Bu Juleha bernapas lega saat Ratna sudah pergi dari rumahnya.
"Dia benar-benar gila, kenapa dia bisa berubah menjadi monster dalam sekejap, aku salah cari sasaran"
Bu Juleha beralih menatap warga-warga kampung yang sedari tadi menyaksikan pertikaian antara ia dengan Ratna.
"Ngapain kalian di sini!" bu Juleha tiba-tiba langsung marah, ia memberikan tatapan tajam pada mereka semua.
"Pergi kalian dari sini!" usir bu Juleha.
"Wuuuu"
"Wuuuu"
"Wuuuu"
Seru warga-warga kampung lalu membubarkan diri dari rumah bu Juleha.
"Berisik!"
Braak
Bu Juleha menutup pintu dengan keras, ia sekarang menanggung rasa malu akibat ulahnya sendiri.
"Sialan Ratna ini, dia sudah bikin malu di hadapan semua orang" kesal bu Juleha yang menyalahkan Ratna.
"Bagaimana rasanya bu" pak Simanjuntak duduk tenang di ruang tamu dengan membaca koran, ia sedari tadi mendengarkan pertikaian mereka tanpa ada niatan untuk membantu sama sekali.
"Bapak ini gimana, bukannya bantuin ibu malah diam di sini!"
Pak Simanjuntak menaikan satu alisnya."Kenapa bapak bantuin ibu, di sini kan ibu yang salah"
"Setidaknya bapak punya inisiatif bantuin ibu dari Ratna kek, ini malah cuman diam di sini aja"
"Ibu, Ratna itu benar, di sini ibu yang salah, jadi bapak buat apa belain orang yang jelas-jelas salah"
"Oh jadi bapak dukung Ratna!" bu Juleha berkacak pinggang dengan tatapan mautnya.
"Iyalah, dia kan yang benar, ibu yang salah, yang sepatutnya bapak belain yang benar"
"Kenapa bapak belain dia, apa mungkin bapak ada hubungan gelap sama dia sehingga bapak lebih belain dia dari ibu yang jelas-jelas istri bapak?" seuzon bu Juleha.
"Ibu kalau ngomong di jaga!" Simanjuntak menaikan volume suaranya.
"Bapak ini setia, tidak pernah mendua, ibu jangan asal ngomong!"
"Halah setia konon, setia kampret!" bu Juleha meninggalkan Simanjuntak yang tengah menghela napas.
"Dasar istri tidak tau di untung" Simanjuntak kembali membaca koran yang di pegangannya tak terlalu memikirkan ucapan bu Juleha.
Farhan terus menarik Ratna untuk pulang kembali ke rumah.
"Lepasin aku bang, lepasin" Farhan tidak mendengarkan dan terus saja menyeret paksa Ratna untuk pulang ke rumah.
"Bang lepasin bang, aku mau hajar ****** itu, abang jangan halngin aku" Farhan melepaskan tangan Ratna ketika sudah sampai di rumah.
"Sudahlah dek, adek jangan bikin masalah, abang mau pergi, jaga anak-anak, malam ini abang gak pulang" setelah mengatakan hal itu Farhan mengambil jaketnya dan berangkat menggunakan motor beat berwarna biru menuju tempat yang menjadi tujuannya.
Ratna menatap kepergian suaminya, dengan hati yang masih kesal ia masuk ke dalam kamar Airin.
"Airin bagaimana keadaan kamu nak, apa sudah mendingan?" Airin menggeleng, rasa sakit itu masih tidak kunjung reda juga.
"Masih sakit bu, perut Airin masih sakit"
"Kamu yang sabar nak, nanti rasa sakitnya akan hilang kok" Airin menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.
"Gak akan hilang, ibu gimana ini, sakit bu"
"Ibu tau nak, kamu tidur aja, semoga saja besok rasa sakitnya sudah reda" Airin mengangguk dan mulai memejamkan mata.
Ratna menitihkan air mata saat melihat anaknya yang kesakitan.
"Ya Allah sembuhkanlah anak hamba, tolong angkatlah penyakitnya ya Allah, hamba mohon pada mu" batin Ratna terus berdoa.
Nana mendekati Ratna."Ibu mbk Airin kenapa, kenapa dia tidur jam segini?"
Ratna menyeka sedikit air mata."Mbk mu lagi sakit, kamu doain ya semoga mbk mu cepat sembuh"
Nana mengangguk cepat."Ayo kita keluar, biarkan mbk mu istirahat"
Nana mengikuti Ratna yang membawanya keluar dari dalam kamar itu.
Airin membuka kembali matanya saat di kamarnya sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
"Huhu sakit, kenapa sakit banget" isakan tangis lirih Airin.
"Ibu tolong Airin, perut Airin sakit" Airin menangis, perutnya sungguh terasa sangat sakit, rasa sakit itu sungguh luar biasa.
Walaupun ia memaksa untuk tidur namun karena rasa sakit itu ia tidak bisa memejamkan matanya.
Sepanjang malam Airin menangis karena rasa sakit yang tak kunjung reda, mata Airin sampai bengkak, sekitar jam 7 pagi Airin baru bisa tidur karena sudah lelah menangis.
Ratna membuka pintu kamar Airin dan mendapati jika Airin masih belum bangun.
"Kok tumben Airin jam segini masih belum bangun, biasanya dia selalu bangun"
"Aku biarkan saja dulu, biar dia istirahat juga"
Ratna menutup pintu kamar Airin kembali.
"Ibu mbk Airin kemana, kok gak keluar kamar?" Nana menghampiri Ratna.
"Lagi sakit, mbk mu lagi tidur sekarang, kamu jangan ganggu dia" Nana mengangguk mengerti.
"Ayo kita sarapan dulu" Nana mengikuti Ratna yang membawanya ke dapur.
"Airin gimana Ratna, apa dia sudah baikan?" mik Muna melihat Ratna yang mendekati meja makan.
"Airin masih tidur mik, aku biarin dia tidur saja, biar dia lekas pulih"
"Farhan kemana Ratna?" abah tidak menemukan Farhan sejak kemarin.
"Lagi ada urusan abah, palingan bentar lagi dia akan pulang"
"Ya sudah kita makan saja" ajak mik.
Mereka semua makan dengan lahap di meja makan meski tidak ada Airin dan Farhan.
Setelah selesai makan Ratna mencuci piring-piring kotor, ia mengelap meja makan dan mengepel lantai, Ratna adalah orang yang was-was, ada kucing yang masuk ke dalam rumah, semua sarung bantal dan seprei di setiap kamar di cuci karena was-was yang berlebihan.
Setelah selesai ngepel, Ratna kembali melihat Airin di kamarnya dengan membawa nampan yang berisikan makanan.
Saat membuka pintu, Ratna terkejut kala mendapati Airin yang menangis, dengan cepat Ratna mendekatinya.
"Airin kamu kenapa nak?" khawatir Ratna, ia meletakkan nampan itu di atas nakas.
"I-ibu sakit"
"Sakitnya gak hilang?" Airin menggeleng cepat.
"Enggak, ibu ini gimana, sakit bu"
"Kamu makan dulu, baru minum obat, mungkin setelah itu rasa sakitnya akan hilang" Ratna menyodorkan makanan yang sudah dia bawa.
Airin mengangguk, ia makan di dalam kamar ini, setelah selesai ia minum obat yang di berikan bu bidan kemarin.
"Apa semalem rasa sakitnya berkurang?" Airin menggeleng.
"Enggak bu, rasa sakitnya gak hilang sama sekali"
"Kamu kemarin kenapa pulang-pulang nangis-nangis, apa bu Juleha yang sudah buat perut kamu sakit?"
"Enggak bu, bu Juleha gak ngapa-ngapain aku"
"Terus kok bisa perut kamu sakit kalau bu Juleha gak ngelakuin apapun?"
"Airin gak tau bu, pas udah nyampe di depan rumah tiba-tiba Airin ngerasa perut Airin sakit banget dan sampai sekarang gak sembuh-sembuh juga, gimana ini bu hiks hiks"
Ratna menghapus air mata yang mengalir di wajah Airin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
HNF G
dia telat makan jd mungkin kena maag, apa lagi dia stres dihina2 sm juleha dan ibu2 yg lain. kl lg stres kan asam lambung meningkat, jadi sakit deh perutnya. dokternya kurang sip, gak jelas kasi obat dan diagnosanya.
2023-08-23
0
Nenk Jelita
jin mulai masuk
2023-06-23
0
💞Erra Tarmizi💞
kenapa ya sakit perutnya ngak sembuh-sembuh
2023-04-01
0