Airin membuka mata dengan perasaan yang terkejut, pikirannya terus tertuju pada mimpi yang barusan ia alami.
"Untung itu cuman mimpi, tapi kenapa aku bisa gak nolak, dia laki-laki asing, aku tidak kenal sama sekali dengannya, tapi mengapa aku malah diam saat dia?" perkataan Airin menggantung, ia sungguh merasa heran dengan dirinya sendiri.
"Arrrrgghh aku gak mau ingat-ingat itu lagi" Airin menutup telinga, sesuatu yang barusan terjadi di mimpinya membuatnya benar-benar kehilangan jati dirinya.
"Mbk" panggilan itu menghentikan tindakan Airin, Airin menatap ke arah Nana yang berdiri di ambang pintu.
"Kenapa?"
"Anterin aku sekolah"
"Sekolah, ini masih pagi, gak ada orang di sekolahan jam segini"
"Ini udah siang, lihat sekarang jam berapa"
Airin langsung beralih melihat ke arah jam yang terpampang di dinding.
"Jam 7, sudah jam 7 aja, aku kira masih jam 6" terkejut Airin ketika melihat jam yang menunjukkan pukul 7 pas.
"Ayo mbk anterin aku sekolah, nanti telat"
"Sebentar" Airin berlari masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya sebentar lalu keluar setelah semuanya siap.
Airin mendekati Nana yang duduk di teras rumah sembari menunggunya selesai.
"Ayo"
Nana bangkit dari duduk dan mendekati motor, Airin melajukan motor menuju sekolahan, sudah menjadi rutinitasnya setiap hari mengantar jemput Nana sekolah.
Sepanjang perjalanan Nana terus melihat ke arah genderuwo yang mengikuti Airin dari spion.
"Kenapa genderuwo itu gak pergi-pergi, apa yang dia inginkan sebenarnya, kenapa dia terus ngikutin mbk" batin Nana yang merasa aneh sekaligus penasaran.
Di sepanjang perjalanan Nana hanya diam saja, ia tidak mengatakan apapun, karena Airin jelas tidak akan mempercayainya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama motor berhenti tepat di depan sekolahan Nana.
Nana langsung turun dan masuk ke dalam sekolahannya, Airin kembali melajukan motor menuju rumah.
Setelah sampai di rumah, Airin menyapu halaman rumah terlebih dahulu baru kembali ke dalam kamarnya untuk tidur.
Tak ada kegiatan yang Airin jalani selama ini, dia kebanyakan menghabiskan waktunya dengan tidur dan tidur.
Di dalam mimpi Airin kembali berada di tempat yang aneh, bukan hutan bukan rumah melakukan sebuah danau yang indah.
"Aku ada di mana, kenapa aku berada di sini, ibu bapak, kalian ada di sini bukan?" teriak Airin yang tengah kenapa menjadi ketakutan saat melihat danau yang indah itu.
Tak ada tanggapan, tempat yang Airin singgahi saat ini sepi dan sunyi, hanya ada dia seorang yang berada di sana.
"Ibu bapak, kalian ada di sini bukan?"
Masih tidak ada jawaban, Airin menjadi takut pada tempat yang indah itu.
Suara-suara aneh yang keluar dari dalam hutan yang ada di belakangnya membuatnya semakin tambah ketakutan.
"Ibu bapak tolong Airin"
"Airin takut hiks hiks" tangis Airin terduduk di bawah dengan memeluk tubuhnya sendiri.
"Jangan takut, ada aku di sini"
Suara itu membuat tangisan Airin terhenti, Airin mendongak menatap ke arah seseorang laki-laki yang berdiri di depannya dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
"Bima"
Terkesiap Airin saat lagi-lagi ia bertemu dengan pria tampan yang begitu misterius dan sangat asing baginya.
"Iya ini aku, kamu tidak usah takut, ada aku di sini" dengan lembut Bima menghapus air mata yang mengalir di pipi Airin.
"Bima aku takut, aku ingin pulang, ayo antarkan aku pulang"
"Tidak akan ada apa-apa Airin, kamu tidak usah takut, ada aku di sini, aku yang menjaga mu dan menjamin kalau kamu tidak akan terluka walau sedikitpun"
"Tapi Bima aku ingin pulang, aku tidak mau di sini, aku takut"
"Ayo ke rumah ku saja, di sana aman, tidak akan ada bahaya yang mengancam mu, karena aku tidak akan pernah biarkan siapapun melukai mu"
Airin mengangguk, kejadian mengerikan yang waktu itu ia alami sekarang sudah tak ia ingat, awal bagaimana ia bertemu dengan Bima sudah benar-benar ia lupakan.
"Ayo ikut ke rumah ku, di sana aman untuk mu"
Airin setuju ia mengekor di belakang Bima.
Bima masuk ke dalam hutan, Airin mengikutinya dari belakang, suara-suara aneh dari pada hewan-hewan kecil dan juga makhluk-makhluk halus yang menjadi penghuni hutan selama ini terus terdengar di telinga Airin yang berjalan menunduk.
Sepanjang perjalanan Airin tak mendongakkan wajahnya sama sekali, ia merasakan banyak sekali makhluk-makhluk halus di sekitarnya itu yang membuatnya tak berani menatap mereka semua.
Tiba-tiba Bima menghentikan langkahnya, Bima menatap ke arah Airin yang terus menunduk.
"Jangan takut, ada aku di sini"
Airin mendongak menatap wajah Bima yang entah kenapa membuatnya tenang walaupun ia masih belum tau siapa Bima sebenarnya.
"Ayo jalan lagi" Bima menggenggam erat tangan Airin lalu kembali berjalan menuju rumahnya.
Airin merasa sedikit tenang, tidak takut seperti tadi.
Suara-suara hewan-hewan dan makhluk-makhluk halus masih terus terdengar namun Airin tidak begitu takut seperti sebelumnya.
Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya hutan itu telah usai, mereka bertemu dengan sebuah rumah kuno yang besar di ujung hutan.
Airin menatap rumah kuno itu, ia tidak melihat rumah lain lagi setelah itu, rumah kuno itu berdiri sendiri di sana.
"Itu rumah ku, ayo masuk ke dalam"
Airin mengangguk, ia masuk ke dalam rumah kuno bersama Bima.
Mata Airin terus melihat ke penjuru ruangan yang benar-benar berbeda dengan rumahnya, di dalam rumah kuno itu banyak sekali tulisan-tulisan yang tidak ia mengerti.
"Sepi sekali rumah ini, apa di sini tidak ada orang lain lagi selain kita berdua?"
"Tidak ada, selama ini aku memang tinggal sendiri, jadi kau tidak akan menemukan orang lain lagi di rumah ini"
Mendengar jawaban Bima Airin pun langsung diam, pantas saja keadaan rumah itu sepi, ternyata hanya mereka berdua yang berada di rumah itu.
Airin melangkah masuk ke dalam salah satu kamar dan kamar itu sudah tidak asing baginya, karena ia pernah masuk ke dalam kamar itu di mimpi sebelumnya.
Airin mendekati kaca besar yang berada di kamar Bima.
Tiba-tiba Bima memeluk pinggang Airin, Airin langsung tercekat, ia menatap Bima dengan tidak percaya.
"Jangan bergerak, aku menginginkan mu"
"Apa kau gila, lepaskan aku, jangan sentuh aku lagi, kau bukan siapa-siapa ku, jangan berbuat yang tidak-tidak pada ku atau-
"Atau apa?"
Airin menatap wajah Bima yang tampak tenang, tak ada rasa takut pada ancamannya walau sedikitpun.
"Atau aku akan bunuh kamu!"
"Oh ya, sebelum kau bunuh aku, aku sudah lebih dulu menaklukkan mu"
"Arrrrgghh"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
FiaNasa
pagi² aja Airin tidur klau g ada aktifitas ya ngaji kek sholat Dhuha kek,,mondok 3 th g ada manfaatnya klau kerjaannya cuma molor aja.
2023-02-23
1