Zhang Xin si Pedang Kilat kemudian menoleh ke arahnya. Sebelum menjawab, ia sempat tersenyum dengan ramah.
Pada dasarnya, orang tua itu memang murah senyum. Karena itulah, jangankan kepada kawan, bahkan kepada lawan pun, ia masih tetap bisa tersenyum.
"Aku tidak tuli, mana mungkin aku tidak mendengarnya," katanya menjawab pertanyaan Biksu Seribu Tasbih.
"Hemm, kalau begitu, apa jawabanmu?"
Biksu sesat itu tidak tersenyum seperti halnya Zhang Xin. Ia malah memasang wajah garang dengan sorot mata semakin tajam.
"Bukankah sebelumnya sudah aku katakan, sekali berkata tidak, maka selamanya tetap sama,"
Kalau si Pedang Kilat sudah menetapkan sesuatu, maka siapa pun tidak akan ada yang sanggup mengubahnya. Jangankan manusia, bahkan mungkin para Dewa di Alam Nirwana pun sama halnya.
Mendengar jawaban yang sama seperti sebelumnya, wajah Biksu Seribu Tasbih langsung merah padam.
Sorot matanya semakin membara. Seolah-olah pada bola mata orang tua itu terdapat kobaran api yang membara.
"Tua bangka keparat. Sepertinya kau sudah tidak takut mati,"
Pria tua yang memegangi tongkat dan berpakaian lusuh akhirnya membuka suara. Suaranya cempreng, seperti kaleng yang dipukul oleh anak kecil.
Namun meskipun begitu, dibalik suara itu jelas terkandung saluran tenaga dalam tinggi. Orang biasa yang mendengarnya pasti akan langsung merasakan sakit di gendang telinga.
Untunglah si Pedang Kilat bukan orang biasa. Sehingga dia tidak merasakan hal apapun.
"Eh, tunggu dulu, bukankah kau adalah si Pengemis Gila?" tanya Zhang Xin secara tiba-tiba.
"Kalau sudah tahu, buat apa bertanya lagi?"
Orang tua yang dipanggil Pengemis Gila itu mengangkat alis. Agaknya ia kesal karena pihak lawan hampir saja tidak mengenalnya.
"Aku hanya ingin memastikan saja," ucap si Pedang Kilat. Ia berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Sesaat kemudian, dirinya segera bicara lagi.
"Pengemis Gila, asal kau tahu saja. Semua orang pasti akan mati. Jadi, buat apa takut mati?"
Jawabannya tetap tenang dan santai. Seperti pula ekspresi wajahnya saat itu.
Dalam kehidupan ini, yang pasti adalah kematian. Yang sudah menunggu, yang selalu mengikuti setiap saat, memang hanya kematian saja.
Jadi, untuk apa takut terhadap kematian?
Siapa pun manusianya, mau tidak mau, siap tidak siap, toh kematian akan tetap menghampiri tanpa bisa dihindari, bukankah begitu?
Tiga tokoh sesat dari daerah Kanglam itu langsung naik pitam. Sudah cukup lama mereka merayu Zhang Xin si Pedang Kilat. Sayangnya usaha itu sia-sia.
Akibatnya, sekarang mereka sudah tidak mau banyak bicara lagi.
"Baik. Keputusan ada di tanganmu. Kami sudah berusaha bicara baik-baik dan menawarkan hadiah besar, tapi kau malah menolaknya. Sekarang, jangan pernah menyesali akan keputusan yang kau ambil itu," ucap si Tombak Sesat kembali bicara mewakili yang lainnya.
"Aku tidak pernah menyesali akan keputusan yang telah diambil," kata Zhang Xin dengan nada yang sama.
Si Tombak Sesat tidak langsung bicara. Ia melirik dua rekannya dan seluruh anggota yang ada.
Setelah dipastikan pihaknya sudah berada dalam keadaan siap, orang tua itu pun langsung memberikan perintah.
"Serang!"
Wushh!!! Wushh!!!
Baru saja ucapan itu selesai dilontarkan, puluhan anggota Partai Panji Hitam langsung melesat ke depan. Mereka maju secara bersamaan dengan senjatanya masing-masing.
Pedang dan golok sudah berterbangan di angkasa. Kilauan senjata-senjata itu sangat menyilaukan mata dan membuat bulu kuduk berdiri.
Meskipun hanya anggota, tetapi gerakan mereka sudah terbilang cepat dan lincah. Hal itu terbukti saat mereka mulai bergerak. Hanya sesaat saja, orang-orang tersebut sudah tiba di depan mata.
Si Pedang Kilat menyapu pandang kepada para anggota Partai Panji Hitam. Walaupun dirinya sudah diserang, tapi ia masih tetap berdiri di posisinya. Ia tidak melakukan perubahan apapun.
Namun saat puluhan anggota itu sudah benar-benar dekat, mendadak segulung angin berhembus dengan kencang.
Kepulan debu kuning menutupi pandangan mata. Suasana di sana seketika gelap karena tertutup oleh debu yang cukup tebal.
Pada saat yang sama, dibalik kepulan debu tersebut, si Pedang Kilat langsung meloloskan senjata pusaka andalannya.
Sringg!!! Wutt!!!
Suara nyaring terdengar. Disusul kemudian dengan melesatnya tubuh orang tua itu.
Ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang Zhang Xin sudah mencapai tahap sangat tinggi. Gerakannya juga terlampau cepat. Karenanya, meskipun puluhan senjata lawan sudah siap memotong tubuhnya, tapi hal itu bukanlah masalah serius.
Hanya dengan gerakan sederhana saja, ia mampu lolos dari puluhan senjata tajam tersebut.
Bersamaan dengan itu, pedang di tangannya juga langsung melakukan sebuah serangan. Serangan yang sederhana namun sangat mematikan.
Kelebatan cahaya putih keperakan menyapu di tengah udara hampa. Dentingan nyaring terdengar serempak.
Beberapa batang senjata seketika patah menjadi dua bagian. Disusul kemudian dengan jerit kesakitan.
Ketika debu lenyap, pada saat suasana kembali seperti semula, terlihat di lapangan luas itu sudah ada delapan anggota yang menjadi korban keganasan si Pedang Kilat.
Darah segar membasahi masing-masing tubuhnya. Delapan orang itu mengalami luka yang hampir sama. Dada mereka robek akibat goresan ujung pedang.
Melihat sudah tercipta korban jiwa, anggota Partai Panji Hitam sisanya langsung menghentikan gerakannya. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa si Pedang Kilat ternyata mampu membunuh delapan orang sekaligus hanya dalam waktu yang sangat-sangat singkat.
Hal seperti itu bukan hanya terjadi kepada mereka, bahkan Tiga Siluman Kanglam pun merasakan hal serupa. Mereka tidak percaya bahwa si Pedang Kilat mampu melakukannya.
Bukan karena apa, melainkan karena mereka tahu bahwa anggota Partai Panji Hitam yang ada di tempat itu, bukanlah anggota biasa.
Para anggota tersebut setara dengan pendekar kelas dua. Kemampuannya cukup lumayan. Apalagi dengan jumlah yang hampir tiga puluhan itu. Bukan suatu hal mudah untuk membunuh delapan orang sekaligus.
Tapi faktanya, si Pedang Kilat mampu melakukannya!
"Kenapa kalian berhenti?"
Zhang Xin bertanya sambil memandang semua lawan yang masih mengepungnya.
Suaranya masih terdengar ramah. Tapi sorot matanya sudah berubah. Sorot mata itu seperti seekor harimau yang sedang marah besar.
Dari setiap inci tubuhnya juga sudah keluar hawa pembunuh yang sangat pekat.
Kalau seorang pendekar sudah mengeluarkan hawa pembunuh sepekat itu, artinya, pendekar tersebut siap bertarung sampai titik darah penghabisan!
Suasana di sana seketika hening. Tidak ada orang yang berani berkata. Jangankan begitu, bahkan yang bergerak sedikit pun, rasanya tidak ada.
Semuanya terpaku di tempat masing-masing. Mereka baru sadar setelah mendengar bentakan dari si Tombak Sesat.
"Kenapa malah diam? Ayo serang keparat itu bersama-sama,"
Dia berteriak sambil menunjuk ke arah Zhang Xin dengan jarinya.
Para anggota seolah-olah baru bangun dari mimpinya. Begitu selesai ucapan si Tombak Sesat, akhirnya mereka pun kembali menyerang secara serempak.
Wushh!! Wushh!!!
Kali ini, dua puluh dua orang yang tersisa langsung mengeluarkan segenap kemampuan. Kerja sama yang mereka perlihatkan cukup baik. Serangannya juga bertambah hebat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Edy Herdiansyah
biksu sesat itu
2023-11-13
1
Iron Mustapa
/Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
2023-11-13
0
glanter
hajar trusss pak tua....
2023-10-13
1