Zhang Xin adalah pendekar besar yang berasal dari aliran lurus. Tentu saja dia tidak mau melakukan kecurangan seperti itu.
Bagi para pendekar aliran putih sepertinya, melakukan suatu kecurangan dalam sebuah pertarungan adalah pantangan yang paling anti dilakukan.
Maka dari itu, Zhang Xin tidak mau menuruti perkataan si Telapak Tangan Kematian.
"Tidak mengapa. Ini adalah perintahku, keinginanku sendiri. Aku sangat berharap kau mau melakukannya,"
"Aku tetap tidak mau. Kalau sampai dunia luar mengetahui bahwa aku melakukan tindakan rendahan seperti ini, apa kata mereka?"
Jika dirinya melakukan hal itu, sudah tentu dunia akan mentertawainya. Mungkin tujuh turunan si Pedang Kilat akan menjadi cemoohan umat persilatan.
Telapak Tangan Kematian menghela nafas berat. Ia mengerti betul dengan apa yang diucapkan oleh musuhnya tersebut. Namun di satu sisi lain, ia juga ingin menguji sampai di mana kah kemampuannya.
"Pendekar ..."
Tiba-tiba tokoh sesat itu melakukan sesuatu diluar dugaan siapa pun juga. Si Telapak Tangan Kilat mendadak berlutut tepat di hadapan Zhang Xin.
"Ini adalah permintaanku yang datangnya tulus dari hati. Aku ... aku ingin menguji jurus Sembilan Telapak Sesat yang telah dilatih selama ini. Aku ingin tahu sampai di mana kehebatannya,"
Sampai sini orang tua itu berhenti sebentar. Seolah-olah dia sedang mengumpulkan kekuatan.
Setelah menghela nafas beberapa kali, si Telapak Tangan Kematian segera melanjutkannya lagi.
"Tenanglah, tidak perlu khawatir. Ini adalah permintaanku yang datangnya dari hati. Jadi, kau jangan berpikir bahwa dirimu telah melakukan kecurangan. Tolong, berilah kemurahan hatimu itu, aku memohon kepadamu dengan sungguh-sungguh,"
Selesai berkata demikian, pemimpin dari Lima Siluman Tanpa Ampun itu berniat untuk berlutut.
Mengetahui hal tersebut, dengan cepat Zhang Xin melangkahkan kaki dan segera mencegahnya.
"Kau tidak perlu melakukan hal ini. Ingat, di sini ada banyak orang. Bukan hanya kita berdua," katanya sambil berusaha membantu berdiri.
"Aku tidak malu, kalau memang hanya dengan cara ini saja kau mau menuruti permintaanku, maka dengan senang hati si tua ini akan melakukannya,"
Dua pasang mata saling bertemu. Ada pancaran sinar pemohonan yang keluar dari balik mata tajam itu.
"Baiklah," ucap si Pedang Kilat Zhang Xin sambil menghela nafas. "Aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi dengan syarat, kau juga mengeluarkan jurus kedelapan dari jurus Sembilan Telapak Sesat,"
"Terimakasih, pendekar. Terimakasih. Kalau memang begitu, baiklah. Aku juga akan mengeluarkannya,"
"Bagus. Kalau begitu, mari kita lakukan sekarang juga,"
Si Pedang Kilat segera melompat mundur ke belakang. Dia langsung mencabut Pedang Maut yang terserung tapi di punggungnya.
Cahaya perak langsung merona ke empat penjuru mata angin. Hawa pedang menyapu segala macam sesuatu yang terdapat di sekitarnya.
Tidak mau kalah darinya, si Telapak Tangan Kematian juga segera melakukan hal serupa.
Ia melakukan beberapa gerakan yang rumit untuk sekejap. Tidak lama, kedua telapak tangannya langsung menghitam seperti daging panggang yang gosong.
Dibalik itu, juga ada bau busuk yang keluar dari kedua telapak tangan tersebut.
"Kau sudah siap?" tanya Zhang Xin memastikan.
"Aku siap,"
"Baik. Lihat serangan!"
Begitu ucapan tersebut selesai, ia langsung bergerak. Gerakan yang begitu cepat. Melebih kedipan mata. Seperti kilat yang menyambar bumi.
Itulah jurus terakhir dari rangakaian Kitab Pedang Kilat.
Jurus itu bernama Neraka Kilat Jahanam!
Selama ini, rasanya Zhang Xin baru beberapa kali mengeluarkan jurus tersebut.
Alasannya adalah karena jurus itu terlampau dahsyat. Di sisi lain, jurus Neraka Kilat Jahanam juga membutuhkan tenaga yang sangat besar apabila ingin menggunakannya.
Maka dari itu, ia tidak pernah mengeluarkan jurus tersebut meski sedang bertarung melawan siapa pun juga.
Sementara itu, ketika ia menyerang, si Telapak Tangan Kematian juga langsung menyambutnya dengan jurus yang sudah ia siapkan pula.
"Telapak Lingkaran Setan!"
Wushh!!!
Tubuhnya meluncur dengan deras ke depan sana. Lingkaran warna hitam segera menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dua macam jurus tingkat atas sudah dikeluarkan oleh masing-masing tokoh yang terlibat. Keduanya tidak lagi memperdulikan keadaan di sekitarnya.
Mereka hanya terfokus kepada jurusnya tersendiri.
Blamm!!!
Benturan teramat dahsyat terdengar. Beberapa anggota Partai Panji Hitam yang berada tidak jauh dari tempat kejadian langsung terlempar ke belakang.
Si Pedang Kilat dan si Tangan Kematian langsung terlibat dalam pertarungan hidup dan mati. Keduanya sama-sama tidak mau kalah.
Kelebetan bayangan manusia tampak semakin cepat lagi.
Tidak ada seorang pun yang mampu menggambarkan dengan jelas bagaimana jalannya pertarungan itu.
Ledakan dan benturan terdengar tiada hentinya. Hawa pembunuhan yang keluar dari masing-masing tubuh dua tokoh tersebut mampu membunuh seorang manusia biasa sekali pun.
Setelah beberapa saat bertempur dengan sengit, tiba-tiba keduanya terpukul mundur sejauh sepuluh langkah.
Mereka berada dalam keadaan yang sama. Sama-sama mengalami luka dalam.
Si Pedang Kilat Zhang Xin tersungkur. Pedang Maut segera dijadikan penopang agar ia bisa tetap berdiri.
Siapa sangka, pada saat seperti itu, secara serempak ada lima belas anggota Partai Panji Hitam yang melompat secara bersamaan.
Setelah itu, mereka langsung menyerang Zhang Xin dengan brutal.
Dalam keadaan terluka parah, tentu saja ia merasa kewalahan.
Telapak Tangan Kematian yang menyaksikan kejadian itu tidak bisa tinggal diam.
Ia langsung memaksakan diri melompat ke depan.
Wushh!!! Blarr!!!
Lima belas orang anggota itu terlempar jauh ke belakang.
"Sudah aku katakan, tidak ada yang boleh ikut campur dalam pertarungan ini. Kenapa kalian tidak mau mendengarkanku?"
Ia marah besar kepada belasan orang tersebut. Seumur hidup, belum pernah ia marah seperti sekarang.
Di sisinya, pertarungan Liu Lin pun seketika berhenti. Lima tokoh yang terlibat sama-sama penasaran dengan kejadian itu.
"Suamiku ..."
Liu Lin melesat lari secepat mungkin. Niatnya untuk memeluk tubuh Zhang Xin. Namun siapa tahu, ia kembali mengalami nasib yang serupa seperti suaminya.
Beberapa anggota melompat, beberapa batang pedang juga dilemparkan dan melesat ke arahnya.
Slebb!!!
Tiga batang pedang menusuk dengan telak. Belum lagi bacokan dan tebasan pedang yang dilakukan secara langsung oleh para anggota itu sendiri.
Dua kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat. Bahkan hampir secara bersamaan.
Sehingga tidak ada satu pun orang yang menyangkanya. Jangankan orang lain, bahkan si Telapak Tangan Kematian pun tidak menyangka.
"Bangsat rendahan! Kalian harus mampus di tanganku!"
Orang tua itu berteriak dengan sangat lantang. Suaranya menggelegar seperti letusan gunung berapi.
Dari tubuhnya segera keluar asap. Kedua telapak tangan yang sebelumnya hitam, sekarang jauh lebih hitam lagi.
Wushh!!! Blamm!!! Blamm!!!
Tokoh sesat itu menyerang semua anggota Partai Panji Hitam dengan kalap. Ia ibarat harimau yang sedang marah besar. Sepak terjangnya membuat bulu kuduk berdiri.
Puluhan anggota Partai Panji Hitam itu kemampuannya jauh berada di bawah dia sendiri. Karena itulah baru beberapa jurus saja, mereka semua telah tewas.
Tewas dengan seluruh tubuh menghitam legam!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Iron Mustapa
lanjut lanjut lanjut🤣🤣🤣
2023-11-13
1
glanter
tokoh hitam berhati emas
2023-10-14
1
Imam Sutoto Suro
beneran keren banget lanjutkan thor
2023-09-04
0