Bismillahirohmanirohim.
"Aku membebaskan kalian semua, aku juga akan mengirim kalian ke sebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh Robert, kalian akan hidup tenang di sana tanpa takut Robert mencari kalian" terang Azam.
Kino yang mendengar ucapan bosnya terkejut setengah mati, apakah ini sisi lain dari bosnya itu, piki Kino.
Masih tidak percaya dengan keputusan yang Azam ambil, biasanya Azam akan menghukum orang yang mengusiknya sampai lumpuh walau tidak merenggut nyawa sekalipun.
"Alhamdulillah terima kasih tuan Azam, kami semua juga melakukan hal ini demi mendapatkan uang agar bisa menghidupi keluarga kami, kami juga tak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Robert"
"Jika tidak keluarga kami yang akan terkena imbasnya" ucap salah satu tahanan pada Azam.
Tapi Azam tak mendengarkan dengan jelas dia hanya terusik dengan lafal Alhamdulillah yang baru saja disebutkan orang tadi.
'Alhamdulillah' batin Azam mengulangi apa yang orang tadi ucapkan dalam hatinya.
Azam tak tahu ada perasaan nyaman yang masuk ke dalam hatinya saat mendengar lafadz Alhamdulilah itu.
"Sama-sama! Aku juga akan memberikan sedikit uang untuk kalian membangun usaha baru disana, alasan jangan bekerja kotor lagi seperti sebelumnya!" tegas Azam.
"Satu lagi besok aku dan Kino sendiri yang akan mengantar kalian ke desa itu" Azam berlalu pergi setelahnya.
Azam merasa dirinya sudah terlalu banyak bicara, sedangkan orang-orang yang berada di dalam jeruji besi itu bersujud syukur karena mereka akan segera bebas.
Sementara Kino jangan tanya tentu saja dia bingung dengan keputusan Azam yang berbeda sekali dengan yang akhir-akhir ini.
"Aku curiga dengan bos" batin Kino.
Otak asisten Azam tidak tak sampai untuk menyadari apa yang terjadi pada Azam. "Kino kita ke kantor sekarang!" intropeksi Azam, Kino yang sedang berperang dengan pikirnya terlonjak kaget karena Azam tiba-tiba saja berbalik mengarahkan pada dirinya.
"Iya bos!" jawab Kino spontan karena kaget.
Kino terus mengikuti langkah Azam menuju ruang CEO Abraham group, dimana ruang Azam berada, tadi pagi sebenarnya Azam akan pergi ke perusahaan milik ayahnya yang dikelola oleh sang ayah dan adiknya.
Tapi dia urungkan saat memiliki hal penting yang harus segera dia selesaikan. [Selamat anda sudah mencapai kebaikan 0'2%]
Azam menatap ke atas sebentar apa yang Azam lakukan Kino pun mengikutinya padahal Azam tak menyuruhnya sama sekali.
'Yang benar saja baru 0,2%' error kali sistemnya" Azam masih tak percaya dengan pencapaian kebahagiannya yang baru saja mencapai hanya dengan jumlah 0,2% tidak lebih.
[Jangan khawatir besok jika mereka bebas pencapaian anda akan semakin besar dan baik jika anda sudah membebaskan mereka semua]
Setelah mendengar penjelasan dari sistem Ikon Azam memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan apa yang akan dia alami besok.
Azam yang hendak melanjutkan langkahnya terperangah dengan tingkah Kino yang masih betah mendongakan kepalanya untuk menatap ke atas.
"Apa kamu masih betah dengan posisi seperti itu Kino" ucap Azam sambil berlalu begitu saja, sadar dengan yang dia lakukan Kino segera mempercepat langkahnya menyusul Azam.
"Bodoh kamu Kino lagipula kenapa juga mengikuti apa yang bos Azam lakukan" umpatnya pada diri sendiri.
Pulang kerja Azam tak kemana-mana lagi dia langsung pulang ke rumah, sampai di rumah semua orang sudah berada disana Erlang dan pak Heru juga baru pulang kerja.
"Sore pa" sapa Azam dengan sedikit tersenyum.
"Sore" sapa Heru balik, sudah satu bulan ini setiap pagi dan sore Azam akan menyapa kedua orang taunya hal yang sama dilakukan oleh Erlang.
Mungkin karena terbiasa mendengar Azam menyapa semua orang Erlang pun melakukan hal yang sama, bahkan di kantor saja Erlang sudah tak sedingin dulu.
"Sore bang baru pulang juga?" Azam mengangguk mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama sambil membahasah apa yang mereka alami hari ini.
Saat makan malam Azam mengatakan pada kedua orang tuanya jika besok dia akan pergi untuk waktu yang cukup lama.
"Pa, ma besok Azam akan berangkat ke sumba" ucapnya.
"Ngapain bang?" Erlang yang penasaran langsung bertanya tanpa menunggu mama dan papa nya bertanya lebih dulu.
Azam menghembuskan nafas kasar. "Ada urusan yang harus segera diselesaikan"
Erlang yang sedang mengunyah makanannya memperhatikan cara bicara sang kakak. "Sepertinya kamu akan membereskan masalah yang berat bang, dari cara bicaramu saja kamu terlihat begitu frustasi" komentar Erlang.
Azam hanya mengangkat bahunya acuh dia juga tidak tahu kenapa dia merasa akan menghadapi hal besar di Sumba nanti padahal hanya akan mengantar orang-orang itu agar tidak kecolongan dengan Robert.
"Berapa lama memangnya?" tanya Maya memastikan.
"Mungkin 1 atau tidak 2 tahun" jawab Azam dengan enteng.
"Apa!" kaget Erlang dan Maya sampai membuat pak Heru tersedak.
"Santai, santai, kalian kenapa sih kan Azam hanya akan pergi sebentar bukan selama-lamanya" pak Heru yang sedari tadi diam akhirnya berusaha juga.
"Tadi kaget ajak kok pa"
"Jadi Azam mau minta tolong pada Erlang agar mengurus Abraham group" cicintnya.
"Sudah aku duga ini sih" sahut Erlang.
Mereka berempat terus mengobrol sampai makanan di piring mereka masing-masing tanpa sadar sudah tandas tak tersisa.
"Kenapa tidak menyuruh Kino saja kak" usul Erlang dia enggan meninggalkan perusahaan papa nya walaupun hanya sementara waktu saja.
"Kino akan ikut denganku" ucapan Azam itu malah membuat sang adik curiga.
"Sepertinya ada yang salah dengan kamu dan Kino bang, kenapa kalian berdua kemana-mana selalu bersama" Erlang menatap sang kakak curiga.
"Maksudnya?" Azam sama sekali tak mengerti dengan perkataan ambigu adiknya itu.
"Ya heran saja selalu bersama Kino, jika ada Zevana abang malah tak peduli"
Azam mulai paham dengan perkataan adiknya. "Kau anggap abangmu ini penyuka sesama jenis apa"
"Kali"
"Erlang! Aku juga masih waras ya, amit amit suka sama cowok" membayangkan saja Azam sudah tidak mampu.
Tapi bukan itu yang dia pikiran sekarang bukan masalah cinta tapi masalah kebahagiaan yang sesungguhnya, untuk apa hidup jika tak tahu tujuan selanjutnya akan kemana begitulah pikiran Azam.
"Mama baru ingat Erlang tak papa mengurus Abraham group nanti biar Zevana yang membantu papa, lagipula dia asistenmu kan, mama juga akan membantu"
"Ya papa setuju dengan usulan mama" sahut pak Heru cepat, bahkan lebih cepat sebelum Erlang protes.
"Jadi aku mengurus Abraham group sendirian?" Erlang seakan tak percaya akan mengurus perusahaan kakaknya yang bergerak di bidang pertanian itu.
Ketiga orang itu mengangguk dengan kompak. "Itung-itung belajar mengelola perusahaan sendiri nanti juga kamu yang bakal pegang perusahaan papa"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments