"Allahu Akbar"
Airin bangun dengan terkesiap, mimpi yang barusan ia alami benar-benar menakutkan dan itu menjadi mimpi pertama yang berhasil membuat jantungnya naik turun.
"Untung itu cuman mimpi" syukur Airin terus memegangi dadanya yang naik turun.
Airin hendak berdiri dari duduknya.
"Akkkhh"
Terpekik Airin saat merasakan sakit di **** *************.
Airin melihat ke arah seprei yang banyak noda merah.
"DARAH"
"Ini darah"
Airin menutup mulut tak percaya melihat banyak darah yang memenuhi sepreinya.
"Darah apa ini, kenapa banyak sekali, apa mungkin aku lagi datang bulan?"
Airin langsung berlari dengan tertatih-tatih mendekati kalender.
Airin melihat kalau hari ini adalah hari di mana biasanya ia akan kedatangan tamu bulanan.
"Ternyata benar kalau aku datang bulan"
Airin merasa lega ia hanya khawatir mimpi buruk yang ia alami barusan menjadi kenyataan.
Airin masih diam di tempat."Kenapa aku bisa mimpi buruk seperti itu, sungguh mimpi itu akan menjadi mimpi terburuk yang pernah aku alami"
Airin yang masih tegang karena apa yang barusan terjadi padanya di mimpi masih diam di tempat, ia menatap kosong ke depan dalam waktu yang cukup lama.
Genderuwo yang selalu mengikuti Airin tersenyum penuh makna tersirat.
Criiiing
Airin yang tengah melamun di kagetkan dengan bunyi jam weker yang berada di atas nakas.
Airin bergegas mematikan jam weker itu, Airin melirik ke arah seprei yang penuh dengan darah.
Airin mengambil seprei itu, ia membawanya ke dalam kamar mandi untuk mencucinya sekalian ia mandi.
Setelah selesai mencuci seprei dan mandi, Airin keluar setelah memakai pakaian untuk menjemur seprei yang sudah ia cuci.
"Kok seprei itu di jemur, kenapa?" Ratna menghampiri Airin, ia baru pulang dari belanja di rumah bu Sima yang menjadi tukang sayur di desa ini.
"Kotor bu"
"Kotor, kemarin baru ibu ganti, kenapa bisa kotor?"
"Airin datang bulan, gak sengaja darahnya kena seprei"
Ratna meninggalkan Airin yang cengengesan.
"Untung aku gak di marahin"
Airin langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya kembali.
Airin berdiri di depan cermin, ia menyisir rambutnya, mata Airin melihat bekas kemerahan yang berada di lehernya yang bertambah banyak dan agak membiru.
"Kenapa merah-merah di leher aku makin hari makin banyak, dari mana asal merah-merah ini, apa dari ulat, tapi kalau dari ulat biasanya gatal, kenapa ini tidak"
Airin mulai merasa aneh saat merah-merah di lehernya semakin hari semakin banyak.
"Gimana kalau ibu sama bapak nanya kenapa leher aku begini, aku harus jawab apa, gak mungkin aku bilang kalau leher aku begini dengan sendirinya, mereka gak akan percaya, aku harus lakuin apa ya, aku harus sembunyiin leher ku, aku gak mau ada yang tau, cukup Nana saja yang tau, aku yakin dia gak bakal bilang sama bapak dan ibu"
Airin di landa kebingungan, ia memikirkan bagaimana caranya ia menutupi lehernya yang merah-merah.
Mata Airin melihat sesuatu, senyuman merekah di bibirnya, Airin mengambil benda itu.
"Dengan ini tidak akan ada yang melihat kalau leher ku banyak bekas merah-merah, ibu sama bapak gak akan curiga" Airin tersenyum dengan memegang kerudung di tangannya.
Airin memakai kurudung itu, ia keluar dari dalam kamarnya.
"Mau kemana mbk?" penasaran Nana yang mendekati Airin.
"Enggak kemana-mana, kamu gak mau sekolah?"
"Mau, ayo anterin, sebentar Nana mau sarapan dulu"
"Iya mbk tunggu di depan"
"Mbk gak mau sarapan?"
"Nanti aja"
Setelah mendengar jawaban Airin Nana langsung masuk ke dalam dapur, ia sarapan di sana sedangkan Airin memainkan hpnya di teras rumah sembari menunggu Nana selesai makan.
tap
tap
tap
Suara derap kaki seseorang terdengar di telinga Airin.
Airin mendongak melihat siapa yang datang.
"Bu Juleha" kaget Airin saya melihat bu Juleha yang berada di depannya.
"Ini kasih sama ibu kamu" suruh bu Juleha dengan memberikan sayuran.
"Terima kasih bu, nanti Airin akan kasih ke ibu" Airin mengambil sayuran itu.
"Eh Airin kamu gak mau balik pondok, sama pondok kan kamu cuman di beri izin 3 hari, tapi kenapa sampai sekarang kamu masih belum balik, ini sudah lewat beberapa hari loh"
Airin teringat pada ucapan bapak dan ibunya saat berada di dalam mobil, mereka mengatakan kalau ekonomi keluarga sedang tidak baik-baik saja, biaya untuk pondoknya besar dan ia takut mereka tak sanggup membayarnya.
"Ada apa Juleha" mik baru keluar dari dalam dapur dan mendapati bu Juleha di depan rumah.
"Ah tidak apa-apa mik, ini Juleha ke sini cuman mau ngasih sayuran, tadi bu Sami nitipin sayuran ini ke saya, dia bilang suruh kasih ke Ratna" jelas bu Juleha yang ketar-ketir khawatir apa yang barusan ia katakan pada Airin di tetahui mik.
"Makasih Juleha sudah repot-repot anterin segala, oh ya Erna itu di tahlilin di sini apa gimana, kenapa tadi malam Jefri dan keluarganya pergi saat tahlilan selesai?"
"Saya dengar Erna gak di tahlilin di sini mik, tapi Jakarta, mangkanya pak Jefri sama keluarganya berangkat tadi malam" jawab bu Juleha.
"Kenapa gak di tahlilin di sini aja?"
"Kurang biaya mik, kalau di sini kan harus ngeluarin biaya yang besar, tapi kalau di Jakarta ada yang nanggung, mungkin itu yang menjadi alasan kenapa pak Jefri dan keluarganya gak laksanain tahlilan di sini"
"Oh seperti itu, pantes saja kemarin keluarganya pada gak ada yang jawab saat mik suruh beli air mineral"
Bu Juleha melihat ke arah Airin yang diam dengan tatapan lurus ke depan, ia rasa ngeri saat melihat Airin tiba-tiba diam saat ia membicarakan masalah pondok.
"Mik saya pulang dulu, ada banyak pekerjaan soalnya"
"Iya sana"
Setelah mendengar jawaban mik, nu Juleha bergegas pergi dari rumah Ratna, ia takut di salahkan saat mereka sadar ada perubahan dalam diri Airin.
"Mbk ayo anterin aku sekolah"
Airin bangun dari duduknya, ia mengantarkan adiknya ke sekolah.
Saat di perjalanan Nana merasa aneh saat Airin tidak mengatakan sepatah katapun.
"Kenapa mbk diam, biasanya dia gak kayak gini, apa yang udah terjadi sama mbk, apa mungkin mbk jadi pendiam gara-gara genderuwo itu, apa aku bilang aja sama bapak dan ibu kalau ada genderuwo yang ikutin mbk, tapi kalau mereka minta bukti gimana, aku gak akan bisa ngasih bukti" batin Nana bingung harus melakukan apa.
"Tapi sejauh ini genderuwo yang ikutin mbk gak buat mbk terluka, aku biarin saja dia, kalau nanti ternyata dia buat mbk terluka, aku bakal langsung bilang sama bapak dan ibu" batin Nana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Amelia Syharlla
nanti klo hamil anak gendruwo gimana thor 🤫🤫🤣
2023-02-22
1