Setelah berjalan beberapa menit Airin dan Nana sampai di rumah pak Jafri yang hanya berjarak beberapa rumah saja.
Di sana sudah ada banyak sekali warga-warga yang memenuhi rumah pak Jefri.
Tangisan terdengar di telinga Airin, Airin hanya diam, ia berdiri di samping warga-warga lainnya, mereka semua saat ini tengah menunggu kedatangan jenazah yang masih berada di perjalanan.
Wiu wiu wiu wiu
Suara sirene menggema di desa ini, tangis warga khususnya keluarga pak Jefri memenuhi halaman rumah.
Ambulance masuk ke dalam, para petugas mengangkat peti mati, tiba-tiba Nana langsung memeluk tubuh Airin saat peti mati itu tengah di angkat.
"Ada apa Nana?" kaget Airin ketika melihat adiknya yang tiba-tiba menjadi aneh.
Nana diam, ia masih terus menyembunyikan wajahnya pada Airin, Arin mengerutkan alisnya tanda bingung.
"Nana, bilang sama mbk, ada apa, apa yang kamu lihat, kenapa kamu tiba-tiba jadi takut?"
"I-itu mbk" tunjuk Nana ke arah ambulance yang berada tak jauh dari posisi Airin berdiri.
Airin melihat ke arah ambulance namun tidak ada apapun yang ia lihat, satu warga pun tidak ada yang mendekati ambulance.
"Enggak ada apa-apa, di sana gak ada apapun Nana, kamu gak perlu takut"
"Ada mbk, di sana ada orang yang wanita yang wajahnya penuh darah, dia lagi lihatin aku dari sini, aku takut sama dia mbk" jelas Nana yang membuat Airin kembali menatap ke arah ambulance.
"Enggak ada apapun di sana, kenapa Nana bilang ada wanita yang wajahnya penuh darah di sana?" batin Airin yang merasa aneh.
"Bu, Erna itu meninggal kenapa ya, kok gak dengar dia sakit?" Airin mendengar ucapan bu Rukayah yang berada tak jauh dari posisinya berdiri, ia diam dan berusaha mendengarkan.
"Katanya dia meninggal karena di bunuh pacarnya, dia kan gadis liar, sukanya keluar malem sama cowok" jawab bu Juleha.
"Kok sama orang tuanya di biarin" tak habis pikir bu Sadu'a.
"Di lantur sama orang tuanya, dan sekarang ketika tau kalau anaknya meninggal dengan sadis baru menyesal" jawab bu Juleha.
"Oh jadi mbk Erna meninggal karena di bunuh, apa mungkin orang yang Nana lihat itu mbk Erna, tapi kenapa dia bisa lihat yang begituan, apa karena dia masih kecil?" batin Airin dengan menatap ke arah Nana yang wajahnya sudah pucat karena ketakutan.
"Mbk takut, dia seram, mbk ayo kita pergi dari sini, Nana gak mau lihat dia lagi" ajak Nana yang benar-benar ketakutan saat melihat Erna berdiri di ambulance dengan wajah seramnya yang penuh dengan darah.
"Ya udah ayo kita pulang, lewat sana" tunjuk Airin ke belakang langgar/ surau ataupun bisa di sebut dengan musholla.
Nana mengangguk, ia menggandeng tangan Airin dan berjalan pulang ke rumah kembali.
Saat menjauh dari sana, Airin langsung menghentikan langkahnya.
"Siapa yang tadi kamu maksud?"
"Aku gak tau mbk, dia seram, seram bangeet, aku gak mau ke sana lagi"
"Apa mungkin yang kamu lihat itu mbk Erna?"
"Enggak tau juga, pokoknya aku gak mau ke sana lagi, ayo kita pulang aja"
Airin mengangguk lalu berjalan menuju rumah.
Tiba-tiba langkah Nana terhenti, ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.
"Kenapa berhenti na, apa yang kamu lihat?"
Tak ada tanggapan, Nana masih terus diam dengan menatap lurus ke depan.
"Na jawab, kenapa kamu diam aja?"
Nana masih tidak menjawab, ia terus menatap lurus ke depan.
Airin semakin penasaran saat melihat tingkah Nana yang benar-benar aneh menurutnya.
"Apa yang Nana lihat, kenapa dia se fokus itu liatinnya" batin Airin merasa aneh.
"Na" Airin menggoyangkan tubuh adiknya.
"Apa yang kamu lihat?"
"Itu mbk, kingkong yang ikutin mbk ada di depan rumah, dia kayaknya nungguin kita"
Airin mengernyitkan dahi."KINGKONG? mana ada kingkong di sini, kamu salah lihat, gak ada apapun di depan, ayo kita pulang"
"Enggak mau, di sana ada kingkong, dia nungguin kita, aku gak mau pulang ke rumah"
"Terus kalau kita gak pulang ke rumah kita mau pulang ke mana lagi na, ayo sekarang kita pulang"
Nana menggeleng, ia tak mau melangkahkan kakinya walau sedikitpun, ia benar-benar takut melihat wajah kingkong yang seram.
"Ayo na kita pulang, masa kita diam di sini, mbk gak mau di sini, ayo kita pulang aja"
"Enggak mau mbk, aku gak mau!"
"Ya udah mbk tinggal ya, kamu pulang sendiri aja"
Airin berjalan mendekati rumah dan meninggalkan Nana yang masih diam di tempat.
"Mbaaak!" teriak Nana yang ketakutan.
"Ayo pulang"
Nana pun berlari mendekati Airin, ia berjalan dengan membenamkan wajahnya pada Airin, apa lagi saat ia akan lewat tepat di samping genderuwo itu yang masih berdiri di depan pagar.
Airin merasa aneh sekali saat Nana tak mau mengangkat wajahnya, ia terus menempel padanya.
"Apa yang sebenarnya Nana lihat, kenapa dia semakin hari semakin aneh saja, apa yang sebenarnya terjadi padanya, kenapa dia bisa berubah draktis seperti ini" batin Airin.
Nana mendongak ketika sudah berada di halaman rumah, ia melihat kembali ke arah genderuwo yang masih berdiri di halaman rumah.
"Kenapa dia masih ada di sana, kenapa dia gak pergi"
"Dia gak bahaya, kamu gak usah pikirin dia, ayo masuk ke dalam"
Nana mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Airin.
"Huhuhu"
Tiba-tiba Nana menangis kencang saat berada di dalam kamar Airin.
"Nana kamu kenapa, kenapa kamu tiba-tiba nangis?"
"Huhuhu"
"Kenapa na, bilang sama mbk, kamu kenapa?"
"I-itu mbk, di sana ada hantu Nana takut huhu" tangis Nana dengan menunjuk ke pojokan.
Airin melihat ke pojokan, namun tidak ada apapun yang ia temukan.
"Ada apa Airin, kenapa Nana nangis?" Ratna yang baru pulang langsung mendekati mereka.
"Gak tau bu, Nana tiba-tiba nangis"
"Kenapa Nana, kenapa kamu nangis, siapa yang sudah bikin kamu nangis, bilang sama ibu?"
"Itu bu huhu" Nana menunjuk ke arah pojokan.
Ratna melihat ke arah apa yang Nana tunjuk, namun tidak ada apapun di sana.
"Apa yang kamu lihat, di sana gak ada apa-apa?"
"Ada bu, di sana ada kuntilanak, Nana gak mau ada di sini, bawa Nana pergi" titah Nana yang terus menangis.
"Ya udah ayo keluar dari sini" Ratna membawa Nana pergi dari kamar Airin.
Airin menatap aneh ke arah adiknya.
"Kuntilanak? mana ada kuntilanak di sini, kenapa Nana terus melihat begituan, apa karena dia masih kecil, tapi saat aku kecil, aku gak pernah sekalipun melihat makhluk-makhluk astral kayak gitu"
Airin begitu merasa aneh saat melihat perubahan di dalam diri adik kecilnya.
"Udah ah, aku gak mau mikirin hal itu, gak penting juga"
Airin merebahkan tubuhnya di kasur, ia terus memainkan hpnya.
Wussshhhh
Genderuwo yang tadi ada di luar masuk ke dalam kamar Airin melewati jendela.
Genderuwo itu duduk di dekat Airin, ia menemani Airin tanpa Airin sadari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
💞Erra Tarmizi💞
jadi takut kalau jadi Nana 😭
2023-04-01
3