Nyonya Grace terduduk lemas, sambil memegangi kain sutera berbentuk gendongan bekas hadiahnya terdahulu. Ada perasaan bersalah pada dirinya, ketika mengetahui kebenaran tentang siapa Evelyn yang sebenarnya.
Wanita itu menangis dan tidak tahu harus berbuat apa, karena ia telah mengusir Evelyn dari rumahnya.
Sedangkan tuan Horisson yang sedang murka segera memanggil pak Santos untuk mengantarnya berkeliling mencari Evelyn.
"Santos!!"
"I-iya tuan besar," sahut pak Santos begitu takut.
"Kau bekerja padaku sudah cukup lama dan aku mempercayakan dirimu untuk menjaga Evelyn selama aku pergi, tapi hari ini aku kecewa padamu Santos. Kau telah lalai menjalankan tugasmu dan aku akan memikirkan hukuman untukmu."
"Tapi untuk sekarang antarkan aku mencari Evelyn dan hukumanmu ini tergantung dari keberhasilan kita mencarinya. Berdoalah agar Evelyn bisa ditemukan, karena kalau tidak, aku tidak segan-segan mengusirmu dari sini!" tegas tuan Horisson.
Lalu tanpa mendengar penjelasan dari siapapun, pria paruh baya itu kembali naik ke mobilnya, membuat pak Santos melirik ke arah Louise.
"T-tuan muda," ucapnya seperti bertanya harus jujur atau tidak.
"Santos!!" panggil tuan Horisson.
"I-iya tuan besar saya segera kesana!" sahut pak Santos setengah berlari.
Louise mengejar sang ayah dan ingin menjelaskan tentang keberadaan Evelyn yang sekarang kini tinggal di dalam rumah pribadinya. Lalu menghentikan laju mobil tersebut dengan segera agar tidak ketinggalan.
"Mau apa kamu Louise? Minggir! Daddy sedang terburu-buru," ucap tuan Horisson.
Louise membuka pintu mobil, kemudian masuk ke dalam dan duduk di sebelah tuan Horisson tanpa permisi lagi.
"Daddy, tenangkan dulu dirimu. Aku ingin memberi tahumu sesuatu," ucap Louise.
"Louise, kita tidak punya banyak waktu. Daddy tidak tahu kondisi Evelyn seperti apa sekarang ini, karena Daddy harus cepat mencarinya. Kau tahu kan kondisi ibu kota seperti apa," cerocos tuan Horisson panik hingga Louise dan pak Santos tidak bisa menyelanya.
"Pak Santos, kita ke puncak!" tegas Louise.
"Baik tuan muda!" patuh pak Santos lalu memacu kendaraannya.
"Gila kamu Louise, kita harus mencari Evelyn. Bukannya jalan-jalan ke puncak!" bantah tuan Horisson kembali murka.
"Daddy tenanglah! Aku tahu kau sedang mencemaskan Evelyn, tapi ada satu hal penting yang harus ku katakan padamu!" sentak Louise mencoba menegaskan agar ayahnya mau mendengarkan.
Tuan Horisson mencoba meredam emosi dengan mengatur nafasnya. "Ya sudah apa yang ingin kau katakan?" tanyanya.
"Daddy, Evelyn ada di rumahku," jawab Louise.
"Benarkah? Tapi bagaimana Evelyn bisa ada bersamamu Louise?" tanya tuan Horisson.
Louise lalu menjelaskan tentang asal muasal bagaimana Evelyn bisa ada bersamanya, tuan Horisson merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Louise.
Dan ia berubah geram jika mengingat kekejaman yang pernah dilakukan oleh istrinya kepada Evelyn.
"Oh Grace, kenapa kau tega melakukan hal itu kepada mereka," ucap tuan Horisson dengan wajah kecewanya.
Louise kembali menenangkan emosi ayahnya. "Tenang Daddy, tenangkan dirimu. Aku juga kecewa dengan tindakan Mommy karena tega melakukan hal itu kepada mereka. Padahal ibu Angel telah mengabdi kepada keluarga kita selama puluhan tahun dan Evelyn, dia masih terlalu muda."
"Kau benar Louise, Daddy rasa memberi hukuman untuk mommy mu saja itu tidak cukup. Daddy merasa bersalah sekali kepada keluarga itu, pertama pada suaminya. Daddy tidak ada disaat wanita itu membutuhkan dan Angel berusaha mengobati penyakit suaminya hingga habis-habisan tanpa mengeluh."
"Bahkan uang yang telah ia tabung untuk membeli rumah selama bekerja dirumah kita telah habis digunakan untuk berobat suaminya yang terkena kanker kelenjar getah bening dan setelah Daddy tahu hal itu serta membantunya, akan tetapi nyawa suaminya tetap tidak tertolong, karena terlambat penanganan."
"Dan kali ini, saat ibu Angel dan Evelyn sedang membutuhkan keluarga kita. Tapi apa yang telah kita perbuat padanya, Daddy merasa berdosa sekali," tutur tuan Horisson merasa bersalah.
Ia sampai meneteskan air mata jika mengingat perjuangan ibu Angel semasa hidupnya.
Tuan besar saya merasa tidak enak hati kepada nyonya besar, jadi tolong potong gaji saya saja, untuk mengganti setiap bantuan yang tuan besar berikan saat pemakaman suami saya kemarin.
Tuan besar, biarkan saya mengadopsi bayi ini dan ijinkan saya untuk menjaga dia. Saya berjanji akan merawatnya dengan baik.
Tuan besar, biarkan saya membantu membiayai pendidikan Evelyn. Walau tidak sanggup membayar sepenuhnya, paling tidak setengahnya.
Tuan besar, hutang saya kepada anda sangatlah banyak, mungkin sampai matipun hutang saya tidak akan lunas. Saya takut sekali, tidak bisa melunasinya tepat waktu
Ibu Angel, kenapa kau berkata seperti itu. Kau sudah seperti keluargaku sendiri. Hutang-hutangmu, biarlah jangan terlalu dipikirkan. Kau fokus saja menjaga Evelyn dan juga rumah ini.
Tuan Horisson menghembus nafasnya kasar. "Angel, dia paling tidak suka berhutang budi. Tapi karena kebatasan ekonomi saat merawat suaminya yang sakit parah, mau tidak mau dia jadi terlilit hutang."
"Aku tidak tahu jika dia berhutang dimana-dimana dan saat Daddy tahu, Daddy langsung melunasinya. Akan tetapi, dia malah berniat mengganti semuanya dengan memotong gajinya setiap bulan," ucap tuan Horisson menceritakan sepenggal kisah ibu Angel.
Louise termenung, mendengarkan cerita ayahnya itu. Mungkinkah itu sebabnya ibu Angel sampai sekarang masih belum mempunyai rumah sendiri, mengingat gaji dari kepala pelayan rumah mereka bisa dibilang cukup tinggi.
Punya hutang banyak dimana-mana untuk biaya berobat suaminya yang menderita penyakit serius dan memakan banyak biaya.
Lalu apakah selama ini ibu Angel memang sudah tahu penyakitnya, namun tetap memilih diam karena tidak ingin menambah beban hutangnya lagi kepada keluarga Horisson.
Louise menghela nafasnya. "Daddy, sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita sudah mengetahui siapa sebenarnya Evelyn, apakah kau ingin menyerahkannya kepada Opa Bernadi?"
Tuan Horisson merasa bimbang, bohong saja kalau dia bisa merelakan hal itu sampai terjadi. Karena faktanya ia sudah terlanjur menyayangi Evelyn seperti putri kandungnya sendiri.
"Louise, Daddy masih belum sanggup melepas Evelyn. Selain kita harus mencari kebenaran tentang kecelakaan orang tuanya saat enam belas tahun yang lalu terlebih dahulu, Daddy juga masih punya tanggung jawab yang lain kepadanya," ucap tuan Horisson.
"Tapi Daddy, Opa Bernadi berhak atas Evelyn, karena dia adalah keluarga aslinya dan tanggung jawab apa lagi yang ingin Daddy lakukan?" tanya Louise tidak mengerti.
"Daddy hanya ingin melanjutkan keinginan ibu Angel yang belum kesampaian sampai sekarang, dia ingin sekali melihat Evelyn memakai seragam sekolah. Karena selama ini Evelyn mengeyam pendidikan di rumah secara diam-diam dengan cara home schooling."
"Maafkan Daddy terlalu egois karena mengekangnya agar tidak pergi keluar rumah dan bersekolah di sekolah umum, karena Daddy sangat takut akan ada orang lain yang mengenali Evelyn, jika ia berkeliaran diluar rumah kita."
"Tapi mulai sekarang tidak akan lagi, karena Daddy rasa menyekolahkan Evelyn di sekolah umum itu tidak ada salahnya. Daddy akan membuat pengamanan ketat namun secara diam-diam untuk gadis itu," balas tuan Horisson menyadari.
Louise senang mendengar hal tersebut dan akhirnya ia dapat mengetahui alasan mengapa gadis itu tidak diperbolehkan oleh ayahnya dalam menuntut ilmu di sekolah umum.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Senajudifa
itu si grace dp hukuman apa
2023-03-11
0
Mommy Ghina
menunggu kelanjutannya
2023-01-28
1
Thariq Zh
lanjut thor
2023-01-28
1