Latihan sambil mengakrabkan diri yang Naruto lakukan, pasangan yang paling terlihat berlebihan adalah Samuel dan Caroline, mereka berdua sudah sejak kecil bersama. Naruto membuang napas kasar saat melihat keduanya begitu dekat, bukan karena ia cemburu hanya teringat seseorang yang ia sukai. Vivian melihat dengan penasaran karena tingkah Naruto seperti begitu enggan tidak seperti sebelumnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Vivian ikut duduk bersama Naruto.
"Aku sedang teringat masa lalu, aku tidak bisa menemui seseorang yang aku kenal lagi."
"Kenapa begitu, bukannya kamu bisa pulang jika izin libur, kita bisa liburan seminggu sekali."
"Tetap saja tidak mungkin," kata Naruto, diakhiri dengan senyuman.
"Hei, apa aku boleh tanya suatu yang pribadi?"
"Boleh saja, memangnya mau tanya apa?"
"Ini mengenai gadis yang bicara denganmu waktu kamu baru datang."
"Mm?" Naruto mengingat. "Oh, maksudmu Alicia?"
"Jadi namanya Alicia, kamu sedang memikirkan dia?"
"Tidak."
"Kupikir dari ucapan tadi, kamu sedang merindukan dia."
"Aku lumayan merindukan dia, dia sangat baik padaku."
"Kalian kenapa berduaan saja, apa tidak ingin ikut latihan?" tanya Samuel, yang menghampiri.
"Bukannya itu kamu, kami sudah selesai, waktu untuk istirahat," sahut Vivian.
"Jangan bicara seperti itu," bisik Caroline pada Samuel.
"Aku tahu yang kalian berdua pikirkan, semua yang kalian pikirkan sama sekali tidak benar." Vivian memelototi Samuel dan Caroline.
Naruto beranjak bangun, dia meminta izin untuk pergi karena ada suatu yang harus dia kerjakan untuk menulis surat buat Alicia. Samuel tersenyum dengan jahil, sahabatnya kini sudah punya target untuk dijadikan pacar. Vivian mengerakkan matanya dengan bosan, ia sangat menentang semua dugaan yang tidak penting. Naruto menulis surat dengan hati-hati, dia tidak pandai dalam menulis yang penuh kata-kata sopan. Naruto hanya menuliskan kabar dan kegiatan yang ia jalani untuk beberapa hari ini, dia juga akan ikut dalam penjelajahan di hutan selatan tempat para monster jamur berada.
"Sepertinya sudah cukup seperti ini saja," kata Naruto.
Seorang pria bernama Robert menemui Naruto saat sore hari, pria itu sangat kagum dengan Naruto waktu latihan. Naruto menggaruk kepalanya dengan malu-malu pertama kalinya ia mendapatkan pujian yang berlebihan dari seseorang. Robert berkeinginan agar Naruto untuk lebih memfokuskan diri selain latihan ringan juga harus berlatih untuk fisiknya. Naruto dari dulu hanya berlatih secukupnya tanpa membebani diri tapi kali ini seseorang meminta dia untuk mengolah fisiknya untuk lebih kuat. Camila yang mendengarkan tidak setuju, ia datang waktu ingin bertemu dengan Naruto di kamarnya.
"Meski dia murid Eric, kamu tidak perlu berlebihan, Robert."
"Bukannya begitu, Nyonya Camila, aku hanya ingin dia lebih hebat."
Kedua orang dewasa yang punya pemikiran berbeda, Naruto mendengarkan dan mengutarakan perasaannya. Naruto tidak keberatan karena dengan begini dia bisa lebih kuat dari sekarang. Camila melihat dengan cemas karena belum waktunya untuk Naruto tergesa-gesa. Robert mengeluhkan kalau cara Camila sangat tidak baik untuk pertumbuhan Naruto, dia punya suatu yang lebih unggul dari rekan setimnya.
Camila dapat memahami keinginan tersebut tapi dia tetap bersikeras kalau tidak sepenuhnya bisa ia benarkan. Naruto sudah seperti saksi keduanya, tidak lam kemudian datang seorang lagi yang tak lain adalah Mayer. Mayer meminta mereka berdua untuk ikut karena ada pekerjaan yang penting menjadi sebuah rapat yang harus diselesaikan dengan segera. Naruto mengajukan diri, ia ingin ikut dalam rapat-rapat yang bisa banyak membantu dirinya tentang pengetahuan yang bisa ia pelajari untuk penjelajahan. Mayer mengajak Naruto, dia bisa jadi sosok yang bisa membantu di masa depan. Monster yang menjadi pembicara sosok seekor Naga yang jadi topik mereka sekarang. Naruto terdiam, ia mencoba untuk tenang karena baru kali ini dia mendengar sosok yang jadi mitos sebagai kenyataan.
"Apakah mereka yakin kalau itu Naga?" tanya Robert.
"Tidak mungkin mereka tidak yakin, kamu pikirkan saja kalau mereka tidak akan punya niat bodoh untuk berbohong." Mayer menatap tajam.
"Um, aku jadi takut hanya memikirkan kalau ras Naga akan menyerang ras manusia."
Camila memejamkan mata, ia berpikir kalau suatu yang buruk akan terjadi, ancaman dari iblis juga belum selesai, belum lagi jika ada gelombang monster seperti sepuluh tahun yang lalu. Naruto mengajukan pertanyaan, sekuat apa Naga yang membuat kehebohan tersebut? Mayer pun menjelaskan rincian betapa bahayanya ras Naga. Camila melihat Naruto, dan meminta Naruto untuk tidak mengkhawatirkan tentang Naga, karena masih banyak orang yang sanggup untuk melawannya.
"Kau sudah seperti ibu-ibu yang khawatir dengan anakmu sendiri, Camila." Robert tersenyum puas.
"Dia ini anak yang spesial, kita harus menjaga dia baik-baik, aku tidak mau kalau nanti Eric akan marah padaku kalau terjadi apa-apa pada Naruto."
"Huh, sebuah alasan saja, Naruto menurut kamu apakah kamu akan menghadapi Naga jika kamu jadi kuat?" tanya Robert pada Naruto.
"Tentu saja, kalau aku lebih kuat, aku akan melawannya!"
"Anak pintar! Aku suka dengan kepercayaan dirimu!"
Setelah Naruto pergi, Camila dan Robert membeberkan semuanya tentang Naruto. Robert tertegun untuk waktu yang lama, ia tidak dapat memikirkan selain sosok yang memang ditakdirkan dengan suatu yang besar.
"Menurut kamu apakah dia bisa membuat semuanya lebih baik jika kita membimbingnya?" tanya Camila pada Robert.
"Bagaimana ya, aku tidak tahu harus setuju dengan kamu atau tidak. Dia memang orang dari dunia yang lain dari kita... Ah, aku jadi semakin takut dengan pikiran yang kumiliki."
"Tech, memangnya apa yang kamu pikirkan, huh?"
"Apa kamu tidak berpikir bisa saja ada sosok lain dengan niat jahat akan muncul karena sosok seperti Naruto ada?"
Mayer mendengarkan perdebatan kedua orang yang ia percaya, hanya bisa melihat perkembangan Naruto yang kemungkinan ada arti dalam keberadaannya. Mayer meminta Robert untuk melatih tim yang Vivian pimpin dilatih lebih ketat dari yang lainnya. Robert tidak banyak berpikir dan setuju, ia jadi semakin bersemangat karena punya anak-anak yang akan menolong dunia dari ancaman. Esok paginya, Naruto, Vivian, Samuel dan Caroline mendapatkan panggilan untuk berlatih secara terpisah saat siang hari. Naruto yang sudah tahu pembicaraan kemarin, ia jadi begitu antusias untuk jadi lebih kuat yang bisa membunuh seekor Naga.
"Kalian mendapatkan perlakuan spesial, aku secara pribadi meminta pada Guild Master untuk melatih kalian berempat." Robert bicara tegas disambut senyuman canggung dari Naruto.
"Master Robert, apa yang harus kami lakukan, Anda membawa kami kemari, bukannya ini tempat yang berbahaya?" tanya Caroline.
"Ada aku, kamu tidak usah takut."
"Jawabnya tidak jelas begitu, apa dia lupa kalau kita belum boleh melawan Goblin," keluh Samuel.
"Kamu jangan banyak bicara, Nak. Aku akan menjaga kamu untuk tidak mati."
"Ma-mati?" Samuel menoleh untuk melihat Caroline dan Vivian.
"Kenapa kamu diam saja sejak tadi? tanya Vivian pada Naruto.
"Aku merasa tegang, aku belum pernah melihat Goblin secara langsung, hanya gambar saja."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments