Nyonya Grace menghampiri Louise, lalu duduk disisi putranya yang sedang berbaring diatas ranjangnya yang empuk.
Louise yang menyadari kedatangan sang ibu segera bangun dan terduduk. "Mom, kenapa masuk ke dalam kamarku?" tanyanya tidak suka.
Nyonya Grace membelai wajah putranya. "Mommy kangen sama kamu sayang, sudah lama kita tidak berjumpa, oiya besok ada acara penting di kantor Daddy. Jangan sampai tidak datang ya," balasnya mengingatkan.
Louise mendesaah kecil. "Aku sudah tahu Mom, besok aku sudah mulai belajar mengurus perusahaan Daddy."
Nyonya Grace tersenyum. "Benar, tapi bukan itu saja sayang, besok akan ada pengumuman penting mengenaimu disana."
Louise menautkan kedua alisnya. "Pengumuman apa?" tanyanya.
"Daddy akan melamar anak dari keluarga Anderson, rekan kerja bisnis Daddymu sekaligus teman akrabnya semasa kuliah dulu," balas Nyonya Grace.
Louise menggeleng. "Aku bukan anak kecil lagi yang harus di jodohkan dengan seorang wanita asing yang belum aku kenal," balasnya menolak.
Nyonya Grace tersenyum. "Jangan menolak Louise, pikirkanlah bagaimana perusahaan Daddy kedepannya jika kalian bersatu nanti. Lagi pula Gisella gadis yang pintar, baik dan juga cantik. Kau pasti akan menyukainya saat melihat ia nanti," ucapnya merayu.
Louise menghela nafas kasar. "Terserah kalian saja, aku percaya dan akan mengikuti," balasnya malas menanggapi.
Nyonya Grace lantas tersenyum senang, mendengar sang anak telah menyerahkan masa depannya kepada keluarga sendiri.
...***...
Sore harinya.
Suara ria kembali menggema di taman belakang, tatkala seorang gadis kecil bermain kejar-kejaran dengan seorang supir pribadi tuan Horisson yang bernama Santos.
Pria paruh baya itu sangat menyayangi Evelyn dan sudah menganggapnya sebagai putri kandung sendiri, ia bahkan menyempatkan diri untuk bermain sejenak, sebelum atau sesudah bekerja mengantar tuannya.
Louise yang kala itu sedang berada di balkon kamar pun, segera melayangkan pandangannya kepada Evelyn yang sedang bermain.
"Evelyn kena, sekarang kau yang jaga ya!" seru Pak Santos.
Evelyn tertawa geli, hingga mengeluarkan suara kekehannya yang menggemaskan, karena digelitiki oleh Pak Santos tiada henti.
"Sudah jangan gelitiki aku terus Pak Santos!" kekeh Evelyn, sesekali menggeliat kesana kemari sambil memegangi bagian ketiaknya agar tidak digelitiki.
Hal tersebut membuat Louise ikut tertawa. "Suara tawanya lucu sekali," ucapnya menggeleng. Lalu menatap keseruan itu hingga keduanya selesai bermain.
Ada sekelibat bayangan di kepala Louise tentang gadis kecil cantik yang sedang ia perhatikan dari kejauhan. "Masih kecil saja sudah cantik, bagaimana kalau sudah dewasa nanti?" gumamnya lalu menggeleng.
"Cih! Apa yang sedang aku pikirkan, ini pasti karena aku kelamaan tidak bermain dengan wanita."
Louise kemudian memutuskan untuk mencari teman ranjang baru, untuk menunaikan kebiasaan lamanya seperti yang sudah-sudah saat tinggal di luar negeri saat itu.
...----------------...
Keesokan paginya.
Perusahaan Horisson.
Tuan Horisson mengadakan rapat penting, ia mengundang seluruh staf direksi dan juga beberapa tamu terhormat dari pemilik perusahaan lain untuk datang ke acara rapat pentingnya.
Acara tersebut ditujukan untuk memperkenalkan Louise kepada seluruh staf dan juga para tamu undangan yang hadir, serta memberitahu kepada mereka semua jika putranya itulah yang akan menggantikan dirinya suatu saat nanti.
Selain pengumuman penting itu, Tuan Horisson juga melamar langsung putri dari Tuan Anderson yang bernama Gisella untuk Louise putranya.
"Gisella, bagaimana dengan lamaran tuan Horisson tadi. Apa kau menerimanya?" tanya Tuan Anderson kepada putrinya yang malu-malu.
Gisella menatap Louise sekali lagi dan saat itu juga ia mengangguk. "Iya Daddy, aku menyetujuinya," balasnya lalu tertunduk malu kembali.
Semua yang berada disana pun turut bersuka cita, diiringi dengan suara tepukan tangan yang meriah untuk keduanya.
...***...
Mansion Horisson.
Nyonya Grace begitu senang ketika mengetahui jika Louise dan Gisella sudah setuju dengan pernikahan mereka.
Nyonya rumah itu pun langsung mengundang Gisella untuk makan malam bersama dengan anggota keluarganya. Demi bertujuan agar hubungan Louise dengan Gisella bisa semakin dekat.
Louise tersenyum tipis saat melihat Gisella, dipandanginya gadis itu baik-baik dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Penampilan oke, wajah juga oke. Tapi aku tidak suka karena dia begitu kaku seperti kutu buku dan coba saja lihat, apakah dia akan sanggup menghadapiku yang seperti ini?" batin Louise menimbang-nimbang.
Tapi nampaknya Louise tidak mau ambil pusing akan hal tersebut, karena yang terpenting sekarang adalah dia tidak ditekan oleh pertanyaan kapan menikah oleh orang-orang disekitarnya.
Sedangkan Gisella yang ditatap oleh Louise seketika salah tingkah, tidak disangka wanita itu malah jatuh cinta pada pandangan pertamanya.
Akan tetapi melihat Louise yang acuh kepadanya, membuat Gisella ragu-ragu untuk bersapa. "M-maaf kak Louise. Ku dengar dari paman Horisson kalau kau sangat cerdas dan juga terampil, kalau boleh tahu pelajaran apa yang kau sukai selama kuliah?"
Louise menghentikan makan malamnya, rasanya tidak berselera sekali membicarakan pelajaran di meja makan. "Aku menyukai semua pelajaran," balasnya mencoba sabar.
"Kau sangat hebat kalau begitu, lalu pelajaran apa yang menurutmu sulit?" tanya Gisella kembali membuat Louise menatap tajam dirinya.
"Pelajaran yang tersulit adalah belajar mengenai pengalaman hidup dan pelajaran tentang mengerti kebiasaan seseorang. Mommy aku rasa makan malam ini sudah cukup, aku harus kembali ke kamarku."
Gisella lantaa terdiam, saat melihat ekspresi dan juga ucapan Louise ia merasa kalau pria itu tidak menyukai dirinya.
Nyonya Grace yang melihat Gisella sedih pun segera menenangkannya. "Jangan kau masukan ke dalam hati perkataan Louise tadi sayang. Louise memang orang yang seperti itu, mungkin karena dia belum punya pengalaman berpacaran jadi tidak tahu caranya menyenangkan hati wanita. Sudah sekarang lanjutkan kembali makan malammu, setelah ini Tante akan mengajakmu berkeliling di rumah ini."
Gisella tersenyum dan mencoba melupakan kesedihannya. "Kau benar Tante, aku saja yang terlalu bawa perasaan."
Nyonya Grace tersenyum dan membelai rambut Gisella. "Sudah jangan dibahas lagi, mau bagaimana pun kau akan menjadi menantu keluarga Horisson dan seorang menantu di keluarga Horisson tidak boleh kekurangan apapun."
"Terima kasih Tante, tapi apa maksudmu tadi, menantu keluargamu itu tidak boleh kekurangan apapun?" tanya Gisella.
Nyonya Grace membusungkan dadanya. "Benar, kau tidak boleh kekurangan apapun dan kau juga tidak boleh pulang dari sini dengan tangan kosong."
"Jadi?" tanya Gisella lagi.
"Jadi setelah ini, tante akan mengajakmu belanja dan kau bebas membeli apapun yang kau mau. Dan semuanya biar Tante yang bayar," balas Nyonya Grace menegaskan.
Gisella nampak sumringah. "Wah, serius Tante!" seru Gisella.
Nyonya Grace mengulas senyum. "Tentu saja Tante serius, ayo habiskan makan malam ini. Setelah berkeliling rumah, kita pergi ke mall."
Gisella mengangguk. "Baiklah kalau begitu!" serunya bersemangat.
...***...
Sementara itu Louise merebahkan tubuhnya diatas kasur dan menghela nafas panjang.
"Seharusnya aku menolak saja perjodohan ini, sepertinya Gisella tidak akan bisa menjadi wanita yang aku inginkan," gumam Louise.
Namun bagaimana caranya menolak sedangkan dirinya sudah terlanjur menyetujui ikatan hubungan tersebut dengan Gisella sebelumnya.
Louise memejamkan mata dan segera membukanya, sesaat terdengar suara kekehan anak kecil yang sudah tidak asing lagi di telinganga.
Ia pun segera bangkit dari tempat tidur dan kali ini Louise bukan hanya ingin melihat, tapi menghampiri Evelyn untuk bermain bersama dengannya.
...***...
Louise telah sampai di taman tempat Evelyn bermain seperti biasanya, lalu berjongkok dan melihat Evelyn yang sedang asyik mengelus kelinci putih pemberian pak Santos yang berada diatas pangkuannya.
"Kelinci putih kecil yang manis," ucapnya ikut mengelus kelinci Evelyn.
"Ah ada Tuan Paman, kenapa Tuan Paman datang kesini? Kalau nyonya besar tahu, nanti dia marah lagi padaku," ucap Evelyn menjauh.
"Apa nyonya besar memarahimu?" tanya Louise dan Evelyn mengangguk.
"Jangan takut, nanti Tuan Paman akan meminta nyonya besar untuk tidak memarahimu lagi ya." Louise kemudian memangku Evelyn dan saling bercengkrama.
Membuat sepasang mata geram dengan kelakuan tersebut. "Louise! Evelyn!" sentak Nyonya Grace.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
auliasiamatir
jalani aja duku loise, siapa tau bisa jadi teman ranjang 🤣🤣🤣
2023-02-18
1
auliasiamatir
ammpiuuunn Luise
2023-02-18
1
Lina Zascia Amandia
Sy pernah mau pk Visual tp knp ga bisa ya Kak Nov?
2023-01-14
2