Bismillahirohmanirohim.
Azam benar-benar terus berusaha untuk bisa menyatukan keluarnya menjadi keluarga yang harmonis. Usahanya tak sia-sia.
Dia dan Erlang terus bekerjasama agar mama dan papa mereka peduli dengan mereka berdua sebagai anak. Azam benar mengikuti saran dari sistem dia harus mendekati Erlang terlebih dahulu baru kedua orang tuanya dan cara itu Alhamdulilah berhasil Azam lakukan.
Sekarang setiap pagi seluruh anggota keluarga Abraham yang hanya terdiri dari 4 orang itu selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama dan makan malam bersama.
Mereka juga sudah dua hari ini sesekali saling menegur sapa satu sama lain, tak sedingin dan secuek dahulu. Mama Azam juga sudah bisa berbaur dengan kedua anaknya.
"Pagi ma" sapa Azam pada Maya.
"Pagi, kamu belum berangkat kerja Azam?" Maya sedang mengoleskan selai pada roti tawar untuk sarapan dirinya.
"Belum ma" sahut Azam sambil mengambil roti yang sudah diberi selai keju oleh Maya yang disodorkan untuk Azam.
"Terima kasih atas semua ini keluargaku sudah bersatu menjadi keluarga yang harmonis" batin Azam, tapi dia tidak tahu harus berterima kasih pada siapa.
Azam melahap roti buatan mama nya dengan begitu antusias. "Pelan-pelan makannya Azam" tegur Maya, dia tersenyum melihat anaknya tersenyum pada dirinya pula.
"Apakah aku tak pernah memberikan kasih sayang pada mereka? Kasih sayang sebagai ibu yang selalu ada untuk Azam dan Erlang" batin Maya.
Maya tatap wajah anak sulungnya itu dengan tatapan sendu, dia tak tahu seberapa sakit Azam dan Erlang yang selalu dia dan suaminya abaikan, karena hanya fokus bekerja, bekerja dan bekerja.
"Mama kenapa?" Azam bisa melihat perubahan raut wajah mama nya itu, ada kesedihan yang terpancar dimuka cantik Maya
Walaupun umur sudah terus menua Maya masih tetap begitu cantik, dia selalu menjaga semua yang ada pada dirinya.
"Hahhhh" Maya menghela nafas kecil.
"Tidak papa Zam, kamu mengagetkan mama saja" Maya ikut duduk dikusi yang ada disebelahnya.
"Azam kira kenapa, oh iya ma kapan kita akan ke tempat kakek?"
"Mama juga kurang tau Zam, bagaimana kata papa mu saja nanti" setelah bicara Maya memasukan roti yang sudah dia oleh selai ke dalam mulutnya, perutnya sedikit keroncongan, tapi dia sedang tidak ingin memakan nasi.
Padahal nasi merupakan makanan pokok orang indonesia yang wajib ada disetiap makan, Maya sedikit mengurangi makan nasi. Ibu dua anak itu memang masih seperti anak muda saja.
Azam mengangguk mengerti. "Aku berangkat kerja dulu ma, Kino sudah di depan" pamit Azam berlalu begitu saja setelah Maya mengiakan perkataannya.
Hanya interaksi begitu saja yang baru ada di keluarga Abraham, tidak ada namanya Azam mengucapkan salam pada orang tuanya, bahkan untuk sekedar mencium punggung tangan orang tuanya Azam tidak tahu.
Hidup tanpa tahu seperti apa aturan agamanya membuat Azam melakukan apa saja hanya dengan nalurinya saja, bagaimana mau tahu tentang agama orang tuanya saja tak pernah mengajarkan dirinya tentang hal itu.
Ketika di usianya yang sudah dewasa dia dan adiknya hanya fokus pada hal yang berkaitan tentang materi saja, tidak ada yang lain sesuatu juga harus sesuai dengan logikanya.
Azam bergegas menuju halaman rumah Kino sudah menunggunya di sana, tapi belum sampai Azam keluar dari rumahnya dia mendengar suara sistem yang memberitahunya sesuatu.
[Ting....ting...tring....! Selamat anda berhasil melewati misi pertama, satu kebahagiaan bertambah dalam daftar diri anda, sudah ada 0,1% kebahagian yang anda dapatkan]
[Bukan hanya itu saja anda juga mendapatkan hadia yang lainnya, 1 keahlian yang belum anda miliki sudah anda miliki saat ini, sistem ikon sekarang sudah menjadi milik anda, walaupun begitu tapi anda harus tetap melakukan misi-misi selanjutnya]
"Aku berhasil?" tanya Azam pada diri sendiri, dia masih tak percaya jika dirinya bisa menyatukan keluarnya menjadi keluarga yang harmonis.
Butuh waktu berminggu-minggu bagi Azam untuk bisa membuat keluarga Abraham bisa saling peduli dengan satu sama lain.
"Tapi kamu jangan senang dulu Azam, masih banyak hal yang belum kamu lakukan" Azam merasa dirinya masih hampa, kebagian 0,1% yang dia dapat itu tak ada apa-apanya.
Mungkin jika Azam bisa berusaha lebih keras lagi dia akan mendapatkan level kebahagian 100% tanpa kurang, no minus.
"Ya harus berusaha lebih keras lagi Azam!" saat Azam kembali melanjutkan langkahnya sebuah benda aneh jatuh mengenai kepala Azam.
Benda itu tak sampai jatuh ke lantai, karena Azam cepat menangkapnya. "Benda apa ini" Azam memperhatikan benda yang dia pengang saat ini dengan saksama.
"Sebenarnya ini benda apa? Dan jatuh dari mana?" Azam mendongakan kepalanya keatas, siapa tahu ada orang iseng mengerjainya.
Azam memutar-mutar benda yang hampir mirip dengan bola itu, tapi ukuranya sangat kecil ditambah lagi ada dua sayap di sisi kiri dan kanan benda tersebut.
"Aku baru pertama kali melihat benda aneh semacam ini, lebih baik aku simpan saja"
Saat Azam akan memasukan benda itu ke dalam sakunya tiba-tiba dia kembali mendengar suara sistem yang tadi hilang secara tiba-tiba.
[Tunggu]
Azan menyeritkan dahinya heran, saat mendengar suara sistem itu dari benda yang bentuknya mirip seperti bola.
"Hei sistem apakah itu kamu?" tanya Azam memastikan.
[Benar sekali ini hanya bentuk kecil dari sistem ikon, jadi tolong jangan dibuang bola sayap ini yang akan memberitahu anda misi selanjutnya juga bola sayap ini akan menemani anda dalam setiap misi yang akan anda kerjakan nanti]
"Kenapa bisa membentuk menjadi benda sekecil ini, apakah sistem memang benar-benar kecil seperti ini?"
[Bahkan lebih kecil dari bola sayap, coba anda tekan tombol biru emas yang ada di bola sayap setelah itu akan keluar bentuk sistem Ikon yang aslinya]
Benar saja setelah Azam mengklik tombol biru emas yang terdapat di bola sayap sebuah bentuk kotak kecil keluar dari sana dengan pantulan cahaya yang begitu bersinar.
[Sistem mengingatkan bersiaplah untuk misi kedua]
"Bos, anda kata tunggu sebentar aku akan segera ke depan kamu tak usah menyusulku ke dalam tapi kenapa anda lama sekali bos" keluh Kino.
Kino akhirnya memutuskan untuk menyusul Azam ke dalam rumah Abraham, tadi Azam mengatakan akan langsung keluarga, tapi sudah 15 menit Kino menunggu bosnya itu, batang hidupnya tak terlihat juga.
"Ya ampun, maafkan saya Kino, saya lupa kalau kamu sudah ada di depan" Azam meruntuti kecerobohannya sendiri.
"Sudah ayo kita berangkat" Azam berlalu begitu saja dari hadapan Kino.
Kino masih tak percaya jika dia akan pernah mendengar kata maaf keluarga dari mulut Azam. "Tadi bos benar bilang maafkan" ujar Kino masih ragu dia belum benar-benar percaya jika seorang Azam Abraham dapat mengucapkan kata maaf pada orang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments