Bab 12. permintaan Azam

Bismillahirohmanirohim.

"Aku membebaskan kalian semua, aku juga akan mengirim kalian ke sebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh Robert, kalian akan hidup tenang di sana tanpa takut Robert mencari kalian" terang Azam.

Kino yang mendengar ucapan bosnya terkejut setengah mati, apakah ini sisi lain dari bosnya itu, piki Kino.

Masih tidak percaya dengan keputusan yang Azam ambil, biasanya Azam akan menghukum orang yang mengusiknya sampai lumpuh walau tidak merenggut nyawa sekalipun.

"Alhamdulillah terima kasih tuan Azam, kami semua juga melakukan hal ini demi mendapatkan uang agar bisa menghidupi keluarga kami, kami juga tak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Robert"

"Jika tidak keluarga kami yang akan terkena imbasnya" ucap salah satu tahanan pada Azam.

Tapi Azam tak mendengarkan dengan jelas dia hanya terusik dengan lafal Alhamdulillah yang baru saja disebutkan orang tadi.

'Alhamdulillah' batin Azam mengulangi apa yang orang tadi ucapkan dalam hatinya.

Azam tak tahu ada perasaan nyaman yang masuk ke dalam hatinya saat mendengar lafadz Alhamdulilah itu.

"Sama-sama! Aku juga akan memberikan sedikit uang untuk kalian membangun usaha baru disana, alasan jangan bekerja kotor lagi seperti sebelumnya!" tegas Azam.

"Satu lagi besok aku dan Kino sendiri yang akan mengantar kalian ke desa itu" Azam berlalu pergi setelahnya.

Azam merasa dirinya sudah terlalu banyak bicara, sedangkan orang-orang yang berada di dalam jeruji besi itu bersujud syukur karena mereka akan segera bebas.

Sementara Kino  jangan tanya tentu saja dia bingung dengan keputusan Azam yang berbeda sekali dengan yang akhir-akhir ini.

"Aku curiga dengan bos" batin Kino.

Otak asisten Azam tidak tak sampai untuk menyadari apa yang terjadi pada Azam. "Kino kita ke kantor sekarang!" intropeksi Azam, Kino yang sedang berperang dengan pikirnya terlonjak kaget karena Azam tiba-tiba saja berbalik mengarahkan pada dirinya.

"Iya bos!" jawab Kino spontan karena kaget.

Kino terus mengikuti langkah Azam menuju ruang CEO Abraham group, dimana ruang Azam berada, tadi pagi sebenarnya Azam akan pergi ke perusahaan milik ayahnya yang dikelola oleh sang ayah dan adiknya.

Tapi dia urungkan saat memiliki hal penting yang harus segera dia selesaikan. [Selamat anda sudah mencapai kebaikan 0'2%]

Azam menatap ke atas sebentar apa yang Azam lakukan Kino pun mengikutinya padahal Azam tak menyuruhnya sama sekali.

'Yang benar saja baru 0,2%' error kali sistemnya" Azam masih tak percaya dengan pencapaian kebahagiannya yang baru saja mencapai hanya dengan jumlah 0,2%  tidak lebih.

[Jangan khawatir besok jika mereka bebas pencapaian anda akan semakin besar dan baik jika anda sudah membebaskan mereka semua]

Setelah mendengar penjelasan dari sistem Ikon Azam  memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan apa yang akan dia alami besok.

Azam yang hendak melanjutkan langkahnya terperangah dengan tingkah Kino yang masih betah mendongakan kepalanya untuk menatap ke atas.

"Apa kamu masih betah dengan posisi seperti itu Kino" ucap Azam sambil berlalu begitu saja, sadar dengan yang dia lakukan Kino segera mempercepat langkahnya menyusul Azam.

"Bodoh kamu Kino lagipula kenapa juga mengikuti apa yang bos Azam lakukan" umpatnya pada diri sendiri.

Pulang kerja Azam tak kemana-mana lagi dia langsung pulang ke rumah, sampai di rumah semua orang sudah berada disana Erlang dan pak Heru juga baru pulang kerja.

"Sore pa" sapa Azam dengan sedikit tersenyum.

"Sore" sapa Heru balik, sudah satu bulan ini setiap pagi dan sore Azam akan menyapa kedua orang taunya hal yang sama dilakukan oleh Erlang.

