Puluhan bayangan manusia serba hitam terus melesat tanpa pernah berhenti. Mereka seperti rintik air hujan yang tidak pernah memberikan waktu jeda walau hanya sesaat.
Kilauan senjata tajam semakin menyilaukan mata. Kepulan debu kuning juga makin tinggi dan tebal, sehingga menutupi lapangan yang tandus itu.
Melihat betapa brutalnya pihak lawan, Zhang Xin tidaklah panik. Justru ia malah tampil lebih tenang. Lebih mantap daripada sebelumnya.
Selama beberapa jurus, si Pedang Kilat belum juga memberikan serangan balasan. Ia hanya menghindar maupun menangkis saja.
Zhang Xin adalah orang yang sangat teliti. Dia pun tidak mau menyia-nyiakan tenaganya.
Karena itulah, dalam setiap pertarungan yang ia jalani, pendekar tersohor itu tidak pernah banyak bergerak. Ia hanya bergerak seperlunya saja.
Tetapi walaupun begitu, sekalinya bergerak, maka hasilnya tidak perlu ditanyakan lagi.
Baginya, satu gerakan yang ia lakukan harus membuahkan hasil yang maksimal. Satu gerakan itu tidak boleh gagal. Sekali gagal, maka ke sananya akan sama.
Saat ini, setelah melihat bagaimana strategi dan gaya serangan semua lawan, si Pedang Kilat pun akhirnya mengerti apa yang harus dia lakukan.
Tiba-tiba ia menghilang dari tempatnya berdiri tadi. Beberapa detik kemudian, ia sudah kembali muncul di belakang beberapa orang musuhnya.
Wutt!!! Srett!!!
Sekali pedangnya bergerak dengan bebas, tak kurang dari tujuh orang sudah kembali roboh menemui ajalnya.
Gerakan orang tua itu benar-benar cepat. Sehingga sekilas pandang saja, ia seperti bisa menghilang seperti halnya cerita dalam setiap dongeng.
Darah segar kembali membasahi tanah yang lapang itu. Sekarang, lima belas orang anggota Partai Panji Hitam sudah ambruk di tengah arena pertarungan.
Mereka yang menjadi korban keganasan si Pedang Kilat mengalami luka-luka yang berbeda. Ada yang tertusuk, ada pula yang tergores oleh tajamnya pedang pusaka milik orang tua itu.
Melihat lima belas orang rekannya sudah menjadi korban, lima belas anggota sisanya merasa tidak terima. Bukannya sadar bahwa kemampuan lawan jauh diatas mereka, orang-orang itu justru malah berlaku semakin nekad.
Bentakan dan teriakan nyaring mulai menggema kembali ke tengah udara hampa. Suara-suara itu terdengar garang, seperti raungan kelompok serigala yang ganas di tengah hutan.
Si Pedang Kilat menatap tajam kepada lima belas anggota yang sekarang sedang menyerbu ke arahnya itu. Pedang pusaka di tangan kanannya masih mengucurkan darah.
Darah segar dari para korbannya!
Lalu, apakah sekarang pedang itu akan meminta korban kembali?
Wushh!!!
Zhang Xin melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tahap sangat tinggi. Kali ini dia tidak mau menunggu lebih lama.
Daripada bertahan di posisinya semula, untuk sekarang, ia lebih memilih menyerang!
Hanya dalam satu kedipan mata, ia telah tiba di tengah-tengah kerumunan anggota Partai Panji Hitam itu!
Ketika jaraknya sudah sangat dekat, pedangnya langsung bergerak. Bergerak dengan sangat cepat dan ganas.
Dentingan nyaring antar senjata bertemu. Belasan senjata pula terlempar ke atas dan dibuat patah menjadi dua sampai tiga bagian.
Bagi orang lain, mematahkan senjata lawan mungkin terbilang sulit. Tapi bagi si Pedang Kilat malah sebaliknya.
Ia tidak merasa kesulitan untuk mematahkan senjata mereka. Apalagi tenaga dalamnya sudah sempurna. Tinggal menyalurkan tenaga dalam itu ke seluruh batang pedang, maka semua masalahnya akan selesai.
Suara teriakan kesakitan mulai terdengar. Rintihan menahan sakit yang teramat sangat semakin memilukan hati.
Hanya kurang dari dua belas jurus, lima belas orang anggota Partai Panji Hitam yang tersisa itu, kini telah mengalami nasib yang serupa dengan rekan-rekan sebelumnya.
