Malam harinya.
Airin tidak ikut ke rumah pak Jefri, ia lebih memilih menjaga rumah, ia masuk ke dalam kamarnya.
Sehabis magrib entah kenapa matanya menjadi kantuk, padahal paginya ia sudah tidur.
Airin merebahkan tubuhnya di kasur, ia langsung memejamkan mata dan masuk ke dalam alam mimpi.
Airin membuka mata dan melihat sekelilingnya yang amat berbeda.
"Di mana aku ini?"
"Kenapa tempat ini aneh sekali?"
Airin melihat ke arah tempat yang penuh dengan tumbuhan-tumbuhan, saat ini dirinya berada di dalam hutan yang sepi dan sunyi hanya suara-suara hewan kecil yang memecah keheningan.
"Kenapa aku berada di dalam hutan, di mana semua orang, kenapa tidak ada satupun yang aku lihat, aku harus cari mereka"
Airin berjalan dengan perlahan-lahan, ia melihat ke kanan dan kirinya untuk waspada.
"Sepi sekali hutan ini, sebenarnya aku ada di mana, kenapa aku bisa masuk ke dalam hutan seperti ini?"
Grrrr
Airin menghentikan langkahnya saat mendengar suara hewan buas di dalam hutan.
Airin menjadi pucat, ia bimbang mau masuk ke dalam atau tidak.
"Aku harus kemana ini, di dalam hutan ada hewan buas, aku tidak mau dia nerkam aku, tapi kalau aku tidak masuk ke dalam hutan aku tidak akan bisa keluar, di belakang ku jurang, aku tidak mungkin masuk ke dalam jurang itu" Airin menatap ke belakangnya yang merupakan jurang yang sangat dalam.
Airin kembali menatap ke depan, seketika wajahnya langsung pucat saat melihat semak-semak yang bergerak-gerak.
"Siapa di sana, kenapa semak-semak itu pada gerak, apa mungkin itu hewan buas arrrrgghh!" teriak Airin dengan menutup mata saat sesuatu akan keluar dari dalam semak-semak itu.
tap
tap
tap
Telinga Airin mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya, ia pun berhenti berteriak, Airin membuka mata dan menatap ke arah seorang pemuda tampan rupawan, wajahnya putih mulus, tidak di tumbuhi jerawat sedikitpun.
"S-siapa kau?" gagap Airin yang memundurkan tubuhnya, pemuda itu benar-benar asing di matanya.
Airin melihat ke belakang, kurang satu langkah lagi dia akan masuk ke dalam jurang itu.
"Ikutlah bersama ku, akan aku tunjukkan jalan keluar untuk mu"
Airin diam di tempat, ia agak ragu untuk ikut bersama pemuda itu.
"Aku tidak berbahaya, aku tidak akan membuat mu terluka, ayo ikutlah bersama ku, kau ingin keluar dari sini bukan?"
Airin mengangguk takut.
"Ayo ikutlah bersama ku" pemuda asing itu menggenggam tangan Airin, ia membawa Airin masuk ke dalam hutan.
Airin melihat sekeliling, hutan yang ia masuki benar-benar sepi dan menakutkan, banyak suara-suara aneh yang membuat Airin ketakutan.
"Jangan takut, ada aku di sini" pemuda itu terus menenangkan Airin yang ketakutan.
"Kau siapa, kenapa kau ngajak aku masuk ke dalam hutan ini, sebenarnya aku ada di mana, kenapa aku bisa berada di tempat ini?"
"Nama ku Bima, rumah ku tidak jauh dari sini, aku akan bawa kau ke sana, baru nanti akan aku antarkan kau pulang"
"Aku tidak mau" Airin langsung menyingkirkan tangannya yang di pegang erat-erat oleh Bima.
Bima menatap tajam ke arah Airin.
"Aku akan pulang sendiri, aku tidak mau ke rumah mu, kau tidak usah repot-repot nganterin aku pulang"
Bima diam, ia menatap Airin tanpa berkedip.
Airin berjalan ke sebelah utara, tiba-tiba tangan besar melingkar di pinggangnya.
"Lepasin aku!" teriak Airin yang terkesiap saat Bima memeluknya dari belakang.
"Lepasin aku, lepas!" titah Airin yang memberontak.
Bima membalikkan tubuh Airin, ia menggendong Airin ala bridal style.
"Arrrrgghh"
"Lepasin, lepasin aku, lepas!"
Airin berteriak, ia ingin turun, ia tidak mau ikut ke rumah Bima.
"Lepasin aku, lepas" berontak Airin yang tidak mau diam.
"DIAM, JANGAN BERISIK"
Airin tidak mendengarkan, ia terus berteriak dan memberontak, ia tidak mau Bima membawanya pulang.
"Lepas, lepasin aku, aku ingin turun, cepat turunkan aku!"
Bima tidak menggubris sama sekali, ia terus menggendong Airin menuju rumahnya yang berada di ujung hutan.
Airin terus memberontak dan berteriak.
"Lepasin aku, lepasin, tolong turunkan aku" Airin memukul dada bidang Bima dengan keras, ia ingin turun, ia tidak mau ke sana.
"Lepasin, lepasin aku, lepasin"
"Arrrrgghh!" teriak Bima saat Airin mengigit lehernya dengan keras.
Bima tanpa sadar melepaskan Airin, Airin mengambil kesempatan untuk melarikan diri, ia berlari ke sebelah timur tempat awal dia berada di tempat ini.
Bima memegang lehernya yang berdarah akibat gigitan Airin.
Wajah Bima menatap ke arah Airin yang melarikan diri, dengan cepat Bima langsung mengejar Airin.
"Tunggu, jangan pergi!"
Airin melihat ke belakang, dia mendapati Bima yang mengejarnya.
"Gawat, dia ngejar aku, aku harus pergi dari sini, aku tidak mau dia nangkap aku, aku harus melarikan diri" panik Airin yang berlari kencang.
"Airin tunggu, jangan pergii!"
Airin tidak mendengarkan, ia terus berlari dengan sesekali melihat ke belakang.
Brukkk
Airin terjatuh, ia tak sengaja tersandung pada akar pohon yang keluar, ia melihat Bima yang sudah sangat dekat.
"Gawat"
Airin bangun dan kembali berlari, ia ingin menghindari dari Bima.
"Mau kemana kau"
"Arrrrgghh" teriak Airin saat Bima berhasil memeluk tubuhnya dari belakang.
"Lepasin aku, aku ingin pulang, ku mohon lepaskan aku!"
Bima tidak mendengarkan, ia menyapu leher jenjang Airin yang putih.
Airin ketakutan saat Bima melakukan tindakan itu.
"Lepas, lepasin aku!"
Bima tak menggubrisnya, ia terus menyapu habis leher Airin, menghisapnya sedikit dan meninggalkan banyak bekas merah-merah di sana.
Airin meringis menahan sakit di lehernya, ia berusaha melepaskan tangan Bima yang melingkar di pinggangnya.
"Lepas, lepasin aku!"
Tangan Bima begitu kuat, Airin tidak bisa melepasnya.
Bima menarik Airin, ia menindih tubuh Airin ke pohon, Bima meraup habis bibir ranum Airin.
"Mppp"
Airin menolak, namun Bima mencekal kuat kedua tangan Airin yang terus memukuli dadanya.
Air mata mengalir saat bibir ranum Airin telah di nodai oleh Bima.
Tangan Bima turun ke dada Airin, Airin langsung memberontak, namun ia tidak bisa karena tangannya di cekal oleh Bima.
Tangan Bima memegang buah dada Airin yang kenyal, ia memainkannya membuat air mata Airin berjatuhan.
"Ibu tolong Airin, ibu tolong Airin dari pria brengsek ini" batin Airin yang pasrah saat apa yang ia sembunyikan dapat di ambil dengan mudah oleh pria asing itu.
Bima melepaskan ciumannya, ia langsung mendorong tubuh Airin hingga jatuh ke bawah.
Airin terisak saat tubuhnya yang tiba-tiba lemah.
Airin sudah kehilangan banyak energinya, ia tidak bisa melarikan diri dari Bima yang menginginkan tubuhnya.
Bima membuka paksa baju Airin, ia membuang semua kain yang menutupi tubuh Airin hingga tidak ada satupun kain yang melekat di tubuh Airin.
Bima menindih tubuh Airin, ia mengeluarkan sesuatu yang Airin takuti.
"Arrrrgghh" teriakan panjang Airin saat sesuatu masuk ke dalam area yang terlarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kiki Fatmawati
anak pondok ko bs mudah di dekati.kayanya ga serius belajar waktu d pondok
2023-03-06
3
FiaNasa
tidur g baca doa dulu sih,,katanya mondok tp knp ilmunya g dipake..harusnya Airin percaya sama Nana,,malah g perduli..
2023-02-23
2
Nilaa Yusrinaa
lanjut Thor
2023-01-20
2