Si Pedang Kilat beberapa kali menghela nafas berat. Bagaimanapun juga, dia merasa tidak tega melihat keluarga kecilnya sengsara seperti sekarang ini.
Tetapi apa mau dikata, langit sudah menentukan semuanya.
Oleh sebab itulah, tidak ada yang sanggup dia lakukan untuk saat ini, kecuali hanya menerima semua cobaan dengan tabah dan penuh kesabaran.
Malam semakin larut lagi. Kentongan kedua sudah dibunyikan di kejauhan sana.
Di atas langit tidak ada gumpalan awan. Sehingga memperlihatkan keindahan yang sukar untuk dilukiskan. Bintang-bintang masih bertaburan. Rembulan semakin bersinar terang.
Angin malam berhembus lirih. Bau harum bunga yang sedang mekar segera tercium.
Sebenarnya suasana seperti ini sangat menenangkan. Hampir semua orang, pasti mengidam-idamkan suasana seperti sekarang.
Sayang sekali, malam ini ceritanya lain lagi. Terlebih bagi Zhang Xin dan juga Lima Harimau Pembela Kebenaran.
Di kediaman Zhang Xin, kelima pendekar yang gagah perkasa itu sudah tewas bersimbah darah. Bangunan yang megah dan membawa wibawa besar itu, saat ini sudah berubah menjadi bangunan gosong.
Di sana tidak ada siapa pun lagi, kecuali hanya mayat Lima Harimau Pembela Kebenaran.
Rombongan Partai Panji Hitam yang sebelumnya terlihat di sana, sekarang sudah tidak nampak lagi. Mereka telah pergi, pergi setelah menjarah harta benda yang terdapat di kediaman si Pedang Kilat. Pergi setelah berhasil membunuh Lima Harimau Pembela Kebenaran.
Api yang menggelora masih berkobar. Semua bangunan sudah hangus. Dalam waktu yang tidak lama lagi, niscaya bangunan itu akan rata dengan tanah.
Dalam keheningan itu, tiba-tiba ada bayangan yang berkelebat dengan cepat. Sesaat kemudian, di halaman yang cukup luas tersebut sudah ada orang lagi.
Mereka berjumlah tiga orang. Semuanya mengenakan pakaian kuning tua. Kepala mereka botak, pakaiannya mirip seperti para biksu.
Dan memang, ketiga orang yang dimaksud itu bukan lain adalah para murid senior dari Kuil Seribu Dewa.
Perlu diketahui, Kuil Seribu Dewa adalah partai aliran putih terbesar yang terdapat di Tionggoan. Di setiap tempat yang ada di Kekaisaran Song, pasti terdapat pula kuil cabangnya.
Selain daripada itu, para biksu dari partai tersebut juga sering terlibat dalam setiap urusan dunia persilatan. Apalagi kalau urusan itu menyangkut perdamaian umat.
Sudah tentu mereka tidak akan berpangku tangan.
Oleh karena itulah, Kuil Seribu Dewa mempunyai wibawa yang sangat besar. Setiap orang-orang dunia persilatan pasti menaruh hormat kepadanya. Lebih-lebih kepada para petingginya.
Tiga biksu itu saling pandang satu sama lain. Mereka kemudian menghela nafas berat saat menyaksikan bangunan Zhang Xin yang sudah mulai rata dengan tanah.
"Amitabha ... manusia mana yang tega melakukan perbuatan keji seperti ini?"
Seorang biksu yang berdiri paling tengah tiba-tiba memuji keagungan Buddha. Ia sungguh tidak habis pikir, kenapa di dunia ini masih ada manusia yang rela melakukan perbuatan ini?
"Kakak senior, bukankah ini adalah kediaman Tuan Zhang Xin, si Pedang Kilat?" tanya biksu yang berdiri paling kiri.
Ia tahu betul, rumah besar yang dilahap si jago merah itu tak lain adalah rumah Zhang Xin. Tetapi untuk memastikannya, maka dia memilih untuk bertanya.
"Benar, ini adalah kediaman beliau," biksu yang paling kanan segera menimpali sambil menganggukkan kepalanya. "Tapi, kenapa bisa sampai terjadi hal ini? Di mana pula Tuan Zhang bersama yang lainnya?"
Biksu itu menoleh ke semua penjuru. Dia mencari keberadaan Zhang Xin dan yang lainnya.
Sayang sekali, sekian lama mencari, hasilnya nihil. Kecuali bangunan hangus dan barang-barang yang sudah berhamburan, rasanya tiada lagi yang bisa ia temukan.
"Tunggu dulu, coba lihat di sana!"
Biksu paling tengah menunjuk ke tempat di mana terdapat mayat Lima Harimau Pembela Kebenaran. Dua orang biksu lainnya segera melihat ke tempat yang dimaksud.
Setelah jelas, ketiganya segera berjalan menghampiri.
Saat jaraknya sudah dekat, mereka sempat mengira-ngira terkait siapakah lima orang itu.
"Adik, kau tahu siapa mereka?"
"Aku tidak tahu, Kakak senior," biksu yang di kiri menggelengkan kepalanya.
Dia merasa asing terhadap lima mayat tersebut.
"Kalau aku tidak salah, mereka ini adalah Lima Harimau Pembela Kebenaran yang dulu namanya pernah menggegerkan dunia persilatan," ucap biksu yang di tengah.
Ia yang paling senior di antara tiga biksu tersebut. Karenanya, dua biksu yang lain sangat memandang dan menghormatinya.
Sementara itu, ketika mendengar ucapannya, dua biksu tersebut langsung kaget setengah mati.
Walaupun mereka jarang mengembara di dunia persilatan, tapi mereka juga tidak pernah ketinggalan terkait berita yang terjadi di dalamnya.
"Kakak, apakah kau tidak salah orang?"
"Tidak, aku tidak salah. Mereka benar-benar Lima Harimau Pembela Kebenaran,"
"Aihh ... kalau begini caranya, sesuatu pasti telah terjadi kepada Tuan Zhang beserta keluarganya,"
"Benar. Tapi, hal itu kita bicarakan nanti saja. Sekarang, lebih baik kita kuburkan dulu jasad mereka,"
"Baiklah. Mari,"
Tiga biksu itu kemudian membawa Lima Harimau Pembela Kebenaran ke tempat yang lapang. Setelah menemukan tempat yang cocok, mereka segera menggali kuburan untuk kelimanya.
Begitu selesai, tiga biksu tersebut langsung pergi dari sana. Mereka ingin mengabarkan kejadian ini kepada ketuanya.
###
Tujuh hari sudah berlalu kembali. Zhang Xin bersama keluarganya sudah mulai terbiasa di dalam kehidupan yang barunya tersebut.
Sehari-hari, mereka tetap berdiam di sekitar Gunung Thai San. Ketiganya tidak pernah turun gunung. Apalagi, semuanya sudah disediakan oleh alam.
Selama tujuh hari itu, Zhang Xin juga sering melakukan semedi. Ia ingin menyembuhkan kembali luka dalam yang diderita olehnya.
Hasil yang didapat pun cukup memuaskan. Meskipun ia belum benar-benar pulih, walaupun luka itu masih ada, tapi keadaannya yang sekarang sudah terbilang jauh lebih baik daripada tujuh hari sebelumnya.
Selain daripada itu, Liu Lin dan Zhang Fei pun tidak tinggal diam. Kalau Zhang Fei sering bersemedi, maka keduanya sering melakukan latihan.
Mereka masing-masing melatih kemampuannya tersendiri. Tak jarang ibu dan anak itu juga mengadakan latih tanding.
Sejak awal, Zhang Fei memang sudah mempunyai dasar dalam hal ilmu silat. Zhang Xin sering melatihnya dengan keras, secara perlahan dia pun sering menurunkan ilmu-ilmu yang dimilikinya kepada sang anak.
Dia ingin anaknya menjadi seorang pendekar. Menjadi penerus dirinya dalam memperjuangkan kebenaran dan menghancurkan kejahatan.
Begitu juga dengan Liu Lin sendiri. Dia mempunyai keinginan yang sama seperti suaminya.
Oleh karena itulah sejak Zhang Fei masih kecil pun, suami isteri itu sering melatihnya tanpa mengenal kata lelah.
Saat ini masih siang hari, udara di Gunung Thai San terasa begitu panas. Di atas sana tidak ada awan. Sehingga matahari menyorot dengan telak ke muka bumi.
Zhang Fei dan Liu Lin baru saja menyelesaikan latihannya. Ibu dan anak itu saat ini sedang beristirahat di sebuah batu besar dekat kediamannya selama ini.
"Anak Fei, bagaimana kalau kita melakukan latih tanding lagi? Ibu ingin melihat sampai di mana kemampuanmu sekarang," ujar Liu Lin sambil menoleh kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Iron Mustapa
😍😍😍😍😍😍😍
2023-11-13
1
Putra Ran
nak fei haha
sbenarnya pngglan orng tua pasti fei'er.
dan bahasa kegunaan nya kurang bgtu baku, dan juga belum ada penjelasan tingakat pendekat sampe bab ini
2023-08-24
2
Imam Sutoto Suro
good luck thor lanjutkan
2023-08-20
0