Bismillahirohmanirohim.
Azam tak tahu saat ini sebenarnya dia berada dimana, Azam baru pertama kali ke tempat seperti ini, mungkin sebuah desa yang Azam sendiri tidak tahu desa apa ini.
Azam menatap tangan pak Rohim yang terulur di depannya, dengan ragu Azam menjabat tangan pak Rohmi.
"Saya Azam pak, bapak sudah tahu nama saya, tapi kalau boleh tahu bapak tau nama saya dari mana ya? Dari siapa ya?"
Pak Rohmi tak langsung menjawab dia hanya tersenyum pada Azam. "Saya tahu nama kamu dari kertas yang jatuh ini di sebelahmu tadi" ucap pak Rohim sambil menyodorkan kartu nama Azam.
"Kamu tersesat atau bagaimana?" pak Rohmi kembali berbicara.
Azam menghembuskan nafas kasar. "Saya sendiri tidak tahu saya berada dimana" kata Azam sambil menerawang ke depan.
"Begini saja nak Azam ikut ke rumah saya dulu kebetulan rumah saya tidak jauh dari sini" tawar pak Rohmi pada Azam.
Azam berpikir sejenak tak mungkin dia langsung percaya dengan orang asing, ditambah lagi dia tidak tahu ini dimana, Azam harus benar-benar berhati-hati.
[Ikutilah dengan pak Rohmi, dia orang yang sistem maksud, dia yang akan membantu anda lebih mengenal sang pencipta, jika ada berhasil kemungkinan besar anda akan mendapatkan kebahagiaan 10% ] jelas sistem pada Azam.
Tapi laki-laki itu sedikit curiga dan tak percaya, dia merasa sistem dengan pak Rohmi sudah bekerja sama membohonginya, apalagi Azam tahu dia memiliki banyak uang yang pasti akan menjadi incaran orang banyak.
Bukan hanya uang tapi juga segala hal Azam miliki, sayangnya Azam lupa jika dia tak pernah bahagia dengan apa yang dia miliki saat ini.
"Kalian pasti sudah bekerja sama!" tuduh Azam.
"Nak Azam ada apa?" tanya pak Rohmi merasa heran saat melihat Azam diam dengan sorot mata yang begitu tajam.
Tak tahu apa yang membuat tangan Azam bergerak memukul kepalanya sendiri dengan sedikit kuat. "Au, auuu" ringis Azam merasakan sakit dikepalanya.
"Nak Azam kenapa memukul kepala sendiri?" pak Rohmi tetap bertanya padahal Azam sedari tadi terus mengabaikannya.
Azam menggeleng lemah. "Pak Rohim apa anda tahu tentang sebuah sistem?"
Azam masih belum percaya jika tidak bertanya langsung dia harus membuktikan semua ini agar tidak terjebak oleh musuh, Azam sadar musuhnya berada dimana-mana.
Mendengar pertanyaan yang Azam lontarkan pak Rohmi mengerutkan keningnya berkali-kali. "Sistem apa Nak Azam?" bingung pak Rohmi.
Jangankan sebuah sistem handphone saja dia tak tahu bagaimana cara menggunakannya. "Aihs, sudah lupakan saja pak Rohim"
[Bagaimana apakah sekarang anda percaya jika sistem dan pak Rohmi tidak bekerja sama, sepertinya anda harus diberitahu lebih dulu dari mana asal usul sistem ini]
[Dengarkan baik-baik sistem ini terlahir sendiri dari sambaran petir yang menyambar bintang kejora, lalu jatuh ke tengah laut dalam, bertahun-tahun tak bisa keluar karena sedang membentuk sebuah sistem di dalam cangkang kerang mutiara]
[Ba]
"Allahu Akbar Allahu Akbar" suara azan yang berkumandang membuat obrolan sistem dan Azam terhenti, bukan karena suara azan.
Namun suara pak Rohim yang membuat Azam begitu heran. "Nak Azam ayo ke rumah saya dulu, adzan sudah berkumandang waktunya sholat dzuhur" ajak pak Rohmi sambil berjalan lebih dulu.
"Shalat?" Azam tak asing dengan 1 kata barusan yang diucapkan pak Rohmi.
Bola sayap tiba-tiba keluar lalu memukul kepala Azam dengan sedikit kuat. "Hei! bola sayap apa yang kamu lakukan!" bentak Aza tak terima untung saja pak Rohmi tidak mendengar teriakan Azam.
[Itu karena anda tak mengenal agama sama sekali, coba sistem tanya agama anda apa?]
"Islam" jawab Azam dengan enteng.
[Bagus jika agama anda islam apa makna dari kata islam sendiri?]
Azam langsung terdiam membisu benar apa yang dikatakan sistem dia sama sekali tidak mengenal agamanya sendiri.
[Kenapa diam? Coba jawab sistem apa makna dari islam] kenapa sistem ini bukannya membantu Azam tapi lebih sering memarahi laki-laki ini.
"Kau sungguh menjengkelkan!"
Azam yang terus berdebat dengan sistem Ikon tak sadar jika pak Rohmi sudah memberhentikan langkahnya, di depan rumah sesederhana yang tak terlalu bagus, tapi juga masih begitu layak pakai.
"Nak Azam ini rumah saya maaf kalau kurungan nyaman, nak Azam bisa istirahat di dalam" ujar pak Rohim.
"Saya mau mengambil air wudhu dulu, habis itu akan langsung ke masjid, apa Nak Azam mau ikut dengan saya untuk sholat jamaah di masjid?"
Azam menggeleng dengan cepat. "Kalau seperti itu bapak pergi dulu, kamu tunggu saja disini" suruh pak Rohmi sambil berlalu.
Azam memperhatikan tempat sekitar, ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada pak Rohmi, tapi sayangnya Azam tak tahu harus mulai dari mana dulu.
Azam masuk ke dalam rumah pak Rohmi, belum ada 5 menit dia duduk disana tapi sudah kembali bangkit keluar rumah itu lagi.
Entah dorongan dari mana, ada sebuah suara yang terus menyuruh Azam untuk pergi ke masjid dan melihat apa yang sedang mereka lakukan di masjid itu.
Azam terus berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah, sampai Azam berhenti di sebuah bangunan yang berbeda dari yang lainnya.
Ya itu adalah sebuah masjid tapi yang membuat Azam terheran kenapa masjid di depannya ini seperti bercahaya.
Azam cepat melihat dalam masjid, banyak orang berjamaah di masjid itu, Azam merasakan suasana hati yang begitu tenang dan damai melihat orang-orang itu shalat lagi-lagi ada sebuah dorong pada diri Azam.
Tak pernah melakukan shalat sama sekali di masa hidupnya membuat Azam merasakan hal yang entah tidak dapat dia ucapkan dengan kata-kata, Iqbal tak sadar jika tiba-tiba air matanya jatuh membasahi pipinya.
Azam memang tak pernah melakukan shalat mungkin pernah sewaktu sekolah tapi tidak dia terpakan membuat Azam lupa dengan tata cara shalat dan bacaannya.
Untuk pertama kalinya bagi laki-laki itu menangis di usianya yang sudah masuk umur 24 tahun, Azam memang sukses di usia mudanya maka dari itu tak jarang banyak orang yang mengenalnya.
Azam merupakan salah satu orang genius yang pernah ada, tapi ke genius nya tak membawa dia ke tahap bahagia.
"Ada apa denganku?" Azam bertanya-tanya pada diri sendiri.
Air mata itu kembali membasahi pipinya saat para orang di dalam masjid itu mengucapkan. "Allahu Akbar"
Azam merasakan tubuhnya yang bergetar hebat. "Mama ada apa dengan, Azam"
Tes...tes..tes...
Air mata itu kembali menetes membasahi wajahnya. Azam masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Sebenarnya ada apa denganku, kenapa aku baru merasakan hal seperti ini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments