Bismillahirohmanirohim.
Azam menatap malas rumah mewah yang ada di depannya saat ini, entah kenapa laki-laki itu tak bahagia dengan hidupnya saat ini, bukan tidak bersyukur tapi itulah yang dia rasakan sekarang. Tidak bahagia.
Siapa yang tak senang jika hidup dipenuhi dengan kemewahan, hidup berdampingan dengan harta, hidup bergelimangan harta, tentu setiap orang merasa merekalah orang yang paling bahagia, tapi tidak dengan Azam.
Semuanya berbanding terbalik dengan realita yang ada, sekalipun Azam tak pernah merasa bahagia, bahkan Azam saja lupa kapan terakhir dirinya tersenyum.
Bukan karena cinta atau kisah asmara yang membuat Azam seperti ini, tapi ada hal lain yang membuat dirinya sendiri tak tahu apa kurang dari dirinya saat ini.
"Bos kenapa anda melamun?"
"Hmmm" Azam hanya berdehem tak menjawab pertanyaan anak buahnya.
Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam rumah yang bak istana itu, walaupun memiliki rumah seindah istana tapi Azam tak pernah menemukan kebahagiaan di dalamnya.
Orang tua Azam sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing begitu juga dengan dirinya dan sang adik, tak pernah ada canda tawa di rumah mewah itu.
"Bos ini hasil yang kita dapat seminggu lalu, para pebisnis ilegal yang ingin menghancurkan perusahaan bos sudah diamankan" seorang anak buah Azam menyodorkan sebuah dokumen yang berisi data-data tentang orang-orang itu.
Azam bangkit dari kursinya tanpa ekspresi, bahkan tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut Azam sedari tadi.
Azam berjalan kembali ke dalam mobilnya, tapi belum sempat masuk ke dalam mobil dia melihat mama dan papa nya baru saja pulang, bersama seorang perempuan yang hanya Azam tahu namanya saja.
"Mau kemana lagi Azam? Zevana main ke rumah loh"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Azam, laki-laki itu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil.
Mama dan papa nya pun tak peduli jika Azam mengabaikan mereka. Kedua orang tua dari dua anak itu melangkah masuk ke dalam rumah, sambil mengajak Zevana masuk.
Tak ada respon apapun juga dari perempuan yang bernama Zevana itu, karena setiap dia berkunjung ke rumah keluarga Abraham pasti hal sama yang dia dapatkan.
Azam yang tak pernah berekspresi, kedua orang tua Azam yang tak pernah peduli dan tak pernah ingin tahu apa yang dikerjakan putra putra mereka.
Anak buah Azam yang selalu bersamanya itu, melajukan mobil milik Azam, tanpa Azam beritahu pun dia tahu kemana tujuan mereka saat ini.
Azam melamun di dalam mobilnya, dia sedang memikirkan hidupnya yang memiliki segala-galanya namun tak ada kebahagian sama sekali yang terpancar di hidup ini.
"Kenapa hidup ini begitu hampa? Padahal aku memiliki semuanya yang tak dimiliki orang lain, orang tua aku ada, keluarga lengkap, bahkan apapun yang aku inginkan pasti bisa aku dapatkan, tapi tak tahu kenapa hidup ini terasa begitu hampa" batin Azam, dia menatap keluar jendela mobil.
Suasana mendung seakan menggambarkan isi hati Azam yang begitu hampa ini, bahkan gerimis mulai berjatuhan satu persatu.
Tak terasa anak buah Azam memberhentikan mobilnya di sebuah gedung yang begitu mewah. "Kita sudah sampai bos" ucap anak buah Azam, sambil membukakan pintu untuk dirinya.
Lagi-lagi Azam tak bersuara dia hanya berdehem, membenarkan jas yang dia kenakan.
Azam berjalan lebih dulu, sementara anak buahnya mengikuti Azam dari belakang. "Kapan bos bisa tersenyum padahal dia punya segalanya" batin anak buah Azam.
Dia sudah biasa dengan pandangan Azam yang tanpa ekspresi.
Sampai ditempat yang Azam tuju, dia menatap orang-orang yang berada di sana dengan tatapan tajam miliknya.
"Dasar orang-orang tidak tahu diri!" maki Azam dalam benaknya.
"Kino" panggil Azam pada anak buahnya yang selalu menemani Azam.
"Iya bos!"
"Aku tanya kamu, lebih asik mereka dibuat apa?" tanya Azam dengan tatapan tajam yang dia berikan pada Kion.
"Itu terserah anda bos!" Kino tahu jawaban yang dia berikan itu salah, tapi apapun yang dia usulkan pada Azam, semuanya pasti salah.
"Aku malas mengurus tikus-tikus tak berharga ini, kamu urus mereka Kino dan pastikan mereka membuka mulut, siapa yang sudah menyuruh mereka melakukan semua ini"
Azam berlalu pergi begitu saja, setelah menyerahkan semua urusannya pada Kino, memiliki kekuasan tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan Azam begitu saja, termasuk menyuruh orang dengan seenak dirinya, sesuka hatinya.
Azam berjalan mengikuti kemanapun kakinya melangkah, dia tidak peduli dengan gemercik air hujan yang perlahan-lahan membasahi dirinya.
Intinya hari ini dia ingin mencari sendiri seperti apa kebahagian yang sesungguhnya itu, Azam tak sadar entah dia sudah berjalan dimana saat ini.
"Apakah kebahagian itu? dan untuk apa ada manusia dimuka bumi ini? Kepada siapa diri ini harus menuntut kebahagiaan yang sesungguhnya?" Azam terus bertanya pada dirinya sendiri.
Sudah lama sekali dia merenungkan hal-hal semacam itu, tapi sampai saat ini Azam tak kunjung mendapatkan jawaban yang tepat dan memuaskan.
Terlahir dari keluarga kaya raya yang lebih mementingkan materi, materi dan materi. Yang lainnya selalu di nomor 2 kan oleh keluarga Abraham, membuat Azam sendiri tak tahu dia saat ini beragama apa.
Walaupun jelas di KTP nya tertulis dia beragama islam.
Azam yang sudah berjalan sedikit jauh tak sadar, jika di depannya ada angin kencang yang siap menghantam kapan saja.
Angin itu sekali hembus menyapu Azam dan yang berada di sekitar tempat itu. "Ada apa ini?" Azam berusaha membuka matanya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Hingga 5 menit berlalu angin itu sudah pergi meninggalkan Azam yang sudah tak sadarkan diri dan tempat disekitar sudah begitu berantakan.
Perlahan Azam membuka matanya, sambil menahan kepalanya yang begitu sakit, entah apa sebabnya Azam sendiri lupa.
"Argh..Argh...Argh....! Kenapa kepalaku sakit sekali" keluh Azam.
"Dimana aku?" tanyanya saat sudah membuka mata dengan sempurna. "Masih di tempat yang sama, tapi kenapa tempat ini menjadi begitu berantakan" ujar Azam lagi.
Azam melihat seperti ada cahaya berwarna putih kebiruan di depannya, tanpa pikir panjang Azam menggapai cahaya itu.
Ting........! Entah apa yang terjadi Azam sendiri tidak tahu, tiba-tiba setelah dia berhasil menggapai cahaya tadi seperti ada yang bersuara, tapi entah dari mana.
[( selamat anda berhasil mengaktifkan sistem keberuntungan untuk mencapai sebuah kebahagiaan, anda akan tahu kebahagiaan itu apa setelah menjelajah bersamaan System Ikon, sekali lagi selamat pada anda!)]
" ....." Azam hanya mengerutkan dahinya tak mengerti entah dari mana suara itu berasal.
"Siapa yang bicara?"
[Ini adalah sebuah sistem yang dapat membantu anda!]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments