"Oh, benarkah?" tanya si Pedang Kilat seolah-olah ia baru tahu tentang kebiasaan Tiga Siluman Kanglam.
"Tentu saja benar," kata Pengemis Gila menjawab dengan cepat.
"Kalau menghadapi musuh lain, kami mungkin masih bisa maju satu-persatu," timpal si Tombak Sesat. Ia menghela nafas sebentar, kemudian segera melanjutkan. "Tapi kalau untuk menghadapi si Pedang Kilat, hal itu sudah tidak berlaku lagi,"
"Memangnya kenapa?" tanyanya sambil mengangkat kedua alis.
"Karena kami tahu bahwa si Pedang Kilat bukanlah orang lain,"
Jawaban yang sangat singkat. Namun meskipun begitu, Zhang Xin sendiri sudah mengerti maksud dari ucapan tersebut.
Itu artinya, Tiga Siluman Kanglam tidak merendahkan dia. Di satu sisi lain, mereka pun jelas mengakui akan kehebatannya.
"Baik, aku mengerti," ucapnya seraya menganggukkan kepala.
"Kau pasti mengerti," sahut Biksu Seribu Tasbih.
Waktu terus berjalan. Matahari mulai bergeser ke sebelah barat. Di atas sana tidak ada gumpalan awan. Sehingga terik matahari terasa semakin menyengat kulit.
Di tanah lapang yang luas itu, empat tokoh dari dunia persilatan masih saling berhadapan satu sama lain. Di antara mereka belum ada yang berani mengambil tindakan.
Tokoh-tokoh kelas atas seperti mereka jelas berbeda dengan pendekar yang masih kelas bawah.
Mereka termasuk ke dalam orang-orang yang penuh dengan perhitungan. Sebelum mengambil tindakan, semuanya harus diperhitungkan sampai matang lebih dulu.
Karenanya, pembicaraan para tokoh kelas atas bukan hanya pembicaraan kosong. Dibalik itu, masing-masing dari mereka sebenarnya sedang mencari titik kelemahan lawannya.
Berbeda dengan para pendekar kelas bawah. Biasanya, orang-orang yang masih berada di tingkatan itu akan bertindak gegabah.
Kalau tokoh kelas atas lebih dulu mengandalkan otak lalu tenaga, maka pendekar kelas bawah justru sebaliknya.
"Tuan Zhang, sudah cukup lama kita bicara. Aku rasa, sekarang sudah saatnya kita bertukar pengalaman," kata si Tombak Sesat kembali bicara setelah membungkam mulut beberapa saat.
"Ya, aku rasa juga begitu," jawab Zhang Xin menganggukkan kepala.
"Tapi kami akan maju bersamaan sekaligus,"
"Tidak masalah. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan,"
"Hehehe, bagus sekali. Itu baru si Pedang Kilat yang gagah berani," kata Pengemis Gila tersenyum seraya memperlihatkan deretan giginya yang menghitam.
Wushh!!!
Sebelum kedua rekannya bergerak, ia malah sudah melancarkan serangannya lebih dulu, tepat setelah dirinya berkata.
Tongkat kayu itu sudah melesat bagaikan petir yang menyambar bumi. Cepatnya bukan main.
Karena sadar siapa tokoh yang sedang dihadapinya saat ini, maka di Pengemis Gila pun tidak mau memandang enteng. Begitu turun tangan pertama, dia langsung mengeluarkan jurus tongkatnya yang sudah menggetarkan rimba hijau.
Bayangan tongkat sudah tiba di atas kepala. Kalau tidak mempunyai gerakan cepat, niscaya kepala itu akan hancur.
Wushh!!!
Si Pedang Kilat juga mengambil tindakan. Tepat sebelum tongkat lawan menyambar batok kepalanya, dia malah sudah berpindah tempat.
Sayangnya, di posisi baru itu pun sudah ada lawan yang lain. Di sana ada si Tombak Sesat yang sudah menunggunya.
Tombak pusaka itu segera dilepaskan begitu melihat Zhang Xin sudah sangat dekat dengannya. Tokoh sesat tersebut mengeluarkan salah satu jurus tombak yang sudah ia andalkan selama ini.
Si Pedang Kilat tersenyum dingin. Ia mengangkat pedangnya dan menangkis tombak milik lawan.
Trangg!!!
Benturan terjadi. Percikan api seketika nampak merona di tengah teriknya matahari.
Belum habis akibat dari benturan kedua pusaka tersebut, dari sisi lain malah sudah ada serangan yang baru.
Biksu Seribu Tasbih ternyata sudah tidak bisa menahan diri lagi. Gulungan tasbih yang besar itu seolah-olah terbang mengarah kepada si Pedang Kilat.
Senjata aneh tersebut mengincar titik mematikan yang ada di tubuhnya.
Tiga serangan tokoh kelas atas dari golongan hitam itu benar-benar tidak bisa dianggap ringan. Setiap serangan mereka mampu mencabut nyawa manusia dalam waktu singkat.
Apalagi, waktu yang dibutuhkan juga hampir bersamaan. Jika sasarannya adalah orang lain, mungkin sudah sejak tadi ia mampus.
Sementara itu, setelah berhasil menghindari tiga serangan mematikan tersebut, si Pedang Kilat pun segera mengambil langkah yang berikutnya.
"Delapan Penjuru Delapan Ancaman!"
Wutt!!!
Pendekar tua itu berteriak dengan lantang. Seketika dia langsung mengeluarkan jurus kedua dari Kitab Pedang Kilat.
Meskipun baru tingkat dua, tapi jangan salah, kehebatan dari jurus itu sungguh tidak bisa dipandang sebelah mata. Setiap tingkatan dari Kitab Pedang Kilat mempunyai perbawanya tersendiri.
Tubuh Zhang Xin seolah-olah lenyap dari pandangan manusia. Ia bagaikan angin yang mampu berkelebat dengan sangat cepat.
Tiga Siluman Kanglam terkejut. Mereka merasakan dari setiap penjuru, datang sebuah ancaman yang sulit untuk dijelaskan.
"Hati-hati, dia mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna untuk mengelabui kita," teriak Biksu Seribu Tasbih memperingatkan kedua rekannya.
Apa yang dia ucapkan itu memang tidak salah. Jurus Delapan Penjuru Delapan Ancaman memang mengandalkan kecepatan.
Semakin sempurna ilmu meringankan tubuh si pengguna, maka semakin cepat juga jurusnya.
Wutt!!! Wutt!!!
Desiran angin tajam terasa seolah-olah pisau yang menyayat kulit. Tiga Siluman Kanglam saat ini sedang berada dalam konsentrasi penuh, semua indera di tubuhnya digunakan sampai ke titik maksimal.
"Di sisi kananmu," teriak si Pengemis Gila.
Tombak Sesat yang pada saat itu menjadi incaran utama langsung menoleh ke kanan. Tanpa basa-basi, dia langsung mengangkat senjata pusaka miliknya untuk menghalau serangan lawan.
Akibatnya segera terjadi lagi benturan yang keras. Tapi kali ini, masing-masing pihak tidak mau tinggal diam.
Dua orang lawan lainnya segera mengambil tindakan. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Tongkat kayu si Pengemis Gila sudah melayang di tengah udara. Tongkat itu tetap mengincar batok kepala lawan. Sedangkan di sisi lainnya, tasbih milik si biksu tua mengincar ke ulu hati.
Kalau sampai tasbih itu mengenai target sasaran dengan telak, niscaya pembuluh darah si Pedang Kilat akan pecah pada saat itu juga.
Menyadari betapa bahayanya posisi dia saat ini, Zhang Xin pun tidak mau terlalu mengambil resiko. Ia memilih melompat ke belakang untuk menghindari serangan gabungan tersebut.
Sayangnya pihak lawan tidak mau melepaskan dirinya. Mereka tetap mengejar dengan serangan dan jurus yang sama.
Karenanya, mau tidak mau si Pedang Kilat pun harus melayani.
Pertarungan antar tokoh kelas atas pun segera berlangsung sengit. Masing-masing pihak mengharapkan kemenangan yang cepat.
Mereka telah mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuannya. Empat orang itu seakan-akan telah berubah menjadi jejak bayangan. Orang biasa tidak akan ada yang sanggup menyaksikan gerakannya dengan jelas.
Dalam pertarungannya tersebut, si Pedang Kilat berusaha untuk tetap mempertahankan posisinya. Jurus-jurus yang ia keluarkan juga semakin tinggi.
Sayangnya, sekarang dia sedang menghadapi tokoh yang kemampuannya hampir setara dengan ia sendiri. Ditambah lagi jumlah mereka lebih banyak.
Akibat hal itulah, si Pedang Kilat tidak sanggup bergerak dengan bebas. Sehingga pertarungan pun tetap berjalan untuk beberapa waktu lamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
TO0 Dany
/Good//Good//Good//Good//Good//Good/
2024-07-05
0
Iron Mustapa
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
2023-11-13
1
Iron Mustapa
nama julukannya sih lumayan angker TIGA SILUMAN KANGLAM tp sayang banci krn berani cmn main keroyokan,, cemen lu bertiga... 🤣🤣🤣🤣
2023-11-13
0