"Eh..dia ternyata sampai tidur di sini?" Doni melepaskan masker nya, dan pergi menghampiri Alves yang sama sekali belum berganti pakaian, bahkan sampai tidur dalam posisi duduk seperti itu. "A-"
"Bagaimana keadaannya?" Hanya saja, sebelum Doni membuka suaranya, Alves lebih dulu bangun dan menanyakan situasi serta kondisi dari wanita yang mereka tangani itu.
Doni yang merasa lelah, memutuskan duduk di samping kiri persis Alves, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu menjawab : "Karena demam dan benturan keras di kepalanya, dia sekarang sedang koma. DI tambah karena adanya pembuluh darah yang pecah di dalam otaknya, jadi ini akan memakan waktu yang cukup lama agar dia pulih.
Tapi ngomong-ngomong, darimana kau mendapatkan wanita itu? Di tubuhnya benar-benar banyak luka lebam dan ada juga beberapa luka sayatan. Jadi kelihatannya dia memang korban dari kekerasan."
"Aku kebetulan menemukannya di pinggir pantai. Jadi aku juga tidak tahu siapa dia dan identitasnya apa." Balas Alves. Dia memang penasaran, tapi dia juga tidak punya sesuatu yang bisa mengaitkan siapa identitas dari wanita yang dia temukan itu.
"Hmm..untung saja kau tepat waktu, kalau terlambat sedikit saja, dia akan kehilangan nyawanya." Imbuh Doni. Dia beranjak dari kursinya, meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku itu karena dia benar-benar merasa lelah sebab berdiri cukup lama, di tambang cukup menguras tenaga dan pikirannya untuk mengatasi pasien yang di bawa oleh Alves ini. "Dia akan di rawat di ICU lebih dulu sampai sadar, jadi Istirahat dulu sana, biarkan para asistenku yang menjaganya." Sambung Doni.
Sama hal nya dengan Doni, Alves pun berdiri dan melihat wanita asing yang Alves temukan itu sedang di pindahkan.
Terlihat wajah tidur itu selalu mengusik isi kepala Alves untuk beberapa waktu. Tapi karena dia mempercayai kinerja dari Doni ini, Alves pun pergi meninggalkan rumah sakit.
'Dia terlihat begitu memperhatikannya. Apakah ada sesuatu yang dia pikiran dan ada hubungannya dengan wanita ini?' Pikir Doni, ikut dengan para asisten nya pergi ke ruang ICU dan membantu mereka berdua untuk memasang semua alat pendukung kehidupan dari pasien tersebut.
________________
Pagi itu.
ZRASHHH...
Air hangat yang keluar dari shower itu mengguyur tubuh atletis milik Alves dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Hahh ..." Alves menghela nafas cukup panjang. Dia benar-benar merasakan rasa lelah di tubuh.
Bukan karena pekerjaan yang menumpuk atau karena menghadiri pesta, melainkan dia lelah karena tanpa sadar dirinya menunggu korban orang hanyut, sampai operasinya selesai.
Iris mata miliknya yang berwarna merah itu pun kian gelap seolah dia baru saja melihat sebuah mangsa yang sudah lama dia tunggu.
"Aku melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan. Sebenarnya ada apa denganku" Merasakan dilema untuk pertama kalinya, Alves mendongak kan kepalanya ke atas, agar wajah tampan miliknya langsung di terjang dengan guyuran dari air shower yang terasa seperti hujan itu.
Alves memejamkan matanya, lalu mencoba mengingat ingat asal dari mana dirinya bisa mendapatkan perasaan familiar dari miliknya itu.
Tapi belum juga mendapatkan pencerahan, dering dari handphone miliknya pun mengganggu ritual nya.
Alves menjeling tajam ke arah handphone yang sengaja dia letakkan di atas meja dekat wastafel, karena dia memang tidak bisa lepas dari handphone nya, sebab banyak sekali panggilan penting yang biasanya masuk.
Tapi karena suara dering kali ini berbeda, maka itu sudah jelas kalau yang sedang menelepon nya adalah Doni.
Dengan tubuhnya yang masih polos, Alves berjalan untuk mengambil handphone miliknya, dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Ada apa?" Alves bertanya pada poin intinya secara langsung.
"Aku butuh darahmu."
"Kau menginginkan darahku untuk di minum?" Tanyanya lagi. Karena ritual mandinya sudah di potong oleh Doni yang sangat rajin sekali absen untuk menelepon nya, Alves pun jadi menyudahi kegiatannya itu, mengambil handuk kimono yang tergantung di dinding sebelah pintu, dan menutupi tubuh polosnya itu dengan handuk tersebut.
Tidak lupa dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya, Alves pun beranjak keluar dari kamar mandi.
"Memangnya aku ini Vampir? Aku butuh darahmu bukan untukku, tapi wanita ini. Kami kehabisan stok darah, dan golongan darahmu yang AB+ itu kebetulan cocok dengannya. Jadi aku butuh darahmu." Jelas Doni, alasan dirinya menelepon Alves pagi-pagi adalah karena dia memang membutuhkan darah dengan golongan darah yang sama.