Semua kejadian itu berlangsung singkat. Kalau digabungkan, mungkin tidak akan sampai menghabiskan waktu lebih dari dua puluh menit.
Setelah itu, semuanya telah kembali. Si Pedang Kilat kembali ke posisinya, sedangkan tiga puluh anggota Partai Panji Hitam kembali kepada Raja Akhirat!
Angin pegunungan mendadak berhembus cukup kencang. Bau amis darah langsung tercium dengan jelas.
Tiga Siluman Kanglam masih berada di sana. Sejak jalannya pertarungan hingga selesai, mereka belum ada yang turun tangan. Ketiganya masih berdiri di tempat awal.
Sebagai tokoh kelas atas, tentu saja ketiga orang tua itu tidak mau ikut bertempur bersama para anggota. Selain beda kelas, mereka juga merasa pantang untuk mengeroyok pihak lawan dengan jumlah sebanyak itu.
"Hebat, hebat," suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar. Ternyata yang bertepuk tangan itu adalah si Pengemis Gila. Ia berkata sambil tertawa seolah-olah ada sesuatu yang lucu.
Orang tua itu berjalan mendekat ke arah si Pedang Kilat. Setelah berhenti beberapa saat, dia kembali melanjutkan bicaranya.
"Ternyata kabar tentang kehebatan si Pedang Kilat bukan omong kosong. Dari waktu ke waktu, kemampuan ilmu pedangmu benar-benar meningkat pesat. Kagum, sungguh kagum," ucapnya memuji.
Zhang Xin tersenyum ketika mendengar ucapan itu. Ia segera berkata, "Tidak berani, tidak berani. Kemampuanku masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Pengemis Gila,"
"Hahaha ..." orang tua itu tiba-tiba tertawa lantang sambil mengangkat kepalanya ke langit. "Tidak perlu merendah seperti itu. Aku tahu sampai di mana kemampuanmu. Karenanya, aku juga ingin meminta pelajaran darimu,"
Sambil berkata seperti itu, si Pengemis Gila pun langsung melakukan persiapan. Ia segera memasang kuda-kuda miliknya.
"Aihh, bagaimana mungkin aku mau ketinggalan soal ini. Aku juga ingin meminta petunjuk darimu," tidak mau kalah dari si Pengemis Gila, si Tombak Sesat pun tiba-tiba berkata sambil berjalan mendekat kepada rekannya tersebut.
"Dua rekanku sudah menawarkan diri, masa iya aku harus diam saja. Tidak bisa, tidak bisa. Aku pun menginginkan hal yang sama dengan mereka,"
Biksu Seribu Tasbih ternyata juga sudah tidak menahan dirinya lagi. Ia berjalan dengan langkah ringan, tangan kanannya terus memutar biji tasbih yang besar-besar itu.
Seolah-olah dia sedang memuji keagungan Buddha. Padahal pada kenyataannya, dia sedang mengukur kira-kira sampai di mana kah kemampuan Zhang Xin sebenarnya.
Sekarang, Tiga Siluman Kanglam sudah berada di posisinya masing-masing. Kedua belah pihak yang namanya sudah menggetarkan sungai telaga itu, sudah saling berhadapan satu sama lain.
Mereka hanya terpaut jarak sekitar sepuluh langkah saja. Bagi orang-orang sepertinya, sepuluh langkah itu ibarat dua langkah. Sekali bergerak, tubuh lawan bisa langsung dicapai!
Di posisi lain, si Pedang Kilat pun terlihat berdiri dengan tenang. Matanya memandang kepada Tiga Siluman Kanglam.
Bola mata yang hitam bening itu menatap lekat-lekat kepada tiga orang tokoh sesat tersebut.
"Siapa yang akan maju duluan?" tanyanya setelah ia terdiam cukup lama.
"Kami adalah satu kesatuan. Yang satu maju, maka dua sisanya akan ikut maju. Masa soal begini saja kau tidak tahu?" jawab si Pengemis Gila sambil tersenyum menyeringai.
"Hemm ... jadi, sekarang sifat kejantanan Tiga Siluman Kanglam sudah lenyap?"
"Bukan lenyap, dari dulu pun kami selalu begini," ujar Biksu Seribu Tasbih sambil memberikan isyarat dengan tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Iron Mustapa
pecundang beraninya cmn main keroyokan... 🤣🤣🤣🤣
2023-11-13
1
glanter
kejantanannya emang sudah dilenyapkan....
2023-10-13
1
Trisnatris
biar di keroyok 3 ......keciiiiill.....
lanjut...Thor.......semangat.......
2023-08-22
1