Bismillahirohmanirohim.
"Aku harus mendekati siapa dulu? Papa atau mama?" bingung Azam.
Azam tak punya keberanian untuk mendekati salah satu dari kedua orang tuanya, selalu bersikap cuek pada kedua orang tuanya, membuat Azam malu sendiri, jika tiba-tiba dia berubah menjadi ramah pada mereka.
"Aku benar-benar tak tahu harus mulai dari mana"
Azam hanya bisa mondar-mandir di kamarnya, dia tau langkah apa yang akan dirinya ambil, namun memulainya begitu sulit bagi Azam.
"Huhhh"
Azam membuang nafas kasar. "Sistem dimana kamu? Tolong lakukan sesuatu agar aku dan keluarga tiba-tiba bisa berkumpul di satu ruangan, seterusnya aku yang akan menyelesaikan"
Azam tak tahu apakah sistem yang sering muncul hanya dengan suaranya saja itu, jika muncul secara tiba-tiba, apakah dia juga akan muncul saat Azam sendiri yang memintanya.
Azam masih menunggu sistem yang dia minta tadi, namun Azam merasa tak ada tanda-tanda jika sistem itu akan membantunya kala ini.
"Hei sistem! Dimana kamu? Bukankah kamu sudah berjanji akan menolongku?" dengus Azam, karena si sistem tak kunjung keluar.
"Baiklah, jika kamu tak mau membantuku kali ini, maka aku tak akan melanjutkan misinya, aku tak peduli dengan peraturan yang ada di dalam sistem itu" ancam Azam.
"Aku mau lihat apa yang ngaku-ngaku sistem itu akan muncul saat mendapatkan ancaman" ucap Azam lirih.
"Kamu tidak mau keluar juga rupanya!"
Azam masih mencari cara bagaimana agar sistem itu bisa muncul saat ini juga. Tak lama kemudian sebuah cahaya emas kebiruan, muncul di hadapan Azam.
[Maaf sistem terlambat, karena sistem sedang berada dalam tahap evaluasi, maaf atas ketidaknyamanan anda]
Azam tak menjawab dia kali ini sedang memutar otaknya, bagaimana caranya agar bisa memberikan sedikit pelajaran pada sistem, lama berpikir Azam tak menemukan ide, karena sekarang yang dia hadapi bukanlah manusia, melainkan sebuah sistem.
"Ok aku tahu, tapi aku baru sadar kalau sistem juga bisa berevalusi, ahiss, sudah tak usah bahas hal itu, sekarang bagaimana caranya agar aku dan orang rumah bisa berada di satu ruangan yang sama, tanpa disengaja"
Evaluasi merupakan proses yang mengkaji secara kritis suatu program, aktivitas, kebijakan, atau semacamnya. Hal ini melibatkan pengumpulan informasi tentang kegiatan dan hasil program.
[Permintaan disetujui]
[Sistem sudah melakukan apa yang anda minta, sekarang anda turun kebawah untuk makan bersama dengan keluarga anda]
Kata-kata yang keluar dari sistem membuat Azam tercengang tak percaya, bagaimana bisa makan bersama? Bahkan seumur hidupnya Azam tak pernah melihat keluarganya makan bersama dalam satu meja yang sama.
Dulu waktu Azam masih kecil hingga dia dewasa, tak pernah sekalipun mama nya yang mengurus dia, hanya seorang baby sister yang mengurus dirinya. Begitu juga dengan sang adik, kedua orang itu tak pernah merasakan gendongan seorang ibu dan ayah.
Mama dan papa Azam, selalu sibuk bekerja dari dulu, mungkin sampai mereka lupa jika mereka sudah memiliki dua anak.
"Ma-ka-n ber-sa-ma?" tanya Azam dengan terbata.
"Bagaimana bisa makan bersama? Bahkan aku saja tak pernah tahu kapan saat aku makan 1 meja dengan kedua orang tuaku dan adikku sendiri" Azam masih ragu dia tak percaya dengan pesan yang diberikan oleh sistem.
[Sistem sudah mengatur semuanya, jadi anda tak perlu khawatir, sekarang tak usah banyak bicara turun saja ke lantai bawah menuju ruangan makan]
Lagi-lagi sebuah sistem bisa memerintah seorang Azam Abraham dengan sesuka hati.
