Bismillahirohmanirohim
"Ada apa di depan, kenapa jalan begitu macet?"
Sore ini tidak seperti biasanya, jalan raya utama yang selalu dilewati banyak orang itu kini macet total.
Padahal biasanya jalan raya itu akan tetap lancar, walaupun banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan tersebut. "Saya juga kurang tahu bos" sahut Kino.
"Biar saya periksa dulu" Kino segera turun dari mobil milik Azam, untuk melihat apa yang terjadi di depan sana, sehingga membuat jalan raya yang begitu besar itu menjadi mati total.
Azam menunggu Kino di dalam mobil, sambil dia membuka hp nya, untuk melanjutkan pekerjaan yang belum usai.
Tapi lama menunggu Kino, hingga hampir setengah jam, laki-laki itu tak kunjung kembali. "Kemana Kino? Kenapa dia lama sekali" Azam mulai sedikit gelisa.
"Apa lebih baik aku susul saja dia" Azam yang akan turun dari dalam mobilnya mendengar suara sistem yang sudah dua hari ini selalu datang pada dirinya.
[Jika anda turun dan melihat apa yang terjadi maka renungkanlah] suara sistem itu membuat Azam mengerutkan dahinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sehingga sistem menyuruhku untuk merenungkan hal yang terjadi diluar sana"
Azam meneruskan langkahnya, kini dia sudah turun dari dalam mobil. Azam dapat melihat banyak orang yang menunggu di dalam mobil, demi mengantri dan ada juga yang berbondong-bondong keluar dari mobil mereka masing-masing untuk melihat apa yang terjadi.
Sesampai Azam di depan tempat yang membuat kemacetan di jalan raya itu terjadi, saat melihat objek disana, hanya satu hal yang Azam ingat.
[maka renungkanlah apa yang terjadi] Azam langsung merenungkan apa yang terjadi, saat mengingat pesan yang dikatakan oleh sistem padanya.
Di tempat itu terlihat seorang ibu yang tengah menangis histeris, ibu itu duduk di depan seorang anak laki-laki yang wajahnya masih begitu muda, namun sudah terbujur berlumuran darah di tempat itu.
"Hiks....hikss....hiks....! kenapa kamu begitu cepat pergi meninggalkan ibu nak" ucap ibu yang duduk di depan anak muda yang sudah berlumuran darah.
Azam yang berada tak jauh dari tempat itu tentu saja masih bisa mendengar perkataan ibu itu, pada anaknya yang dipastikan sudah tiada.
Beberapa orang membantu untuk mengangkat mayat anak muda tersebut dan ada juga beberapa orang lainnya, yang membantu menenangkan ibu itu, Azam dapat melihat Kino ikut membantu menolong korban.
"Apakah ibu akan begitu mengkhawatirkan ku ketika aku sudah tidak ada nanti?" tak tahu kenapa pertanyaan itu bisa muncul dipikiran Azam.
"Lalu kenapa Kino mau membantu orang yang sama sekali tidak dia kenal, bukankah itu akan semakin menyusahkan diri sendiri" pikir Azam.
Tak ada niatan bagi Azam untuk menolong mereka yang sedang begitu kesusahan. Azam benar-benar merenungkan apa yang dikatakan sistem pada dirinya.
Tak lama setelah itu jalan ditempat itu kembali lancar secara perlahan-lahan, karena adanya kerja sama baik dari orang-orang yang membantu menolong korban kecelakaan.
"Pak apa yang sebenarnya sudah terjadi disini?" tanya Azam pada seorang bapak-bapak yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Ada kecelakaan tunggal tadi, seorang yang baru saja lulus sarjana S1 nya, tapi saat pulang dia mengalami kecelakan tunggal, kebetulan ibu nya baru saja pulang dari kerja, melihat kejadian itu, sang ibu langsung menangis histeris"
Tak tahu kenapa bapak-bapak itu menjelaskan semuanya pada Azam begitu saja tanpa diminta, bapak itu tahu karena dia orang yang pertama melihat kejadian itu, dia juga mendengar ibu-ibu tadi berkata bahwa anaknya baru saja lulus kuliah S1 nya.
"Semua ini tak mungkin kebetulan kan?" tanya Azam pada diri sendiri.
"Baik pak terima kasih banyak" ujar Azam berusaha untuk bisa rama pada orang lain, karena dia jarang sekali bersikap ramah pada orang.
"Sama-sama, saya permisi duluan" pamit bapak itu pada Azam, Azam hanya mengangguk untuk merespon.
"Jadi tak mungkin ini kebetulan, jika sebuah filem saja ada sutradara yang membuat alur ceritanya, dan sebuah novel ada seorang autro yang berperan. Tak mungkin sebanyak ini manusia yang ada dimuka bumi, tidak ada yang berperan untuk mengaturnya"
Azam sudah mulai bisa merenungkan apa yang dia lihat. "Bukankah begitu juga dalam sebuah keluarga, tak mungkin satu keluarga bisa bersatu dan harmonis, jika tidak ada seorang pemimpin yang berperan di dalamnya, begitu juga dengan suatu negara bukan dan begitu juga jika di perusahaan pasti memiliki seorang pemimpin"
Azam benar-benar merenungi semuanya, tapi seharusnya dia bisa merenungi dirinya sendiri, untuk mencari jawaban kenapa dia tak pernah merasakan kebahagiaan.
Ting...ting...ting...!
[Benar semua yang terjadi pasti sudah ada yang mengatur, tapi bisa jadi semua itu kembali pada diri kita sendiri]
Untung saat ini Azam sedang berada di pinggir jalan raya, jadi dia tak akan menghadang mobil dan motor yang berlalu lalang di tempat itu.
[Misi pertama anda hampir berhasil, sekarang anda mestinya sudah tahu langkah selanjutnya apa yang akan anda ambil untuk bisa menyatukan keluarga anda]
[Anda pasti tahu siapa yang akan paling berperan dalam satu keluarga, tahu pasti siapa orang yang menjadi pemimpin dalam suatu keluarga]
"Bos, kenapa bos bisa disini?" bingung Kino.
Sedari tadi setelah membantu korban kecelakaan, Kino mencari-cari keberadaan Azam bosnya itu, tapi dia tak kunjung menemukan kendaraan Azam.
Hingga setelah dia menepikan mobil milik Azam terlebih dahulu, barulah Kino berinisiatif mencari Azam lagi.
"Kamu nanya, kenapa saya disini?" dengus Azam malah balik bertanya.
"Kenapa bos jadi kena virus Dilan, yang lagi viral di tiktok" batin Kino, sempat sekali dia memikirkan hal itu.
Jelas saja dia berada disitu, karena menyusul Kino yang begitu lama, hanya melihat apa yang terjadi, sehingga membuat Azam menunggu dirinya di dalam mobil, padahal sebelumnya Azam berpikir dia akan meninggalkan Kino sendiri saja di tempat itu.
Kino menggaruk kepalanya yang sedikit gatal, dia merasa bersalah pada Azam, tapi tak mungkin juga dia mengatakan pada Azam, jika dia lama karena membantu korban kecelakaan tadi.
Padahal Azam memang melihat Kino ikut serta membantu, orang yang terkena musibah. "Apa yang akan bos buat setelah ini, akan mendapat hukuman apa saya dari bos" batin Kino merasa melas sendiri dengan dirinya.
Kino yang sudah bersuudzon pada Azam dibuat tercengang, kala Azam menyuruhnya untuk segera melanjutkan perjalanan mereka, padahal biasanya Azam akan menghukum dirinya terlebih dahulu jika membuat kesalahan sekecil apapun.
"Sudah ayo pergi, aku ingin segera sampai di rumah" Azam melangkah pergi meninggalkan Kino begitu saja menuju mobilnya, sementara Kino masih tercengang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments