Ekonomi sulit

Mobil yang membawa Airin terus melaju meninggalkan desa Melati untuk menuju puskesmas yang lebih jauh dari pada kemarin.

"Ke bidan Wiwin ya pak" titah Ratna.

Pak Joni mengangguk lalu melajukan mobil menuju bidan Wiwin yang jaraknya lumayan jauh dari bidan kemarin.

Di sepanjang perjalanan Airin terus menangis, perutnya semakin lama semakin sakit, seumur-umur dia baru kali ini merasakan sakit di perutnya, dan rasa sakit itu mengalahkan rasa sakit mana pun.

Ratna terus berusaha menenangkan Airin walaupun Airin terus saja menangis.

"Kamu tenang dulu nak, kita akan sampai kok, sebentar lagi kita akan sampai"

Airin terus menangis, ia sungguh tidak pernah membayangkan akan merasakan rasa sakit yang tidak kunjung reda.

"Pak lebih cepat lagi" pak Joni melajukan mobil menuju bidan Wiwin.

Setelah memakan waktu sekitar 1 jam akhirnya mereka sampai di depan puskesmas bidan Wiwin yang sangat jauh sekali dari desa Melati.

"Ayo Airin kita turun" Ratna membantu Airin untuk turun, dengan tertatih-tatih Airin berjalan, ia sungguh sangat sulit untuk melangkah namun ia paksa walaupun sakit.

Airin di baringkan di brankar, puskesmas itu sepi, karena berada di pedesaan, bukan seperti puskesmas-puskemas ataupun rumah-rumah sakit di kota yang ramai dan fasilitasnya lengkap.

"Keluhannya apa bu?" bu Wiwin mendekati Airin.

"Sakit perut bu, dari kemarin gak sembuh-sembuh, padahal udah periksa ke puskesmas, tapi gak ngaruh sama sekali" jelas Ratna.

"Sebentar saya periksa dulu" bu Wiwin memeriksa tekanan darah air, ia memompa darah Airin untuk tau berapa tekanan darah Airin.

"Tekanan darahnya 90 bu" terkejut Ratna

"Normalnya berapa bu?"

"120" jawab bu Wiwin.

"Bu bidan anak saya sakit apa sebenarnya, kenapa dia dari kemarin ngeluh sakit perut terus?"

"Kalau menurut saya lambung bu, kalau mau lebih jelasnya lagi harus di check up di rumah sakit besar, kalau di sini fasilitasnya masih belum memadai, saya hanya bisa berikan obat pereda nyeri saja, kalau tidak ngaruh saya sarankan di bawa ke rumah sakit besar saja bu, biar penyakit anak ibu bisa di ketahui, dan untuk pencegahannya biar lebih cepat, takutnya akan membahayakan anak ibu" jelas bu Wiwin.

"Baik bu, besok saya akan bawa Airin ke rumah sakit besar saja, saya takut dia kena penyakit keras"

Bu Wiwin mengerti kecemasan Ratna."Ini bu obat yang bisa saya berikan, di minum 3x sehari ya bu"

Ratna mengambil obat yang bu Wiwin berikan.

"Iya bu, berapa bu win?"

"45" Ratna memberikan uang sebesar 50 ribu.

Setelah mendapatkan kembalian ia membantu Airin untuk masuk ke dalam mobil pak Joni lagi.

"Bagaimana kata bu win dek, Airin sakit apa?" penasaran Farhan.

"Bu win bilang Airin lebih baik di bawa ke rumah sakit besar bang, biar kita tau dia sebenarnya sakit apa, aku hanya takut Airin sakit keras, kalau di diamkan itu akan bahayain dia"

Farhan diam, ia ingin sekali putrinya sembuh namun ekonomi yang pas-pasan itu membuatnya mikir keras.

"Abang mau-mau aja Airin di bawa ke rumah sakit, masalahnya kita dapat uang dari mana dek, usaha abang sekarang lagi macet, kalau ke rumah sakit besar itu kita harus pegang uang banyak, gak cukup 1 juta"

Ratna diam, keuangannya saat ini sedang sulit, orang-orang yang biasanya membeli narkoba di rumah Farhan mulai berkurang karena banyak yang tertangkap polisi sehingga Farhan sekarang berhenti untuk menjual narkoba untuk sementara.

"Tapi bang kalau Airin gak di bawa ke rumah sakit, dia gak akan sembuh, kita harus bawa dia ke sana, nanti aku akan gadain cincin kawin kita buat biaya pengobatan Airin"

"Iya dek, gadain aja, nanti kalau abang punya uang, akan abang tebus" setuju Farhan karena hanya dengan cara itu ia bisa membiayai pengobatan Airin.

Airin sedari tadi diam, walaupun perutnya terasa sakit ia paksa untuk diam, ia mendengar kalau ekonomi keluarganya sedang kacau dan di keadaan kacau seperti ini dia malah membuatnya tambah kacau.

"Kasian bapak dan ibu, mereka sampai rela gadain cincin kawin demi pengobatan Airin, pak bu maafin Airin, maaf Airin udah nyusahin kalian, kelak kalau Airin sudah kerja Airin bakal bantu kalian" batin Airin.

Pak Joni melajukan mobil menuju desa Melati kembali.

"Pak Joni besok kami minta tolong untuk antarkan Airin ke rumah sakit besar yang ada di kota, apa bapak bisa?"

"Bisa Ratna, jam berapa yang mau ke sana?"

"Jam 7 aja pak, karena takut antri"

"Iya nanti jam 7 saya akan ke rumah kalian, kalian tunggu saja saya di sana"

"Makasih pak sudah mau membantu kami"

"Sama-sama"

Pak Joni terus melajukan mobil menuju rumah, tak berselang lama dari itu mobil berhenti tepat di depan rumah.

Airin dan keluarganya keluar dari dalam mobil pak Joni, dengan tertatih-tatih Airin berjalan menuju kamarnya.

"Bagaimana kata bu bidannya, Airin sakit apa?" mik langsung mendekati Airin yang masih meringis menahan sakit.

"Duduk dulu nak" Airin duduk di kasur, ia bernapas lega saat sudah berada di kamarnya.

"Bu bidan bilang kalau kemungkinan Airin punya penyakit lambung, tapi bu bidan saranin untuk di bawa ke rumah sakit besar, besok Ratna sama bang Farhan akan bawa Airin ke sana, biar kita tau mik Airin sakit apa"

"Kamu punya uang Ratna?" Ratna diam, ekonominya saat ini sedang sulit.

"Ratna akan gadain cincin kawin untuk biaya pengobatan Airin, nanti kalau Ratna udah punya uang, Ratna bakal tebus"

"Mik nanti akan bantu biaya pengobatan Airin, yang penting Airin sembuh dulu" Ratna mengangguk, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menyembuhkan anaknya.

"Makasih mik, tolong doain Airin semoga Airin baik-baik aja dan bisa segera sembuh"

"Itu pasti Ratna, mik pasti bakal doain yang terbaik untuk Airin, oh ya kamu mau gadain cincin kawin ku di mana?"

"Di super market yang ada di pasar itu mik, dengar-dengar katanya banyak orang yang gadain barang-barang mas di sana, Ratna bakal ke sana habis ini, biar besok langsung berangkat ke rumah sakit besar, gak perlu nunggu lagi"

"Iya, kamu langsung ke sana saja, di sana perbulannya bunganya berapa?"

"1 jutanya 20 ribu mik, Ratna mau ambil 5 juta aja, jadi perbulan itu 100 ribu bunganya"

"Gak kemahalan Ratna!"

"Enggak mik, itu udah paling murah, kalau gadain di pegadaian yang ada di kota B, buangnya satu jutanya itu 50, kalau 5 juta berapa, 250 kan, mending di super market yang ada di pasar itu dari pada di pegadaian"

"Terserah kamu, mik hanya bisa dukung kamu saja"

Terpopuler

Comments

💞Erra Tarmizi💞

💞Erra Tarmizi💞

ada ya super market bisa gadaikan emas🤔

2023-04-01

0

Anastasya

Anastasya

lanjut thor! jangan lama2

2023-01-11

3

lihat semua
Episodes
1 Penghinaan
2 Ke puskesmas
3 Kemarahan Ratna
4 Menjambak keras rambutnya
5 Menangis sepanjang malam
6 Tidak ada perubahan
7 Ekonomi sulit
8 Di ikuti genderuwo
9 Di bawa ke dukun
10 Penjelasan dukun
11 Bekas kemerahan di leher
12 Menjaga jarak
13 Keanahen Nana
14 Ternodai
15 Noda merah di seprei
16 Kesurupan
17 Memutuskan berhenti dari pondok
18 Mimpi
19 Mimpi 2
20 Kerasukan
21 Kerasukan 2
22 Kerasukan 3
23 Mimpi di dalam mimpi
24 Kedatangan polisi
25 6 bulan kemudian
26 Keguguran
27 Di nodai genderuwo
28 Dendam yang terbalaskan
29 Kepergian Bima
30 Undangan
31 Hadir di dunia nyata
32 Menatapnya tanpa henti
33 Berusaha menghancurkannya
34 Kemarahan Airin
35 Menghindarinya
36 Terkejut ketika tau segalanya
37 Akan berusaha menolak
38 Balas dendam
39 Kedatangan tamu tak di undang
40 Rencana licik Kamila
41 Berusaha mengusir Zidan
42 Rawan anak hilang
43 Panggilan dari orang misterius
44 Terbakar api cemburu
45 Alasan menghindarinya
46 Kesepakatan bersama
47 Melihatnya menikah
48 Hati yang terluka
49 Kemarahan bu Juleha
50 Ketakutan
51 Dua orang yang saling mencintai
52 Terjebak di tempat yang gelap
53 Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54 Di kejar makhluk seram
55 Kecewa
56 Bimbang
57 Tidak ada lagi ruang untuk mu
58 Percekcokan Yasha dan Zidan
59 Berusaha melarangnya datang
60 Moment 10 tahun yang lalu
61 Masam
62 Fitnah keji
63 Fitnah keji 2
64 Mata yang ternodai
65 Saling adu mulut
66 Apapun bisa di tikung
67 Kaget
68 Tertangkap basah
69 Lingkaran api
70 Mengabaikannya
71 Tegang
72 Tenang di tempat yang salah
73 Mempercepat pernikahan
74 Kecurigaan Nana
75 Deal
76 Di introgasi
77 Kemarahan Nana
78 Tidak bisa memberontak
79 Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80 Pengawasan yang di perketat
81 Kembali bercek-cok
82 Menjatuhkan harkat dan martabat
83 Di desak
84 Kekacauan Zidan
85 Menganggapnya Airin
86 Positif hamil
87 Pernikahan dadakan
88 Tak henti-hentinya berdoa
89 Resmi menjadi pasangan suami istri
90 Biang kerok
91 Pengantin baru
92 Tak ingin kehilangan dia
93 Taruhan
94 Kepergian Yasha
95 Di rundung kesedihan
96 Tidak ada kabar tentangnya
97 Berjuang sendiri
98 Tertekan selama kepergiannya
99 DEG!
100 Kenyataan pahit
101 Tamat
102 Pengumuman Novel baru
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penghinaan
2
Ke puskesmas
3
Kemarahan Ratna
4
Menjambak keras rambutnya
5
Menangis sepanjang malam
6
Tidak ada perubahan
7
Ekonomi sulit
8
Di ikuti genderuwo
9
Di bawa ke dukun
10
Penjelasan dukun
11
Bekas kemerahan di leher
12
Menjaga jarak
13
Keanahen Nana
14
Ternodai
15
Noda merah di seprei
16
Kesurupan
17
Memutuskan berhenti dari pondok
18
Mimpi
19
Mimpi 2
20
Kerasukan
21
Kerasukan 2
22
Kerasukan 3
23
Mimpi di dalam mimpi
24
Kedatangan polisi
25
6 bulan kemudian
26
Keguguran
27
Di nodai genderuwo
28
Dendam yang terbalaskan
29
Kepergian Bima
30
Undangan
31
Hadir di dunia nyata
32
Menatapnya tanpa henti
33
Berusaha menghancurkannya
34
Kemarahan Airin
35
Menghindarinya
36
Terkejut ketika tau segalanya
37
Akan berusaha menolak
38
Balas dendam
39
Kedatangan tamu tak di undang
40
Rencana licik Kamila
41
Berusaha mengusir Zidan
42
Rawan anak hilang
43
Panggilan dari orang misterius
44
Terbakar api cemburu
45
Alasan menghindarinya
46
Kesepakatan bersama
47
Melihatnya menikah
48
Hati yang terluka
49
Kemarahan bu Juleha
50
Ketakutan
51
Dua orang yang saling mencintai
52
Terjebak di tempat yang gelap
53
Di hadapkan dengan dua pilihan yang berat
54
Di kejar makhluk seram
55
Kecewa
56
Bimbang
57
Tidak ada lagi ruang untuk mu
58
Percekcokan Yasha dan Zidan
59
Berusaha melarangnya datang
60
Moment 10 tahun yang lalu
61
Masam
62
Fitnah keji
63
Fitnah keji 2
64
Mata yang ternodai
65
Saling adu mulut
66
Apapun bisa di tikung
67
Kaget
68
Tertangkap basah
69
Lingkaran api
70
Mengabaikannya
71
Tegang
72
Tenang di tempat yang salah
73
Mempercepat pernikahan
74
Kecurigaan Nana
75
Deal
76
Di introgasi
77
Kemarahan Nana
78
Tidak bisa memberontak
79
Menunggunya dengan sisa waktu yang sedikit
80
Pengawasan yang di perketat
81
Kembali bercek-cok
82
Menjatuhkan harkat dan martabat
83
Di desak
84
Kekacauan Zidan
85
Menganggapnya Airin
86
Positif hamil
87
Pernikahan dadakan
88
Tak henti-hentinya berdoa
89
Resmi menjadi pasangan suami istri
90
Biang kerok
91
Pengantin baru
92
Tak ingin kehilangan dia
93
Taruhan
94
Kepergian Yasha
95
Di rundung kesedihan
96
Tidak ada kabar tentangnya
97
Berjuang sendiri
98
Tertekan selama kepergiannya
99
DEG!
100
Kenyataan pahit
101
Tamat
102
Pengumuman Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!