Bukan sesuka hati, lagi pula tak tahu sistem punya hati atau tidak, jadi sesuka sistem saja.
"Aku akan menurutinya, tapi awas saja jika yang dikatakan sistem tidak sesuai faktanya" ancam Azam.
Azam berjalan gontai menuju lantai bawah, untuk sarapan pagi ini, saat Azam akan menuju lantai bawah dia berpapasan dengan papa nya.
"Pagi pa" sapa Azam, Azam sendiri tak tahu kenapa dia bisa refleks menyapa papa nya itu.
Heru menaikkan sebelah alisnya bingung dengan tingkah anak sulungnya ini, bisanya dia akan begitu cuek pada siapapun, pada orang rumah juga dia tetap akan terkesan cuek saja, bahkan ditanya pun dia belum tentu menjawab jika bukan masalah pekerjaan yang ditanyakan pada dirinya.
"Pagi" sahut Heru akhirnya, tapi masih dengan muka anehnya menatap si sulung.
"Kenapa papa menatapku seperti itu?" Azam pura-pura tidak tahu.
Padahal sebenarnya dia tahu kenapa sang papa menatapnya dengan begitu aneh. Jika bukan karena kedua orang tuanya Azam dan sang adik tak akan menjadi orang yang begitu dingin pada orang lain, termasuk kedua orang tua mereka.
Sebenarnya disini Azam lah yang seharusnya menatap heran mama dan papa nya bagaimana bisa bertahun-tahun mereka tak pernah sekalipun menunjukkan kasih sayang pada kedua putra mereka.
Maka dari itu Azam akan berusaha membuat keluarganya menjadi sebuah keluarga yang penuh kebahagiaan di dalamnya, buka seperti ini yang seperti tak ada kehidupan sama sekali di dalamnya padahal apa penghuninya.
Saat sampai di ruang makan mama, Azam sudah duduk dengan santai di kursi yang ada di ruang makan itu. Perempuan dua anak itu sudah siap akan mengambil pirinya.
Melihat anak sulungnya dan sang suami bisa ke ruang makan bersama dia tetap biasa saja tak bereaksi apa-apa.
"Pagi ma" sapa Azam, dia mendaratkan bokongnya di kuris yang ada di dekat mama nya.
"Pagi" sahut Maya dengan cuek.
"Sabar Azam, ini baru proses awal jangan langsung menyerah" batin Azam.
Seharusnya orang tuanyalah yang berjuang untuk mendapatkan perhatian dari anak-anak mereka, karena mereka yang mengabaikan Azam dan sang adik, tapi demi sebuah kebahagian yang sesungguhnya Azam mau melakukan ini.
Setelah mereka duduk, Azam dapat mendengar suara orang sedang bersenandung dengan merdu, jelas Azam tahu siapa itu, pasti adiknya yang jarak usianya 5 tahun dari dirinya.
Adik Azam terpaku sebentar di depan pintu masuk ke ruang makan, saat melihat semua orang rumah kumpul disana.
"Tumben sekali, ada apa ini" gumun adik Azam.
"Pagi Lang" sapa Azam.
Erlang mengerutkan dahinya, saat mendengar sang kakak menyapa dirinya, sementara kedua orang tuanya tetap sibuk dengan kegiatan mereka.
"Apakah gunung es di rumah ini sudah mencari?" tanya Erlang dalam benaknya.
Kaki adik Azam itu tetap melangkah ke meja makan. "Ini sejarah yang harus diabaikan sih fix" lagi-lagi Erlang berbicara pada dirinya sendiri.
"Sudah lama aku menunggu momen seperti ini terjadi"
"Apa yang dikatakan sistem Ikon benar-benar terjadi, hari ini kami satu keluarga sarapan bersama, yang tak pernah terjadi sebelumnya"
Adik kakak itu sama-sama berbicara pada diri mereka sendiri, dengan apa yang sudah terjadi pagi ini, sejarah yang belum pernah dilakukan sebelumnya, padahal hal biasa bagi setiap keluarga sarapan bersama, tidak dengan keluarga Abraham
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments