Bismillahirohmanirohim
"Nak Azam kamu kenapa?" buru-buru pak Rohim mendekati Azam yang sudah lemas, sebentar lagi Azam sudah akan tumbang.
"Bertahan lah Nak Azam" pak Rohim mengkhawatirkan keadaan Azam saat ini.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Azam, dia hanya menatap pak Rohmi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Pahala sedari tadi air mata itu terus saja menetes tak henti saat mendengar kala-kala Allah dilantunkan di dalam masjid tersebut.
Pak Rohim baru saja menyelesaikan dzikir mereka setelah shalat, saat semuanya sudah selesai pak Rohmi yang akan keluar dari masjid tak sengaja melihat ada Azam di depan pintu masjid.
Tubuh Azam sudah terlihat gemetar, maka dengan langkah gontai pak Rohim cepat menghampiri Azam sebelum tubuh laki-laki itu tumbang dan terhempas ke lantai.
"Inalilahi Wainalilahi Rojiun" pak Rohim dengan sigap menahan tubuh Azam.
"Ya Allah Nak Azam ada apa dengan kamu" khawatir pak Rohim.
Para jamaah yang melihat pak Rohmi sedang memapah seseorang segera menghampiri beliau. "inalilahi wainalilahi rojiun" ucap beberapa orang secara bersama, mereka segera lebih mendekat pada pak Rohim.
"Ada apa ini pak Yayi?" tanya salah satu jamaah yang sudah membantu pak Rohim.
"Saya juga kurang tahu, tapi dia merupakan tamu saya" ucap pak Rohim memberi tahu.
"Lebih baik kita segera bawa di ke rumah kyai saja" usul salah satu jamaah itu
"Benar pak kyai, kasihan anak muda ini"
"Dia terlihat begitu ketakutan dan tubuhnya juga masih begitu gemetar"
Pak Rohmi menyetujui semua usulan yang diberikan oleh para jamaah, dengan perlahan tapi pasti mereka membawa Azam ke rumah kyai Rohim.
"Terima kasih semua sudah membantu saya" pak Rohim begitu terima kasih, karena dia merasa tidak enak sudah merepotkan orang lain.
"Sama-sama pak kyai, kyai sendiri yang bilang kita harus saling tolong menolong" jawab salah satu jamaah mewakili semua teman-temannya.
Sementara Azam yang masih bisa mendengarkan semua percakapan mereka menyeritkan dahinya saat mendengar semua orang memanggil pak Rohim dengan sebutan 'kyai' Azam merasa heran dan penasaran siapakah pak Rohim itu.
'Pak kyai' batin Azam. Tapi dia saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, menahan tubuhnya saja tak mampu.
Walaupun dirinya sudah tak berdaya lagi dan badannya masih bergetar dengan hebat pendengaran Azam masih sangat berfungsi, Azam mendengar semua perkataan pak Rohim dengan para jamaah yang lainnya.
'Siapa sebenarnya pak Rohim' dalam keadaan yang masih tidak stabil Azam bukan memikirkan tentang dirinya, tapi dia lebih penasaran dengan pak Rohim.
Di situ sudah ada orang yang dipanggil oleh salah satu jamaah untuk memeriksa keadaan Azam, setelah selesai seorang laki-laki yang dipanggil oleh jamaah tadi untuk memeriksa Azam menghampiri pak Rohmi.
"Dia mengalami ketakutan luar biasa kyai dan dia juga mengalami hal yang sebelumnya belum pernah dia rasakan"
"Dia hanya butuh istirahat yang cukup untuk kembali menormalkan dirinya, tak apa jangan khawatir dia saat ini sudah lebih baik" jelas orang itu pada pak Rohim.
"Terima kasih kamu sudah memeriksanya"
"Sama-sama kyai"
"Hari ini saya tidak bisa mengisi pengajian lebih dulu maaf, tapi jika kalian masih mau pengajian tanpa ada libur kita bisa melaksanakan pengajian untuk hari ini di rumah saya, apa kalian mau?"
Mereka semua saling padang satu sama lain setelah itu salah satu jamaah angkat bicara. "Kita akan tetap pengajian pak Kyai walaupun di rumah pak kyai" jawab salah satu jamaah yang disetujui oleh jamaah lainnya.
Lagi-lagi Azam yang mendengarkan percakapan mereka kembali dibuat penasaran dengan sosok yang bernama kyai Rohim itu, Azam yakin pak Rohim seorang yang begitu terhormat di desa ini, tapi Azam penasaran siapa pak Rohmi yang kelihatannya biasa-biasa saja, tapi banyak orang yang menghormatinya bahkan bicara begitu sopan pada pak Rohim.
Tapi kenapa pak Rohmi tidak memperkenankan siapa aslinya dia pada Azam, Azam heran kenapa pak Rohmi tidak membangkang di depannya siapa sebenarnya dia, pak Rohmi malah menutupi siapa dirinya dari Azam.
Pak Rohim atau yang sering dipanggil kyai Rohmi oleh orang-orang di desanya tersenyum senang melihat para jamaahnya begitu antusias untuk mengkaji ilmu-ilmu Allah.
"Baiklah kita siapkan semuanya sekarang" ajak pak Rohmi.
Pak Rohmi juga membantu menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk melangsungkan kajian mereka.
Satu jam berlalu semua sudah siapa mereka mengerjakan semua ini dengan begitu kompak, tak ada yang mengandalkan satu sama lain, mereka bekerja sama dengan kompak, setelah semua jamaahnya sudah berkumpul pak Rohmi memulai pengajian sore hari ini.
Biasanya pak Rohmi hanya akan mengisi pengajian 2 jam jika di waktu sore, dari jam 1 hingga jam 2 tidak lebih, karena beliau tahu semua orang juga akan melakukan aktivitas mereka masing-masing.
****
"Apa papa sudah mendapatkan kabar tentang Azam?" orang yang ditanya hanya menggeleng tanda dia belum mendapatkan kabar apapun.
Terlihat sekali kekhawatiran ibu Maya pada Azam, jelas kecemasan Maya begitu tampak di raut wajahnya, karena tak kunjung mendapatkan kabar dari Azam.
Sudah 3 hari sejak kepergian Azam ke Sumba orang rumah tidak mendapatkan kabar apa-apa dari Azam.
Firasat seorang ibu tak akan salah, sudah 3 hari ini juga Maya merasakan kekhawatirannya pada Azam. Pak Heru dan Erlang sudah berusaha mencari keberadaan Azam tapi mereka tak kunjung menemukan Azam, bahkan saat mengecek lokasi Azam menggunakan ponsel tidak terdeteksi.
Erlang memang diam-diam sudah memasangkan cift di bagian tubuh kakaknya, tapi lokasi itu menunjukan Azam masih di perbatasan belum sampai di Sumba.
Jadi Erlang merahasiakan semuanya pada kedua orang tuanya lebih dulu tentang keberadaan sang kakak, sebelum dia memastikan jika Azam baik-baik saja.
"Papa baru saja keluarga kita terlihat begitu harmonis oleh kedua buah hati kita, tapi kenapa salah satu dari mereka berdua tidak ada kabarnya saat ini" keluh Maya.
"Mama sabarnya pasti sebentar lagi orang-orang yang papa kirim untuk mencari tahu dimana keberadaan Azam akan segera memberikan informasi baik"
"Begitu juga dengan orang-orang yang dikirim Erlang mereka pasti akan segera menemukan dimana Azam saat ini" hibur pak Heru pada istrinya.
"Papa selalu mengatakan hal yang sama, kenapa tidak lapor polisi saja!" kesal Maya.
"Erlang sudah melaporkan kehilangan Azam kok ma di kantor polisi" bohong pak Heru.
Tidak mungkin dia dan Erlang melaporkan kehilangan Azam di kantor polisi yang ada bukannya Azma ketemu tapi malah para musuh Azam menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan Azam dan Abraham group.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments