Naruto kembali ke desa seperti yang dijanjikan. Roy dan Eric menyambut dengan senang hati. Alicia yang tampak senang ia langsung mendekati Naruto. Suara yang begitu jelas terlontar dari mulut Eric yang menggoda Naruto dengan sindiran. Roy mengawatirkan Alicia yang terlalu fokus kepada Naruto, yang tidak akan mungkin memandang Alicia yang hanya berstatus gadis desa. Naruto menceritakan semua tentang rekan satu timnya. Alicia terdiam saat Naruto menyebut dua gadis, Vivian dan Caroline. Eric mengalihkan pembicaraan dengan bertanya mengenai apa saja yang Naruto hadapi saat menjadi Petualang. Naruto menyebutkan semua yang terjadi dan monster yang dilihatnya sangat begitu mengerikan.
"Jadi kamu mengeluarkan semua kloning yang kamu punya?"
"Aku melakukannya semuanya dengan sangat puas!"
Roy memanggil Alicia untuk bicara berdua. Naruto melihat keduanya dengan penasaran, Eric menasehati kalau Naruto tidak boleh puas dengan hal yang remeh. Suatu cerita yang begitu menggunggah hati Eric saat Naruto pergi ke Perumahan Kumuh. Kakek Zebo dan Jenny yang Naruto kenal sangat memperhatikan, hidup mereka penuh kesusahan.
"Aku tidak menyangka kalau kamu pergi ke tempat berbahaya seperti itu."
"Bagiku tidak berbahaya, di sana hanya ada orang-orang yang begitu ingin hidup layaknya orang normal."
"Kamu jangan terlalu sering pergi, dan aku senang kamu tidak lupa padaku."
"Hahaha, mana mungkin aku lupa dengan Master Eric."
"Ho, sungguh murid yang bijak," kata Eric, yang memuji.
Semetara itu Alicia mendapatkan nasehat dari ayahnya. Alicia mendengarkan semua nasehat tersebut dengan perasaan tidak nyaman. Keinginan yang sangat sulit untuk dilakukan, jika Alicia menginginkan suatu masa depan yang cerah dengan lelaki yang sedang berjalan ke puncak kesuksesan sangatlah tidak sebanding.
"Kamu tidak akan mungkin bisa berjodoh dengan Naruto, tiga atau lima tahun lagi dia akan melakukan suatu yang besar."
"..." Alicia tertunduk.
"Kamu memang penolong dia, tapi ingatlah kalian hanya bisa menjadi seorang sahabat dan tidak lebih dari itu."
Alicia melihat ayahnya. "Aku yakin pasti akan ada waktu untuk kami."
"Alicia, kamu jangan keras kepala."
Alicia berpaling pergi, Naruto melihat Alicia berlari keluar dari rumah. Naruto menanyakan penyebabnya, dan Roy hanya menghela napas karena Alicia terlalu keras kepala untuk tidak menuruti keinginan Roy. Naruto pun pamit ingin mencari Alicia, sementara Roy dan Eric saling memandang.
"Apa yang kamu katakan pada Alicia?"
"Aku memintanya untuk tidak terlalu banyak berharap pada orang asing."
"Kamu semakin tua semakin egois. Naruto berbeda dengan orang di dunia ini harusnya kamu sadar akan hal itu."
"Tetap saja, kalau seseorang sudah berubah keadaan maka sifatnya akan begitu juga."
"Tenanglah, dia tidak akan seperti itu, kamu cukup setuju saja dengan keinginan putrimu, jodoh dan segalanya terserah dari Dewi Jodoh." Eric tersenyum lebar.
Ayunan yang Naruto buat masih ada, Alicia duduk di sana sambil melamun sedih. Naruto yang tak tahu masalah yang sedang Alicia alami, Naruto hanya menasehati kalau semuanya akan baik saja. Alicia memanggil Naruto, dan Naruto menoleh dengan penasaran. Alicia tidak mengutarakan perasaannya, ia hanya senang karena Naruto menepati janji yang telah ia buat.
"Kamu akan tinggal berapa lama?"
"Hanya dua hari, aku akan kembali dan melakukan perkejaan yang kulakukan."
"Apakah di Ibukota lebih baik dari di sini?" Pertanyaan Alicia membuat Naruto cukup sulit memahaminya.
"Mmh, di sana kamu tahu sendiri, Ibukota Kekaisaran Ethan itu sangat luas dan banyak orang-orang yang baik di sana, aku sangat betah tinggal di sana."
"Aku beberapa waktu yang lalu berlatih dengan Master Eric, tapi aku tidak punya bakat dalam pedang dan panah." Alicia mengusap-usap air matanya.
"Kamu tidak harus melakukannya jika tidak memungkinkan, kamu tidak cocok dengan hal yang kasar, hehehe, karena sifatmu sangat lembut dan baik hati."
"Aku juga ingin jadi Petualang sepertimu."
"Apa itu termasuk impian kamu?"
"Ya, termasuk impian yang kuinginkan untuk sekarang." Alicia mengatakan dengan antusias.
"Apa yang kamu paling bisa saat berlatih bersama Master?"
"Kata Master Eric, aku cukup hebat dalam memanah."
Alicia kembali pulang untuk mengambil busur dan anak panah yang ia simpan di kamarnya. Naruto duduk di ayunan untuk menunggu Alicia. Eric datang bersama Alicia, suatu yang paling menyenangkan untuk Eric melihat Alicia begitu bersemangat. Naruto melihat kalau Alicia tidak terlalu buruk dengan panahnya. Target yang sudah ditentukan tidak terlalu melenceng dari sasaran. Naruto mengambil kunai, dan melemparkannya. Anak panah yang langsung terjatuh saat terkena kunai yang Naruto lempar.
"Aku pikir akan terlihat keren."
"Senjata serbaguna milikmu masih kau gunakan juga." Eric tersenyum.
"Ini mengingat aku dengan tempat yang aku tinggalkan." Naruto tersenyum masam.
"..." Alicia melihat Naruto begitu sedih.
Tatapan dari warga desa tidak sepenuhnya terlihat baik, mereka punya tatapan yang berbeda dari sebelumnya saat Naruto masih tinggal di desa. Tidak semua orang menyukai Petualang, Eric mengatakan dengan terus terang. Bocah yang menjadi Petualang ditakutkan akan bersikap arogan, Naruto tertawa kecil saat mendengarkan perkataan dari Eric.
"Kebanyakan yang orang tahu seperti itu, karena aku sangat mengenal kamu, aku punya pandangan yang berbeda."
"Master memang yang terbaik, aku sangat bangga dengan Master Eric."
"Kau bicara seperti orangtuaku, hahaha!" Eric menepuk-nepuk punggung Naruto.
"Uuh, keras sekali."
"Dasar lemah, hanya dengan suatu yang ringan."
"Aku akan pergi untuk membantu ayah!" Alicia pergi, bergegas untuk membuat makan malam.
Naruto menikmati makan malam dengan sup jamur dan daging yang Naruto beli waktu di Ibukota Kekaisaran Ethan. Eric yang ikut makan malam mendapatkan sindiran sebagai orang rakus yang numpang makan. Eric langsung memukul kepala Naruto. Esoknya ada tiga orang yang datang waktu siang hari, mereka adalah Vivian, Samuel dan Caroline.
"Kalian datang jauh-jauh hanya ingin menjemputku?"
"Tepat sekali!" Vivian langsung menyahut.
"Bukannya lusa aku baru pulang?"
"Sebenarnya Vivian sangat merindukan kamu, hihihi."
"Caroline, kamu jangan omong kosong begitu!" Vivian kesal.
"Siapa namamu?" tanya Samuel pada Alicia yang langsung gugup.
"Aku Alicia..."
"Hei, bukannya aku sudah memberitahu namanya padamu?" tanya Naruto pada Samuel.
"Hahaha, aku lupa."
"Mmm..." Caroline melihat Samuel dengan jengkel.
Caroline melihat dengan seksama setiap gelagat dari Alicia. Vivian melihat dengan rasa penasaran hubungan Alicia dan Naruto. Eric melihat adanya persaingan yang tidak bisa dipungkiri, semua anak-anak yang begitu tertarik satu sama lain sangat menggugah selera Eric untuk mengerjai Naruto. Waktu yang ingin Alicia habiskan dengan Naruto jadi terhalangi oleh Vivian yang lebih berani untuk mengajak Naruto berbicara. Alicia tidak punya banyak topik pembicaraan seperti yang Vivian lakukan.
"Aku kasihan padanya," bisik Caroline pada Samuel.
"Melihat sifat Vivian yang selalu menginginkan suatu yang ia sukai akan sangat sulit untuk gadis itu," kata Samuel membalas Caroline.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments