Menangis sepanjang malam

Bu Juleha bernapas lega saat Ratna sudah pergi dari rumahnya.

"Dia benar-benar gila, kenapa dia bisa berubah menjadi monster dalam sekejap, aku salah cari sasaran"

Bu Juleha beralih menatap warga-warga kampung yang sedari tadi menyaksikan pertikaian antara ia dengan Ratna.

"Ngapain kalian di sini!" bu Juleha tiba-tiba langsung marah, ia memberikan tatapan tajam pada mereka semua.

"Pergi kalian dari sini!" usir bu Juleha.

"Wuuuu"

"Wuuuu"

"Wuuuu"

Seru warga-warga kampung lalu membubarkan diri dari rumah bu Juleha.

"Berisik!"

Braak

Bu Juleha menutup pintu dengan keras, ia sekarang menanggung rasa malu akibat ulahnya sendiri.

"Sialan Ratna ini, dia sudah bikin malu di hadapan semua orang" kesal bu Juleha yang menyalahkan Ratna.

"Bagaimana rasanya bu" pak Simanjuntak duduk tenang di ruang tamu dengan membaca koran, ia sedari tadi mendengarkan pertikaian mereka tanpa ada niatan untuk membantu sama sekali.

"Bapak ini gimana, bukannya bantuin ibu malah diam di sini!"

Pak Simanjuntak menaikan satu alisnya."Kenapa bapak bantuin ibu, di sini kan ibu yang salah"

"Setidaknya bapak punya inisiatif bantuin ibu dari Ratna kek, ini malah cuman diam di sini aja"

"Ibu, Ratna itu benar, di sini ibu yang salah, jadi bapak buat apa belain orang yang jelas-jelas salah"

"Oh jadi bapak dukung Ratna!" bu Juleha berkacak pinggang dengan tatapan mautnya.

"Iyalah, dia kan yang benar, ibu yang salah, yang sepatutnya bapak belain yang benar"

"Kenapa bapak belain dia, apa mungkin bapak ada hubungan gelap sama dia sehingga bapak lebih belain dia dari ibu yang jelas-jelas istri bapak?" seuzon bu Juleha.

"Ibu kalau ngomong di jaga!" Simanjuntak menaikan volume suaranya.

"Bapak ini setia, tidak pernah mendua, ibu jangan asal ngomong!"

"Halah setia konon, setia kampret!" bu Juleha meninggalkan Simanjuntak yang tengah menghela napas.

"Dasar istri tidak tau di untung" Simanjuntak kembali membaca koran yang di pegangannya tak terlalu memikirkan ucapan bu Juleha.

Farhan terus menarik Ratna untuk pulang kembali ke rumah.

"Lepasin aku bang, lepasin" Farhan tidak mendengarkan dan terus saja menyeret paksa Ratna untuk pulang ke rumah.

"Bang lepasin bang, aku mau hajar ****** itu, abang jangan halngin aku" Farhan melepaskan tangan Ratna ketika sudah sampai di rumah.

"Sudahlah dek, adek jangan bikin masalah, abang mau pergi, jaga anak-anak, malam ini abang gak pulang" setelah mengatakan hal itu Farhan mengambil jaketnya dan berangkat menggunakan motor beat berwarna biru menuju tempat yang menjadi tujuannya.

Ratna menatap kepergian suaminya, dengan hati yang masih kesal ia masuk ke dalam kamar Airin.

"Airin bagaimana keadaan kamu nak, apa sudah mendingan?" Airin menggeleng, rasa sakit itu masih tidak kunjung reda juga.

"Masih sakit bu, perut Airin masih sakit"

"Kamu yang sabar nak, nanti rasa sakitnya akan hilang kok" Airin menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.

"Gak akan hilang, ibu gimana ini, sakit bu"

"Ibu tau nak, kamu tidur aja, semoga saja besok rasa sakitnya sudah reda" Airin mengangguk dan mulai memejamkan mata.

Ratna menitihkan air mata saat melihat anaknya yang kesakitan.

"Ya Allah sembuhkanlah anak hamba, tolong angkatlah penyakitnya ya Allah, hamba mohon pada mu" batin Ratna terus berdoa.

Nana mendekati Ratna."Ibu mbk Airin kenapa, kenapa dia tidur jam segini?"

Ratna menyeka sedikit air mata."Mbk mu lagi sakit, kamu doain ya semoga mbk mu cepat sembuh"

Nana mengangguk cepat."Ayo kita keluar, biarkan mbk mu istirahat"

Nana mengikuti Ratna yang membawanya keluar dari dalam kamar itu.

Airin membuka kembali matanya saat di kamarnya sudah tidak ada siapa-siapa lagi.

"Huhu sakit, kenapa sakit banget" isakan tangis lirih Airin.

"Ibu tolong Airin, perut Airin sakit" Airin menangis, perutnya sungguh terasa sangat sakit, rasa sakit itu sungguh luar biasa.

Walaupun ia memaksa untuk tidur namun karena rasa sakit itu ia tidak bisa memejamkan matanya.

Sepanjang malam Airin menangis karena rasa sakit yang tak kunjung reda, mata Airin sampai bengkak, sekitar jam 7 pagi Airin baru bisa tidur karena sudah lelah menangis.

Ratna membuka pintu kamar Airin dan mendapati jika Airin masih belum bangun.

"Kok tumben Airin jam segini masih belum bangun, biasanya dia selalu bangun"

"Aku biarkan saja dulu, biar dia istirahat juga"

Ratna menutup pintu kamar Airin kembali.

"Ibu mbk Airin kemana, kok gak keluar kamar?" Nana menghampiri Ratna.

"Lagi sakit, mbk mu lagi tidur sekarang, kamu jangan ganggu dia" Nana mengangguk mengerti.

"Ayo kita sarapan dulu" Nana mengikuti Ratna yang membawanya ke dapur.

"Airin gimana Ratna, apa dia sudah baikan?" mik Muna melihat Ratna yang mendekati meja makan.

"Airin masih tidur mik, aku biarin dia tidur saja, biar dia lekas pulih"

"Farhan kemana Ratna?" abah tidak menemukan Farhan sejak kemarin.

"Lagi ada urusan abah, palingan bentar lagi dia akan pulang"

"Ya sudah kita makan saja" ajak mik.

Mereka semua makan dengan lahap di meja makan meski tidak ada Airin dan Farhan.

Setelah selesai makan Ratna mencuci piring-piring kotor, ia mengelap meja makan dan mengepel lantai, Ratna adalah orang yang was-was, ada kucing yang masuk ke dalam rumah, semua sarung bantal dan seprei di setiap kamar di cuci karena was-was yang berlebihan.

Setelah selesai ngepel, Ratna kembali melihat Airin di kamarnya dengan membawa nampan yang berisikan makanan.

Saat membuka pintu, Ratna terkejut kala mendapati Airin yang menangis, dengan cepat Ratna mendekatinya.

"Airin kamu kenapa nak?" khawatir Ratna, ia meletakkan nampan itu di atas nakas.

"I-ibu sakit"

"Sakitnya gak hilang?" Airin menggeleng cepat.

"Enggak, ibu ini gimana, sakit bu"

"Kamu makan dulu, baru minum obat, mungkin setelah itu rasa sakitnya akan hilang" Ratna menyodorkan makanan yang sudah dia bawa.

Airin mengangguk, ia makan di dalam kamar ini, setelah selesai ia minum obat yang di berikan bu bidan kemarin.

"Apa semalem rasa sakitnya berkurang?" Airin menggeleng.

"Enggak bu, rasa sakitnya gak hilang sama sekali"

"Kamu kemarin kenapa pulang-pulang nangis-nangis, apa bu Juleha yang sudah buat perut kamu sakit?"

"Enggak bu, bu Juleha gak ngapa-ngapain aku"

"Terus kok bisa perut kamu sakit kalau bu Juleha gak ngelakuin apapun?"

"Airin gak tau bu, pas udah nyampe di depan rumah tiba-tiba Airin ngerasa perut Airin sakit banget dan sampai sekarang gak sembuh-sembuh juga, gimana ini bu hiks hiks"

Ratna menghapus air mata yang mengalir di wajah Airin.

Terpopuler

Comments

HNF G

HNF G

dia telat makan jd mungkin kena maag, apa lagi dia stres dihina2 sm juleha dan ibu2 yg lain. kl lg stres kan asam lambung meningkat, jadi sakit deh perutnya. dokternya kurang sip, gak jelas kasi obat dan diagnosanya.

2023-08-23

0

Nenk Jelita

Nenk Jelita

jin mulai masuk

2023-06-23

0

💞Erra Tarmizi💞

💞Erra Tarmizi💞

kenapa ya sakit perutnya ngak sembuh-sembuh

2023-04-01

0

lihat semua
Episodes
1 Penghinaan
2 Ke puskesmas
3 Kemarahan Ratna
4 Menjambak keras rambutnya
5 Menangis sepanjang malam
6 Tidak ada perubahan
7 Ekonomi sulit
8 Di ikuti genderuwo
9 Di bawa ke dukun
10 Penjelasan dukun
11 Bekas kemerahan di leher
12 Menjaga jarak
13 Keanahen Nana
14 Ternodai
15 Noda merah di seprei
16 Kesurupan
17 Memutuskan berhenti dari pondok
18 Mimpi
19 Mimpi 2
20 Kerasukan
21 Kerasukan 2
22 Kerasukan 3
23 Mimpi di dalam mimpi
24 Kedatangan polisi
25 6 bulan kemudian
26 Keguguran
27 Di nodai genderuwo
28 Dendam yang terbalaskan
29 Kepergian Bima
30 Undangan
31 Hadir di dunia nyata
32 Menatapnya tanpa henti
33 Berusaha menghancurkannya
34 Kemarahan Airin
35 Menghindarinya
36 Terkejut ketika tau segalanya
37 Akan berusaha menolak
38 Balas dendam
39 Kedatangan tamu tak di undang
40 Rencana licik Kamila
41 Berusaha mengusir Zidan
42 Rawan anak hilang
43 Panggilan dari orang misterius
44 Terbakar api cemburu
45 Alasan menghindarinya
46 Kesepakatan bersama
47 Melihatnya menikah
48 Hati yang terluka
49 Kemarahan bu Juleha
50 Ketakutan
51 Dua orang yang saling mencintai
52 Terjebak di tempat yang gelap
53 Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54 Di kejar makhluk seram
55 Kecewa
56 Bimbang
57 Tidak ada lagi ruang untuk mu
58 Percekcokan Yasha dan Zidan
59 Berusaha melarangnya datang
60 Moment 10 tahun yang lalu
61 Masam
62 Fitnah keji
63 Fitnah keji 2
64 Mata yang ternodai
65 Saling adu mulut
66 Apapun bisa di tikung
67 Kaget
68 Tertangkap basah
69 Lingkaran api
70 Mengabaikannya
71 Tegang
72 Tenang di tempat yang salah
73 Mempercepat pernikahan
74 Kecurigaan Nana
75 Deal
76 Di introgasi
77 Kemarahan Nana
78 Tidak bisa memberontak
79 Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80 Pengawasan yang di perketat
81 Kembali bercek-cok
82 Menjatuhkan harkat dan martabat
83 Di desak
84 Kekacauan Zidan
85 Menganggapnya Airin
86 Positif hamil
87 Pernikahan dadakan
88 Tak henti-hentinya berdoa
89 Resmi menjadi pasangan suami istri
90 Biang kerok
91 Pengantin baru
92 Tak ingin kehilangan dia
93 Taruhan
94 Kepergian Yasha
95 Di rundung kesedihan
96 Tidak ada kabar tentangnya
97 Berjuang sendiri
98 Tertekan selama kepergiannya
99 DEG!
100 Kenyataan pahit
101 Tamat
102 Pengumuman Novel baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penghinaan
2
Ke puskesmas
3
Kemarahan Ratna
4
Menjambak keras rambutnya
5
Menangis sepanjang malam
6
Tidak ada perubahan
7
Ekonomi sulit
8
Di ikuti genderuwo
9
Di bawa ke dukun
10
Penjelasan dukun
11
Bekas kemerahan di leher
12
Menjaga jarak
13
Keanahen Nana
14
Ternodai
15
Noda merah di seprei
16
Kesurupan
17
Memutuskan berhenti dari pondok
18
Mimpi
19
Mimpi 2
20
Kerasukan
21
Kerasukan 2
22
Kerasukan 3
23
Mimpi di dalam mimpi
24
Kedatangan polisi
25
6 bulan kemudian
26
Keguguran
27
Di nodai genderuwo
28
Dendam yang terbalaskan
29
Kepergian Bima
30
Undangan
31
Hadir di dunia nyata
32
Menatapnya tanpa henti
33
Berusaha menghancurkannya
34
Kemarahan Airin
35
Menghindarinya
36
Terkejut ketika tau segalanya
37
Akan berusaha menolak
38
Balas dendam
39
Kedatangan tamu tak di undang
40
Rencana licik Kamila
41
Berusaha mengusir Zidan
42
Rawan anak hilang
43
Panggilan dari orang misterius
44
Terbakar api cemburu
45
Alasan menghindarinya
46
Kesepakatan bersama
47
Melihatnya menikah
48
Hati yang terluka
49
Kemarahan bu Juleha
50
Ketakutan
51
Dua orang yang saling mencintai
52
Terjebak di tempat yang gelap
53
Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54
Di kejar makhluk seram
55
Kecewa
56
Bimbang
57
Tidak ada lagi ruang untuk mu
58
Percekcokan Yasha dan Zidan
59
Berusaha melarangnya datang
60
Moment 10 tahun yang lalu
61
Masam
62
Fitnah keji
63
Fitnah keji 2
64
Mata yang ternodai
65
Saling adu mulut
66
Apapun bisa di tikung
67
Kaget
68
Tertangkap basah
69
Lingkaran api
70
Mengabaikannya
71
Tegang
72
Tenang di tempat yang salah
73
Mempercepat pernikahan
74
Kecurigaan Nana
75
Deal
76
Di introgasi
77
Kemarahan Nana
78
Tidak bisa memberontak
79
Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80
Pengawasan yang di perketat
81
Kembali bercek-cok
82
Menjatuhkan harkat dan martabat
83
Di desak
84
Kekacauan Zidan
85
Menganggapnya Airin
86
Positif hamil
87
Pernikahan dadakan
88
Tak henti-hentinya berdoa
89
Resmi menjadi pasangan suami istri
90
Biang kerok
91
Pengantin baru
92
Tak ingin kehilangan dia
93
Taruhan
94
Kepergian Yasha
95
Di rundung kesedihan
96
Tidak ada kabar tentangnya
97
Berjuang sendiri
98
Tertekan selama kepergiannya
99
DEG!
100
Kenyataan pahit
101
Tamat
102
Pengumuman Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!