Pakaian kelima orang itu seragam. Mengenakan pakaian serba putih. Ikat kepala putih, sabuk pun warna putih.
Lima Harimau Pembela Kebenaran tampak gagah perkasa. Mereka seperti prajurit perang yang sudah siap menghadapi kematian.
Dan memang, kenyataannya juga demikian. Mereka siap bertempur. Mereka siap mengorbankan nyawanya demi membela kehormatan sang majikan.
Masing-masing dari mereka sudah membawa senjatanya tersendiri. Setiap senjata itu tidak boleh dipandang ringan. Apalagi, pusaka-pusaka tersebut sudah pernah menelan korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya.
"Kita tunggu mereka di halaman luar," ujar si Harimau Utama.
"Baik," jawab yang lain secara serempak.
Wushh!!!
Lima Harimau Pembela Kebenaran langsung melesat secepat kilat secara bersamaan. Hanya dalam waktu singkat, mereka sudah tiba di halaman luar yang cukup besar itu.
Suara langkah kaki manusia dan derap kaki kuda semakin terdengar lebih jelas. Suara itu semakin lama makin menimbulkan suatu kekuatan getaran yang menghasilkan efek dahsyat.
Tanah bergetar cukup keras. Seolah-olah dari dasar bumi akan muncul sebuah monster yang mengerikan.
Suasana di halaman luar semakin terasa menegangkan. Walaupun pihak musuh belum terlihat, tapi hawa kematian yang dibawa oleh mereka sudah bisa dirasakan dengan jelas.
"Ada banyak tokoh sakti yang akan hadir di tempat ini," ucap Harimau Utama sambil tetap memandangi lurus ke pintu gerbang.
"Benar. Dari jauh saja, kehadirannya sudah bisa dirasakan dengan jelas," sahut Harimau Depan sambil menganggukkan kepalanya.
Detik demi detik terus berlalu. Waktu seolah-olah berjalan lebih lambat dari biasanya.
Lima Harimau Pembela Kebenaran semakin memegang erat senjatanya masing-masing.
Mereka tahu, malam ini akan terjadi pertumpahan darah yang cukup hebat. Mereka juga sadar bahwa dalam pertempuran nanti, tidak ada kepastian apakah dirinya akan hidup atau akan mati.
Namun terlepas dari kedua hal itu, Lima Harimau Pembela Kebenaran tetap tidak akan mundur walau hanya satu langkah.
Apapun yang akan terjadi nanti, mereka akan menghadapinya dengan gagah berani.
Selama nyawa masih terkandung di badan, maka selama itu pula mereka akan memperjuangkan harga diri majikannya!
###
Di tempat lain, bersamaan dengan semua kejadian di kediaman Zhang Xin ...
Keluarga kecil itu masih terus berlari secepat dan sejauh mungkin. Liu Lin masih menjadi kusir kuda. Meskipun dia seorang wanita, namun dirinya cukup mahir.
Apalagi sebenarnya dia pun merupakan pendekar wanita yang namanya cukup terkenal dalam dunia persilatan.
Meskipun kemampuannya tidak setinggi sang suami, namun ia pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak sedikit pula tokoh-tokoh rimba hijau yang memuji kemampuan Liu Lin tersebut.
Sedangkan di sisinya, Zhang Fei tampak sedikit kesulitan. Ia belum semahir kedua orang tuanya dalam hal berkuda. Tapi hal tersebut wajar, karena selama ini, dia memang belum pernah terjun langsung ke lapangan.
Namun walaupun anak muda itu merasa rikuh, tapi ia tidak pernah mengeluh. Zhang Fei mewarisi sifat ayahnya yang pantang menyerah. Karenanya meksipun kesulitan, ia tidak pernah bicara apa-apa terhadap ayah ibunya tersebut.
"Suamiku, ke mana kita akan pergi?" tanya Liu Lin di tengah perjalanannya.
"Kita pergi ke Gunung Thai San saja," jawab Zhang Xin.
Suaranya mulai kembali normal. Walaupun luka yang ia derita belum hilang sempurna, tapi keadaannya yang sekarang sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
"Apakah kita akan berdiam di sana?" tanya Liu Lin lebih lanjut lagi.
"Tinggal di sana pun tidak mengapa. Yang penting untuk sementara ini, kita bisa menyelamatkan diri dari kejaran mereka,"
Mendengar kedua orang tuanya sedang bercakap-cakap, Zhang Fei langsung merasa penasaran. Ia menggeprak tali kekang kuda. Kuda yang ia naik langsung berlari lebih kencang lagi.
"Mereka, mereka siapa yang Ayah maksudkan?" tanyanya begitu sudah berada di sisi.
"Partai Panji Hitam ..." jawab Zhang Xin secara perlahan dan penuh tekanan.
"Apa?"
Yang pertama kali terkejut ketika mendengar jawaban itu adalah Liu Lin. Meskipun dirinya sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan, tapi untuk semua kejadian yang menyangkut di dalamnya, ia masih tetap mencari tahu, bahkan sampai saat ini.
Karena itulah tidak heran kalau ia sampai kaget setengah mati ketika mendengar nama Partai Panji Hitam.
"Kenapa mereka ingin membunuhmu, Ayah?" tanya Zhang Fei lebih jauh lagi.
Dia ingin mengetahui semuanya lebih jelas. Apalagi, rasa penasaran anak muda itu memang sangat tinggi.
"Ceritanya panjang, anak Fei. Sekarang kita fokus saja ke perjalanan," jawab Zhang Xin.
"Baiklah, aku mengerti,"
Ia menganggukkan kepala. Zhang Fei tidak berani membantah, apalagi terhadap orang tuanya. Karena itulah walaupun dia merasa penasaran, anak muda itu hanya bisa menyimpannya di dalam jalan.
Perjalanan menuju ke Gunung Thai San pun segera dilanjutkan kembali.
Kepulan debu akibat langkah kaki kuda membumbung tinggi ke angkasa. Desiran angin yang tercipta pun cukup kencang. Dalam waktu yang singkat, dua ekor kuda itu sudah berada jauh dari tempat semula.
###
Di kediaman Zhang Xin ...
Setelah sekian lama menanti, akhirnya penantian itu membuahkan hasil juga.
Lima Harimau Pembela Kebenaran mulai melihat ada banyak orang yang sedang memburu ke arah kediaman si Pedang Kilat.
Jumlah orang yang datang itu tidak kurang dari lima puluh orang. Mereka dipimpin oleh tujuh orang tokoh aliran sesat yang kemampuannya tidak perlu ditanyakan lagi.
Beberapa saat kemudian, rombongan musuh pun akhirnya mulai memasuki halaman depan kediaman Zhang Xin.
Lima Harimau Pembela Kebenaran belum mengambil langkah. Mereka masih tetap berdiri terpaku di tempatnya masing-masing.
"Tetap tenang, jangan pernah panik. Ingat! Apapun yang terjadi nanti, kita sudah siap untuk menerimanya," kata si Harimau Utama memperingatkan empat rekannya.
"Kami mengerti, Ketua," jawab mereka secara bersamaan.
Malam semakin larut. Kebetulan, malam ini terang bulan. Sehingga suasana di halaman depan itu tampak lebih terang dari biasanya.
Rombongan musuh sudah berhenti. Anggota yang dibawa segera membentuk sebuah formasi.
Seluruh wilayah halaman depan sudah dikepung musuh!
Tujuh orang pemimpi dari mereka segera melangkahkan kaki ke depan.
"Siapa kalian?" tanyanya dengan suara lantang.
Orang yang bertanya itu tak lain dan tak bukan adalah si Pengemis Gila. Tokoh sesat yang sebelumnya bertempur mati-matian melawan Zhang Xin.
"Kami adalah pekerja di rumah ini," jawab Harimau Kiri penuh sopan santun.
"Hemm, di mana majikan kalian?"
"Majikan tidak ada di rumah. Kami sendiri tidak tahu ke mana perginya beliau,"
"Omong kosong!"
Si Tombak Sesat sudah tidak bisa menahan diri. Apalagi sebelumnya dia hampir tewas di tangan si Pedang Kilat. Tentu saja, dendam kesumat yang tumbuh di benaknya semakin dalam. Mungkin lebih dalam dari samudera sekali pun.
"Tidak berani, tidak berani. Mana mau kami berbohong di hadapan Tuan-tuan yang gagah ini," si Harimau Depan ikut nimbrung dalam pembicaraan.
Walaupun mereka sudah tidak sabar ingin menghajar pihak musuh, tapi karena belum ada perintah dari Harimau Utama, maka mau tak mau keempatnya harus bisa menahan diri.
###
Oh iya, jangan lupa ya bantu promosikan juga novel ini ke teman-teman yang lain, supaya author lebih bersemangat lagi dalam berkarya, hehe ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
kamir
siap
2024-03-03
0
eddy
mantap ceritanya thor yakin bakal rame
2023-11-29
2
Iron Mustapa
lanjut lanjut🤣😜🤣🤣
2023-11-13
0