"A-aahww.."
"Rasakan itu." Cibir Alves sambil merebut handphone miliknya dari tangan Vion, membuka layar kunci handphone nya lalu memberikannya kepada Elly dengan maksud agar segera melepaskan cengkraman tangannya itu.
Dan benar saja, setelah menyodorkan handphone nya, Elly langsung melepaskannya seakan handphone itu lebih menarik ketimbang melanjutkan perbuatannya tadi untuk memberikan pelajaran kepada Vion yang terus saja beranggapan kalau dirinya bersama Elly memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih?
Alves memang sempat punya pikiran seperti itu, sekalian saja menjadikan wanita di depannya itu kekasihnya, atau bahkan menikahinya juga bisa, karena kebetulan Alves memang lajang dan tidak terikat dengan manapun wanita, sebab Alves selalu lebih dulu menolak jika ada seorang wanita yang mendekatinya.
Tapi sayangnya Alves tidak bisa mengharapkan hal itu lebih dulu, sebab Elly lebih mengepentingkan posisinya, menjaga jarak dalam artian posisi mereka berdua sebagai majikan dan pelayan.
Dan apa yang terjadi tadi malam hanyalah sebuah layanan dari seorang pelayan pada majikannya yang terlibat dalam masalah.
'Ahw..kenapa dia punya tenaga sebesar itu? Ini cukup sakit, seperti sedang bersalaman dengan seorang binaragawan.' Vion masih mengeluhkan rasa sakit yang dia terima itu. Sambil mencoba menahan rasa sakit yang masih terasa itu, Vion kembali memperhatikan penampilan Elly yang sebenarnya berpenampilan cukup sederhana. 'Tapi kenapa aku merasa dia punya aura seorang yang punya insting yang kuat ya?'
Merasakan tatapan dari Vion, Elly pun meliriknya. Sudut matanya tentu saja mendapatkan diri Vion yang sedang memperhatikannya.
'Kenapa dia melirikku? Apakah pakaianku cukup aneh? Yah..aku sendiri memang merasa penampilanku ini cukup aneh. Masa pakai rok, apa-apaan dengan Alves, kenapa dia memberiku pakaian dengan rok mini seperti ini? Apakah dia mau membuatku seperti boneka yang bisa di tonton oleh banyak orang?' Dan Elly pun segera melirik ke bawah, menarik sisi rok mini yang di pilihkan oleh Alves secara langsung.
Hingga perbuatan itu membuat Vion sendiri langsung mundu ke belakang satu langkah dengan wajah terkejut menghiasi raut mukanya itu.
"Elly, apa yang kau lakukan?" Tanya Alves, langsung menepis tangan Elly agar melepaskan rok yang sedang di pegangnya agar tidak di angkat tinggi-tinggi dan memperlihatkan lebih banyak ekspose dari paha putih milik Elly.
"Dia memperhatikanku terus, jadi apakah penampilanku ini memang cukup aneh? Dan lagian, Alves. Kenapa kau memberikanku pakaian macam ini? Aku jadi seperti orang yang sedang telanjang." Jawab Elly dengan cukup gamblang.
"Uhukk..." Vion langsung berbalik dan membungkukkan tubuhnya ke arah pintu mobil yang masih terbuka itu sambil mengkondisikan jiwanya yang berteriak karena ada wanita polos tapi bisa bicara blak-blak an seperti itu.
Menghiraukan apa yang terjadi pada Vion, Elly kembali menceramahi Alves. "Lalu ini juga, perutku sampai kelihatan. Kau punya selera yang rendah terhadap pakaian wanita." Menunjuk pada kemeja kotak-kotak yang sedikit kebesaran, tapi dengan mengendalikan cara itu, maka ujung dari kemejanya itu di ikat hingga sebatas tepat di tulang rusuknya.
Dan penampilannya Elly kali ini memang di make over oleh Alves sendiri.
"Padahal aku pikir itu sangat cocok padamu. Aku menyukai penampilanmu ini, jadi apa masalahnya?" Tanya Alves,
Elly pun menatap datar Alves dan menjawab pertanyaannya itu dengan nada selamba. "Masalahnya kan tadi aku sudah bilang, aku seperti sedang telanjang. Apa telingamu tuli?"
"Padahal menurutku bagus-bagus saja." Balas Alves seraya mengelus dagunya yang mulus tak berjenggot.
Elly menggelengkan kepalanya. "Hari ini akan cukup panas, dan apa kau mau membuatku berjemur?"
'Ada apa ini, kenapa mereka berdua bisa bicara blak-blakan seperti ini di depan orang lain sepertiku?' Vion yang sudah berhasil mengatur hatinya akhirnya bisa kembali berpikir jernih, dan melihat perdebatan yang dilakukan oleh dua orang di belakangnya itu.
"Itu boleh saja. Biasanya wanita sepertimu kalau berkeringat itu akan punya penampilan yang bagus." Jelas Alves dengan anggukan kecil sebagai tanda setuju dengan ucapannya barusan.
Dan Vion yang mendengarnya pun segera memperhatikan Elly, dan apa yang di katakan oleh Alves pun Vion dukung dengan anggukan kepalanya.
" ... " Elly yang menyadari dukungan dari Vion terhadap apa yang di ucapkan oleh Alves, membuatnya segera membalikkan badannya dan mengumpat dalam hati. 'Kenapa mereka punya pikiran aneh sih?'
"Ada apa? Kalau memang tidak suka, ayo kita beli baju dulu." Tawar Alves kepada Elly yang terlihat seperti memang enggan untuk memakai pakaian yang di pilih Alves itu.
Elly langsung berbalik, dan menjawab : "Tidak. Lagipula, bukankah kalian berdua akan bersenang-senang di sana? Aku akan bermain ini dan duduk saja." Tolak Elly.
"Hahaha...kau memang wanita yang pengertian, Alves, sesuai janjimu ayo bermain. Biarkan kekasihmu ini duduk diam di bangku penonton, dan memperlihatkan padanya kira-kira yang lebih menarik itu game itu atau aksi kita." Vion pun merangkul bahu Alves yang kebetulan tinggi mereka berdua memang sama persis, dan membuat mereka berdua di mata Elly sendiri seperti dua tiang listrik yang sedang berbicara.
"Coba saja. Jika aksi kalian berhasil menarik perhatianku, dan siapa yang menang, aku akan melayani si pemenang selama satu hari." Ungkap Elly sambil menunjukkan satu jarinya di depan mata mereka berdua, bahwa dirinya berani menjadi bahan taruhan untuk dua orang laki-laki di depannya ini.
"Elly." Alves tiba-tiba jadi memanggil namanya, karena dia terkejut sebab pada akhirnya taruhan di antara mereka berdua justru adalah pelayan pribadinya ini, Elly.
"Wah! Bagus Elly, aku suka dengan keberanianmu itu. Jadi sepakat? Jika salah satu dari kami menang, kau akan melayani kami selama sehari." Vion yang bertambah semangat itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Elly untuk bersalaman sebagai tanda deal untuk kesepakatan diantara mereka bertiga.
Elly yang awalnya hanya memperhatikan tangan Vion yang ingin berjabat tangan dengannya, akhirnya menyambutnya juga.
"Ok, aku sepakat." Dan Elly pun mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Vion yang terkesan memang cukup sama besarnya dengan milik Alves, hingga terkadang Elly berpikir kalau tangan itu bisa saja meremukkan tangannya dengan cukup sekali remas saja.
'Yes..dia memang wanita yang dari tampangnya itu cukup polos. Tapi dia itu juga cantik dan ternyata diam-diam dia punya keberanian untuk jadi bahan taruhan aku dan Alves.
Siapa yang akan menolak ini, ya kan?' Batin Vion.
Dan tepat setelah Elly mengatakan itu, sebenarnya Vion pun tiba-tiba jadi sudah punya rencananya sendiri seandainya dirinya menang, maka dia akan membawa Elly pergi bersamanya selama seharian, maka dari itu Vion pun sudah bertekad untuk memenangkan taruhan ini.
Sedangkan Alves, dia sungguh tidak rela jika pelayan pribadi serasa Istri itu melayani orang lain selain dirinya.
Maka dari itu, karena kesepakatan diantara Elly dan Vionn sudah terjadi, maka mau tidak mau Alves harus memenangkan pertandingan yang akan di adakan diantara mereka berdua di lintasan trek yang ada di belakang mereka bertiga.
'Elly, kau itu pelayanku, jadi jangan sekalipun melayani orang lain selain aku.' Pikir Alves di detik itu juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
🛡️Change⚔️ Name🛡️
Kok dijadikan taruhan? 🤔
2023-04-02
0
Pink Blossom
elly sprt'y ykin klo Alves yg bkl mnang,, jd km gk ush khawatir ya,, alves,, tp moga Alves yg mnang
2023-03-14
1
Pink Blossom
wkwkkk vion smpai terkejut gtu🤭🤣🤣
2023-03-14
1