Mendengar ucapan itu, Zhang Xin tidak berkata apa-apa. Ia hanya bisa tersenyum getir.
Lama keduanya terdiam. Kemudian segera terdengar kembali ia bicara.
"Aku ingin bertanya kepadamu,"
"Tanyakan saja. Setiap pertanyaan yang kau ajukan, aku pasti akan menjawabnya,"
Telapak Tangan Kematian menjawab dengan ekspresi wajah sungguh-sungguh.
Terhadap musuh lama yang berada di hadapannya sekarang, ia memang menganggap lain daripada yang lain.
Baginya, pertarungan yang dulu pernah ia alami itu sangat berkesan. Ia tidak akan mungkin bisa melupakannya sampai kapan pun.
Orang tua tersebut menganggap bahwa Zhang Xin adalah musuh yang istimewa. Alasannya karena dulu si Pedang Kilat sudah melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan musuh lain.
Asal tahu saja, salah satu alasan kenapa ia bisa hidup sampai sekarang tak lain adalah karena kemurahan hati Zhang Xin.
Ya, tepat sekali. Saat pertarungan dulu, sebenarnya bisa saja dia tewas di tangan si Pedang Kilat. Untunglah pendekar itu mempunyai jiwa besar, sehingga ia mau mengampuni selembar nyawanya.
Karena itulah saat ini ia tidak mau turun tangan secara langsung. Dirinya justru ingin bercakap-cakap meksipun ia sendiri tahu bahwa percakapan itu mungkin yang terakhir.
"Apakah kau adalah bagian dari mereka?" tanyanya sambil melirik kepada orang serba hitam yang sudah mengepung itu.
"Bukan, aku sama sekali bukan bagian dari mereka," Telapak Tangan Kematian menjawab dengan cepat.
"Benarkah kau bukan anggota dari Partai Panji Hitam?"
"Hemm, apakah kau sudah tidak percaya lagi dengan ucapan yang keluar dari mulutku?" bukannya menjawab, orang tua itu justru malah balik bertanya.
"Aku percaya," ucap si Pedang Kilat dengan cepat pula. "Hanya saja aku penasaran, kalau kau bukan bagian dari mereka, lalu kenapa kau bisa datang bersama dan bahkan ada niat ingin membunuhku?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, wajah tokoh sesat tersebut langsung berubah hebat. Tidak ada lagi tatapan mata tajam seperti tadi. Sekarang matanya tampak sayu. Seolah-olah ia sedang merasa sedih.
"Hahh ..." ia menghela nafas panjang dan berat. Seakan-akan dirinya sedang melepaskan beban yang menempel di pundaknya.
"Sebenarnya aku tidak ingin datang bersama mereka. Lebih-lebih lagi, aku tidak ingin membunuhmu,"
Orang tua itu berhenti sebentar. Sekedar melihat ekspresi wajah Zhang Xin.
Sesaat kemudian, ia segera melanjutkan lagi. "Aku begini karena membalas budi saja,"
"Membalas budi, kepada siapa?"
"Kepada Ketua Cabang Partai Panji Hitam wilayah Kanglam," katanya menjawab dengan penuh tekanan.
Zhang Xin kemudian menganggukkan kepala sebagai pertanda mengerti. Diam-diam ia pun merasa kagum kepada Telapak Tangan Kematian.
Walaupun ia adalah tokoh sesat dari aliran hitam, tapi apa yang ia lakukan justru seperti bukan berasal dari aliran hitam.
"Jadi kalau tidak terikat hutang budi, kau tidak mau membunuhku,?"
"Tentu saja. Kau adalah penyelemat hidupku, bagaimana mungkin aku tega menghabisi nyawamu?"
Meskipun ia dikenal sebagai iblis sesat yang jahat, tapi terhadap budi kebaikan orang, si Telapak Tangan Kematian tidak akan pernah melupakannya.
Mungkin inilah salah satu kelebihan. Mungkin pula yang membedakan ia dengan lainnya.
"Dengan kemampuanmu yang sekarang, seharusnya kau bisa membunuh Ketua Cabang itu, kan? Bahkan aku yakin, kau bisa menghabisi mereka dengan cukup mudah,"
Liu Lin yang sejak tadi menutup mulut, sekarang secara tiba-tiba mulai bicara.
Dia merasa tertarik dengan pembicaraan keduanya. Lebih dari itu, dia ingin bicara sekedar untuk membela diri dan suaminya.
Liu Lin yakin betul, kemampuan si Telapak Tangan Kematian itu sangatlah tinggi. Lalu kenapa ia tidak mau membunuh semua anggota Partai Panji Hitam yang terdapat di Kanglam, kalau memang tokoh sesat tersebut tidak ada berniat untuk membunuh ia dan suaminya?
Sementara itu, Telapak Tangan Kematian hanya bisa tersenyum getir ketika mendengar pertanyaan tersebut.
Setelah beberapa kali menghela nafasnya, dia segera memberikan jawaban pula kepada wanita itu.
"Apa yang Nyonya Zhang katakan memang benar. Tapi sebagai orang-orang persilatan, aku rasa kau juga tahu bahwa kita dilarang untuk ingkar janji. Setiap budi kebaikan harus dibalas. Apalagi aku sebagai pria, tentu saja harus bertanggungjawab,"
Tokoh sesat itu berkata dengan wajah murah dan nada sedih. Ia pun sebenarnya merasa serba salah. Tapi apa mau dikata, kenyataan telah berkata lain.
"Sudahlah isteriku, kalau memang kita harus tewas di tangannya. Aku merasa rela. Yang terpenting kita harus mati secara terhormat,"
Zhang Xin segera berkata dan mencoba untuk membuat Liu Lin sadar akan keadaannya.
Untunglah sang isteri sangat mengerti tentang dirinya. Maka dari itu, Liu Lin pun segera menuruti.
"Baiklah. Kalau emang begitu, lakukan saja apa yang menjadi kewajibanmu. Aku rela mati di tempat ini, asalkan mati di tangan kalian Lima Siluman Tanpa Ampun,"
"Maksud Nyonya Zhang?"
"Iya, aku hanya ingin tewas di tangan kalian. Tanpa ada campur tangan dari kelompok jahanam itu," kata Liu Lin sambil menyapu pandang kepada anggota Partai Panji Hitam.
Orang tua itu mengikuti pandangan mata Liu Lin dan segera paham apa maksudnya.
"Baik. Aku mengerti," ujarnya sambil menganggukkan kepala.
"Kapan kita akan memulainya?" tanya Zhang Xin kemudian.
"Sekarang pun tidak masalah,"
"Baik. Mari kita mulai,"
Pasangan pendekar itu segera melakukan kuda-kuda sebagai persiapan. Begitu juga dengan Lima Siluman Tanpa Ampun.
Namun sebelum pertarungan benar-benar dilangsungkan, si Telapak Tangan Kematian berkata lebih dulu kepada anggota Partai Panji Hitam yang ada.
"Ingat! Jangan ada satu pun dari kalian yang ikut campur dalam pertarungan ini," tukasnya dengan nada seram.
"Baik. Kami mengerti," jawab mereka secara bersamaan.
Sekarang situasinya sudah bisa dikendalikan. Tidak akan ada lagi orang yang bakal ikut campur kecuali hanya mereka yang bersangkutan saja.
"Mulai!"
Seru Zhang Xin dengan semangat yang menggelora.
"Lihat serangan!"
Si Telapak Tangan Kematian berseru. Begitu seruan selesai, ia segera melancarkan serangan pertamanya.
Tanpa tanggung-tanggung lagi, orang tua itu langsung mengeluarkan jurus-jurus yang terdapat dalam rangkaian jurus Sembilan Telapak Sesat.
"Telapak Menopang Pagoda!"
Wushh!!!
Kedua telapak tangan orang tua itu langsung mengincar titik mematikan. Hantaman dan sabetan telapak menciptakan gelombang kejut yang sanggup menyapu segalanya.
Mengetahui lawan sudah berlaku serius, Zhang Xin pun tidak main-main. Ia juga langsung melayani lawan dengan jurus-jurus tangan kosong yang dia miliki.
Walaupun dirinya adalah pendekar pedang, tapi ilmu tangan kosongnya juga tidak boleh dipandang ringan.
Apalagi rangkaian jurus Jari Awan. Jurus tangan kosong itu benar-benar dahsyat.
"Angin Datang Menggulung!"
Wutt!!!
Ia melesat ke depan. Tiga jari dikembangkan dan siap menghadapi telapak tangan lawan.
Pertarungan sengit pun terjadi. Dua tokoh itu langsung diselimuti oleh kelebatan cahaya dari masing-masing jurus yang digunakan.
Di sisinya, empat anggota dari Lima Siluman Tanpa Ampun juga sudah turun tangan. Mereka menyerang Liu Lin secara serempak dengan jurus kesatuan yang tidak bisa dipandang ringan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Andi Tiar
paragraf ini bertentangan dgn paragraf lain di chapter sebelumnya, di chapter sebelumnya dijelaskan alasan mereka dijuluki 5 iblis tanpa ampun krn selalu membalas dendam kpd musuh ketika mereka kalah dlm pertarungan, sekarang kok malah merasa berutang budi kpd musuh krn ngga di bunuh saat mereka bertarung sebelumnya
2023-12-08
3
Iron Mustapa
seru seru seru👍👍👍
2023-11-13
0
Imam Sutoto Suro
buseeet keren banget lanjutkan thor
2023-09-04
1