Kerasukan

"Arrrrgghh"

Airin langsung membuka mata dengan sangat terkejut, ia memegangi wajahnya yang teringat pada kejadian yang barusan ia alami di mimpi.

"Kenapa aku ketemu lagi sama dia, siapa dia sebenarnya, kenapa dia terus hadir dalam mimpi ku?"

Airin mulai merasa aneh, ia rada tak percaya bahwa apa yang barusan terjadi padanya adalah mimpi, ia sungguh tak menyangka akan mengalami mimpi berhubungan badan dengan laki-laki yang tak di kenalnya terus menerus.

Krieet

Suara pintu yang tiba-tiba terbuka.

Pandangan Airin tertuju pada Nana yang masuk ke dalam kamarnya.

"Mbk hiks hiks hiks" tangis Nana dengan memeluk tubuh Airin.

"Kenapa na, kenapa kamu nangis, ada apa, bilang sama mbk?" Airin benar-benar terkejut saat adiknya lari ke kamarnya dengan di iringi tangisan.

Nana yang masih mengenakan seragam sekolah terus menangis dengan memeluk Airin.

"Na bilang sama mbk, kamu kenapa, kenapa kamu nangis?"

"Bapak sama ibu berantem mbk huhu"

"Berantem? kenapa mereka bisa berantem?"

"Enggak tau mbk, Nana takut huhu"

Airin mengusap punggung adiknya yang bergetar, ia penasaran mengapa bapak dan ibunya bisa bertengkar.

"Jangan bang, jangan bawa perhiasan aku, itu barang berharga satu-satunya yang aku punya, abang jangan ambil" cegah Ratna yang terus berusaha mencegah Farhan pergi.

"Jangan halangi abang, abang pasti akan ganti perhiasan mu, tunggu abang pulang saja" janji Farhan dengan mendorong tubuh Ratna yang menghalangi jalannya.

Ratna jatuh ke tempat tidur, ia melihat ke arah Farhan yang keluar dari dalam kamar, dengan cepat ia mengejarnya.

"Enggak abang, jangan pergi bang, jangan bawa perhiasan aku, abang" Ratna terus mencegah Farhan pergi dengan terus menangis.

"Abang" panggil Ratna, tetapi Farhan tidak mendengarkan, ia melajukan motor milik Airin meninggalkan rumah.

"Abang jangan pergi hiks hiks" tangis Ratna, ia terduduk di bawah dengan menatap kepergian suaminya yang membawa perhiasannya, perhiasan itu akan Farhan gunakan untuk judi dan mabuk-mabukan.

Airin yang mendengar suara-suara pertengkaran itu hanya bisa diam dengan terus mengusap punggung Nana.

Nana masih terus menangis dalam pelukan Airin, ia sangat takut melihat kedua orang tuanya bertengkar.

Airin sedari tadi terus menatap lurus ke depan tanpa berkedip, ia terus berpikir keras.

Nana mendongakkan kepalanya menatap ke arah Airin yang terus menerus diam, Nana menangkap wajah Airin yang terlihat mengerikan saat matanya tak berkedip sama sekali.

"Mbk, mbk kenapa?" Nana menggoyangkan tubuh Airin, namun Airin tetap diam dengan terus menatap lurus ke depan.

"Mbk, mbk kenapa, mbk jangan diam, mbk" Nana terus memanggil nama Airin, namun tak ada tanggapan sama sekali, walaupun Nana menggoyangkan tubuh Airin, itu semua tidak ada efek sama sekali.

"Mbk, mbk jangan bikin Nana takut, mbk huhu" tangis Nana semakin keras saat melihat Airin yang terus menerus diam.

"Mbk" Nana menepuk pundak Airin.

Tiba-tiba tatapan maut Airin beralih menatap ke arah Nana.

Nana langsung menangis kejer saat melihat Airin yang membuatnya sangat takut.

"Mbk Nana takut huhu" tangis Nana semakin keras hingga terdengar seisi rumah.

Ratna dan mik yang mendengar tangisan Nana langsung masuk ke dalam kamar Airin.

"Kenapa Nana, ada apa sayang?" penasaran mik yang khawatir ketika mendengar tangisan keras Nana.

"Ibu huhu"

"Ada apa na, siapa yang sudah bikin kamu nangis, bilang sama ibu?"

"Ibu mbk, Nana takut huhu" Ratna mengerutkan alis mendengar ucapan Nana.

Ratna beralih menatap ke arah Airin yang matanya tengah melotot tajam.

"Ya Allah Airin" tercekat Ratna saat menangkap Airin yang tengah menatap tak bersahabat dengannya.

"Ibu takut, Nana takut ibu" tangis Nana dengan memeluk tubuh Ratna.

"Airin sadar nak, sadar" Ratna menggoyangkan tubuh Airin.

Grrrr

Suara itu keluar dari mulut Airin membuat mereka semua yang ada di sana merinding.

"Rin istighfar ndok, sadar" mik berusaha menyadarkan Airin yang seperti orang kerasukan.

