Bismillahirohmanirohim.
Prang!
Prang!
Prang!
Suara pecahan kaca terdengar di mana-mana bahkan pecahan kaca itu sampai membuat adanya korban jiwa.
"Kalian semua memang tidak bisa diandalkan! Hanya mencari 1 orang saja tidak becus!"
Satu orang dengan pakaian mewah dengan warna yang serba hitam pekat menatap puluhan manusia dari lantai atas sambil terus membanting puluhan gelas kaca yang berukuran 32 oz ke arah bawah.
Gelas kaca itu terjun bebas dari lantai dua ke lantai satu, tidak ada yang boleh menghindar dari gelas-gelas kaca yang dilempar dari atas itu.
"Aku mengerahkan ratusan orang untuk menangkap 2 orang saja gagal! Sampai ratusan peluru dan bom ditembakan masih tidak berhasil!"
"Apa kerja kalian disini ha?! Mengurus dua tikus saja tidak becus!" orang itu terus memaki puluhan manusia yang berjejer rapi di lantai bawah.
Tatapannya yang begitu tajam seperti ingin memakan mangsanya saat itu juga. "Bangkainya saja tidak kalian temukan! Aku beri kalian waktu 1 bulan jika kalian masih tidak menemukan orang itu jangan harapan keluarga kalian bisa selamat" ancamnya.
"Sepertinya kalian lupa jika hidup dan mati kalian ada ditanganku" ucap orang itu dengan bangga.
Padahal yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah. Entah memiliki apa dia hingga berani mengatakan hidup dan mati orang-orang itu ada ditanga nya.
"Ingat aku tidak mau mendengar kabar lagi jika kalian pulang tidak mendapatkan informasi apa-apa sedikit pun!" ucap orang itu dengan tegas.
Prang!
Prang!
Dia kembali menjatuhkan gelas sebelum pergi meninggalkan tempatnya bicara tadi.
Entah sudah berapa banyak orang yang terkena serpihan gelas kaca itu, ada yang sampai mengenai mata mereka.
"Bos Robert memang begitu keterlaluan!" ucap salah satu orang yang ada di dalam puluhan manusia itu.
Sudah banyak darah yang bercucuran dari tempat itu, saat mereka akan pergi untuk menolong yang sudah terluka atau hanya sekedar menyelamatkan diri mereka sendiri, seorang dengan pakaian berbeda dari lantai dua di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat tadi mengeluarkan suara.
"Ini hukuman untuk kalian yang sudah gagal menjalankan misi yang bos berikan! Segera obati yang terluka buang saja jika ada yang terluka parah atau kurung dia ini perintah dari bos langsung!" ucap orang itu dengan suara yang menggema di seluruh tempat itu.
Sementara di lantai bawah ada beberapa orang yang mengepalkan tangan mereka dengan kuat, mau melawan tidak bisa mereka kalah dengan kekuatan dan jumlah.
Mau berkhianat bukan hanya mereka nanti yang terkena dampaknya, tapi juga keluarga mereka yang tidak bersalah bahkan tidak mengetahui apa-apa.
Bertahan tetap disiksa seperti tahanan disuruh melakukan apa saja, jika membantah mati adalah hukumannya.
"Ini benar-benar tidak adil untuk orang-orang seperti kita!" masih tidak terima dengan perlakuan bos mereka yang tidak bisa manusia manusiakan manusia.
"Sudahlah diam Rajo, kau mau berbuat apa sudah tidak bisa, salahkan dirimu sendiri kenapa bersedia menjadi anggota Robert" sahut salah satu temannya.
"Tapi ini bukan sebuah pekerjaan, kita lebih diperlakukan seperti budaknya"
"Sudah diam Rajo atau sebentar lagi belati dari lantai dua mengenai tepat di jantungmu" peringat salah satu temannya.
"Dari pada sibuk mengoceh yang tidak jelas lebih baik bantu temanmu yang terluka dan pastikan jangan sampai ada yang terluka parah diantara kita"
Mereka semua sibuk akhirnya sibuk membantu satu sama lain agar bisa cepat selesai, penyesalan orang-orang itu adalah sudah menjadi bagian dari anggota Robett, yang ternyata di dalamnya penuh hal-hal yang begitu kejam.
Sekali saja ketahuan berkhianat bukan hanya orang berkhianat itu saja yang akan terkena imbasnya, tapi juga orang-orang terdekat mereka akan merasakan hal yang sama.
Satu jam kemudian lantai satu sudah kembali seperti semula tidak ada lagi serpihan kaca di lantai itu, semuanya sudah aman, orang-orang yang terluka sudah dibantu oleh dokter untuk mengobati luka-luka yang ada pada tubuh mereka.
Di ruang yang sangat gelap di rumah itu dua orang sedang berdiskusi, lebih tepatnya satu orang diantara mereka berdua sedang memberikan informasi apa yang sudah terjadi.
Bark!
Bark!
Brak!
Laki-laki berbaju hitam pekat itu dengan gaya yang mewah menggebrak meja kerjanya sendiri dengan begitu kuat.
"Bos Robert sabar dulu" ucap orang kepercayaan yang sering dipanggil raja pembunuh atau jika di markas ada dijuluki Rapum yang artinya raja pembunuh itu tadi.
Lagi-lagi Robert menggebrak meja nya dengan begitu kasar.
Bark!
"Sabar? sabar kamu bilang Rapum! Aku sudah dua kali mencoba melakukan pembunuhan untuk Azam Abraham itu tapi selalu gagal!"
"Dan sekarang kamu bilang sabar! Yang benar saja apa kamu waras Rapum!" maki Robert.
Saat ini emosi orang itu sudah tidak terkendali lagi, bahkan gelas yang sudah dia pecahan tadi sudah tidak terhitung berapa jumlahnya.
"Dan lebih lagi rencana yang sudah disusun dengan begitu matang kemarin gagal begitu saja! Padahal sudah dipastikan jika bom dan ratusan peluru itu akan menghancurkan mobil Azam itu"
"Setelah kerugian yang aku alami begitu besar aku tak mendapatkan hasil apa-apa bahkan bangkai Azam saja tidak ada ditanganku!" Robert yang merupakan penjahat yang terkenal paling lihai di Negara mereka mengeluarkan semua unek-unek dalam dirinya.
"Maafkan saya bos Robert, saya sudah salah!" Rapum tidak berani menatap Robert dia sudah benar-benar salah bicara.
"Sekarang pikirkan bagaimana cara agar kita bisa mendapatkan kabar si Azam itu!" suruh Robert dengan tegas.
"Bos saya sudah mendapatkan kabar dari salah satu anak buah kita yang ditahan oleh Azam, dia mengatakan jika hanya ada Kino bersama mereka sementara Azam tidak ada disana"
"Sekarang dimana mereka berada?" Rapum menggeleng lemah tanda dia tak mendapatkan kabar apa-apa lagi selain tentang keberadaan Kino.
"Sungguh kalian semua tidak bisa diandalkan sama sekali!" kesal Robett, padahal dia juga sudah ikut turun tangan.
"Kerjakan tugasmu Rapum aku ingin sendiri sekarang sebelum aku ingin membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri!" usir Robert pada orang kepercayaannya.
Tidak ada bantahan dari Rapum, malah sebelum pergi dia memastikan lebih dulu jika bosnya itu akan baik-baik saja"
"Saya harap bos tidak melakukan hal gila" ucap Rapum sebelum bangkit dari tempat duduknya.
Robett hanya mengangguk dan meyakinkan Rapum jika dia tidak akan melakukan hal gila seperti sebelumnya saat gagal membunuh Azam.
Setelah itu barulah Rapum pergi dari ruangan yang berwarna serba hitam itu, di dalam ruangan itu seperti tidak ada kehidupan sedikitpun, hanya ada kegelapan di dalam ruangan tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments