Zhang Xin sudah memutuskan untuk menempuh jalan pedang sejak usianya masih muda. Ia telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk pedang. Semuanya demi pedang. Bahkan mungkin ia bisa bertahan hidup sampai sekarang pun, adalah demi untuk menuntaskan jalan pedang yang telah ia ambil.
Oleh karena itulah, selama ini, baginya tiada hari tanpa pedang. Setiap hari, Zhang Xin pasti menyentuh pedang andalannya yang diberi nama Pedang Maut!
Ia lebih memilih tidak makan daripada tidak menyentuh sama sekali pedangnya dalam satu hari.
Memang, setiap orang yang sudah mencintai sesuatu dengan segenap jiwa dan raganya, ia pasti akan melakukan hal yang serupa seperti Zhang Xin.
Tiada hari tanpa sesuatu itu. Orang-orang yang sudah mencintai sesuatu dengan jiwa raga, ia pasti lebih mementingkan sesuatu yang dicintainya, daripada nyawanya.
Begitu juga dalam kehidupan ini!
Puncak tertinggi dari ilmu kemanusiaan adalah ketika kau bisa menjadi manusia. Bisa memanusiakan manusia. Bukan ketika kau bisa meraih segalanya.
Untuk apa pula mampu meraih segalanya, tapi tidak mampu menjadi manusia seutuhnya?
Di muka bumi ini, orang terlampau banyak. Tapi di muka bumi ini, berapa banyak orang yang sudah benar-benar menjadi manusia?
Lama sekali ayah dan anak itu saling diam. Kalau Zhang Xin diam karena ia sedang tenggelam bersama jalan pedangnya, maka Zhang Fei justru sedang tenggelam bersama ucapan yang terlontar dari mulut ayahnya.
Anak muda itu benar-benar memikirkan ucapan sang ayah. Ia ingin sekali mengerti. Sayangnya, walaupun sudah tenggelam dalam waktu yang cukup lama, ia masih belum bisa mengerti sama sekali.
"Ayah, kenapa aku tidak bisa mengerti tentang ucapanmu itu?" tanyanya setelah dia merasa lelah mencari-cari makna dari perkataan Zhang Xin tadi.
Orang tua itu tersenyum. Ia mengelus-elus kepala anaknya beberapa kali.
"Untuk sekarang, kau pasti tidak akan mengerti sama sekali. Tapi jangan khawatir, Ayah tidak menyuruhmu untuk mengerti. Ayah hanya menyuruhmu untuk mengingatnya saja. Kapan pun, di mana pun, jika kau benar-benar ingin menjadi Dewa Pedang, maka dirimu harus selalu ingat terkait ucapan ayah ini,"
"Hemm, baiklah, Ayah. Aku berjanji tidak akan melupakan ucapan ini," kata Zhang Fei sungguh-sungguh.
"Bagus. Itu baru anakku,"
Zhang Xin tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Walaupun sebenarnya dalam hati, ia sedang memikirkan banyak hal, tapi orang tua itu tidak ingin anaknya mengetahui perasaan dia yang sebenarnya.
Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga perkataan orang tua dulu yang mengatakan bahwa senyuman bisa mengubah segalanya.
Sekarang Zhang Xin mengerti tentang hal tersebut.
"Hari sudah sore, bersihkan dulu dirimu. Ayah akan mencari bahan makanan di hutan, nanti kalau sudah ada hasil, kau bantu Ibumu, ya,"
"Baik, Ayah,"
Zhang Fei kemudian bangkit berdiri. Ia segera pergi dari sana dan menuju ke sungai yang terdapat di sekitar tempat kediamannya.
Sedangkan si Pedang Kilat sendiri, ia segera beranjak ke tengah hutan untuk mencari hewan buruan.
Kehidupan mereka selama di Gunung Thai San memang hanya itu-itu saja. Tidak pernah berubah, tidak pernah juga ada mara bahaya yang mengancam.
Di satu sisi, Zhang Xin merasa tenang karena hidupnya penuh dengan kedamaian. Namun di satu sisi lain, ia pun merasa bosan karena hidupnya tidak ada tantangan.
Kalau dibandingkan, kehidupannya yang sekarang dengan yang dahulu itu sangat jauh berbeda.
Jika dahulu ia hidup dalam keramaian pertarungan dan pertumpahan darah, maka sekarang ia hidup dalam kesunyian dan kedamaian.
Kalau disuruh memilih, kira-kira hidup seperti apa yang akan kau pilih?
###
Sementara itu jauh di Gunung Thai San, lebih tepatnya di markas cabang Kuil Seribu Dewa, di ruangan utamanya terlihat saat ini sedang berkumpul beberapa orang petinggi.
Para petinggi itu meliputi Ketua, Wakil Ketua, dan juga petinggi di bidang-bidang lainnya.
Alasan kenapa mereka berkumpul di ruangan utama adalah karena sebelumnya tiga murid senior Kuil Seribu Dewa telah melaporkan ada satu kejadian yang menggemparkan dunia persilatan.
Kalau bukan kejadian yang menimpa keluarga Zhang Xin, memangnya ada kejadian apa lagi?
"Ketua, menurutmu, siapa yang telah berani melakukan hal ini?"
Seorang petinggi dari Kuil Seribu Dewa tiba-tiba bertanya kepada Ketua. Dia dan petinggi yang lain tentunya merasa penasaran dengan peristiwa ini.
Mereka sangat berharap bahwa ketuanya bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Apalagi, Ketua Cabang di sekitar Kota Kanglam dikenal sebagai orang yang cerdas.
Setiap analisa yang ia berikan kepada orang lain, pasti terbukti secara tepat. Karena itulah, setiap perkataan yang keluar dari mulutnya sangat berarti bagi banyak orang.
Sayangnya, kali ini lain lagi. Walaupun sudah berpikir cukup lama, si Ketua Cabang sendiri nampaknya belum berhasil menemukan jawaban yang memuaskan.
Dia masih merasa bingung terkait peristiwa ini. Apalagi tidak ada saksi hidup dari kejadian yang dimaksud.
"Peristiwa yang menimpa keluarga Tuan Zhang ini benar-benar rapi. Para pelakunya tidak meninggalkan jejak sama sekali. Jangankan saksi hidup, jejak langkah pun tidak mereka tinggalkan. Jadi jujur saja, dalam hal ini, aku sama sekali belum menemukan jawaban maupun perkiraan,"
Ketua Cabang kemudian menghela nafas panjang dan berat. Dari sekian banyak masalah yang terjadi di sekitar wilayah Kota Kanglam, rasanya baru masalah ini saja yang tidak berhasil ia pecahkan.
Otaknya benar-benar buntu. Pikirannya tidak bisa bekerja secara maksimal.
Para petinggi yang terdapat di dalam ruangan kemudian mengeluh perlahan. Mereka sangat menyayangkan bahwa Ketuanya tidak bisa menemukan jawaban sama sekali.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menangani masalah ini, Ketua?" tanya Wakil Ketua seraya memandang wajahnya.
"Untuk sementara, kita hanya bisa menyelediki kejadian ini. Perintahkan beberapa murid untuk berjaga di sekitar kediaman Tuan Zhang. Perintahkan juga dua murid senior untuk melaporkan peristiwa ini kepada markas pusat di Kotaraja," ujar Ketua memberikan perintah.
"Baiklah. Aku akan segera melaksanakan semuanya,"
"Terimakasih,"
Ketua menghela nafas kembali. Ia meminum teh hangat yang tersedia di depannya.
Setelah perundingan selesai, ia segera menyuruh semua petinggi yang lain untuk keluar dari ruangan tersebut. Saat ini, di ruangan itu hanya ada dia sendiri.
"Peristiwa ini harus segera diselesaikan. Pelakunya harus ditemukan dengan segera. Kalau tidak begitu, niscaya dunia persilatan akan ramai kembali. Aih, benarkah pertumpahan darah dan peperangan akan terulang kembali?"
Ketua Cabang mengeluh perlahan. Ia tidak bisa membayangkan jika apa yang diucapkannya barusan kembali terjadi di negerinya.
Perlu diketahui, beberapa tahun belakangan ini, keadaan dunia persilatan Tionggoan memang terhitung aman dan damai.
Meskipun masalah setiap harinya selalu ada, namun setiap masalah itu bisa diselesaikan dengan jalan damai.
Beberapa waktu belakangan, tidak ada lagi pertumpahan darah besar-besaran ataupun peperangan seperti dahulu.
Namun sekarang, secara tiba-tiba sebuah peristiwa berdarah telah terjadi lagi. Bahkan menimpa pendekar yang namanya sudah menggetarkan kolong langit.
Lantas, apakah ini adalah awal dari kekacauan dunia persilatan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Iron Mustapa
lanjut🤣🤣🤣
2023-11-13
1
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story thor lanjutkan seruuuu
2023-08-20
1
Bina
wow keren 👍💪
2023-07-17
0