Di ikuti genderuwo

"Airin kamu istirahat ya nak, jangan lupa minum obat yang di berikan bu Wiwin, besok kita akan ke rumah sakit besar" Airin mengangguk ia meminum obat yang di berikan bu Wiwin kemudian memejamkan matanya.

Ratna dan mik keluar dari dalam kamar Airin, saat mereka pergi Airin menangis tanpa suara, rasa sakit di perutnya semakin lama semakin bertambah bukan berkurang sama sekali.

"Aku kenapa, kenapa aku bisa begini, apa yang sudah terjadi pada ku, kenapa aku merasakan sakit yang teramat besar seperti ini" tangis Airin yang semakin terisak.

"Ya Allah tolong sembuhkan Airin, Airin tidak sanggup lagi, Airin mohon angkatlah penyakit ini, Airin mohon ya Allah"

Airin terus menangis, ia memeluk tubuhnya sendiri.

Di pojokan berdirinya seorang makhluk halus yang bertubuh hitam, matanya merah menyala tengah menatap ke arah Airin tanpa Airin sadari.

Airin masih terus menangis hingga larut malam, kemudian matanya terpejam kuat.

Makhluk halus yang biasa di sapa genderuwo itu masih diam di tempat, ia terus melihat ke arah wajah cantik Airin yang terlelap dalam tidurnya.

Genderuwo itu tidak melakukan apapun, dia hanya diam di tempat dengan terus melihat ke arah Airin yang terlelap dalam tidurnya.

Matahari bersinar dengan terangnya membuat kegelapan menyingkir, Airin membuka matanya, air mata kembali jatuh saat perutnya kembali terasa sakit.

"Ibu, ibu sakit" teriak Airin yang merasakan sakit yang begitu sangat menyerang dirinya.

"Ibu, ibu tolong aku, ibu sakit" teriak Airin bagaikan orang kesurupan karena rasa sakit itu.

Ratna yang mendengar teriakan Airin langsung berlari mendekati Airin yang menangis dengan kencang di dalam kamar.

"Ada apa Airin, ada apa ndok?" khawatir Ratna yang melihat Airin terus berteriak dengan menangis keras.

"Perut Airin sakit bu, Airin gak kuat bu, perut Airin sakit banget" histeri Airin saat ngeri di perutnya semakin terasa.

"Kita ke rumah sakit sekarang, bang, abang" panggil Ratna dengan sedikit berteriak.

Farhan yang berada di depan rumah langsung masuk ke dalam kamar Airin.

"Ada apa bu, kenapa ibu teriak-teriak, ada apa sama Airin?" panik Farhan yang mendekati mereka.

"Kita harus bawa Airin ke rumah sakit, ini sudah mau jam 7, abang sana panggil pak Joni, ibu akan bantu Airin siap-siap"

"Iya, ibu tunggu di sini"

"Cepetan pak" Farhan mengangguk kemudian berjalan menuju rumah pak Joni.

"Ayo Airin ibu antar ke kamar mandi" Airin mengangguk lalu di bantu ke kamar mandi oleh Ratna.

Bersiap-siap sebentar, lalu menunggu bapaknya kembali.

"Ayo bu pak Joni sudah ada di depan, kita harus berangkat sekarang sebelum macet di jalan" ajak Farhan yang berdiri di ambang pintu.

"Iya, ayo Airin ibu bantu" Ratna membantu Airin keluar dari dalam kamar meski tertatih-tatih.

Genderuwo yang berada di pojokan itu masih diam di tempat, tidak ada satupun orang yang menyadari keberadaannya.

Airin masuk ke dalam kamar pak Joni, kemudian pak Joni melajukan mobilnya menuju rumah sakit besar.

Sepanjang perjalanan Airin terus menangis karena perutnya yang terasa sakit, nyeri di perutnya tidak kunjung hilang, ia terus berteriak-teriak karena rasa sakit itu.

Ratna dan Farhan terus menenangkan Airin yang menangis dan tak mau diam.

"Airin kamu yang sabar dulu, kita akan segera sampai di rumah sakit"

"Kapan sampainya bu, Airin sudah gak kuat huhu"

"Sebentar lagi juga akan sampai rin, kamu yang sabar dulu" Farhan membantu Ratna untuk menenangkan Airin yang tidak bisa diam.

"Huhu sakit bu, Airin gak kuat"

Ratna terus menghapus air mata Airin yang terus mengalir, sepanjang perjalanan Airin tidak bisa diam, ia terus menangis dan berteriak karena rasa sakit itu.

Setelah sekitar 4 jam mobil sampai di depan rumah sakit Medika.

"Kita sudah sampai, kamu jangan nangis lagi, ayo kita turun, biar kamu bisa langsung di periksa sama dokter"

Airin mengangguk lalu keluar dari dalam mobil dengan di bantu oleh Ratna dan Farhan sedangkan pak Joni memarkirkan mobilnya di parkiran.

