Bismillahirohmanirohim.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam handphone pak Heru, dia segera membuka pesa itu ketika nama Azam yang tertera di sana.
Sudah hampir 5 hari Azam tak ada kabar dan dia baru mengabarinya hari ini tentu saja pak Heru dan keluarnya merasa khawatir pada Azam.
'Maaf pa Azam baru bisa memberi kabar, di sini tidak ada sinyal soalnya, Azam baik-baik saja pa, tapi Azam tidak pergi ke Sumba Azam berada di Lombok karena ada hal yang lebih penting akan Azam urus di Lombok'
'Kemungkinan Azam akan pulang tiga atau empat tahun ke depan, di Lombok Azam harus mengurus hal yang sangat penting'
'Titip salam untuk mama dan Erlang, bilang pada mama Azam baik-baik saja dan tolong katakan pada Erlang dia harus mengurus Abraham Group sampai Azam kembali'
Tak lupa gambar Azam yang sedang tersenyum di depan mobilnya menampakkan indahnya kota Lombok.
Tak ada yang tahu jika pengirim pesan untuk pak Heru bukanlah Azam, tapi sistem Ikon foto yang diambil itu saat pertama kali Azam sampai di Lombok
Di ruang kerjanya Heru bernafas lega setelah mendapatkan pesan dari Azam. "Akhirnya kamu memberi kabar juga, papa dan mama sudah begitu khawatir dengan keadaanmu Azam, pantas saja tak memberi kabar selama 5 hari ini ternyata tidak ada sinyal"
"Bikin orang khawatir saja kamu Azam" setelah membaca pesan dari Azam pak Harus segera menghubungi seseorang.
"Bubarkan pencarian untuk Azam, aku sudah mendapat kabar dari Azam dimana dia sekarang, periksa lokasi yang aku kirim ke wa mu apa benar Azam berada di lombok" suruh pada Heru pada seorang yang dia hubungi via telepon.
Belum ada jawaban dari seberang pak Heru sudah mematikan ponselnya sepihak, tak lupa pak Heru mengirim pesan itu pada anak keduanya.
"Apa reaksi Erlang jika tahu abangnya menyuruh dia menjaga Abraham group sampai 4 tahun" ucap pak Heru setelah mengirim pesan itu pada Erlang.
Di Abraham group lebih tepatnya ruang Ceo Erlang segera membuka whatsAppnya saat mendapatkan pesan dari sang papa.
Terlihat pesan itu diteruskan Erlang membaca dengan saksama pesan tersebut sampai di pesan terakhir dia segera sadar. "tolong katakan pada Erlang dia harus mengurus Abraham Group sampai Azam kembali" baca Azam pada pesan papa nya yang dikirimkan pada dirinya.
"Apa!" pekik Azam tak percaya.
"Wah mas Azam keterlaluan masa aku disuruh mengurus Abraham group sampai 4 tahun" Erlang sedikit tak terima dengan keputusan kakaknya.
"Memang apa yang dikerjakan mas Azam di Lombok sampai 4 tahun perginya lama sekali" protes Erlang.
Dia sibuk mengomentari Azam sedari tadi padahal pekerjaan yang harus segera dia selesaikan sudah menumpuk. "Tamatlah sudah riwayat Ku, sekarang aku tak bisa berleha-leha lagi jika mas Azam tahu aku malas-malasan selama menjabat sebagai Ceo di perusahaan miliknya tamat sudah riwayatku" keluh Erlang.
"Awas saja mas Azam jika kamu kembali dari lombok aku akan membalaskan semuanya, atau aku sendiri yang akan menyusulmu ke Lombok kalau bisa tapi"
Sama seperti pak Heru, Kino yang berada di Sumba mendapatkan pesan dari Azam, padahal aslinya bukan Azam yang mengirim pesan itu, tak lain adalah sistem Ikon, sudah 5 hari juga sistem menyembunyikan hp milik Azam entah dimana.
'Kino aku sekarang berada di Lombok, jika tugasmu sudah selesai di Sumba dan kamu sudah menemukan siapa pengkhianatnya hubungi aku setelah itu pulanglah ke Banten, bantu Erlang mengurus Abraham Group aku yakin dia masih butuh bimbingan'
'Kamu tenang saja tak perlu khawatir jika ditanya mama dan papa, aku sudah memberitahu mereka, jika aku berada di Lombok, selama aku tidak di Abraham group tolong kelola perusahaan itu dengan baik" seperti itulah pesan yang dikirim sistem pada Kino.
Kino yang membaca pesan dari Azam itu mengangguk mengerti. "Sudah 5 hari baru kasih kabar bos ini memang benar-benar membuat orang khawatir saja, hampir aku tak pulang selama satu bulan jika bos tidak memberikan kabar" oceh Kino.
Sementara itu orang yang sedang dibicarakan di dua tempat yang berbeda sedang perlahan-lahan mempelajari agamanya yang selama ini dia anggap agama itu hanya sebuah tanda saja.
Nyatanya Azam salah besar agama bukanlah sebuah tanda tapi hal yang paling penting yang harus dia ketahui lebih dulu daripada hal lainnya, ternyata agama itu nomor satu dan nomor dua baru hal lainnya yang harus dia punya juga.
Punya dunia belum tentu punya akhirat, tapi orang yang punya akhirat sudah pasti dia memiliki dunia yang aman damai tentram.
Kunci utama dari semua yang kita punya ataupun tidak punya harus tetap bersyukur dengan keadaan yang kita miliki sekarang.
Hari rabu kebetulan sekali pak Rohim tidak mengisi pengajian jadi hari ini pak Rohim bisa full mengajari Azam, walaupun beliau tetap harus menjadi imam shalat di masjid kampung itu.
"Nak Azam kita mulai dari membaca syahadat lebih dulu ya" ucap pak Rohim pelan, sebenarnya Azam sudah mendengar lafal syahadat saat diinfokan oleh sistem Ikon tapi itu terlalu cepat sehingga Azam tidak bisa mengikutinya.
"Baik pak Rohim" jawab Azam dengan cepat dan begitu antusias, Azam yakin pak Rohim akan membacanya dengan pelan.
"Bismillahirohmanirohim"
"Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrasulullah"
"Ayo nak Azam ikuti pelan-pelan saja tidak apa-apa, jangan diburu-buru" Azam mengangguk dan segera membaca dua kalimat syahadat yang baru saja diucapkan oleh pak Rohim.
" Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrasulullah" Azam masih terbata melafalkannya, tapi Azam termasuk orang yang cepat hafal tanpa melihat kertas.
Mungkin memang Azam dulu sudah pernah bejalar saat dibangku sekolah, karena tidak pernah diasah sekalipun akhirnya Azam lupa semuanya, jadi wajar saja jika dia masih terbata padahal hanya membaca dua kalimat syahadat saja.
Azam merasakan ketenangan pada dirinya saat dia mengucapkan syahadat. "Ayo Nak Azam boleh diulang lagi sedikit lagi itu sudah benar" suruh pak Rohim pada Azam.
Azam mengikuti perintah pak Rohim dia kembali mengucapkan kalimat syahadat kali ini lebih lancar dari sebelumnya. "Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrasulullah"
Pak Rohim meneteskan air mata bahagia saat mendengar Azam dengan lancar melafalkan dua kalimat syahadat. "Alhamdulilah" pak Rohim merasa begitu bersyukur.
"Alhamdulillah saya sudah bisa mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lancar pak Rohim" Azam begitu senang.
"Kita sebagai umat islam hanya perlu melatihnya saja, tapi ingat dua kalimat syahadat itu bukan hanya pelafalan saja, tapi juga harus kita yakini dan terpakan"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments