DRRTT....DDRRTT....
Dering handphone milik Alves langsung menarik perhatian Alves untuk pergi ke ruang tamu, karena semua pakaiannya masih berserakan di sana dan termasuk dengan handphone miliknya yang kini berdering minta di angkat.
Alves pun pergi untuk mengangkat handphone itu dan rupanya siapa yang pagi-pagi ini sudah meneleponnya, itu adalah Vion.
Alves mengangkatnya dan langsung berkata : "Tumben sekali pagi-pagi sudah meneleponku."
-"Memangnya kenapa? Aku meneleponmu juga terpaksa. Jika bukan karena janji yang kau buat denganku satu bulan yang lalu, aku tidak akan meneleponmu. Ayo, pergi."-
"Memangnya pergi kemana?" Alves pun jadinya berpikir keras, karena merasa tidak pernah sekalipun membuat janji dengan temannya ini.
-"Haish, ternyata jika aku tidak meneleponmu, kau pasti tidak akan bisa ingat."- Keluh Vion ini, orang yang berada di ujung telepon.
"Makannya, beritahu aku apa janji yang kita berdua sepakati?" Tanya Alves sekaligus menuntut penjelasan kepada temannya itu.
-"Padahal belum tua-tua amat, kenapa jadi pikun hm?"-
"Jangan menyindirku." ketu Alves, tidak terima dengan sebutan tua oleh temannya itu.
-"Kalau tid-"-
Sampai pembicaraan mereka berdua langsung terpotong oleh Elly yang tiba-tiba saja muncul.
"Alves, i-ini..ini pasti darahku ya?!" Elly yang awalnya hendak makan tadi, perhatiannya langsung tertarik pada satu warna merah yang menodai karpet bulu berwarna putih bersih layaknya serigala putih yang cukup menawan itu.
Tapi keindahan dari karpet itu sudah sirna setelah Elly tahu kalau noda yang dari tadi mengganggu matanya ternyata adalah karena ada darah.
Dan Vion yang tiba-tiba saja mendengar suara milik seorang wanita, sontak langsung berteriak -"Alves! Kau menyimpan wanita di rumahmu?"-
Alves mengernyitkan matanya. "Menyimpan? Aku hanya memperkerjakan seorang pelayan, kenapa jadinya menyimpan?" Tanya balik Alves tidak mengerti kenapa ada juga yang punya sudut pandang seperti itu dengan spontan.
-"Tapi itu sama saja, Alves. Kau yang biasanya jaga jarak dengan wanita, bisa punya pelayan wanita di rumha? Apakah ada sesuatu? Atau jangan-jangan kau hanya membuat alasan suara tadi pelayanmu, padahal dia adalah wanita simpanan yang kau gunakan untuk bermain setiap malam, ya kan? Benar kan kataku itu, Alves?"-
Di hujani berbagai pertanyaan yang cukup menyudutkannya, Alves segera mengalihkan topik pembicaraannya saat itu juga. "Jika kau menghubungiku untuk menanyakan ini saja, akan aku tutup."
-"Hei! Aku sedang menagih janji kepadamu. Jangan pikirkan apa yang aku katakan tadi, tapi sekarang kita ketemuan. Kan katamu akan membuka arena trek yang baru saja kau bangun itu, jadi aku ingin mencobanya, dan kalau bisa sekalian bawa wanita yang kau sebut sebagai pelayan tadi. Sudah, itu saja. Aku tunggu di jalan xxx, mengerti?"-
Setelah berkata seperti itu, Vion langsung memutuskan panggilan diantara mereka berdua secara sepihak.
Setelah di tutup, Alves hanya menatap layar hanphone nya, lalu tiba-tiba dia sadar dengan sesuatu, dimana Elly terlihat sedang berusaha sedang membersihkan noda darah yang ada di atas karpet itu.
"Huft~" Alves pun di buat menghela nafas dengan kasar, lalu berkata : "Tidak usah pikirkan itu."
"Tapi ini kotor, aku harus membersihkannya." Elly yang hendak pergi untuk mengambil kain lap, sikat, sabun di kamar mandi, tiba-tiba saja tangannya langsung di cegat oleh Alves.
"Aku tahu niat baikmu yang mau bertanggungjawab dengan karpet mahalku. Tapi aku tidak akan menuntutmu untuk itu juga, karena kau semalam juga sudah membantuku melewati malam yang keras itu.
Dan yang harus kau lakukan saat ini hanya mandi dan ikut denganku. Nanti biar urusan karpet, akan di tangani oleh anak buahku." Jelas Alves, lalu Alves melepaskan cengkraman tangannya.
Elly melihat arah karpet dan wajah Alves secara bergantian, hingga dia akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia akan berbenah diri dan akan ikut dengan Alves yang mau pergi kemana, Elly sendiri juga tidak tahu.
"Baiklah." Jawabnya.
Dan berjalan pergi meninggalkan Alves? Memang iya, tapi sebelum itu Elly memilih untuk melanjutkan makan pagi lebih dulu sebelum membuat ritual paginya.
_____________
"Kemana si Alves ini? Sudah di tunggu sampai setengah jam, kenapa belum nongol juga anak itu?" ucap pria ini pada dirinya sendiri. Dia sesekali melihat ke arah jam tangan yang dia pakai di tangan kanannya, lalu beralih untuk menatap layar handphone nya.
Satu, tida...tapi dua orang yang dia tunggu itu belum juga memperlihatkan batang hidungnya.
Maka dari itu, pria ini pun langsung menutup jendela mobil dan mengatur posisi kursi duduk miliknya untuk di posisikan lebih ke belakang dan memejamkan matanya seraya mendengarkan lagu yang sedang di putar.
Tapi belum juga satu menit memejamkan matanya, sebuah ketukan di jendela mobil langsung menyadarkan Vion lagi untuk kembali membuka matanya.
TOK..TOK..TOK.....
"Baru juga di bicarakan, dia sudah muncul saja." Ucapnya lagi. Vion pun membuka pintu mobil dan menemui Alves yang sudah berdiri di samping mobilnya persis.
"Berarti mulutmu memang cukup masin." Sahut Alves detik itu juga, karena ucapan Vion langsung bisa terwujud, sebab Alves kini sudah sampai di tempat yang sudah mereka berdua sepakati bersama.
Menghiraukan ucapan Alves, yang lebih penting dari itu dan membuat Vion tertarik pada satu hal yang belum lama dia bicarakan itu tentu sajja adalah masalah seorang wanita yan Vion kira Alves memiliki wanita simpanan di dalam rumahnya.
"Menyusahkan saja, pinjam jarimu lagi untuk membukanya." Tuntut Elly secara tiba-tiba kepada Alves, sambil memberikan handphone milik Alves kepada Alves agar pria itu membuka kunci layar handphone tersebut.
Vion yang akhirnya diperdengarkan suara yang sama dengan yang ada di dalam telepon, langsung menoleh ke arah sumber suara, yang rupanya wanita yang dimasud Vion itu sedang berdiri dan bersandar di pintu mobil bagian belakang.
"J-jadi ini kekasihmu ya? Kenapa pakai acara mengatakan wanita cantik ini sebagai pelayanmu? Kenapa tidak bilang saja kalau dia adalah kekasihmu sih, ya tidak?" Kata Vion saat itu juga.
Vion yang terlihat kegatelan karena akhirnya bisa menemui wanita pilihan Alves, buru-buru berjalan menghampiri Elly sambil mengambil handphone yang hendak di serahkan ke Alves itu dan menggatinya dengan tangan Vion sendiri sebagai maksud dalam salam perkenalannya.
"Perkenalkan, aku Vion." Ucap Vion sambil menggenggam tangan kanan Elly yang cukup halus itu.
"Ellynda." Dan balasan yang Vion terima selain memberitahu namanya kepada Vion ini adalah sebuah cengkraman tangan yang cukup kuat hingga Vion langsung merintih sendiri.
"A-ahw...kau ternyata sekuat ini ya? Jangan-jangan darah yang kau maksudkan tadi saat terdengar di telepon, adalah karena kalian berdua semalam baru melakukan olahraga kuda-kudaan ya?"
GERRTT..
"Akhhww..!" Akhirnya Vion langsung merintih kesakitan setelah kekuatan dari tangan yang di salaminya itu semakin bertambah, dan menyebabkan tangannya mulai merasakan sakit yang cukup dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
🛡️Change⚔️ Name🛡️
Ternyata Elly adalah perempuan bukan betina 😁
2023-03-30
1
Pink Blossom
wkwkkk,, ketahuan jg kn
2023-03-14
0
Pink Blossom
memori'y alves dh pnuh dg elly jd gk ingt hrp mklum ya bro🤭😄
2023-03-14
1