Pasangan pendekar tersebut menatap kelima orang pria yang berjalan secara beriringan ke arahnya itu.
Suasana di sana langsung berubah tegang. Seolah-olah udara telah habis tanpa sisa. Kalau saja di tempat tersebut ada orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat, niscaya sudah sejak tadi mereka pingsan. Bahkan mungkin mampus karena tidak bisa bernafas.
Zhang Xin dan Liu Lin yang merupakan pendekar kelas atas saja merasa sedikit kesulitan bernafas saat kelima pria bertampang seram itu melepaskan hawa membunuh yang sangat tebal.
"Isteriku, kau masih ingat siapa saja kelima orang itu?" tanya si Pedang Kilat sambil melirik sekejap ke arahnya.
"Kalau aku tidak salah, mereka adalah Lima Siluman Tanpa Ampun. Kelompok tokoh sesat aliran hitam yang menguasai daerah Selatan ini," jawab Liu Lin setelah ia mengingat-ingat beberapa saat.
"Benar, tepat sekali," Zhang Xin menganggukkan kepalanya.
Lima orang yang sekarang sudah berada di depannya itu, bukan lain adalah tokoh-tokoh aliran sesat yang menguasai daerah Selatan.
Dalam dunia persilatan di daerah Selatan itu, nama mereka sangat ditakuti lawan disegani kawan. Sepak terjangnya yang sudah malang melintang selama puluhan tahun membuat kelimanya berkuasa.
Menurut kabar yang beredar, kalau mereka sudah bersatu, maka tidak ada satu pun orang yang mampu keluar hidup-hidup. Semuanya pasti mampus. Mampus dengan cara yang kejam.
Lima Siluman Tanpa Ampun itu adalah orang-orang kejam yang tidak mengenal kata ampun. Sepak terjang mereka mirip siluman yang tidak ada belas kasihan.
Oleh sebab itulah orang-orang persilatan memberikan julukan Lima Siluman Tanpa Ampun kepada mereka.
Di dalam rimba hijau, rasanya tidak ada satu pun tokoh yang berani mencari masalah dengannya. Malah datuk aliran sesat sendiri tidak mau membuat gara-gara dengan mereka berlima.
Dari dulu sampai sekarang, rasanya belum ada satu pun orang yang bisa mengalahkan mereka secara telak.
Kalau pun Lima Siluman Tanpa Ampun mengalami kekalahan, niscaya dalam waktu tidak lama, mereka akan segera membalaskan kekalahan itu dengan cara apapun juga.
Baik itu cara murni maupun licik. Langsung atau pun tidak langsung.
Selama orang yang telah membuatnya kalah bisa mampus, maka usaha apapun akan dilakukannya.
Dalam pada itu, suasana di lapangan tersebut sudah dikepung oleh pihak lawan. Orang-orang serba hitam yang tadi menyembunyikan dirinya, sekarang sudah berani menampakkan diri.
Posisi Zhang Xin dan Liu Lin saat ini ibarat seekor semut di tengah-tengah gerombolan serigala kelaparan.
Sudah tidak ada jalan keluar lagi, kecuali hanya berjuang sampai titik darah penghabisan.
Sementara di sisi lain, Lima Siluman Tanpa Ampun saat ini juga sudah menghentikan langkah kakinya. Mereka berhenti setelah terpaut jarak sekitar sepuluh langkah.
Di antara kedua belah pihak belum ada yang bicara. Semuanya masih diam. Namun bukan berarti diam seperti orang bodoh.
Diamnya orang-orang seperti mereka justru sedang melakukan banyak hal. Seperti mengukur kemampuan lawan, mencari titik kelemahan dan juga sebagainya.
Zhang Xin dan Liu Lin saat ini sedang melakukan hal seperti itu. Karenanya ekspresi wajah mereka terlihat sangat serius daripada sebelumnya.
Waktu terus berjalan. Angin pegunungan pun semakin berhembus lebih kencang lagi.
"Apa kabar kalian pasangan pendekar?" tanya tokoh sesat yang berdiri paling tengah.
Usia tokoh yang bertanya itu sudah sangat tua. Mungkin mencapai sekitar tujuh puluh tahun. Ia mempunyai mata setajam pisau. Dalam dunia persilatan, dirinya mempunyai julukan si Telapak Tangan Kematian!
Diberi julukan seperti itu tak lain adalah karena jurus telapak tengahnya benar-benar hebat. Sampai sekarang, jarang ada pendekar yang mampu bertahan dari semua jurus telapaknya.
