Di sebuah supermall.
Gisella menarik tangan Louise agar ikut dengannya ke pusat pameran yang mengadakan pergelaran berlian dan emas yang berada didalam supermall tersebut.
Gisella tanpa malu bergelayut manja pada lengan kekar Louise dan tersenyum kepada semua orang yang menatap mereka berdua, seperti sedang menunjukkan bahwa dirinya memiliki pendamping yang tampan sempurna lagi luar biasa.
Hal itu membuat Louise merasa tidak nyaman, terlebih bagian buah dadaa Gisella sedikit menekan otot lengan kekarnya.
"Gisell, bisakah kau menjauh dariku. Tanganku pegal sekali," ucap Louise mencari alasan.
Gisella segera melepaskan tangannya dari lengan Louise. "Maaf, aku tidak sengaja."
"Tidak apa, sekarang pilihlah cincin pernikahan mana yang ingin kau beli. Setelah itu kita harus kembali ke rumah," ucap Louise tidak ingin berlama-lama bersama dengan Gisella.
"Baiklah," patuh Gisella.
Lalu mereka berdua keliling di dalam pameran tersebut, terlihat sepi karena memang pengunjungnya dibatasi oleh penyelenggara dan sudah pasti dari kalangan masyarakat berkantong tebal.
Tibalah mereka berhenti pada tempat dimana sebuah berlian sedang dijajakan begitu cantik dan indah bagi setiap mata memandang.
Kedua netra Gisella berbinar-binar, lalu tanpa bertanya lagi dia berkata dengan segera. "Aku ingin cincin berlian ini," ucapnya sambil menunjuk-nunjuk sebuah cincin emas putih bertahtahkan berlian besar pada tengahnya.
"Beli saja," ucap Louise kemudian mengambil black cardnya.
Gisella melonjak kegiranga, dia begitu senang sekali, karena sungguh tidak disangka jika Louise sama sekali tidak menolak keinginannya. "Terima kasih Louise," balasnya menggebu.
Louise hanya mengangguk seikhlasnya, kemudian menyerahkan kartu hitamnya itu kepada si karyawati untuk dibuatkan nota pembelian.
Dan selama menunggu proses pembelian, Louise meninggalkan Gisella sejenak. Selain ingin lepas dari gadis yang selalu saja bergelayut manja dilengannya, dia juga ingin melihat-melihat sejenak pergelaran tersebut.
Louise terpaku pada sebuah papan nama yang bertuliskan PT. Indo Berlian Perkasa, dimana ia tahu sejarah menyedihkan tentang keluarga si pemilik Perusahaan.
Dan kebetulan selama pergelaran, sang pemilik ternyata turut hadir demi meramaikan acara pamerannya.
"Silahkan masuk, semua perhiasan disini murni hasil buatan tangan saya. Jadi saya jamin, setiap model perhiasaan buatan saya ini tidak akan ada salinannya di seluruh dunia. Jadi bisa dibilang semua ini satu-satunya didunia," seru seorang kakek tua ikut menjajakan barang dagangannya.
Louise tersenyum, lalu mendekat kearah kakek tua tersebut. "Opa," sapanya hangat.
Opa Bernadi menoleh dan menagap lekat pria muda tampan yang baru saja memanggilnya. "Siapa ya?" tanyanya tidak ingat.
Louise terkekeh, salahnya sendiri menyebut seorang kakek lanjut usia dengan sebutan Opa seperti itu.
Terlebih mereka pernah bertemu saat Louise masih berusia 10 tahun, sudah pasti kakek tua itu tidak memgingat pria yang sedang berdiri dihadapannya.
"Opa Bernadi, aku Louise. Anak dari keluarga Horisson," jawab Louise membuka ingatan sang Kakek.
Opa Bernadi menatap Louise dari ujung kepala, hingga ke ujung kaki. Dia kemudian membulatkan bibirnya.
"Ooh, anaknya Horisson. Dulu kau masih kecil dan sekarang sudah besar dan tampan seperti ini. Pantas saja Opa tidak mengenalimu karena perubahan dirimu yang begitu sempurna," ucap Opa Bernadi terkekeh.
"Opa terlalu memujiku, aku senang sekali bisa melihat Opa dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," ucap Louise bersyukur.
"Ya Opa harus selalu sehat, sampai Opa menemukan penerus yang mampu meneruskan perusahaan Indo Berlian ini," balas Opa Bernadi, ia berubah murung jika mengingat masalah penerus keluarganya.
Karena putra serta menantunya telah tiada sejak lama dan cucu cantik semata wayangnya itu menghilang entah kemana.
Louise merasa tidak enak hati, melihat perubahan mood Opa Bernadi yang terjun bebas. "Maaf Opa, aku tidak bermaksud menyinggung tentang keluargamu. Maafkan aku," ucapnya.
Opa Bernadi tersenyum dan menatap Louise. "Tidak apa Nak, jangan meminta maaf. Itu semua adalah takdir dari Tuhan, sudah menjadi jalan bagu keluarga Opa mengalami itu semua. Opa hanya berharap cucu perempuan Opa bisa ditemukan dan mengetahui keberadaannya sekarang ini," balasnya.
"Amin, ku doakan semoga cucumu bisa ditemukan dan dia dalam keadaan sehat bugar," ucap Louise menenangkan hati Opa Bernadi yang sedih.
"Terima kasih Louise, kau kesini dengan siapa? Apa dengan Horisson Daddy mu?" tanya Opa Bernadi.
"Aku datang bersama dengan seseorang," balas Louise.
"Lelaki atau perempuan?" selidik Opa Bernadi.
"Perempuan," balas Louise.
"Wah, apa dia istrimu?" tanya Opa lagi.
Louise menghela nafasnya. "Masih calon," ucapnya berat.
Opa Bernadi membulatkan bibirnya. "Ternyata kau belum menikah."
"Benar," jawab singkat Louise.
"Jadi kau datang kesini dengannya untuk mencari sesuatu?" tanya Opa Bernadi.
Louise mengangguk kecil. "Iya, kami sedang mencari cincin pernikahan."
"Kalau begitu cobalah lihat yang ini," ucap Opa Bernadi menarik lengan Louise agar ikut dan pria itu langsung terkesima dengan hasil karya buatan Opa Bernadi.
"Apa semua perhiasan ini adalah buatan tanganmu?" tanya Louise takjub.
Opa Bernadi mengangguk. "Iya, walau tidak semua. Tapi ada beberapa perhiasan yang Opa buatkan secara khusus untuk para pelanggan setia Opa," balasnya.
"Indah sekali," ucap Louise berbinar.
"Benar, ada satu lagi kalung yang indah selain ini." ucap Opa Bernadi kemudian kembali sedih.
"Kalung yang lain?" tanya Louise penasaran.
"Iya, kalung yang lain. Kalung yang kubuatkan secara khusus untuk cucuku yang baru saja lahir. Di depan kalung itu ada guratan nama cucuku dan dibelakangnya terukir kepala naga sedang mengigit sebuah berlian berkadar 5 carat."
"Tapi itu sudah lama sekali dan Opa tidak tahu masih dipegang oleh cucu Opa atau sudah hilang diambil oleh orang lain. Tapi selama Opa hiduo mencari kesemua toko, tidak ada satupun yang melihat kalung tersebut," balas Opa.
Louise terdiam cukup lama, mendengar kalung emas dan bernilai cukup tinggi mengingatkan dia akan sesuatu. Dimana perkataan pak Santos kala sedang menjelaskan kenapa Evelyn dipecat dari rumahnya.
Evelyn berusaha mencari uang untuk biaya berobat ibunya dan saya mengantarnya ke Cikini tuan, tapi apa daya kalung yang berharga jual tinggi membuat dia kesulitan menjualnya.
"Opa bolehkah kalau aku melihat contoh kalung milik cucumu itu?" tanya Louise penasaran.
Opa Bernadi tersenyum. "Aku tidak punya fotonya, tapi aku punya sketsa saat membuat kalung itu."
"Boleh kalau aku meminta sketsanya?" ucap Louise meminta.
Opa Bernadi menghela nafas panjang, kemudian menuruti keinginan Louise yang ingin meminta sketsa kalung cucunya yang hilang.
"Terima kasih Opa, aku hanya lihat sebentar. Nanti aku akan kembalikan," ucap Louise.
Opa Bernadi menggeleng. "Tidak perlu, ambil saja sketsa itu. Opa sudah tidak membutuhkannya," balasnya.
"Tapi, bagaimana kalau kau butuh sketsa ini untuk membuat ulang atau membuat salinannya?" tanya Louise.
Opa Bernadi tersenyum. "Semua perhiasan yang Opa buat hanya berjumlah satu buah didunia ini, jadi tidak mungkin ada dua orang yang memiliki kalung dengan motif sama dan mengenai sketsa itu, Opa hapal betul sampai ke detail kecil lainnya."
"Oh, baiklah. Kalau begitu bolehkah aku menyimpannya?" tanya Louise senang.
"Silahkan ambil saja," balas Opa Bernadi.
"Terima kasih," ucap Louise.
"Sama-sama," balas Opa.
...----------------...
Sementara itu di sebuah kamar di rumah pribadi Louise. Evelyn tengah mengamati kalung emas miliknya yang bernilai sangat tinggi.
Gadis itu menghembus nafasnya lembut. "Jika saja kalung ini bisa ku jual kemarin lalu. Mungkin ibuku masih bisa disembuhkan."
Evelyn menaruh kalung itu kembali ke tempat asalnya, dimana dia menaruhnya didalam sebuah kotak kecil di lemari terdalam.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
auliasiamatir
mudah mudahan evelin segera ketemu opa nya, 🥺
2023-04-10
1
Senajudifa
lupa kufavoritkan nov😁😁
2023-03-10
1
Mommy Ghina
kok Tuan Harisson lama banget belum pulang
2023-01-25
1