"Panas, tolong kasihani aku hiks hiks"
"Keluar dari tubuh cucu ku kalau kau tidak mau ku buat panas lagi" suruh abah.
Makhluk halus yang berada di dalam tubuh Airin langsung keluar, Airin langsung jatuh pingsan saat makhluk halus itu keluar.
"Airiin!" teriak mereka semua saat mendapati Airin jatuh pingsan.
"Airin bangun nak, Airin buka mata kamu" panik Ratna yang langsung berusaha membangunkan Airin.
"Airin kenapa Ratna" bu Juleha yang baru sampai di rumah Ratna langsung ikutan panik saat melihat Airin yang tidak sadarkan diri.
"Airin bangun nak, buka mata kamu" panik Ratna yang melihat Airin tak bergerak.
"Farhan baringkan Airin di kasur" suruh mik.
Farhan membaringkan Airin di kasur, mereka semua panik saat Airin masih tak kunjung membuka mata.
"Airin bangun nak, Airin buka mata kamu, jangan bikin ibu panik nak"
"Mik oleskan minyak kayu putih biar Airin cepat sadar" suruh abah.
Mik melakukan, ia mengoleskan minyak kayu putih itu di hidung Airin, bukan di hidung saja tapi tangan dan juga kaki Airin yang berubah menjadi dingin, sedingin es batu.
Pelan-pelan Airin menggeliat, terbit senyuman saat mereka melihat mata Airin yang pelan-pelan terbuka.
"Airin" panggil mereka.
Airin menatap terkejut ke arah mereka semua yang berada di kamarnya.
"Kenapa bu, kenapa semua orang ada di sini?"
"Kamu gak apa-apa nak?" khawatir Ratna, ia memegang wajah Airin dengan wajah yang sangat khawatir.
"Airin gak apa-apa bu"
"Kamu kenapa bisa kesurupan Airin?" penasaran Farhan.
Airin diam, ia mulai mengingat-ingat kejadian yang barusan terjadi, ia teringat kalau terakhir ia duduk dengan tatapan lurus ke depan dan itulah yang membuat ada makhluk masuk ke dalam tubuhnya.
"Gak tau bu, Airin tiba-tiba bawanya langsung marah, gak tau kenapa"
"Pasti ada jin yang masuk ke dalam tubuh kamu sehingga kamu gak sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan barusan" kesimpulan abah.
"Jangan biarkan Airin sendirian, biar gak ada jin yang masuk ke dalam tubuhnya" suruh pak Simanjuntak.
"Iya pak" jawab Ratna.
"Itu leher Airin kenapa, kok merah-merah" bu Juleha salfok pada leher Airin yang banyak sekali bekas kemerahan.
"Kok bisa merah-merah dan banyak darahnya, tadi gak terlalu" heran Ratna yang melihat ke leher Airin.
Airin diam tanpa mengatakan sepatah katapun, ia tidak tau harus menjawab apa, saat apa yang ia ingin sembunyikan dapat di ketahui dengan mudahnya.
"Tadi anak mu marah-marah, dia pasti tanpa sadar mencakar lehernya sehingga membekas seperti itu, kamu obati dulu, abah mau keluar" suruh abah.
"Baik abah" jawab Ratna.
Abah keluar dari dalam kamar Airin bersama Farhan dan pak Simajuntak.
Di sana hanya tinggal Airin, mik, Ratna dan juga bu Juleha.
"Sini ibu obatin" Airin mendekati ibunya, Ratna perlahan-lahan membersihkan leher Airin yang ada darah yang mengalir, setelah itu ia mengolesinya dengan betadine.
"Ratna Airin kapan mau balik pondok" seketika pertanyaan itu membuat Ratna terdiam.
"Gak tau bu, Airin masih belum sembuh total, saya hanya khawatir dia akan kembali sakit saat berada di pondok kalau ngotot di balik ke pondok sekarang" alasan Ratna padahal aslinya dia hanya kekurangan biaya untuk melanjutkan pendidikan Airin di pondok pesantren.
"Lebih baik tunggu Airin sembuh total dulu Ratna, biar gak gampang sakit saat udah balik pondok" suruh mik.
"Iya mik" Ratna terus mengolesi betadine dengan perlahan-lahan, Airin meringis saat lukanya perih ketika terkena betadine.
"Kalau di tunggu sampai sembuh total Airin akan ketinggalan pelajaran, sebentar lagi mau ujian, bagaimana kalau Airin gak lulus" di antara mereka tidak ada yang menjawab.
"Kemarin pas saya ngirim ke pondok, Kamila bilang kalau bulan depan udah ujian nasional, masa kamu gak mau balik pondok Airin, nanti kamu gak lulus loh" nyinyir bu Juleha.
"Gak apa-apa bu gak lulus, kalau pun punya ijazah gak akan di bolehin kerja sama saya, anak perempuan itu lebih baik di rumah saja, kalau kerja ke kota saya khawatir ada apa-apa" jawab Ratna.
"Percuma Ratna sekolah bertahun-tahun kalau pada akhirnya nganggur juga"
"Ibu" panggil seseorang.
Mereka semua menoleh ke arah panggilan itu.
"Ada apa pak?" penasaran bu Juleha.
"Ayo pulang, katanya mau ngasih beras ke kampung sebelah" ajak pak Simanjuntak.
"Aduh iya ibu sampai lupa, Ratna kamu gak mau ke desa sebelah juga, pasti sekarang bu Sima lagi nungguin kita di rumahnya"
"Saya gak bisa datang ke sana bu, saya akan datang sendiri aja besok, hari ini saya mau jaga Airin saja" jawab Ratna.
"Oh begitu" balas bu Juleha.
"Ayo bu kita pulang" ajak pak Simajuntak buru-buru karena ia tak mau istrinya berulah di rumah Ratna.
"Sabar napa pak" bu Juleha mendekati suaminya lalu pulang bersama meninggalkan mereka semua.
"Ibu bagaimana dengan sekolah Airin, Airin ingin lulus sekolah bu, Airin pengen kerja bantuin ibu"
"Kamu gak usah kerja nak, pergaulan di luar itu bebas, ibu gak mau ada apa-apa sama kamu, itu saja, mangkanya ibu ngelarang kamu buat kerja, dan teruntuk masalah pondok kamu, ibu lagi gak punya uang buat bayar kos-kosan sama ujian nasional mu" jawab Ratna.
"Terus gimana ini bu"
"Kamu di sini saja, gak usah lanjut mondok lagi, nanti ibu sama bapak kalau ada waktu luang akan datang ke pondok untuk pamitin kamu" jawab Ratna.
Airin diam, ia sebenarnya tidak mau berhenti di tengah jalan seperti, padahal dia sebentar lagi akan lulus, namun keadaan membuatnya tak bisa apa-apa, kalaupun ia memberontak semuanya akan percuma.
"Baik bu, Airin gak apa-apa gak lulus sekolah, yang penting Airin gak memberatkan ibu sama bapak"
"Makasih nak sudah mau ngertiin keadaan kami" sedikit senang Ratna ketika mendengar jawaban Airin, sebenernya ia sedih anaknya bernasib sama sepertinya yang tidak lulus sekolah karena faktor ekonomi.
"Sama-sama bu"
"Kamu istirahat saja, jangan ngelamun, biar gak ada jin yang masuk ke dalam tubuh kamu" suruh Ratna.
"Iya bu"
Ratna menaruh obat-obatan itu ke tempat semula.
"Ibu kapan mau pamitin aku?"
"Mungkin lusa, hanya hari itu ada waktu luang untuk ibu bisa datang ke pondok" jawab Ratna.
Airin tampak diam, rasanya tak rela ia berhenti dari pondok pesantren yang sudah hampir 3 mengurungnya.
"Nanti jam setengah 12 kamu jemput Nana, biar dia gak pulang jalan kaki" suruh Ratna.
"Iya bu, nanti Airin akan jemput Nana" jawab Airin.
"Ibu keluar dulu, kalau ada apa-apa langsung kasih tau ibu"
Airin mengangguk kemudian Ratna keluar dari kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
FiaNasa
kok critanya kebanyakan pergi ngelayat terus sih Thor..g ada alasan lain gitu..lagian Airin juga udah 3 th mondok tp kok di cerita ini dia kurang mengamalkan ilmunya,,yg ringan aja kayak zhikir kek hadehhh
2023-02-23
2
Gwen
masih sakit udah disuruh jemput bu ibu kasihan airin
2023-02-20
1