Grrrr

Grrrr

Grrrr

Suara-suara itu terus keluar dari mulut Airin, mereka semua yang di tatap tajam oleh Airin menelan ludah pahit.

"Ratna bawa Nana keluar" suruh mik yang terus mendengar suara tangisan Nana yang semakin lama semakin keras.

Ratna menurut, ia membawa Nana keluar, mik dengan terburu-buru ikut keluar dari dalam kamar Airin, ia benar-benar merinding saat Airin menatap tajam ke arahnya.

"Aaarrrrggh!"

Di dalam kamar Airin berteriak senyaring mungkin.

Mereka bertiga yang berada di luar mulai panik.

"Bagaimana ini mik, Airin kesurupan, bang Farhan gak ada di rumah, abah juga gak ada, kita harus ngapain mik" bingung Ratna yang ketar-ketir saat mendengar suara teriakan dan juga lemparan barang dari dalam kamar Airin.

"Cepat kamu panggil siapa saja, suruh dia ke sini dan bantu tenangin Airin, prihal Nana mik yang akan jaga" suruh mik.

"Baik mik" jawab Ratna.

"Nana kamu di sini sama mik ya, ibu mau nyari orang dulu" Nana mengangguk dengan isakan tangisan yang sesekali terdengar.

Ratna dengan terburu-buru pergi meninggalkan rumah, ia mencari-cari orang yang terlihat di sekitarnya.

Wajah Ratna semakin cemas saat tak menemukan satu orangpun yang terlihat di matanya.

"Pak Joni" teriak Ratna yang melihat pak Joni baru keluar dari dalam rumah.

"Ada apa Ratna, kenapa kamu kayak cemas gitu?" penasaran pak Joni yang mendapati wajah Ratna yang cemas.

"Pak Joni tolong Airin" titah Ratna.

"Ada apa lagi dengan Airin" pak Joni ikutan panik ketika mendengar nama Airin yang di sebut-sebut.

"Airin kesurupan pak Joni, di rumah gak ada bang Farhan sama abah, saya bingung mau minta bantuan sama siapa lagi"

"Ayo kita ke sana, saya mau lihat keadaannya"

Ratna mengangguk, dengan terburu-buru pak Joni dan Ratna berjalan kembali ke rumah.

"Mau kemana kalian?" bu Juleha yang tak sengaja menangkap wajah mereka yang cemas mulai penasaran.

"Airin kesurupan bu, saya minta bantuan pak Joni untuk nyadarin dia, soalnya di rumah gak ada bang Farhan sama abah"

"Kesurupan? kok bisa" bu Juleha semakin penasaran kenapa Airin terus menerus kesurupan.

"Ayo pak tolong Airin, saya takut dia kenapa-napa" pak Joni mengangguk lalu mempercepat langkah meninggalkan bu Juleha yang masih diam di tempat.

"Itu pak Joni mau kemana, kok ke rumah Ratna" mulai penasaran bu Rukayah yang mendekati bu Juleha yang masih berdiri di tempat.

"Katanya Airin kesurupan, mangkanya Ratna ngajak pak Joni ke rumahnya untuk bantu nyadarin Airin" jawab bu Juleha.

"Kok bisa kesurupan?" tercekat bu Sadu'a.

"Enggak tau, kemarin saja dia sudah kesurupan dan hari ini kambuh lagi" jawab bu Juleha.

"Ayo kita ke sana, kita harus lihat bagaimana keadaan Airin" ajak bu Rukayah yang penasaran.

"Itu harus, kita harus ke sana" setuju bu Juleha.

Ketiga ibu-ibu tukang gosib itu berjalan mendekati rumah Ratna dengan terburu-buru, mereka tak mau ketinggalan berita terhot di kampung ini.

Episodes
1 Penghinaan
2 Ke puskesmas
3 Kemarahan Ratna
4 Menjambak keras rambutnya
5 Menangis sepanjang malam
6 Tidak ada perubahan
7 Ekonomi sulit
8 Di ikuti genderuwo
9 Di bawa ke dukun
10 Penjelasan dukun
11 Bekas kemerahan di leher
12 Menjaga jarak
13 Keanahen Nana
14 Ternodai
15 Noda merah di seprei
16 Kesurupan
17 Memutuskan berhenti dari pondok
18 Mimpi
19 Mimpi 2
20 Kerasukan
21 Kerasukan 2
22 Kerasukan 3
23 Mimpi di dalam mimpi
24 Kedatangan polisi
25 6 bulan kemudian
26 Keguguran
27 Di nodai genderuwo
28 Dendam yang terbalaskan
29 Kepergian Bima
30 Undangan
31 Hadir di dunia nyata
32 Menatapnya tanpa henti
33 Berusaha menghancurkannya
34 Kemarahan Airin
35 Menghindarinya
36 Terkejut ketika tau segalanya
37 Akan berusaha menolak
38 Balas dendam
39 Kedatangan tamu tak di undang
40 Rencana licik Kamila
41 Berusaha mengusir Zidan
42 Rawan anak hilang
43 Panggilan dari orang misterius
44 Terbakar api cemburu
45 Alasan menghindarinya
46 Kesepakatan bersama
47 Melihatnya menikah
48 Hati yang terluka
49 Kemarahan bu Juleha
50 Ketakutan
51 Dua orang yang saling mencintai
52 Terjebak di tempat yang gelap
53 Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54 Di kejar makhluk seram
55 Kecewa
56 Bimbang
57 Tidak ada lagi ruang untuk mu
58 Percekcokan Yasha dan Zidan
59 Berusaha melarangnya datang
60 Moment 10 tahun yang lalu
61 Masam
62 Fitnah keji
63 Fitnah keji 2
64 Mata yang ternodai
65 Saling adu mulut
66 Apapun bisa di tikung
67 Kaget
68 Tertangkap basah
69 Lingkaran api
70 Mengabaikannya
71 Tegang
72 Tenang di tempat yang salah
73 Mempercepat pernikahan
74 Kecurigaan Nana
75 Deal
76 Di introgasi
77 Kemarahan Nana
78 Tidak bisa memberontak
79 Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80 Pengawasan yang di perketat
81 Kembali bercek-cok
82 Menjatuhkan harkat dan martabat
83 Di desak
84 Kekacauan Zidan
85 Menganggapnya Airin
86 Positif hamil
87 Pernikahan dadakan
88 Tak henti-hentinya berdoa
89 Resmi menjadi pasangan suami istri
90 Biang kerok
91 Pengantin baru
92 Tak ingin kehilangan dia
93 Taruhan
94 Kepergian Yasha
95 Di rundung kesedihan
96 Tidak ada kabar tentangnya
97 Berjuang sendiri
98 Tertekan selama kepergiannya
99 DEG!
100 Kenyataan pahit
101 Tamat
102 Pengumuman Novel baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penghinaan
2
Ke puskesmas
3
Kemarahan Ratna
4
Menjambak keras rambutnya
5
Menangis sepanjang malam
6
Tidak ada perubahan
7
Ekonomi sulit
8
Di ikuti genderuwo
9
Di bawa ke dukun
10
Penjelasan dukun
11
Bekas kemerahan di leher
12
Menjaga jarak
13
Keanahen Nana
14
Ternodai
15
Noda merah di seprei
16
Kesurupan
17
Memutuskan berhenti dari pondok
18
Mimpi
19
Mimpi 2
20
Kerasukan
21
Kerasukan 2
22
Kerasukan 3
23
Mimpi di dalam mimpi
24
Kedatangan polisi
25
6 bulan kemudian
26
Keguguran
27
Di nodai genderuwo
28
Dendam yang terbalaskan
29
Kepergian Bima
30
Undangan
31
Hadir di dunia nyata
32
Menatapnya tanpa henti
33
Berusaha menghancurkannya
34
Kemarahan Airin
35
Menghindarinya
36
Terkejut ketika tau segalanya
37
Akan berusaha menolak
38
Balas dendam
39
Kedatangan tamu tak di undang
40
Rencana licik Kamila
41
Berusaha mengusir Zidan
42
Rawan anak hilang
43
Panggilan dari orang misterius
44
Terbakar api cemburu
45
Alasan menghindarinya
46
Kesepakatan bersama
47
Melihatnya menikah
48
Hati yang terluka
49
Kemarahan bu Juleha
50
Ketakutan
51
Dua orang yang saling mencintai
52
Terjebak di tempat yang gelap
53
Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54
Di kejar makhluk seram
55
Kecewa
56
Bimbang
57
Tidak ada lagi ruang untuk mu
58
Percekcokan Yasha dan Zidan
59
Berusaha melarangnya datang
60
Moment 10 tahun yang lalu
61
Masam
62
Fitnah keji
63
Fitnah keji 2
64
Mata yang ternodai
65
Saling adu mulut
66
Apapun bisa di tikung
67
Kaget
68
Tertangkap basah
69
Lingkaran api
70
Mengabaikannya
71
Tegang
72
Tenang di tempat yang salah
73
Mempercepat pernikahan
74
Kecurigaan Nana
75
Deal
76
Di introgasi
77
Kemarahan Nana
78
Tidak bisa memberontak
79
Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80
Pengawasan yang di perketat
81
Kembali bercek-cok
82
Menjatuhkan harkat dan martabat
83
Di desak
84
Kekacauan Zidan
85
Menganggapnya Airin
86
Positif hamil
87
Pernikahan dadakan
88
Tak henti-hentinya berdoa
89
Resmi menjadi pasangan suami istri
90
Biang kerok
91
Pengantin baru
92
Tak ingin kehilangan dia
93
Taruhan
94
Kepergian Yasha
95
Di rundung kesedihan
96
Tidak ada kabar tentangnya
97
Berjuang sendiri
98
Tertekan selama kepergiannya
99
DEG!
100
Kenyataan pahit
101
Tamat
102
Pengumuman Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!