Malam harinya.
Airin tidur ketika jam 8 malam, suasana malam hari ini dingin, banyak sekali daun-daun yang berjatuhan dari atas pohon karena terkena terpaan angin.
Ketika mata Airin tertutup dengan sempurna seseorang yang tubuhnya berwarna hitam, seluruhnya tubuhnya penuh dengan bulu-bulu lebat masuk ke dalam kamar Airin tanpa membuka pintu.
Makhluk hitam itu menatap ke arah Airin yang tertidur dengan pulasnya, pelan-pelan makhluk hitam itu mendekati Airin.
Ia mendekatkan wajahnya ke arah Airin yang tengah menutup mata.
Jgeeeer
Mata Airin langsung terbuka dengan lebarnya saat mendengar suara petir yang menyambar dengan dahsyat itu.
"Arrrrgghh" refleks Airin berteriak saat mendengar suara petir.
Airin menatap ke sekelilingnya dengan memegangi dadanya yang naik turun.
Airin beranjak dari tempat tidur, ia mendekati jendela kamar, membuka tirai sedikit untuk melihat keadaan di luar.
Rintik-rintik hujan tertangkap di mata Airin.
Genderuwo itu mengepal kuat tangannya saat usahanya gagal, ia menatap ke arah Airin yang berdiri di jendela dengan pandangan yang tertuju pada halaman rumah.
Airin hendak kembali mendekati tempat tidur tiba-tiba.
"Airin" telinga Airin mendengar suara seseorang yang memanggilnya dari luar.
Airin kembali menatap keluar dari jendela.
"Enggak ada siapapun, suara siapa barusan yang aku dengar?"
Airin berusaha mencari seseorang yang memanggilnya di tengah hujan deras yang mengguyur di luar.
"Aneh, gak ada siapapun tapi kenapa ada yang manggil aku?"
"Apa aku cuman salah dengar"
Airin diam sesaat, ia masih tak yakin kalau apa yang barusan ia dengar salah.
Karena tak melihat siapapun di luar, Airin kembali menutup tirai, ia merebahkan tubuhnya di kasur.
Saat ingin menutup mata tiba-tiba semuanya menjadi gelap, Airin tidak melihat apapun.
"Kok gelap, ada apa ini, apa mati lampu?"
Jgeeeer
Airin langsung menutup kedua telinganya ketika mendengar suara petir yang menyambar itu, hujan terus turun dengan lebatnya.
Airin masih diam di tempat, ia tidak bergerak sama sekali, walaupun ketakutan tengah melanda ia berusaha untuk menahannya.
Airin meraba-raba nakas yang ada di samping tempat tidur.
"Kemana hp aku, kenapa gak ada di sini, tadi aku tarok di sini?"
Airin tak menemukan hpnya, ia ingin keluar namun ia takut.
"Gimana ini, aku takut"
Telinga Airin mendengar suara orang berjalan.
tap
tap
tap
Airin langsung memejamkan mata, ia menutup mata dengan ketakutan yang terus melanda.
"Siapa yang mendekat itu" batin Airin semakin ketakutan.
tap
tap
tap
Suara orang yang berjalan dalam kegelapan itu terus terdengar di telinga Airin.
"Siapa dia sebenarnya, apa dia ibu, tapi kenapa gak buka pintu, apa mungkin dia hantu, aaarrrrggh bagaimana ini, ibu aku takut" batin Airin yang semakin ketakutan.
Keringat-keringat dingin membasahi wajah Airin yang sedang berusaha untuk masuk ke dalam alam mimpi, tidur dalam keadaan ketakutan adalah sesuatu yang membuatnya tertekan namun tak ada cara lain yang bisa ia lakukan.
Suara langkah kaki seseorang itu berhenti, bukannya merasa lega Airin malah semakin ketakutan.
Tubuhnya menjadi kaku, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ketakutan.
"Ibu tolong aku, ibu aku takut, ibu datanglah dan usir dia dari sini" batin Airin, keringat-keringat dingin terus membanjiri tubuhnya.
Airin terus berusaha memejamkan mata dan pada akhirnya ia bisa masuk ke dalam alam mimpi walaupun harus memakan waktu yang lama.
Airin melihat sekelilingnya yang tampak aneh, tempat yang saat ini ia singgahi benar-benar asing, seumur hidupnya baru kali ini ia berada di tempat tersebut.
"Di mana aku ini, rumah siapa ini?"
Airin berada di sebuah kamar yang ada di rumah kuno, rumah itu lumayan besar, banyak ukiran-ukiran kuno yang unik yang berada di dinding rumah tersebut.
Airin melihat seluruh penjuru kamar yang banyak sekali benda-benda kuno jaman dahulu.
"Aku ada di mana ini, kenapa aku bisa berada di sini, rumah siapa ini?"
"Aku harus pulang, tapi bagaimana caranya, aku tidak tau jalan pulang"
Airin bingung, ia hanya diam dengan terus melihat isi kamar yang banyak sekali benda-benda kuno.
krieet
Tertangkap suara pintu yang terbuka di telinga Airin, Airin melihat ke arah siapa yang datang.
Bertapa terkejutnya ia saat melihat orang yang masuk ke dalam kamar itu dan saat ini orang tersebut tengah mendekatinya.
Airin langsung menjauhkan tubuhnya dengan wajah yang tegang.
"J-jangan mendekat!"
Orang misterius itu tidak mendengarkan, dia berjalan mendekati Airin dengan wajah datar.
"Ku bilang jangan mendekat ya jangan mendekat!"
Tak ada tanggapan sama sekali, orang misterius itu terus berjalan mendekati Airin.
Wajah Airin tiba-tiba langsung panik saat tubuhnya sudah mentok ke dinding, ia tidak bisa lari kemanapun lagi setelah ini.
"Jangan mendekat, pergi kau dari sini!" usir Airin.
"Kenapa, apa salah ku, kenapa kau ngusir aku?" Bima tampak tenang, ia tidak menunjukan wajah garangnya agar Airin tidak takut padanya.
"Pokoknya kamu pergi dari sini, aku tidak mau ketemu sama kamu lagi!"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Arrrrgghh"
Airin berteriak saat Bima langsung menggendongnya secara tiba-tiba.
"Lepaskan aku, lepaskan!"
"Lepaskan, aku ingin turun, ku mohon lepaskan aku!"
Airin terus memberontak, ia tidak mau kejadian mengerikan yang terjadi kemarin itu kembali terulang.
"Jangan memberontak, aku tidak akan menyakiti mu"
Airin tidak mendengarkan, ia terus berteriak dan memukuli Bima yang kuat bagaikan batu.
Bima meletakkan Airin di kasur yang empuk, ia duduk di samping Airin yang tengah memberontak.
"Sstt jangan berisik" Bima menempelkan jarinya di bibir Airin.
"Siapa kau?"
"Aku Bima, kemarin aku sudah bilang kan kalau nama ku Bima" Airin mengangguk, kalau masalah itu ia sudah tau.
"Apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Kenapa aku bisa berada di sini, di mana ini?"
"Ini rumah ku, kau saat ini berada di rumah ku"
"Aku ingin pulang, aku tidak mau berada di sini, minggir kau" Airin mendorong tubuh Bima namun tak bisa, tubuh Bima benar-benar keras seperti batu.
"Diam, jangan bergerak"
Bima mendekatkan wajahnya ke Airin yang membuat Airin tegang.
"Mau apa kau?"
"Aku mencintai mu"
Jawaban itu membuat Airin mematung, seumur hidupnya baru kali ini ada laki-laki yang mengatakan cinta secara langsung padanya.
Bima tersenyum ketika melihat Airin diam.
"Jangan takut pada ku, aku tidak akan pernah menyakiti mu" Bima mendorong tubuh Airin hingga jatuh ke layar yang empuk.
"Tapi-
"Sstt jangan berisik"
Airin tidak mengatakan apa-apa lagi, Bima melakukan apa yang ia inginkan, Airin tidak memberontak tak seperti kemarin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kemas Ruslan
harusnya Airin baca doa sebelum tidur
2023-02-20
1