Airin dengan tertatih-tatih duduk di kursi tunggu, mereka masih menunggu antrian yang panjang itu.

Banyak sekali orang-orang yang mengantri di rumah sakit itu, padahal mereka sudah berangkat dari desa jam 7, tapi masih saja antrian panjang itu tidak dapat terhindarkan.

"Kapan selesainya bu, Airin gak kuat, ini sakit banget, Airin pengen cepat-cepat sembuh, ibu tolong Airin"

"Ibu juga mau kamu cepat sembuh, sekarang kita ada di rumah sakit besar, nanti setelah kamu di check up baru kita akan tau kamu sakit apa, sekarang kamu tenang dulu, sabar sebentar, giliran kamu pasti sebentar lagi" Ratna terus berusaha menenangkan Airin yang terus menerus menangis.

"Gak kuat bu, Airin gak kuat, Airin mau mati aja"

"Eh gak boleh ngomong gitu, kamu harus kuat, ibu sama bapak akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa nyembuhin kamu, kamu diam dulu, kita tunggu giliran kamu, kamu sabar sebentar"

Airin terus menangis, gilirannya masih sangat lama, tetapi rasa sakit di perutnya tak kunjung usai.

Genderuwo yang tadi ada di kamar Airin kini berada di seberang Airin, dia duduk di kursi tunggu yang kosong, ia menatap ke arah Airin dengan tatapan tanpa ekspresi.

Di antara banyaknya orang-orang yang ada di sana satupun tidak ada yang melihat wujud genderuwo itu.

"Nomor antrian 36 atas nama Airin Kania Putri"

"Di sini suster" Ratna langsung memberi kode dengan tangannya.

"Silahkan masuk bu, dokter sedang menunggu" persilahkan suster.

"Ayo nak, kita masuk" Airin berjalan masuk ke dalam bersama kedua orang tuanya.

Airin di baringkan di brankar yang ada di sana.

"Mau check up dok, saya ingin tau anak saya sakit apa sebenarnya, karena sudah 2 kali di periksa di puskesmas tapi gak ngaruh sama sekali"

"Baik bu, saya akan meriksa anak ibu" dokter itu mulai memeriksa Airin.

Beberapa menit telah di habiskan hanya untuk memeriksa Airin secara total agar mereka semua tau sebenarnya Airin sakit apa.

"Bapak ibu di panggil keruangan dokter" suster itu mendekati mereka.

"Baik suster kami akan ke sana, Airin kamu di sini dulu ya, kami akan kembali secepatnya" Airin mengangguk.

"Jangan lama-lama"

"Iya gak akan lama kok, ayo bu kita ke ruangan dokter" ajak Farhan.

Ratna setuju kalau keduanya meninggalkan Airin sendirian untuk mendatangi ruangan dokter.

Airin terbaring lemas di brankar, ia tidak sarapan sebelum berangkat ke rumah sakit, perutnya kosong, kepalanya sangat sakit, namun ia berusaha tetap diam.

Genderuwo itu terus saja mengikuti Airin, dia berdiri di pojokan dan terus menatap wajah Airin yang lemas.

