Bab 19. Azam mengirim pesan

Bismillahirohmanirohim.

Ting!

Sebuah pesan masuk ke dalam handphone pak Heru, dia segera membuka pesa itu ketika nama Azam yang tertera di sana.

Sudah hampir 5 hari Azam tak ada kabar dan dia baru mengabarinya hari ini tentu saja pak Heru dan keluarnya merasa khawatir pada Azam.

'Maaf pa Azam baru bisa memberi kabar, di sini tidak ada sinyal soalnya, Azam baik-baik saja pa, tapi Azam tidak pergi ke Sumba Azam berada di Lombok karena ada hal yang lebih penting akan Azam urus di Lombok'

'Kemungkinan Azam akan pulang tiga atau empat tahun ke depan, di Lombok Azam harus mengurus hal yang sangat penting'

'Titip salam untuk mama dan Erlang, bilang pada mama Azam baik-baik saja dan tolong katakan pada Erlang dia harus mengurus Abraham Group sampai Azam kembali'

Tak lupa gambar Azam yang sedang tersenyum di depan mobilnya menampakkan indahnya kota Lombok.

Tak ada yang tahu jika pengirim pesan untuk pak Heru bukanlah Azam, tapi sistem Ikon foto yang diambil itu saat pertama kali Azam sampai di Lombok

Di ruang kerjanya Heru bernafas lega setelah mendapatkan pesan dari Azam. "Akhirnya kamu memberi kabar juga, papa dan mama sudah begitu khawatir dengan keadaanmu Azam, pantas saja tak memberi kabar selama 5 hari ini ternyata tidak ada sinyal"

"Bikin orang khawatir saja kamu Azam" setelah membaca pesan dari Azam pak Harus segera menghubungi seseorang.

"Bubarkan pencarian untuk Azam, aku sudah mendapat kabar dari Azam dimana dia sekarang, periksa lokasi yang aku kirim ke wa mu apa benar Azam berada di lombok" suruh pada Heru pada seorang yang dia hubungi via telepon.

Belum ada jawaban dari seberang pak Heru sudah mematikan ponselnya sepihak, tak lupa pak Heru mengirim pesan itu pada anak keduanya.

"Apa reaksi Erlang jika tahu abangnya menyuruh dia menjaga Abraham group sampai 4 tahun" ucap pak Heru setelah mengirim pesan itu pada Erlang.

Di Abraham group lebih tepatnya ruang Ceo Erlang segera membuka whatsAppnya saat mendapatkan pesan dari sang papa.

Terlihat pesan itu diteruskan Erlang membaca dengan saksama pesan tersebut sampai di pesan terakhir dia segera sadar. "tolong katakan pada Erlang dia harus mengurus Abraham Group sampai Azam kembali" baca Azam pada pesan papa nya yang dikirimkan pada dirinya.

"Apa!" pekik Azam tak percaya.

"Wah mas Azam keterlaluan masa aku disuruh mengurus Abraham group sampai 4 tahun" Erlang sedikit tak terima dengan keputusan kakaknya.

"Memang apa yang dikerjakan mas Azam di Lombok sampai 4 tahun perginya lama sekali" protes Erlang.

Dia sibuk mengomentari Azam sedari tadi padahal pekerjaan yang harus segera dia selesaikan sudah menumpuk. "Tamatlah sudah riwayat Ku, sekarang aku tak bisa berleha-leha lagi jika mas Azam tahu aku malas-malasan selama menjabat sebagai Ceo di perusahaan miliknya tamat sudah riwayatku" keluh Erlang.

"Awas saja mas Azam jika kamu kembali dari lombok aku akan membalaskan semuanya, atau aku sendiri yang akan menyusulmu ke Lombok kalau bisa tapi"

Sama seperti pak Heru, Kino yang berada di Sumba mendapatkan pesan dari Azam, padahal aslinya bukan Azam yang mengirim pesan itu, tak lain adalah sistem Ikon, sudah 5 hari juga sistem menyembunyikan hp milik Azam entah dimana.

'Kino aku sekarang berada di Lombok, jika tugasmu sudah selesai di Sumba dan kamu sudah menemukan siapa pengkhianatnya hubungi aku setelah itu pulanglah ke Banten, bantu Erlang mengurus Abraham Group aku yakin dia masih butuh bimbingan'

'Kamu tenang saja tak perlu khawatir jika ditanya mama dan papa, aku sudah memberitahu mereka, jika aku berada di Lombok, selama aku tidak di Abraham group tolong kelola perusahaan itu dengan baik" seperti itulah pesan yang dikirim sistem pada Kino.

Kino yang membaca pesan dari Azam itu mengangguk mengerti. "Sudah 5 hari baru kasih kabar bos ini memang benar-benar membuat orang khawatir saja, hampir aku tak pulang selama satu bulan jika bos tidak memberikan kabar" oceh Kino.

Sementara itu orang yang sedang dibicarakan di dua tempat yang berbeda sedang perlahan-lahan mempelajari agamanya yang selama ini dia anggap agama itu hanya sebuah tanda saja.

Nyatanya Azam salah besar agama bukanlah sebuah tanda tapi hal yang paling penting yang harus dia ketahui lebih dulu daripada hal lainnya, ternyata agama itu nomor satu dan nomor dua baru hal lainnya yang harus dia punya juga.

Punya dunia belum tentu punya akhirat, tapi orang yang punya akhirat sudah pasti dia memiliki dunia yang aman damai tentram.

Kunci utama dari semua yang kita punya ataupun tidak punya harus tetap bersyukur dengan keadaan yang kita miliki sekarang.

Hari rabu kebetulan sekali pak Rohim tidak mengisi pengajian jadi hari ini pak Rohim bisa full mengajari Azam, walaupun beliau tetap harus menjadi imam shalat di masjid kampung itu.

"Nak Azam kita mulai dari membaca syahadat lebih dulu ya" ucap pak Rohim pelan, sebenarnya Azam sudah mendengar lafal syahadat saat diinfokan oleh sistem Ikon tapi itu terlalu cepat sehingga Azam tidak bisa mengikutinya.

"Baik pak Rohim" jawab Azam dengan cepat dan begitu antusias, Azam yakin pak Rohim akan membacanya dengan pelan.

"Bismillahirohmanirohim"

"Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrasulullah"

"Ayo nak Azam ikuti pelan-pelan saja tidak apa-apa, jangan diburu-buru" Azam mengangguk dan segera membaca dua kalimat syahadat yang baru saja diucapkan oleh pak Rohim.

" Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrasulullah" Azam masih terbata melafalkannya, tapi Azam termasuk orang yang cepat hafal tanpa melihat kertas.

Mungkin memang  Azam dulu sudah pernah bejalar saat dibangku sekolah, karena tidak pernah diasah sekalipun akhirnya Azam lupa semuanya, jadi wajar saja jika dia masih terbata padahal hanya membaca dua kalimat syahadat saja.

Azam merasakan ketenangan pada dirinya saat dia mengucapkan syahadat. "Ayo Nak Azam boleh diulang lagi sedikit lagi itu sudah benar" suruh pak Rohim pada Azam.

Azam mengikuti perintah pak Rohim dia kembali mengucapkan kalimat syahadat kali ini lebih lancar dari sebelumnya. "Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrasulullah"

Pak Rohim meneteskan air mata bahagia saat mendengar Azam dengan lancar melafalkan dua kalimat syahadat. "Alhamdulilah" pak Rohim merasa begitu bersyukur.

"Alhamdulillah saya sudah bisa mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lancar pak Rohim" Azam begitu senang.

"Kita sebagai umat islam hanya perlu melatihnya saja, tapi ingat dua kalimat syahadat itu bukan hanya pelafalan saja, tapi juga harus kita yakini dan terpakan"

Episodes
1 Bab 1. Musuh dalam selimut
2 Bab 2. Tak bahagia
3 Bab 3. Sistem Ikon
4 Bab 4. mengenal diri sendiri?
5 Bab 5. Misi pertama sulit?
6 Bab 6. Memiliki prinsip hidup?
7 Bab 7. Kecelakaan tunggal
8 Bab 8. Tak pernah sebelumnya
9 Bab 9. Hampir berhasil
10 Bab 10. Misi pertama berhasil
11 Bab 11. Misi kedua
12 Bab 12. permintaan Azam
13 Bab 13. Orang tak dikenal
14 Bab 14. Merasa hal aneh
15 Bab 15. Siapa pak Rohim?
16 Bab 16. Dakwah pak Rohim
17 Bab 17. Akan Mulai belajar
18 Bab 18. Obrolan bermanfaat
19 Bab 19. Azam mengirim pesan
20 Bab 20. Robert
21 Bab 21. Tata cara berwudhu
22 Bab 22. pulang sholat subuh
23 Bab 23. Misi kedua selesai
24 24. Lantaran niat baik
25 Bab 25. Keresahan Azam
26 Bab 26. Misi ketiga
27 Bab 27. Rencana Azam
28 Bab 28. Lombok
29 Bab 29. Kino dan Erlang
30 Bab 30. Azam pamit
31 Bab 31. Pergi dari Lombok
32 Bab 32. Lorong waktu
33 Bab 33. Ditolong orang
34 Bab 34. Rencana Rapum
35 Bab 35. Tak tahu artinya
36 Bab 36. Mafia Black Bar
37 Bab 37. Desa sumber jaya
38 Bab 38. Rencana gagal
39 Bab 39. Azam Abraham
40 Bab 40. Menolong mereka
41 Bab 41. Sudah dimulai
42 Bab 42. kekacauan
43 Bab 43. Berhasil
44 Bab 44. Memancing
45 Bab 45. Melanjutkan perjalanan
46 Bab 46. Misi keempat
47 Bab 47. Tempat yang dituju
48 Bab 48. Berkenalan
49 Bab 49. Robert dan Han
50 Bab 50. Rumah usang
51 Bab 51. Merasa haus
52 Bab 52. Curiga
53 Bab 53. Falback Azam dan Ruli
54 Bab 54. Sembuh
55 Bab 55. Terbongkar
56 Bab 56. misi selesai
57 Bab 57. Bertemu nenek
58 Bab 58. kebahagain
59 Bab 59. keluarga Abraham
60 Bab 60. Allhamadulilah
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Bab 1. Musuh dalam selimut
2
Bab 2. Tak bahagia
3
Bab 3. Sistem Ikon
4
Bab 4. mengenal diri sendiri?
5
Bab 5. Misi pertama sulit?
6
Bab 6. Memiliki prinsip hidup?
7
Bab 7. Kecelakaan tunggal
8
Bab 8. Tak pernah sebelumnya
9
Bab 9. Hampir berhasil
10
Bab 10. Misi pertama berhasil
11
Bab 11. Misi kedua
12
Bab 12. permintaan Azam
13
Bab 13. Orang tak dikenal
14
Bab 14. Merasa hal aneh
15
Bab 15. Siapa pak Rohim?
16
Bab 16. Dakwah pak Rohim
17
Bab 17. Akan Mulai belajar
18
Bab 18. Obrolan bermanfaat
19
Bab 19. Azam mengirim pesan
20
Bab 20. Robert
21
Bab 21. Tata cara berwudhu
22
Bab 22. pulang sholat subuh
23
Bab 23. Misi kedua selesai
24
24. Lantaran niat baik
25
Bab 25. Keresahan Azam
26
Bab 26. Misi ketiga
27
Bab 27. Rencana Azam
28
Bab 28. Lombok
29
Bab 29. Kino dan Erlang
30
Bab 30. Azam pamit
31
Bab 31. Pergi dari Lombok
32
Bab 32. Lorong waktu
33
Bab 33. Ditolong orang
34
Bab 34. Rencana Rapum
35
Bab 35. Tak tahu artinya
36
Bab 36. Mafia Black Bar
37
Bab 37. Desa sumber jaya
38
Bab 38. Rencana gagal
39
Bab 39. Azam Abraham
40
Bab 40. Menolong mereka
41
Bab 41. Sudah dimulai
42
Bab 42. kekacauan
43
Bab 43. Berhasil
44
Bab 44. Memancing
45
Bab 45. Melanjutkan perjalanan
46
Bab 46. Misi keempat
47
Bab 47. Tempat yang dituju
48
Bab 48. Berkenalan
49
Bab 49. Robert dan Han
50
Bab 50. Rumah usang
51
Bab 51. Merasa haus
52
Bab 52. Curiga
53
Bab 53. Falback Azam dan Ruli
54
Bab 54. Sembuh
55
Bab 55. Terbongkar
56
Bab 56. misi selesai
57
Bab 57. Bertemu nenek
58
Bab 58. kebahagain
59
Bab 59. keluarga Abraham
60
Bab 60. Allhamadulilah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!