Tanpa terasa, tiga bulan sudah berlalu kembali. Selama tiga bulan itu, keadaan di dunia persilatan Tionggoan benar-benar berubah total.
Dunia persilatan yang tadinya damai, sekarang mulai ramai kembali. Ramai oleh pertumpahan darah, ramai oleh peperangan yang melibatkan banyak pihak.
Berbagai macam masalah mendadak bermunculan. Pembunuhan di mana-mana, penculikan maupun kasus kejahatan lainnya juga terus terjadi setiap harinya.
Banyak tokoh-tokoh dari aliran putih yang sudah membahas maupun berunding terkait semua peristiwa ini.
Tapi sayangnya, apa yang mereka lakukan selama ini tiada hasil. Dari sejak awal terjadi peristiwa di kediaman Zhang Xin sampai sekarang, tidak ada satu pun orang yang berhasil mengungkap tirai dibalik kegelapan ini.
Semuanya masih gelap. Gelap pekat seperti malam tanpa rembulan.
Satu masalah belum rampung, sudah muncul masalah baru. Setiap hari, peristiwa yang terjadi pun makin hebat lagi. Mulai dari tewasnya tokoh-tokoh kelas atas dari aliran putih dengan cara misterius, bahkan hilangnya para petinggi di beberapa partai yang terdapat di Tionggoan.
Masalah ini sebenarnya sudah sampai di telinga Ketua Dunia Persilatan sekarang. Bahkan ia sendiri sempat terjun ke dalam dunia persilatan secara langsung.
Tapi sayangnya, ia pun mendapatkan hasil sama seperti yang didapat oleh para petinggi lainnya.
Penyelidikannya dalam dunia persilatan selama beberapa waktu itu tidak menghasilkan apapun. Ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki partai aliran hitam yang ada di Tionggoan, mulai dari anggota maupun tindak-tanduk mereka setiap hari.
Namun, tidak ada hal-hal yang pantas dicurigai dari mereka. Semuanya hidup apa adanya sesuai dengan Perjanjian Damai.
Walaupun banyak tokoh sesat yang berkeliaran, tapi jarang ada yang mencari masalah dengan tokoh-tokoh dari aliran putih. Apalagi sampai terjadi pertumpahan darah secara besar-besaran.
Bukan cuma itu saja, bahkan belakangan ini, diam-diam Ketua Dunia Persilatan yang bernama Beng Liong dan berjuluk Pendekar Naga Surgawi itu juga pernah mengirimkan surat undangan kepada masing-masing Ketua dari partai aliran hitam yang ada.
Tapi setelah bicara dengan mereka, ternyata satu pun tidak ada yang pantas untuk dicurigai.
Asal tahu saja, Ketua Beng Liong adalah orang yang sangat cerdas. Bahkan digadangkan kecerdasannya di atas rata-rata. Ia juga mempunyai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain.
Salah satunya, ia bisa membaca pikiran orang dan mengetahui apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.
Dan menurutnya, para Ketua dari masing-masing partai aliran hitam itu, semuanya tidak ada yang melakukan kebohongan. Mereka mengatakan yang sejujurnya.
Oleh karena itulah selama tiga bulan terakhir ini, Ketua Dunia Persilatan merasa bingung setengah mati.
Rasanya misteri ini adalah misteri pertama yang ia hadapi selama menjabat menjadi Ketua Dunia Persilatan.
Misteri memang banyak, tapi misteri seperti sekarang, sangatlah sedikit.
Setiap peristiwa yang terjadi telah disusun dan direncanakan dengan rapi. Tidak ada jejak. Tidak ada petunjuk apapun juga.
Tapi setiap hal yang dilakukan oleh dalang dibalik semua kejadian ini, selalu menggemparkan dunia persilatan.
Lalu, sampai kapan teror ini akan berlangsung? Apakah teror ini tidak akan terungkap? Apakah kehancuran dunia persilatan benar-benar akan terjadi? Benarkah tanah Tionggoan akan hilang dari peradaban?
Berbagai macam pertanyaan seperti itu terus bermunculan dalam benak setiap tokoh rimba hijau yang ada. Tidak terkecuali dengan Ketua Beng Liong sendiri.
Sebenarnya ia sempat berniat untuk melaporkan kejadian ini kepada Kekaisaran. Namun dengan cepat niat itu diurungkan.
Pasalnya, Ketua Beng Liong juga tahu bahwa saat ini Kekaisaran pun sedang menghadapi masalah. Baik masalah politik, maupun masalah lainnya.
Maka dari itu, ia bertekad untuk menyelesaikan masalah dunia persilatan tanpa melibatkan Kekaisaran.
###
Sekarang masih siang hari. Zhang Fei sering berjalan menuruni Gunung Thai San. Ia mendapat perintah dari ayahnya untuk membeli berbagai macam keperluan.
Tidak lupa juga, ayahnya menyuruh Zhang Fei untuk membeli beberapa guci arak sebagai teman di tengah malam yang dingin.
Anak muda itu tampil tidak seperti biasanya. Saat ini, Zhang Fei tampak seperti orang yang benar-benar sedang menyembunyikan identitasnya.
Ia tampil dengan pakaian seperti ninja di Negeri Jepun (Jepang). Mengenakan cadar biru yang menutupi wajah, sehingga yang terlibat hanya kedua bola matanya saja.
Zhang Fei pun mengenakan caping lebar yang dianyam dari bambu. Ia tidak membawa pedang atau senjata apapun juga.
Hal itu sengaja dilakukan oleh Zhang Xin, tujuannya memang seperti tadi. Yaitu agar identitas Zhang Fei tidak terbongkar. Terutama sekali agar tidak diketahui oleh Partai Panji Hitam.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya anak muda itu tiba juga di perkotaan yang ramai.
Di sana banyak orang berlalu-lalang. Sepanjang jalan, banyak para pedang yang membuka lapak di pinggir jalan. Suara orang-orang yang menawarkan barang dagangan bisa didengar dengan jelas.
Pemuda itu menengok ke sana kemari, seolah-olah ia baru melihat pemandangan seperti ini.
Ketika menemukan toko yang dicari, tanpa banyak membuang waktu, Zhang Fei pun segera menuju ke sana. Ia langsung membeli barang maupun bahan-bahan yang disuruh oleh ayahnya.
Setelah semuanya selesai, ia segera kembali lagi Gunung Thai San.
Sepanjang jalan, apabila menemukan tempat yang sepi, Zhang Fei sesekali meneguk arak yang dibeli olehnya.
"Arak ini sangat nikmat, Ayah pasti menyukainya," gumam pemuda itu tersenyum kegirangan.
Ia kemudian mempercepat langkah. Zhang Fei ingin segera sampai di kediamannya supaya bisa menikmati arak bersama-sama.
###
Sementara itu di Gunung Thai San, tanpa diketahui sama sekali oleh anak muda itu, sesuatu justru telah terjadi.
Gunung Thai San yang biasanya sepi sunyi itu, sekarang justru telah diramaikan oleh kehadiran banyak orang berpakaian serba hitam.
Orang-orang serba hitam tersebut ada di setiap penjuru mata angin. Kalau dihitung, mungkin jumlah mereka ada sekitar seratus orang.
Kehadiran mereka telah diketahui oleh Zhang Xin dan Liu Lin. Sebagai tokoh kelas atas, tentu saja keduanya bisa merasakan kehadiran manusia lain apabila memang berada di sekitar tempatnya berdiam.
Suami isteri itu segera keluar dari kediamannya dalam keadaan siap. Zhang Xin sudah membawa Pedang Maut. Liu Lin sudah membawa pula selendang pusaka andalannya.
Mereka berjalan beriringan dan berhenti tepat di tengah lapang yang tandus dsn dipenuhi oleh bebatuan itu.
"Siapa di sana? Tunjukkan batang hidungmu, jangan bersembunyi seperti pengecut,"
Suara Zhang Xin terdengar ke empat penjuru mata angin. Ia bicara sambil mengerahkan tenaga dalamnya. Sehingga setiap orang yang ada di sana bisa mendengarnya dengan jelas.
Tidak lama setelah ia bicara, mendadak terdengar suara tawa yang menggelegar seperti guntur. Disusul kemudian dengan berkelebatnya beberapa bayangan manusia.
Wushh!!! Wushh!!!
Dalam beberapa helaan nafas, bayangan manusia itu sudah ada di depannya. Mereka yang hadir berjumlah lima orang. Semuanya bertampang seram dengan sorot mata setajam pisau.
Zhang Xin dan Liu Lin terkejut. Apalagi setelah keduanya tahu bahwa lima orang itu bukanlah manusia sembarangan.
###
Kalau alurnya sedikit lambat, maaf ya, teman-teman. Karena ini genre klasik, bukan modern. Tujuannya agar kalian mudah membayangkan setiap kejadian di dalam novel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Iron Mustapa
jos jos jos jos😍😍😍
2023-11-13
1
Cokro Aminoto
jadi korban...
Zhang Fei balas dendam
2023-09-25
1
Imam Sutoto Suro
top deh lanjut thor
2023-09-04
0