Terpopuler

Comments

Amelia Syharlla

Amelia Syharlla

kok serem

2023-02-22

1

lihat semua
Episodes
1 Penghinaan
2 Ke puskesmas
3 Kemarahan Ratna
4 Menjambak keras rambutnya
5 Menangis sepanjang malam
6 Tidak ada perubahan
7 Ekonomi sulit
8 Di ikuti genderuwo
9 Di bawa ke dukun
10 Penjelasan dukun
11 Bekas kemerahan di leher
12 Menjaga jarak
13 Keanahen Nana
14 Ternodai
15 Noda merah di seprei
16 Kesurupan
17 Memutuskan berhenti dari pondok
18 Mimpi
19 Mimpi 2
20 Kerasukan
21 Kerasukan 2
22 Kerasukan 3
23 Mimpi di dalam mimpi
24 Kedatangan polisi
25 6 bulan kemudian
26 Keguguran
27 Di nodai genderuwo
28 Dendam yang terbalaskan
29 Kepergian Bima
30 Undangan
31 Hadir di dunia nyata
32 Menatapnya tanpa henti
33 Berusaha menghancurkannya
34 Kemarahan Airin
35 Menghindarinya
36 Terkejut ketika tau segalanya
37 Akan berusaha menolak
38 Balas dendam
39 Kedatangan tamu tak di undang
40 Rencana licik Kamila
41 Berusaha mengusir Zidan
42 Rawan anak hilang
43 Panggilan dari orang misterius
44 Terbakar api cemburu
45 Alasan menghindarinya
46 Kesepakatan bersama
47 Melihatnya menikah
48 Hati yang terluka
49 Kemarahan bu Juleha
50 Ketakutan
51 Dua orang yang saling mencintai
52 Terjebak di tempat yang gelap
53 Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54 Di kejar makhluk seram
55 Kecewa
56 Bimbang
57 Tidak ada lagi ruang untuk mu
58 Percekcokan Yasha dan Zidan
59 Berusaha melarangnya datang
60 Moment 10 tahun yang lalu
61 Masam
62 Fitnah keji
63 Fitnah keji 2
64 Mata yang ternodai
65 Saling adu mulut
66 Apapun bisa di tikung
67 Kaget
68 Tertangkap basah
69 Lingkaran api
70 Mengabaikannya
71 Tegang
72 Tenang di tempat yang salah
73 Mempercepat pernikahan
74 Kecurigaan Nana
75 Deal
76 Di introgasi
77 Kemarahan Nana
78 Tidak bisa memberontak
79 Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80 Pengawasan yang di perketat
81 Kembali bercek-cok
82 Menjatuhkan harkat dan martabat
83 Di desak
84 Kekacauan Zidan
85 Menganggapnya Airin
86 Positif hamil
87 Pernikahan dadakan
88 Tak henti-hentinya berdoa
89 Resmi menjadi pasangan suami istri
90 Biang kerok
91 Pengantin baru
92 Tak ingin kehilangan dia
93 Taruhan
94 Kepergian Yasha
95 Di rundung kesedihan
96 Tidak ada kabar tentangnya
97 Berjuang sendiri
98 Tertekan selama kepergiannya
99 DEG!
100 Kenyataan pahit
101 Tamat
102 Pengumuman Novel baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penghinaan
2
Ke puskesmas
3
Kemarahan Ratna
4
Menjambak keras rambutnya
5
Menangis sepanjang malam
6
Tidak ada perubahan
7
Ekonomi sulit
8
Di ikuti genderuwo
9
Di bawa ke dukun
10
Penjelasan dukun
11
Bekas kemerahan di leher
12
Menjaga jarak
13
Keanahen Nana
14
Ternodai
15
Noda merah di seprei
16
Kesurupan
17
Memutuskan berhenti dari pondok
18
Mimpi
19
Mimpi 2
20
Kerasukan
21
Kerasukan 2
22
Kerasukan 3
23
Mimpi di dalam mimpi
24
Kedatangan polisi
25
6 bulan kemudian
26
Keguguran
27
Di nodai genderuwo
28
Dendam yang terbalaskan
29
Kepergian Bima
30
Undangan
31
Hadir di dunia nyata
32
Menatapnya tanpa henti
33
Berusaha menghancurkannya
34
Kemarahan Airin
35
Menghindarinya
36
Terkejut ketika tau segalanya
37
Akan berusaha menolak
38
Balas dendam
39
Kedatangan tamu tak di undang
40
Rencana licik Kamila
41
Berusaha mengusir Zidan
42
Rawan anak hilang
43
Panggilan dari orang misterius
44
Terbakar api cemburu
45
Alasan menghindarinya
46
Kesepakatan bersama
47
Melihatnya menikah
48
Hati yang terluka
49
Kemarahan bu Juleha
50
Ketakutan
51
Dua orang yang saling mencintai
52
Terjebak di tempat yang gelap
53
Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54
Di kejar makhluk seram
55
Kecewa
56
Bimbang
57
Tidak ada lagi ruang untuk mu
58
Percekcokan Yasha dan Zidan
59
Berusaha melarangnya datang
60
Moment 10 tahun yang lalu
61
Masam
62
Fitnah keji
63
Fitnah keji 2
64
Mata yang ternodai
65
Saling adu mulut
66
Apapun bisa di tikung
67
Kaget
68
Tertangkap basah
69
Lingkaran api
70
Mengabaikannya
71
Tegang
72
Tenang di tempat yang salah
73
Mempercepat pernikahan
74
Kecurigaan Nana
75
Deal
76
Di introgasi
77
Kemarahan Nana
78
Tidak bisa memberontak
79
Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80
Pengawasan yang di perketat
81
Kembali bercek-cok
82
Menjatuhkan harkat dan martabat
83
Di desak
84
Kekacauan Zidan
85
Menganggapnya Airin
86
Positif hamil
87
Pernikahan dadakan
88
Tak henti-hentinya berdoa
89
Resmi menjadi pasangan suami istri
90
Biang kerok
91
Pengantin baru
92
Tak ingin kehilangan dia
93
Taruhan
94
Kepergian Yasha
95
Di rundung kesedihan
96
Tidak ada kabar tentangnya
97
Berjuang sendiri
98
Tertekan selama kepergiannya
99
DEG!
100
Kenyataan pahit
101
Tamat
102
Pengumuman Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!