Bismillahirohmanirohim
Sebuah sistem ikon yang didapat oleh Azam tidak hanya mengalami evaluasi, tapi juga mengalami berevolusi dan evolusi.
Entah sistem itu Azam dapatkan sendiri, atau sebaliknya sistem itu yang memilih Azam sebagai banyaknya manusia dimuka bumi ini, Azam lah yang terpilih untuk mencapai sebuah kebahagiaan dengan bantuan sistem.
3 hal yang dialami ini memiliki makna yang sangat berbeda, penyebutan kata yang hampir sama akan membuat orang bingung jika tak mengetahui 3 arti dari kata diatas.
Evolusi merupakan proses perubahan secara berangsur-angsur (bertingkat) dimana sesuatu berubah menjadi bentuk lain (yang biasanya) menjadi lebih kompleks/ rumit ataupun berubah menjadi bentuk yang lebih baik.
Evolusi juga akan berpengaruh pada sistem Ikon, bisa jadi saat mengalami evolusi sistem ikon akan menjadi versi yang sempurna, saat ini sistem itu ada di pertumbuhan tahap 3, atau bahkan bisa menjadi sistem yang paling jelek sekalipun.
Untuk berevolusi sendiri, Revolusi itu merupakan suatu perubahan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan. Dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan, yang akan dialami oleh sistem itu nanti.
Bisa saja sistem ikon akan hancur saat mengalami revolusi, karena dipaksa dalam sistemnya menggunakan kekerasan yang akan dialami.
Sementara evaluasi Evaluasi adalah suatu proses untuk menyediakan informasi tentang sejauh mana suatu kegiatan tertentu telah dicapai, bagaimana perbedaan pencapaian itu dengan suatu standar tertentu untuk mengetahui apakah ada selisih di antara keduanya, serta bagaimana manfaat yang telah dikerjakan itu bila dibandingkan dengan harapan.
Sistem ikon sudah mengalami tahap evaluasi, tinggal menunggu dua tahap lagi sistem itu tidak akan eror lagi. Dan nantinya sistem akan membantu Azam dengan lebih mudah dari yang sekarang ini.
Terjadinya evaluasi, revolusi dan evolusi di dalam sistem Ikon, karena sudah 3 hal itu sudah terdaftar sendiri di dalamnya, hanya tinggal menunggu satu persatu dari 3 hal itu melakukan sendiri kapan waktunya untuk berevolusi, kapan waktunya untuk berevaluasi dan kapan waktunya untuk berevolusi.
Masih di tempat yang sama, Azam bersama keluarganya masih sarapan bersama di ruang makan, tak ada obrolan dari keempat orang itu, semuanya terkesan dingin dan sibuk dengan dunia mereka sendiri-sendiri, Azam yang ingin memulai pembicaraan tapi dia tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Hmmm" dehem Azam yang membuat Erlang membuka suaranya.
"Kenapa kak? batuk-batuk sakit tenggorokan ya?" tanya Erlang begitu saja, tanpa dia melihat Azam.
"Sepertinya begitu" sahut Azam dengan santai, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Erlang jika dirinya sakit.
"Bi, buatkan jahe hangat untuk kak Azam!" suruh Erlang pada pekerja di rumah Abraham itu.
Sudut bibir Azam terangkat dia tahu walaupun Erlang terkesan cuek padanya dan hanya sibuk pada dunianya sendiri, tapi Erlang memang diam-diam selalu peduli pada Azam.
"Baik den Erlang" sahut seorang pekerja.
Para pekerja di rumah itu tak menyangka jika pagi ini mereka akan melihat keluarga Abraham sarapan bersama, para pekerja ikut senang melihat momen pagi ini.
"Aku senang melihat para pemilik rumah ini sarapan bersama, biasanya mereka akan sarapan sendiri-sendiri,selama aku bekerja disini, aku baru pertama kali melihat keluarga ini ada diruangan yang sama" ucap salah satu pekerja yang belum lama bekerja di rumah itu.
