Kedua orang tua Airin langsung panik saat melihat Airin yang tiba-tiba jatuh pingsan tepat di hadapan mereka.
"Airin bangun nak" khawatir Ratna kala tidak ada pergerakan dari diri Airin saat ia terus berusaha membangunkannya.
"Airin buka mata kamu, Airin jangan buat ibu panik" Ratna semakin panik ketika Airin tak kunjung sadar juga.
"Ada apa Ratna, ada apa sama Airin?" mik Muna nenek Airin yang mendengar suara teriakan anak dan menantunya langsung panik.
"Airin pingsan bu" jawab Ratna dengan terus berusaha membangunkan Airin.
"Farhan cepat bawa Airin masuk ke dalam" suruh abah Dullah kakek Airin.
Dengan cepat Farhan menggendong Airin dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Airin di letakkan di kamarnya, mereka semua khawatir pada keadaan Airin yang sampai saat ini masih belum siuman.
"Airin bangun nak hiks" isakan tangis Ratna yang melihat Airin tak kunjung bangun, ia khawatir ada apa-apa dengan anak pertamanya itu.
Mik Muna terus saja mengoleskan minyak kayu putih pada tangan, dan kaki Airin, namun tetap saja Airin tak kunjung bangun.
"Airin bangun nak, kamu kenapa Airin, kenapa kamu pingsan, tolong bangunlah nak, jangan buat kami khawatir" titah mik Muna yang terus menangisi Airin.
Airin menggeliat, mereka semua yang melihat tanda-tanda Airin akan sadar gembira.
"Airin" panggil mereka ketika melihat Airin membuka mata.
"Ibu sakit" hanya itu yang Airin ucapakan saat pertama kali sadar.
"Mana yang sakit nak, bilang sama ibu?" khawatir Ratna yang melihat wajah Airin yang pucat pasi.
"Perut Airin sakit bu, Airin gak kuat hiks hiks"
"Bang kita harus bawa Airin ke puskesmas, dia harus segera di obati" Ratna menatap ke arah Farhan yang diam tak bergeming dengan wajah yang cemas.
"Iya dek, kalian tunggu di sini dulu, bapak mau minta tolong pak Joni untuk bawa Airin ke puskesmas" mereka mengangguk kemudian Farhan keluar dari dalam rumah itu.
Farhan meminta tolong pak Joni, tetangganya yang mempunyai mobil untuk mengantarkan Airin ke puskesmas terdekat.
"Ibu sakit" Ratna memeluk tubuh Airin untuk menenangkannya.
"Kamu tahan dulu nak, bapak mu lagi berusaha buat bisa bawa kamu ke puskesmas" Airin mengangguk, ia terus menangis karena rasa sakit di perutnya itu yang tak kunjung reda juga.
"Dek, ayo dek, pak Joni sudah ada di depan" teriak Farhan yang masuk ke dalam kamar Airin.
"Ayo Airin, kamu bisa jalan kan nak?" Airin mengangguk dengan linangan air mata yang terus berjatuhan.
"Tapi sakit bu"
"Ayo ibu bantu" Ratna membantu memapah Airin untuk keluar dari dalam kamar.
Dengan tertatih-tatih Airin berjalan menuju mobil yang tak seberapa jauh itu, namun karena sakit di perutnya mobil yang dekat itu begitu terasa sangat jauh.
"Pelan-pelan saja Airin" Airin mengangguk, ia terus berusaha mendekati mobil hingga pada akhirnya keinginannya dapat ia capai juga.
"Ibu Nana ikut" teriak Nana, adik Airin yang masih berusia 7 tahun.
"Jangan Nana, kamu di sini saja sama mik" larang Ratna.
Nana langsung mengeraskan tangisnya ketika dirinya tak di perkenankan untuk ikut ke puskesmas bersama mereka.
"Nana jangan nangis, Nana di sini saja sama mik" mik Muna berusaha menenangkan Nana yang terus menangis.
"Ibu" teriak Nana semakin keras saat mobil putih itu membawa pergi keluarganya meninggalkan dia dan juga kakek neneknya.
"Mik ibu, Nana ingin ikut huhu" tangis Nana yang semakin menjadi.
"Mereka cuman sebentar Nana, Nana sama umik dan abah di sini" mik Muna terus berusaha menenangkan Nana yang masih terus menangis.
"Mik bawa Nana masuk" perintah abah Dullah.
Mik menuruti perintah abah dan membawa Nana masuk ke dalam rumah.
Airin di bawa ke puskesmas terdekat yang jaraknya lumayan jauh dari desa.
Sepanjang perjalanan Airin terus menangis karena rasa sakit di perutnya yang sangat luar biasa, seumur hidupnya ia baru kali ini merasakan rasa sakit yang teramat sangat itu.
"Ibu sakit, perut Airin sakit bu, ibu tolong Airin"
"Kita akan sampai nak sebentar lagi, kamu tahan dulu sebentar" Ratna mulai tak tenang sebab Airin terus saja menangis dan mengeluh sakit perut.
Airin terus menangis, ia merasakan perutnya seperti di cincang saking sakitnya.
"Pak lebih cepat lagi, Airin gak kuat pak"
Pak Joni yang menjadi supir mobil itu sekaligus pemiliknya mengangguk dan mempercepat laju mobilnya.
"Hiks hiks hiks"
Tangisan Airin terus terdengar di sepanjang perjalanan, Ratna terus berusaha menenangkan Airin, ia sungguh tak tega melihat anaknya yang kesakitan.
"Ibu sakit, ibu Airin gak kuat"
"Kamu yang sabar nak, sebentar lagi kita akan sampai, kamu tahan dulu sebentar" Airin menggeleng, ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu.
"Airin gak kuat bu, Airin gak kuat"
"Kamu harus kuat, pak Joni tolong lebih cepat lagi" titah Ratna dengan menghapus keringat-keringat yang mengalir di dahi Airin.
Pak Joni semakin menambah kecepatan, tangisan Airin terus terdengar di sepanjang perjalanan.
Mobil berhenti tepat di depan puskesmas terdekat yang tidak terlalu besar itu.
"Ayo Airin kita keluar" ajak Ratna.
Airin mengangguk, ia keluar dari dalam mobil dengan di papah oleh bapak dan ibunya.
"Pelan-pelan saja" Airin mengangguk, ia berjalan dengan sepelan mungkin karena rasa sakit yang ada di perutnya itu begitu sangat terasa.
Airin berjalan dengan tertatih-tatih, rasa sakit di perutnya semakin terasa saat ia melangkahkan kakinya.
Setelah melakukan perjuangan yang berat akhirnya Airin bisa berbaring di dalam puskesmas itu.
"Bu bidan tolong periksa anak saya" titah Ratna yang sangat khawatir ada apa-apa sama Airin.
"Keluhannya apa bu?"
"Perutnya sakit bu, dia habis pulang dari rombongan langsung ngeluh sakit perut" jelas Ratna.
Bu bidan tampak manggut-manggut, ia lalu memberikan obat maag pada Airin karena ia merasa kalau Airin seperti ini karena sakit maag.
"Ini di minum bu 3x sehari setelah makan ya bu" Ratna mengangguk dengan mengambil obat itu.
"Iya bu, saya akan berikan obat itu 3x sehari"
"Semoga cepat sembuh anaknya ya bu"
"Terima kasih bu"
"Sama-sama"
"Ayo Airin kita pulang" ajak Ratna pada Airin yang masih tiduran di brankar, perutnya benar-benar sakit seperti di pukul oleh seseorang.
Airin bangun dan kembali masuk ke dalam mobil, perutnya masih sakit, tidak reda sama sekali, baru kali ini ia merasakan sakit yang separah itu.
"Airin kamu makan roti ini dulu nak, lalu minum obat biar perut kamu gak sakit lagi" Ratna menyerahkan roti yang sudah ia beli pada Airin.
Airin mengangguk lalu memakan roti itu, baru setelah itu ia meminum obat yang sudah bu bidan itu berikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Rini Eko Sumarwanti
Meskipun cerita fiksi, yang mendekati kebenaran lah ya. Berobat di puskesmas harganya cuman 5000. tokoh kan diantar ke puskesmas ? Lalu ketika Airin mengeluh sakit dan diantar bapaknya, harusnya bapaknya menggendong Airin. Bukan menyuruhnya jalan. itu harus diperhatikan supaya perannya tidak ambigu. hanya saran aja supaya hasil ceritanya lebih baik lagi ya. semangat.
2023-02-25
2
Asphia fia
puskesmas ko mahal thor...
segitu ke dokter praktek kali thor
2023-02-19
1
Niè
ke puskesmas 150rb.....ke RS brp rin??
2023-02-19
4