Mungkin karena terbiasa mendengar Azam menyapa semua orang Erlang pun melakukan hal yang sama, bahkan di kantor saja Erlang sudah tak sedingin dulu.

"Sore bang baru pulang juga?" Azam mengangguk mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama sambil membahasah  apa yang mereka alami hari ini.

Saat makan malam Azam mengatakan pada kedua orang tuanya jika besok dia akan pergi untuk waktu yang cukup lama.

"Pa, ma besok Azam akan berangkat ke sumba" ucapnya.

"Ngapain bang?" Erlang yang penasaran langsung bertanya tanpa menunggu mama dan papa nya bertanya lebih dulu.

Azam menghembuskan nafas kasar. "Ada urusan yang harus segera diselesaikan"

Erlang yang sedang mengunyah makanannya memperhatikan cara bicara sang kakak. "Sepertinya kamu akan membereskan masalah yang berat bang, dari cara bicaramu saja kamu terlihat begitu frustasi" komentar Erlang.

Azam hanya mengangkat bahunya acuh dia juga tidak tahu kenapa dia merasa akan menghadapi hal besar di Sumba nanti  padahal hanya akan mengantar orang-orang itu agar tidak kecolongan dengan Robert.

"Berapa lama memangnya?" tanya Maya memastikan.

"Mungkin 1 atau tidak 2 tahun" jawab Azam dengan enteng.

"Apa!"  kaget Erlang dan Maya sampai membuat pak Heru tersedak.

"Santai, santai, kalian kenapa sih kan Azam hanya akan pergi sebentar bukan selama-lamanya" pak Heru yang sedari tadi diam akhirnya berusaha juga.

"Tadi kaget ajak kok pa"

"Jadi Azam mau minta tolong pada Erlang agar mengurus Abraham group" cicintnya.

"Sudah aku duga ini sih" sahut Erlang.

Mereka berempat terus mengobrol sampai makanan di piring mereka masing-masing tanpa sadar sudah tandas tak tersisa.

"Kenapa tidak menyuruh Kino saja kak" usul Erlang dia enggan meninggalkan perusahaan papa nya walaupun hanya sementara waktu saja.

"Kino akan ikut denganku" ucapan Azam itu malah membuat sang adik curiga.

"Sepertinya ada yang salah dengan kamu dan Kino bang, kenapa kalian berdua kemana-mana selalu bersama" Erlang menatap sang kakak curiga.

"Maksudnya?" Azam sama sekali tak mengerti dengan perkataan ambigu adiknya itu.

"Ya heran saja selalu bersama Kino, jika ada Zevana abang malah tak peduli"

Azam mulai paham dengan perkataan adiknya. "Kau anggap abangmu ini penyuka sesama jenis apa"

"Kali"

"Erlang! Aku juga masih waras ya, amit amit suka sama cowok" membayangkan saja Azam sudah tidak mampu.

Tapi bukan itu yang dia pikiran sekarang bukan masalah cinta tapi masalah kebahagiaan yang sesungguhnya, untuk apa hidup jika tak tahu tujuan selanjutnya akan kemana begitulah pikiran  Azam.

"Mama baru ingat Erlang tak papa mengurus Abraham group nanti biar Zevana yang membantu papa, lagipula dia asistenmu kan, mama juga akan membantu"

"Ya papa setuju dengan usulan mama" sahut pak Heru cepat, bahkan lebih cepat sebelum Erlang protes.

"Jadi aku mengurus Abraham group sendirian?" Erlang seakan tak percaya akan mengurus perusahaan kakaknya yang bergerak di bidang pertanian itu.

Ketiga orang itu mengangguk dengan kompak. "Itung-itung belajar mengelola  perusahaan sendiri nanti juga kamu yang bakal pegang perusahaan papa"

Episodes
1 Bab 1. Musuh dalam selimut
2 Bab 2. Tak bahagia
3 Bab 3. Sistem Ikon
4 Bab 4. mengenal diri sendiri?
5 Bab 5. Misi pertama sulit?
6 Bab 6. Memiliki prinsip hidup?
7 Bab 7. Kecelakaan tunggal
8 Bab 8. Tak pernah sebelumnya
9 Bab 9. Hampir berhasil
10 Bab 10. Misi pertama berhasil
11 Bab 11. Misi kedua
12 Bab 12. permintaan Azam
13 Bab 13. Orang tak dikenal
14 Bab 14. Merasa hal aneh
15 Bab 15. Siapa pak Rohim?
16 Bab 16. Dakwah pak Rohim
17 Bab 17. Akan Mulai belajar
18 Bab 18. Obrolan bermanfaat
19 Bab 19. Azam mengirim pesan
20 Bab 20. Robert
21 Bab 21. Tata cara berwudhu
22 Bab 22. pulang sholat subuh
23 Bab 23. Misi kedua selesai
24 24. Lantaran niat baik
25 Bab 25. Keresahan Azam
26 Bab 26. Misi ketiga
27 Bab 27. Rencana Azam
28 Bab 28. Lombok
29 Bab 29. Kino dan Erlang
30 Bab 30. Azam pamit
31 Bab 31. Pergi dari Lombok
32 Bab 32. Lorong waktu
33 Bab 33. Ditolong orang
34 Bab 34. Rencana Rapum
35 Bab 35. Tak tahu artinya
36 Bab 36. Mafia Black Bar
37 Bab 37. Desa sumber jaya
38 Bab 38. Rencana gagal
39 Bab 39. Azam Abraham
40 Bab 40. Menolong mereka
41 Bab 41. Sudah dimulai
42 Bab 42. kekacauan
43 Bab 43. Berhasil
44 Bab 44. Memancing
45 Bab 45. Melanjutkan perjalanan
46 Bab 46. Misi keempat
47 Bab 47. Tempat yang dituju
48 Bab 48. Berkenalan
49 Bab 49. Robert dan Han
50 Bab 50. Rumah usang
51 Bab 51. Merasa haus
52 Bab 52. Curiga
53 Bab 53. Falback Azam dan Ruli
54 Bab 54. Sembuh
55 Bab 55. Terbongkar
56 Bab 56. misi selesai
57 Bab 57. Bertemu nenek
58 Bab 58. kebahagain
59 Bab 59. keluarga Abraham
60 Bab 60. Allhamadulilah
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1. Musuh dalam selimut
2
Bab 2. Tak bahagia
3
Bab 3. Sistem Ikon
4
Bab 4. mengenal diri sendiri?
5
Bab 5. Misi pertama sulit?
6
Bab 6. Memiliki prinsip hidup?
7
Bab 7. Kecelakaan tunggal
8
Bab 8. Tak pernah sebelumnya
9
Bab 9. Hampir berhasil
10
Bab 10. Misi pertama berhasil
11
Bab 11. Misi kedua
12
Bab 12. permintaan Azam
13
Bab 13. Orang tak dikenal
14
Bab 14. Merasa hal aneh
15
Bab 15. Siapa pak Rohim?
16
Bab 16. Dakwah pak Rohim
17
Bab 17. Akan Mulai belajar
18
Bab 18. Obrolan bermanfaat
19
Bab 19. Azam mengirim pesan
20
Bab 20. Robert
21
Bab 21. Tata cara berwudhu
22
Bab 22. pulang sholat subuh
23
Bab 23. Misi kedua selesai
24
24. Lantaran niat baik
25
Bab 25. Keresahan Azam
26
Bab 26. Misi ketiga
27
Bab 27. Rencana Azam
28
Bab 28. Lombok
29
Bab 29. Kino dan Erlang
30
Bab 30. Azam pamit
31
Bab 31. Pergi dari Lombok
32
Bab 32. Lorong waktu
33
Bab 33. Ditolong orang
34
Bab 34. Rencana Rapum
35
Bab 35. Tak tahu artinya
36
Bab 36. Mafia Black Bar
37
Bab 37. Desa sumber jaya
38
Bab 38. Rencana gagal
39
Bab 39. Azam Abraham
40
Bab 40. Menolong mereka
41
Bab 41. Sudah dimulai
42
Bab 42. kekacauan
43
Bab 43. Berhasil
44
Bab 44. Memancing
45
Bab 45. Melanjutkan perjalanan
46
Bab 46. Misi keempat
47
Bab 47. Tempat yang dituju
48
Bab 48. Berkenalan
49
Bab 49. Robert dan Han
50
Bab 50. Rumah usang
51
Bab 51. Merasa haus
52
Bab 52. Curiga
53
Bab 53. Falback Azam dan Ruli
54
Bab 54. Sembuh
55
Bab 55. Terbongkar
56
Bab 56. misi selesai
57
Bab 57. Bertemu nenek
58
Bab 58. kebahagain
59
Bab 59. keluarga Abraham
60
Bab 60. Allhamadulilah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!