Seorang pekerja lain menepuk pundak temannya. "Hia, jangankan kamu bi Narti dan bi Ijah saja yang sudah bekerja di rumah ini selama bertahun-tahun, baru kali ini melihat nyonya dan yang lainnya bisa sarapan pagi bersama, bisa satu ruangan secara bersama" jelas temannya.
"Sudah tak usah pada gosip lagi, sekarang kembali lakukan pekerjaan kalian masing-masing" tegur bi Ijah.
Di meja makan, Azam dan Erlang menjadi sedikit mengobrol, seperti kakak beradik yang sebelumnya juga tak pernah terjadi baru kali ini.
"Terima kasih Lang"
"what for?" (untuk apa?)
"nothing I just want to thank you" sahut Azam. (tidak ada aku hanya ingin berterima kasih saja)
"Reall?"
"Ya!" setelah itu Erlang kembali terdiam, anehnya kedua orang tua dari dua anak itu tak ada satupun yang angkat bicara, saat kedua putra mereka bisa saling mengobrol satu sama lain.
[Hampir berhasil, teruskan jangan putus semangat ini baru permulaan, begini saja jika orang tua anda belum bereaksi, lebih baik dekati adik anda dulu Erlang, dengan ada dorongan dari kalian berdua satu sama lain pasti tidak akan terlalu sulit]
Azam dapat mendengar suara sistem ikon yang sedang memberikannya usulan. "Oke, aku juga tahu sebenarnya disini yang paling diabaikan bukan aku tapi Erlang, aku tak tahu dia sama sepertiku atau tidak, tapi yang pasti semua ini sulit bagi Erlang begitu juga denganku" balas Azam pada sistem.
"Tuan ini, jahe hangatnya" satu gelas jahe hangat yang diminta oleh Erlang tadi sudah tersaji di depan Azam.
Azam hanya mengangguk sebagai tanda terima kasih pada pekerja rumahnya itu. Tak menunggu lama Azam langsung meminum air jahe itu secara perlahan.
Erlang yang melihat kakaknya meminum air jahe yang dia suruh buat pada pekerja rumahnya merasa senang. "Apakah kak Azam sudah mulai berubah?" pikir Erlang merasa sedikit senang.
Sudah lama sekali Erlang berharap Azam mau memperhatikannya tak mengabaikan dirinya, walaupun kedua orang tuanya tidak peduli pada mereka, setidaknya Azam mau memberikan sedikit kasih sayang sebuah keluarga pada dirinya.
Heru yang sudah selesai makan, akan pergi dari ruang makan itu tak jadi kala mendengar perkataan yang keluar dari mulut Azam. "Pa, boleh aku menumpang mobil papa untuk berangkat kerja?"
Azam berharap papa nya memperbolehkan, bukan itu saja, dia sengaja berbicara seperti itu agara mama dan papa nya berkomentar.
"Memang mobilmu kenapa?" tanya Maya heran.
"Yes berhasil" Azam merasa senang akhirnya mama nya itu membuka suara juga.
"Benar memangnya ada apa dengan mobilmu?" bingung Heru.
Erlang sedang mengamati kakaknya, dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh Azam. "Apa yang sebenarnya kakak rencanakan" batin Erlang.
"Kino sudah datang, tapi dia mengatakan jika saat sampai di depan rumah mobilku entah apa sebab ban mobilnya bisa bocor"
Tepat saat Azam berbicara seperti itu Kino datang. "Tuan ayo kita berangkat" Kino mematung di ruang keluarga yang berbatasan langsung dengan ruang makan, saat melihat dengan jelas pagi ini semua orang berada di ruang makan.
"Sungguh pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya" Entah kenapa pemandangan seperti itu bisa membuat Kino takjub.
Di ruang makan Heru, Maya dan Erlang masih tak mengerti dengan Azam, Kino mengajaknya berangkat, tapi dia malam mau bersama papa nya itu.
"Bukankah tadi kamu bilang ban mobilku bocor Kino" ucap Azam sedikit berteriak agar semua orang mendengarnya dan tak berpikir yang aneh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments