Tiga puluh jurus sudah terlewati sejak beberapa saat yang lalu. Posisi para pendekar kelas atas itu sering bertukar seiring berjalannya waktu.
Keringat sudah membasahi seluruh pakaian yang mereka kenakan. Tiga Siluman Kanglam mengeluh dalam hati, mereka tidak menyangka bahwa si Pedang Kilat ternyata benar-benar tangguh.
Saking tangguhnya sampai-sampai gabungan kekuatan mereka bertiga pun masih belum cukup untuk mencabut selembar nyawanya.
Meskipun benar mereka selalu berada di posisi menyerang, walaupun pada kenyataannya Tiga Siluman Kanglam selalu berada di atas angin, tapi untuk bisa membunuh Zhang Xin si Pedang Kilat, rasanya masih cukup jauh.
Butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa mengalahkannya.
Saat ini, dari tiga orang tokoh sesat itu, yang sedang menyerang Zhang Xin dengan segenap tenaga dan kemampuan adalah giliran si Pengemis Gila.
Walaupun pada hari-hari biasa, sikap dan tindak tanduknya mirip seperti orang gila, namun faktanya apabila sedang bertempur seperti sekarang, semua kegilaan itu tidak nampak sama sekali.
Si Pengemis Gila tidak terlihat seperti orang gila. Ia justru tampak seperti seekor singa jantan yang sedang mengamuk. Setiap sepak terjangnya mampu menggetarkan seisi hutan rimba. Setiap serangan yang yang ia berikan sanggup mencabut beberapa nyawa orang sekaligus.
Si Pedang Kilat tidak mau memandang rendah setiap serangan orang tua itu. Karenanya dia pun mulai mengimbangi gerakan lawan dengan jurus-jurus tangguh yang sudah ia kuasai dengan sempurna.
Benturan antara pedang dan tongkat terus terjadi. Mencapai jurus dua puluh, sebenarnya saat itu Zhang Xin bisa saja menghabisi nyawa si Pengemis Gila.
Tapi sayangnya, kesempatan itu harus sirna ketika di Tombak Sesat juga ikut nimbrung dalam pertarungan mereka.
Melihat dua orang rekannya terlibat dalam pertarungan yang sengit, tentu saja Biksu Seribu Tasbih pun tidak mau tinggal diam.
Bagaimanapun juga, dia harus turun tangan membantu dua orang rekannya.
Wushh!!!
Ia melompat seperti harimau yang akan menerkam mangsa. Begitu jaraknya sudah sangat dekat, gulungan tasbih langsung datang bagaikan kilat.
Tidak berhenti sampai di situ saja, dirinya kembali melanjutkan serangan dengan gerakan yang berbeda.
"Kalau situasinya terus seperti ini, terpaksa kita harus mengeluarkan jurus pamungkas," katanya di tengah-tengah pertempuran yang terus berlangsung itu.
"Baik, aku mengerti," jawab si Tombak Sesat.
"Aku juga berpendapat seperti itu," sahut Pengemis Gila.
Tiga Siluman Kanglam sudah setuju untuk mengeluarkan jurus pamungkas yang masing-masing mereka miliki. Pada dasarnya, untuk sekarang ini, memang hanya itu saja yang merupakan jalan terbaik.
Kalau tidak segera mengeluarkan jurus pamungkas, maka bukan suatu hal yang mustahil jika nyawa mereka bisa melayang. Minimal, ketiganya pasti akan mengalami luka yang sangat parah.
Sementara itu, setelah mengamb persetujuan bersama, secara serentak pula mereka langsung menarik langkah mundur. Ketiganya mempersiapkan diri, sesaat kemudian, jurus pamungkas dari Tiga Siluman Kanglam pun langsung digelar.
"Tongkat Gila Menyapu Alam ..."
"Sapuan Seribu Tombak Sesat ..."
"Tasbih Rontok Nyawa Sirna ..."
Wushh!!!
Wutt!!! Wutt!!!
Tiga buah jurus pamungkas yang sudah menggetarkan kolong langit sudah digelar. Tiga orang menyerang dari sudut yang berbeda.
Hawa di sekitar arena pertarungan pun langsung berubah drastis. Hawa pembunuhan semakin pekat. Pada saat seperti ini, Dewa Kematian seolah-olah sudah berada di sekitar mereka.
Setiap saat, Dewa Kematian siap menjalankan tugasnya untuk mencabut nyawa!
Diserang oleh jurus pamungkas dari setiap lawan, si Pedang Kilat tentu saja tidak bisa berpangku tangan. Ia bukan orang bodoh. Dia pun bukan patung. Jadi, mana mau dirinya hanya diam menanti Dewa Kematian mencabut nyawanya.
"Seribu Kilat Menghanguskan Daratan ..."
Wushh!!! Wutt!!!
Orang tua itu berteriak dengan sangat lantang. Suaranya ibarat guntur di tengah hujan deras. Belum selesai gema suaranya, dia malah sudah menghilang dari posisi semula.
Sesaat kemudian, terjadi sesuatu yang sangat mengagetkan Tiga Siluman Kanglam.
Dari setiap penjuru mata angin, mereka merasakan seolah-olah ada seribu kilat yang saat ini sedang mengancam jiwanya.
Kilat itu terus mengganggu konsentrasi dan bahkan menghalau setiap serangan yang diberikan oleh ketiganya.
Cahaya putih keperakan yang mereka lihat itu sebenarnya berasal dari sebatang pedang pusaka milik Zhang Xin. Tetapi karena saking cepatnya ia memainkan pedang, maka orang-orang tersebut hanya mampu melihat cahayanya, tanpa mampu melihat bentuknya.
Di satu sisi lain, jurus yang dikeluarkan oleh si Pedang Kilat pun mempunyai perbawa sihir. Sehingga setiap orang yang menjadi sasarannya, akan merasakan bahwa di sekitar arena pertarungan terdapat banyak kilat yang menyambar muka bumi.
Suara ledakan dan benturan nyaring terus terdengar. Semakin lama semakin banyak. Semakin menegangkan. Semakin seru juga pertarungannya.
Empat tokoh kelas atas dunia persilatan tersebut masih adu jurus. Sampai pada delapan puluh jurus, tiba-tiba si Pedang Kilat berteriak lantang kembali.
Ia kemudian melesat dengan cepat ke depan sana. Niatnya untuk menghabisi nyawa lawan menggunakan pedang sekaligus tenaga dalam yang sudah ia kuasai.
Tapi ternyata Tiga Siluman Kanglam juga seperti sudah mengetahui sekaligus membaca gaya pertarungannya.
Maka dari itu, sebelum ujung pedang menebus jantung, sebelum telapak tangan yang sudah dipenuhi oleh hawa sakti itu menghancurkan pembuluh darah, Tiga Siluman Kanglam sudah bergabung lebih dulu.
Mereka menyambut datangnya dua ancaman yang membawa maut itu!
Blarr!!!
Ledakan yang teramat besar terjadi. Seolah-olah di sana ada bubuk mesiu yang meledak dengan hebatnya. Debu kuning mengepul tinggi dan sangat tebal sehingga menutupi pandangan mata.
Sedangkan empat tokoh kelas atas itu, masing-masing terlempar cukup jauh ke belakang. Tiga Siluman Kanglam terpental sampai delapan langkah. Sedangkan si Pedang Kilat sempat sepuluh langkah jauhnya.
Tidak ada yang lebih baik di antara mereka. Akibat benturan barusan, keempatnya mengalami luka parah. Mereka sama-sama memuntahkan darah segar.
Tapi di antara semuanya, yang mengalami luka paling parah tentu saja Zhang Xin. Si Pedang Kilat itu kalah dalam adu tenaga barusan.
Walaupun dia hanya kalah seusap, tapi seperti yang telah kita ketahui, perbedaan sedikit dalam pertarungan tokoh kelas atas, jaraknya teramat besar.
Bahkan tidak sedikit para tokoh sakti yang tewas di medan pertarungan akibat perbedaan yang sedikit itu.
Cukup lama keempatnya berada dalam posisi terduduk. Organ dalam mereka terguncang keras, sehingga wajar kalau orang-orang itu membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk mengembalikan posisinya kembali.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba Zhang Xin menancapkan pedang pusskanya di tanah. Disusul kemudian dengan bangkitnya ia dari posisi tersebut.
Setelah berjuang beberapa waktu, akhirnya si Pedang Kilat pun berhasil berdiri. Ia mengusut darah di ujung mulutnya dengan ujung pakaian.
Sedetik kemudian, dirinya menguatkan tekad. Tekad untuk segera pergi dari tanah lapang yang luas itu.
Wushh!!!
Ia mencoba menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya. Kalau dalam situasi normal, siapa pun tidak ada yang meragukannya.
Namun dalam posisi seperti sekarang, ilmu meringankan tubuh yang ia kuasai justru telah menurun drastis.
Walaupun sudah mengerahkannya, tetap saja gerakan orang tua itu masih bisa dibilang lambat. Kalau saja ada pendekar kelas dua yang berniat mengejarnya, niscaya pendekar itu akan dengan mudah menangkap si Pedang Kilat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Markinyo
cerita lumayan bagus thor, tp untuk 1 perkelahian jgn terlalu byk episode thor..
2024-12-29
1
Iron Mustapa
lariiiiiiiiiii... 🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
2023-11-13
1
glanter
kabur dulu dech....
2023-10-13
1