. Untunglah dirinya mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi. Sehingga ia bisa selamat dari setiap bahaya yang mengancamnya.
Namun karena diserang tanpa berhenti, pada akhirnya celah kosong pun tanpa sengaja telah dia ciptakan.
Plakk!!!
Akibat dari kelalaiannya tersebut, si Telapak Tangan Kematian akhirnya berhasil memasuki area pertahanannya.
Ujung dada sebelah kanannya berhasil dihantam dengan telak. Zhang Xin terdorong mundur sejauh lima langkah.
Ia hampir saja jatuh tersungkur ke tanah. Untunglah dirinya bisa segera menyeimbangkan dirinya. Sehingga mulutnya tidak sampai mencium tanah.
Akibat dari serangan barusan, di Pedang Kilat Zhang Xin segera merasakan sesak nafas. Sesaat kemudian dia mulai batuk-batuk tanpa henti.
Tidak lama setelah itu, sesuatu segera keluar dari mulutnya.
Darah!
Sesuatu yang dimaksud tersebut bukan lain adalah darah.
Semua orang tahu, kalau sudah mengeluarkan darah saat batuk, sudah tentu orang itu mengalami luka dalam.
Tidak terkecuali dengan si Pedang Kilat Zhang Xin sendiri.
Karena hantaman telapak tangan lawannya, dia sekarang menderita luka dalam yang cukup parah. Untuk beberapa waktu, ia tidak bisa melakukan apapun.
Zhang Xin hanya bisa berdiri dalam diam sembari berusaha mengobati lukanya tersebut.
"Tidak perlu terburu-buru, obati dulu saja lukamu itu. Aku akan menunggu," kata Telapak Tangan Kematian merasa sedikit bersalah.
"Terimakasih," Zhang Xin tersenyum. Ia kemudian duduk bersila lalu segera memejamkan matanya untuk melakukan meditasi barang beberapa saat.
Sementara itu di sisinya, Liu Lin sekarang sedang digempur oleh empat anak buah Telapak Tangan Kematian.
Keempat orang itu terus-menerus menyerang tanpa berhenti. Empat macam senjata tajam selalu saja berusaha menembus tubuhnya.
Setiap gerakan mereka penuh dengan perhitungan. Kerja sama yang dilakukan juga terbilang sangat baik. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Semua gerakan yang mereka lakukan telah melewati perkiraan yang begitu tepat.
Untunglah Liu Lin bukan orang biasa. Walaupun ia seorang wanita, tapi kemampuannya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Apalagi dalam hal permainan selendang. Ia benar-benar hebat. Selendang yang digunakan olehnya bisa bergerak sesuai dengan keinginannya.
Selendang tersebut bisa lemas seperti tali. Bisa juga keras layaknya tongkat baja.
Justru karena kemampuannya itulah ia bisa bertahan di tengah-tengah gempuran empat orang lawannya yang tanpa berhenti.
Kalau saja permainan selendangnya tidak setinggi itu, mungkin sudah sejak awal Liu Lin tewas.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!! Wutt!!!
Empat macam senjata tajam melesat secara serempak. Dua dari kanan dan kiri. Dua lagi dari arah depan belakang.
Menghadapi serangan serempak seperti itu, wanita tersebut kemudian memutarkan tubuhnya. Selendang miliknya ikut berputar. Saat menemukan waktu yang tepat, selendang itu langsung melilit dua macam senjata lawan.
Berhasil dengan usaha itu, ia segera melanjutkan dengan cara menendang dua senjata sisanya.
Perjuangannya itu kembali membuahkan hasil. Dua senjata lawan dapat ia patahkan. Sekarang posisinya sudah kembali.
Wushh!!!
Ia menarik selendang dengan hentakan tenaga hebat. Dua lawan mau tak mau harus melompat mendekatinya. Liu Lin kembali melancarkan tendangan yang dengan telak mengenai titik mematikan.
Keluhan tertahan segera terdengar. Dua musuh limbung dan hampir ambruk ke tanah.
Saat itu sebenarnya ia sudah bisa menghabisi dua musuh tersebut. Sayangnya ia keburu lengah sehingga tidak melihat serangan lanjutan dari lawan sebelumnya.
Srett!!!
"Uhh ..."
Darah segar langsung keluar dari lengan kanannya. Lengan kanan wanita itu mengalami luka robek akibat goresan golok tajam.
Tidak berhenti sampai di situ saja, pihak lawan kembali melancarkan serangan yang selanjutnya.
Detik demi detik berlalu. Posisi Liu Lin semakin terancam. Beberapa jurus digempur dengan hebat, pada akhirnya ia tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti lagi.
Di sisi lain, berbarengan dengan kejadian barusan, si Pedang Kilat Zhang Xin kebetulan juga sudah siap untuk melanjutkan pertarungannya lagi.
Tapi sebelum ia menyerang, si Telapak Tangan Kematian malah sudah lebih dulu berkata.
"Keluarkan Pedang Maut milikmu. Aku ingin menguji jurus Sembilan Telapak Sesat milikku ini," katanya dengan sungguh-sungguh.
"Tidak bisa," jawab Zhang Xin seraya menggelengkan kepala beberapa kali. "Kau tidak menggunakan senjata, bagaimana mungkin aku harus menggunakan pedangku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Gan Gian
ini berkelahi apa sparing thor??
2023-12-03
2
Iron Mustapa
😰😰😰😰😰😰😰
2023-11-13
0
n max
sesuatu yg di maksud tersebut apa artinya bahasa dari planet mana ini ?
2023-10-07
1