Di satu sisi lain, si Telapak Tangan Kematian itu juga menjabat sebagai pemimpin dari Lima Siluman Tanpa Ampun.
Oleh karena itulah ia selalu berdiri di posisi paling tengah.
Si Pedang Kilat Zhang Xin tahu terhadap tokoh sesat itu. Apalagi di masa lalu, dia pun sempat bentrok dengannya.
Walaupun pertarungan yang pernah ia jalani dengannya tidak sampai ratusan jurus, tapi dari pengalaman itu saja ia sudah bisa memperkirakan sampai di mana kemampuannya.
"Kabar kami baik-baik saja," jawabnya tanpa rasa takut.
"Hahaha ... syukurlah. Rasanya, sudah lama kita tidak bertemu muka," jawab tokoh sesat itu seraya tertawa lantang.
"Malah sangat lama. Dulu pernah bertemu saat anakku masih bayi. Sekarang anakku sudah belasan tahun, jadi bisa dibayangkan betapa lamanya kita tidak berjumpa,"
Zhang Xin bicara dengan tenang dan santai seperti biasanya. Seolah-olah ia sedang bicara dengan sahabat lama.
Ini memang ciri khas dirinya. Meskipun ia sedang berhadapan dengan musuh besarnya, ia akan tetap berlaku seperti itu.
Bahkan mungkin walau Zhang Xin sedang berhadapan dengan Dewa Kematian sekali pun, ia akan tetap berlaku sama.
"Hemm, benar juga," si Telapak Tangan Kematian menganggukkan kepalanya. Dia juga masih ingat pada pertarungan yang pernah dilakukannya bersama si Pedang Kilat. "Lalu, apa yang kau lakukan selama ini?" tanyanya lebih lanjut.
"Setelah anakku mulai tumbuh, aku tidak sering lagi mengembara dalam dunia persilatan. Aku lebih menikmati hidup dengan keluarga kecilku. Bagaimana dengan kau sendiri?"
"Aku pun sama sepertimu. Hanya saja terdapat perbedaan yang cukup besar,"
"Apa perbedaan itu?" tanya si Pedang Kilat penasaran.
"Kalau kau menghabiskan waktu dengan keluarga kecilmu, maka aku menghabiskan waktu untuk melatih ilmu telapak tanganku,"
"Jadi, sekarang kau sudah berhasil menguasai jurus Sembilan Telapak Sesat itu?"
Zhang Xin tahu betul bahwa tokoh sesat yang sedang bicara dengannya itu mempunyai satu jurus yang ditakuti oleh semua lawannya.
Jurus menakutkan yang dimaksud itu bernama Sembilan Telapak Sesat. Jurus tersebut mempunyai sembilan tingkatan.
Dulu saat bertarung dengannya, orang tua itu baru menguasainya sampai ke tingkat lima. Tapi meskipun belum sempurna, dulu saja dirinya sudah sangat ditakuti.
Lalu, apa jadinya kalau sekarang ia sudah menguasai jurus andalannya dengan sempurna?
Si Pedang Kilat tidak tahu. Terlebih lagi dia tidak mau membayangkan hal tersebut.
"Lebih tepatnya hampir sempurna. Tinggal satu tingkat lagi, maka aku bisa menyempurnakan jurus Sembilan Telapak Sesat itu,"
Hati si Pedang Kilat langsung tergetar ketika mendengar jawaban itu. Diam-diam ia mengeluh.
Jika benar apa yang dikatakan si Telapak Tangan Kematian, maka sekarang sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup.
"Ah, selamat. Aku bersyukur atas pencapaianmu selama belasan tahun itu,"
Zhang Xin masih bisa tersenyum meskipun sebenarnya ia jeri. Malah lebih daripada itu, pendekar terkenal tersebut sampai-sampai membungkuk sebagai tanda penghormatan.
"Tidak berani, tidak berani. Jurus Sembilan Telapak Sesat yang aku miliki, rasanya masih berada di bawah jurus Pedang Kilat milikmu,"
Tokoh sesat itu berkata sambil memberikan isyarat dengan tangannya. Di hadapan si Pedang Kilat, siapa pun pasti tidak akan berani angkuh.
Alasannya karena semua orang sudah tahu bahwa pendekar itu selalu saja mempunyai kejutan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Lantas, apakah sekarang kejutan itu masih bisa berlaku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 516 Episodes
Comments
Adrian Nago
bertemu lawan malah curhat, lucu juga di cerita
2025-03-19
0
Iron Mustapa
langsung josss tdk usah basa basi... 😏😏😏😏
2023-11-13
1
BaYu Nugroho
kebanyakan ba bi bu
2023-10-02
2