Bekas kemerahan di leher

Keesokan harinya.

Airin terbangun dari tidur panjangnya, Airin merasa ada yang aneh.

"Kok perut aku gak sakit lagi, apa aku sudah sembuh?"

Wajah Airin langsung tampak girang ketika perutnya sudah tidak terasa sakit lagi seperti kemarin.

"Ibu, ibu" panggil Airin dengan sedikit berteriak.

"Ibu"

Ratna yang mendengar teriakan Airin langsung masuk ke dalam kamar Airin, ia begitu panik, karena khawatir takut ada apa-apa sama Airin.

"Ada apa Airin, ada apa?"

"Airin sembuh bu, perut Airin sudah gak sakit lagi"

Wajah Ratna yang tadinya tegang kini langsung senang saat mendengar penuturan Airin.

"Yang bener?" masih tidak percaya Ratna.

"Iya bu beneran, kaki Airin sudah sembuh, Airin sudah gak sakit lagi"

"Alhamdulillah, akhirnya kamu sembuh juga nak" Ratna memeluk tubuh Airin, ia benar-benar begitu senang saat kini anaknya sudah sembuh tak seperti waktu itu yang terus menangis.

"Iya bu, Airin sembuh"

"Sekarang kamu antar adek mu sekolah, kamu bisa kan nak?"

"Bisa bu, bentar Airin mau siap-siap dulu, suruh Nana tunggu di depan"

"Iya" Ratna keluar dari dalam kamar Airin meninggalkan Airin sendirian.

Airin membuka bajunya, tubuh telanjang Airin jelas terlihat di mata genderuwo yang berada di kamar Airin, genderuwo itu tidak pergi sedikitpun dari sisi Airin.

Genderuwo itu menelan ludah, ia begitu berhasrat melihat lekuk-lekuk tubuh Airin yang nampak jelas di matanya.

Airin tidak sadar sama sekali kalau ada genderuwo itu di kamarnya, ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.

Genderuwo itu mengikuti Airin sampai ke kamar mandi, ia melihat Airin mandi, terlihat tatapan mata nafsu yang terpencar di wajah genderuwo itu.

Airin membersihkan tubuhnya dengan tenang, tak ada kekhawatiran sama sekali yang ia rasakan.

Setelah membersihkan tubuh Airin keluar untuk mengganti baju, setelah siap ia keluar dari dalam kamar untuk menemui Nana.

"Lama banget" wajah gadis kecil itu tampak kesal saat melihat Airin mendekatinya.

Airin hanya cengar-cengir saja."Gak usah ngomel, ayo mbk anterin ke sekolah"

Nana menghembusakan napas, ia naik ke depan motor beat, lalu Airin melajukan motor menuju sekolah Nana yang lumayan jauh dari desa Melati.

"Mbk siapa itu?"

"Mana, gak ada siapapun?"'

"Itu loh orang yang duduk di belakang mbk"

Airin mengerutkan alis, ia tidak melihat siapapun di belakangnya, jalanan desa juga sepi tidak ada satu kendaraan pun yang melintas.

"Enggak ada apapun, dia belakang mbk gak ada siapa-siapa, kamu salah lihat mungkin"

"Tapi beneran mbk ada orang di belakang mbk"

"Dia cewek apa cowok?"

"Gak tau, pokoknya dia serem banget, dia terus ngikutin mbk dari kemarin, mangkanya kemarin aku gak mau ikut ke rumah sakit karena ada dia"

Airin terdiam, ia melihat jok belakang yang kosong, tidak ada siapapun, tapi mengapa Nana bilang kalau ada orang yang duduk di belakangnya.

"Dia seperti apa na, coba kamu sebutin ciri-cirinya?"

"Dia itu serem banget, kayak kingkong, dia dari kemarin terus ngikutin mbk, dan sampai sekarang dia terus ngikutin mbk"

"Kok mbk gak bisa lihat ya?"

"Enggak tau, tapi aku gak lagi bohong loh mbk, aku beneran lihat ada kingkong yang duduk di jok mbk"

Airin diam, ia bingung harus percaya atau tidak, sedangkan orang yang di katakan oleh Nana gak dapat di lihatnya, ia masih ragu untuk percaya pada apa yang adiknya katakan.

Airin melajukan motornya dengan terus memikirkan ucapan Nana yang menurutnya sangat aneh.

"Siapa ya orang yang Nana lihat, kenapa aku gak bisa lihat juga, apa dia bohong sama aku, ku rasa iya, dia kan agak dengki dengan ku" batin Airin.

"Dia pasti lakuin ini biar aku takut, hemm dia kira aku bakal percaya apa, tentu saja tidak" batin Airin yang tidak percaya sama sekali dengan ucapan Nana, namun ia masih diam tak melakukan apapun.

Motor Airin keluar dari desa Melati, sekitar 10 menit motor itu sampai di depan sekolah SD yang lumayan jauh dari rumah Airin.

"Sudah nyampe, cepat turun"

"Santai napa, jadi mbk kok galak banget, awas gak nikah-nikah loh"

"Sstt jangan berisik, sana masuk ke dalam, sekolah yang rajin, kalau bisa harus dapat rangking, biar nama bapak harum"

"Halah mbk aja gak pernah dapat rangking"

"APA KAMU BILANG!"

"Kabuurr"

Nana masuk ke dalam sekolahan meninggalkan Airin yang tengah naik darah.

"Dasar si bontot itu, sukanya ngatain orang!"

"Sabar Airin, kamu gak usah ladenin bocah tengil itu" Airin mengelus dadanya agar kemarahannya mereda.

Airin melajukan motor kembali ke rumah.

Saat masuk ke dalam jalanan desa yang sepi, Airin kembali teringat pada ucapan Nana yang mengatakan kalau di joknya ada orang yang menduduki.

"Apa iya kalau di belakang jok aku ada orang yang duduk?"

"Tapi gak mungkin, Nana pasti boong sama aku, aku gak usah mikirin itu"

Airin terus melajukan motor menuju rumah, genderuwo itu masih duduk dengan tenang di jok belakang Airin tanpa Airin sadari sama sekali.

Ketika sampai di rumah, Airin langsung masuk ke dalam kamarnya, ia membiarkan motonya berada di depan rumah.

Airin melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah delapan.

"Nana pulang kan jam 12, masih lama, mending aku tidur aja"

Airin merebahkan tubuhnya di kasur, matanya benar-benar berat, ia memejamkan matanya yang ngantuk berat.

3 jam kemudian.

Airin membuka matanya, ia merasakan panas di tubuhnya, rasa gerah menghampiri tubuhnya.

"Kenapa panas banget, kipas hidup, kenapa masih gerah"

Merasa aneh Airin, ia benar-benar di serang rasa gerah yang luar biasa, karena sudah tidak tahan ia pun lari ke kamar mandi untuk menyejukkan tubuhnya kembali.

Saat air menyentuh tubuh Airin, sungguh ia benar-benar merasa lega sama sekali, Airin sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi karena itu dapat membuat tubuhnya adem.

Setelah membersihkan tubuh Airin keluar dan memakai pakaiannya.

Airin melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 12 kurang seperempat.

"Mau hampir pukul 12, gawat aku harus jemput Nana, nanti dia marah-marah"

Airin buru-buru mengambil jilbabnya di lemari.

"Kok bisa aku ketiduran, aku harus berangkat ke sekolah Nana, nanti tuh bocah akan ngomel karena aku telat jemput"

Airin melipat kerudungnya, saat kerudung itu sudah berada di kepala, tiba-tiba mata Airin menangkap sesuatu yang membuatnya terdiam.

"Apa ini, kenapa leher aku banyak merah-merah kayak gini?"

Ada bekas kemerahan di leher jenjang Airin, dan itu semua membuat Airin menatap aneh.

"Kemarin gak ada merah-merah kayak gini, tapi kenapa sekarang ada?"

"Apa ini semua karena ulat ya?"

Airin terus memikirkan itu, ia melihat bekas merah-merah di lehernya dari kaca lemari besar yang ada di kamarnya.

"Airin cepat jemput adik kamu, ibu khawatir ada apa-apa sama dia kalau dia pulang sendiri" suruh Ratna dengan berteriak dari luar.

"Iya bu"

Airin membernarkan jilbabnya lalu keluar dari dalam kamar.

"Cepat jemput adik kamu"

"Iya bu, Airin pergi dulu assalamualaikum"

"Wa'alaikum salam"

Setelah mendengar jawaban itu, Airin langsung berangkat menuju sekolahan Nana.

Terpopuler

Comments

💞Erra Tarmizi💞

💞Erra Tarmizi💞

pinter juga genderwo bikin cipokan🤣

2023-04-01

1

Amelia Syharlla

Amelia Syharlla

udah dicpok gendruwo

2023-02-22

0

lihat semua
Episodes
1 Penghinaan
2 Ke puskesmas
3 Kemarahan Ratna
4 Menjambak keras rambutnya
5 Menangis sepanjang malam
6 Tidak ada perubahan
7 Ekonomi sulit
8 Di ikuti genderuwo
9 Di bawa ke dukun
10 Penjelasan dukun
11 Bekas kemerahan di leher
12 Menjaga jarak
13 Keanahen Nana
14 Ternodai
15 Noda merah di seprei
16 Kesurupan
17 Memutuskan berhenti dari pondok
18 Mimpi
19 Mimpi 2
20 Kerasukan
21 Kerasukan 2
22 Kerasukan 3
23 Mimpi di dalam mimpi
24 Kedatangan polisi
25 6 bulan kemudian
26 Keguguran
27 Di nodai genderuwo
28 Dendam yang terbalaskan
29 Kepergian Bima
30 Undangan
31 Hadir di dunia nyata
32 Menatapnya tanpa henti
33 Berusaha menghancurkannya
34 Kemarahan Airin
35 Menghindarinya
36 Terkejut ketika tau segalanya
37 Akan berusaha menolak
38 Balas dendam
39 Kedatangan tamu tak di undang
40 Rencana licik Kamila
41 Berusaha mengusir Zidan
42 Rawan anak hilang
43 Panggilan dari orang misterius
44 Terbakar api cemburu
45 Alasan menghindarinya
46 Kesepakatan bersama
47 Melihatnya menikah
48 Hati yang terluka
49 Kemarahan bu Juleha
50 Ketakutan
51 Dua orang yang saling mencintai
52 Terjebak di tempat yang gelap
53 Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54 Di kejar makhluk seram
55 Kecewa
56 Bimbang
57 Tidak ada lagi ruang untuk mu
58 Percekcokan Yasha dan Zidan
59 Berusaha melarangnya datang
60 Moment 10 tahun yang lalu
61 Masam
62 Fitnah keji
63 Fitnah keji 2
64 Mata yang ternodai
65 Saling adu mulut
66 Apapun bisa di tikung
67 Kaget
68 Tertangkap basah
69 Lingkaran api
70 Mengabaikannya
71 Tegang
72 Tenang di tempat yang salah
73 Mempercepat pernikahan
74 Kecurigaan Nana
75 Deal
76 Di introgasi
77 Kemarahan Nana
78 Tidak bisa memberontak
79 Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80 Pengawasan yang di perketat
81 Kembali bercek-cok
82 Menjatuhkan harkat dan martabat
83 Di desak
84 Kekacauan Zidan
85 Menganggapnya Airin
86 Positif hamil
87 Pernikahan dadakan
88 Tak henti-hentinya berdoa
89 Resmi menjadi pasangan suami istri
90 Biang kerok
91 Pengantin baru
92 Tak ingin kehilangan dia
93 Taruhan
94 Kepergian Yasha
95 Di rundung kesedihan
96 Tidak ada kabar tentangnya
97 Berjuang sendiri
98 Tertekan selama kepergiannya
99 DEG!
100 Kenyataan pahit
101 Tamat
102 Pengumuman Novel baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penghinaan
2
Ke puskesmas
3
Kemarahan Ratna
4
Menjambak keras rambutnya
5
Menangis sepanjang malam
6
Tidak ada perubahan
7
Ekonomi sulit
8
Di ikuti genderuwo
9
Di bawa ke dukun
10
Penjelasan dukun
11
Bekas kemerahan di leher
12
Menjaga jarak
13
Keanahen Nana
14
Ternodai
15
Noda merah di seprei
16
Kesurupan
17
Memutuskan berhenti dari pondok
18
Mimpi
19
Mimpi 2
20
Kerasukan
21
Kerasukan 2
22
Kerasukan 3
23
Mimpi di dalam mimpi
24
Kedatangan polisi
25
6 bulan kemudian
26
Keguguran
27
Di nodai genderuwo
28
Dendam yang terbalaskan
29
Kepergian Bima
30
Undangan
31
Hadir di dunia nyata
32
Menatapnya tanpa henti
33
Berusaha menghancurkannya
34
Kemarahan Airin
35
Menghindarinya
36
Terkejut ketika tau segalanya
37
Akan berusaha menolak
38
Balas dendam
39
Kedatangan tamu tak di undang
40
Rencana licik Kamila
41
Berusaha mengusir Zidan
42
Rawan anak hilang
43
Panggilan dari orang misterius
44
Terbakar api cemburu
45
Alasan menghindarinya
46
Kesepakatan bersama
47
Melihatnya menikah
48
Hati yang terluka
49
Kemarahan bu Juleha
50
Ketakutan
51
Dua orang yang saling mencintai
52
Terjebak di tempat yang gelap
53
Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54
Di kejar makhluk seram
55
Kecewa
56
Bimbang
57
Tidak ada lagi ruang untuk mu
58
Percekcokan Yasha dan Zidan
59
Berusaha melarangnya datang
60
Moment 10 tahun yang lalu
61
Masam
62
Fitnah keji
63
Fitnah keji 2
64
Mata yang ternodai
65
Saling adu mulut
66
Apapun bisa di tikung
67
Kaget
68
Tertangkap basah
69
Lingkaran api
70
Mengabaikannya
71
Tegang
72
Tenang di tempat yang salah
73
Mempercepat pernikahan
74
Kecurigaan Nana
75
Deal
76
Di introgasi
77
Kemarahan Nana
78
Tidak bisa memberontak
79
Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80
Pengawasan yang di perketat
81
Kembali bercek-cok
82
Menjatuhkan harkat dan martabat
83
Di desak
84
Kekacauan Zidan
85
Menganggapnya Airin
86
Positif hamil
87
Pernikahan dadakan
88
Tak henti-hentinya berdoa
89
Resmi menjadi pasangan suami istri
90
Biang kerok
91
Pengantin baru
92
Tak ingin kehilangan dia
93
Taruhan
94
Kepergian Yasha
95
Di rundung kesedihan
96
Tidak ada kabar tentangnya
97
Berjuang sendiri
98
Tertekan selama kepergiannya
99
DEG!
100
Kenyataan pahit
101
Tamat
102
Pengumuman Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!