Beberapa waktu lalu di bank darah memang ada darah dengan golongan itu, tapi karena wanita yang di bawa oleh Alves ternyata membutuhkan lebih banyak darah dengan golongan itu, maka sekarang stok nya pun habis.
Dan satu-satunya orang yang memiliki darah itu adalah Alves sendiri.
'Jadi dia pun juga sama-sama memiliki golongan darah sepertiku?' Alves pun jadi mulai berpikir kalau itu adalah sesuatu yang cukup menguntungkan.
Karena tidak akan ada yang tahu masa depan itu akan seperti apa, maka dari itu Alves jadi sempat memikirkan sebuah keuntungan yang bisa dia dapatkan dari wanita yang dia selamatkan itu.
"Aku akan kesana." Setelah mengatakan itu, Alves menutup telepon nya dan bersiap pergi ke rumah sakit lagi.
________________
"Wow, siapa si pria tampan itu?"
"Wah...pagi-pagi dapat stimulan menyenangkan. Dia sangat menyilaukan."
Para pasien serta pengunjung yang kebetulan sedang duduk di lobi, langsung menyadari kehadiran dari Alves yang baru saja masuk.
Karena tampilannya yang memukau, apalagi Alves yang kebetulan akan sekalian berangkat kerja, maka balutan dari jas berwarna biru navy itu pun membuat kesan Alves jadi semakin gagah dan sexy, sebab balutan jas dan celana yang di pakai oleh Alves benar-benar mencetak tubuh atletis nya dengan sempurna, sehingga banyak wanita yang meliriknya.
Tapi Alves tetap mampu untuk mengabaikan mereka semua, karena hanya dengan membuat jelingan mata yang cukup dingin, mereka semua yang hendak mendekat, berhasil mengurungkan niatnya itu.
Tidak butuh waktu yang lama, setelah naik lift, dia sampai di lantai tiga, dan di sanalah pasien yang Alves bawa semalam di rawat, di ruang ICU.
Dan karena kebetulan ruangannya ada dinding yang di buat dengan kaca, maka Alves mampu melihat kondisi wanita itu dari luar kamar.
"Oh Tuan, anda sudah sampai? Apakah anda bisa melakukanya sekarang?" Tanya perawat wanita ini kepada Alves yang belum lama sampai itu.
"Ya. Sekarang saja." Jawab Alves, dia pun mengikuti kemana asisten dari Doni ini pergi. Dan ternyata karena hanya ada di ruang sebelah, dia pun jadi tidak perlu berjalan jauh.
Sepuluh menit kemudian, Alves keluar dengan lengan tangan kiri sudah di plester.
"Oh, kalau anda mau masuk anda harus gunakan pakaian ini." Sebelum perawat ini pergi, ia memberikan seragam untuk Alves pakai jika memang mau menjenguknya.
Karena itu, Alves pun menerima pakaian tersebut.
"Padahal aku bukan siapa-sapa nya dia. Tapi ya sudahlah, lagi pula aku memang sedang lagi senggang, lebih baik coba buang waktu dengan mengurus orang sakit. " Dan Alves pergi masuk kedalam kamar ICU dengan pakaian steril yang di berikan oleh perawat tadi.
KLEK.
Rasa sakit hasil jarum yang sempat tertanam di dalam lapisan kulit tipisnya memang masih terasa, tapi kira-kira seperti apakah jika jarum itu terus tertanam di tangan itu terus?
"Ternyata memang banyak luka." Alves sempat menyentuh tangan kiri dari kulit putih pucat yang di miliki oleh wanita yang terbaring di depannya itu.
Ada luka lebam, bahkan luka seperti sayatan yang terlihat seperti cambukan, juga ada.
'Berapa banyak yang sudah dialami oleh wanita ini?' Rasa simpati itu pun kembali muncul.
Dia benar-benar sangat menyayangkan, karena wanita cantik yang ada di depannya ini sungguh menghadapi kesulitan yang entah seberapa sulit, tapi Alves mampu merasakannya ketika dia hanya melihat semua luka yang di miliki oleh wanita tersebut.
"Sampai berapa lama dia akan terus seperti ini?" Tanya Alves pada satu perawat yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.
"Yang tahu hanya tuhan, Tuan. Tidak ada yang mampu memprediksinya, apalagi dengan benturan kepala yang keras sampai membuat pembuluh darah di dalam otaknya pecah, maka ada kemungkinan lebih dari sebulan.
Tapi intinya, kembali kepada si pasien itu sendiri Tuan." Papar wanita ini. "kalau begitu saya permisi terlebih dahulu." Imbuhnya, meninggalkan Alves sendirian di dalam kamar.
Seperginya perawat tadi, Alves menarik kursi kosong dan duduk di sebelah wanita itu.
"Apakah aku akan jadi orang gila, karena aku berbicara sendiri pada orang yang bahkan tidak bisa bangun seperti ini?" Ucap Alves. "Tapi aku yang sudah bicara sendiri seperti ini juga sudah di anggap gila." Imbuhnya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments