Keesokan paginya.
Louise masih setia menemani Evelyn yang masih menangis sesunggukkan sambil memeluk gundukan tanah dimana Ibu Angel disemayamkan.
Gadis itu tidak henti-hentinya menangis pilu, terlebih ketika prosesi jenazah ibu Angel mulai dimasukkan ke dalam liang lahat.
Louise menghela nafasnya panjang, sulit sekali rasanya meredakan kesedihan gadis itu. Sebab Evelyn kerap menangis histeris, tak mau ditinggalkan oleh ibu Angel dan ingin menyusul ibunya di tempat peristirahatan terakhir.
Hal tersebut membuat Louise terpaksa memelukinya dengan erat, agar tidak melakukan hal bodoh sepanjang malam di rumah sakit.
Louise kemudian berjongkok dan berusaha membujuk Evelyn agar mau ikut dengannya. Sesuai permintaan serta amanat terakhir dari ibu Angel sebelum wanita paruh baya menghembuskan nafas terakhirnya.
"Evelyn, sudahlah. Kau harus mengikhlaskan kepergian ibumu, karena kalau kau terus menangis seperti ini. Dia juga akan ikut bersedih," ucap Louise membujuk.
Evelyn menggeleng. "Tidak mau, tuan pergilah dari sini. Biarkan aku sendirian disini," tolaknya.
Louse meraup wajahnya kasar dan sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Evelyn yang terus-terusan menolaknya untuk tidak menangis lagi.
Merasa kesabarannya semakin lama semakin menipis, Louise pun terpaksa memaksanya untuk ikut. Pria itu mencengkram pergelangan tangan Evelyn dan menariknya untuk bangun.
"Bangunlah!" titahnya.
"Kau menyakitiku tuan, lepaskan tanganku!" ringis Evelyn menarik lengannya.
"Diam! Sekarang tuan paman tidak ingin kau memberontak lagi atau menolak semua perintah tuan pamanmu ini!" sentak Louise.
Evelyn menghentak kasar tangannya agar terlepas. "Pergilah jangan ganggu aku, aku ingin bersama dengan ibu!" jawabnya menolak.
Louise menghembus nafasnya kasar dan berganti mencengkram kedua bahu gadis itu agar diam. "Jangan menolak lagi, menurutlah. Karena mau bagaimanapun juga, ibumu telah menitipkan dirimu kepada tuan paman. Jadi ikutlah dengan tuan pamanmu ini Evelyn, ucapnya.
Evelyn masih terisak, merasa kesal mengapa sang ibu malah menitipkan dirinya kepada anggota keluarga Horisson.
Karena ia sendiri tidak ingin nerhubungan lagi dengan keluarga itu, apalagi dengan nyonya besarnya. Sebab sifat angkuh dari wanita paruh baya itu yang tega mengusir dan memecatnya dikala sedang membutuhkan uang.
"Sudah jangan banyak berpikir sekarang ikutlah denganku," ucap Louise sambil menarik tangan Evelyn agar mau masuk ke dalam mobil dan ikut bersamanya pulang ke rumah.
...----------------...
Mansion Horisson.
Nyonya Grace begitu cemas, dia sampai mondar-mandir sendiri di dalam rumahnya karena memikirnya Louise yang belum pulang ke rumah. Dan yang lebih membuatnya panik adalah putranya itu tidak memberi kabar sama sekali padanya.
"Oh Louise, ada dimana kamu sekarang sayang. Kenapa sulit sekali menghubungimu," gumam Nyonya Grace begitu cemas.
Wanita paruh baya itu sampai menerjunkan orang-orang kepercayaannya, untuk mencari keberadaan Louise. Namun pria yang dicari tidak kunjung ditemukan dimana-mana tempat.
Nyonya Grace memijat pelipisnya yang berdenyut, karena nomor ponsel pak Santos juga tidak dapat dihubungi. Dia sampai marah besar dan membanting ponselnya itu, karena tidak ada satu orang pun dari sekian banyaknya ajudan yang tahu ada dimana putra tercintanya itu sekarang ini.
"Dasar kalian semua orang-orang pemalas! Saya tidak mau tahu, pokoknya cari tuan muda kalian sampai ketemu dan jangan pulang kesini sampai kalian berhasil menemukannya. Mengerti!" sentak nyonya besar rumah itu.
"Baik nyonya besar!" patuh para ajudannya.
Nyonya Grace merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mendesaah kesal, akibat hilangnya Lpuise. Keluarga Gisella memarahi dirinya.
Kurang baik apa keluarga kami kepadamu nyonya Grace, kami selalu saja memaklumi putramu itu yang suka sekali mengulur-ngulur waktu penting demi alasan yang tidak jelas.
Jika bukan karena Gisella mencintai putramu itu, aku sudah pasti tidak akan melanjutkan hubungan ini. Karena bagaimanapun juga keluarga kami butuh kepastian!
Nyonya Grace membanting vas bunga yang berada di sampingnya hingga hancur berantakan, karena kesal dengan Louise yang tidak memberinya kabar apapun padanya.
"Apa yang membuat Louise mematikan ponselnya dan mengapa dia sampai tidak pulang ke rumah semalaman?" batin nyonya Grace bertanya-tanya.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela nafas, sesekali mengurut kepalanya yang berdenyut. Sambil menunggu orang-orang kepercayaannya datang ke rumah dengan membawa kabar baik.
...----------------...
Sementara itu, Louise membawa Evelyn pulang ke rumah pribadinya. Karena dia tahu jika gadis itu tidak ingin tinggal lagi di rumah utama keluarga Horisson.
Dan setibanya di dalam rumah tersebut, Evelyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap tempat asing bagi dirinya sendiri.
"Ini rumah tuan paman, walau tidak sebesar rumah tuan besar, tapi rumah ini cukup untuk menampung dirimu. Dan yang lebih penting, kau bebas melakukan apapun disini." Louise menjelaskan semua kebingungan Evelyn.
"Kenapa kau membawaku kesini tuan paman?" tanya Evelyn.
"Karena mulai sekarang, kau adalah tanggung jawab tuan paman. Ibumu meminta tuan paman untuk menjagamu dan tuan paman berjanji akan menjaga dan juga mengurusmu dengan baik," jawab Louise.
"Bagaimana jika nyonya besar tau kalau aku sekarang tinggal dirumahmu tuan, dia pasti akan mengusirku lagi. Bisa tidak kalau aku tidak tinggal disini," pinta Evelyn.
Louise menghela nafasnya. "Jangan takut, nyonya besar tidak akan tahu kalau kau sedang tinggal di rumahku ini. Karena dia tidak pernah datang ke rumah yang lebih kecil daripada rumahnya sendiri," balasnya meyakinkan.
Evelyn menatap pak Santos dan pria paruh baya itu mengangguk menyetujui.
"Terima saja permintaan dari tuan muda ya Evelyn, karena dia sedang menjalani amanat dari ibumu. Dan bapak berjanji tidak akan mengadu tentang hal ini kepada nyonya besar," ucap pak Santos.
Evelyn akhirnya terpaksa menyetujui keinginan Louise dan bertekad akan pergi dari rumah itu setelah dirinya dewasa nanti dan bisa hidup mandiri.
Louise tersenyum dan merasa lega karena telah berhasil menyanggupi permintaan terakhir mendiang ibu Angel. Yang memintanya untuk menjaga Evelyn.
"Kau pilih saja kamar mana yang kau suka, nanti akan ada dua orang yang menemanimu disini dan tuan paman juga akan meminta pak Santos agar mengunjungimu setiap hari," ucap Louise.
Evelyn mengangguk. "Baiklah, terima kasih."
"Bagus, sekarang tuan paman harus segera pulang ke rumah dan jika ada sesuatu yang penting beritahu tuan taman ya," balas Louise dan Evelyn mengangguk mengerti.
Louise tersenyum, kemudian memanggil pak Santos. "Pak Santos, selama aku masih sibuk dengan pekerjaan kantor. Kaulah yang ku tugaskan menjaganya sementara waktu dan sempatkan waktu berkunjung kesini juga untuk melihat kondisi Evelyn," titahnya
"Baik tuan muda," balas pak Santos.
Setelah masalah terpecahkan, Louise dan pak Santos pulang kembali ke rumah besar Horisson. Meninggalkan Evelyn sendirian yang tinggal di tempat asing.
"Jangan takut, nanti akan ada orang yang datang kesini untuk menemanimu. Mereka orang-orang baik dan juga orang kepercayaan tuan paman, dilemari pendingin ada beberapa makanan beku. Kau bisa memakannya setelah dihangatkan dan juga beberapa cemilan di dalam sana," ucap perhatian Louise.
Evelyn mengangguk. "Terima kasih," balasnya.
"Tuan Paman harus pergi dan besok akan kesini lagi bersama dengan pak Santos ya," ucap Louise.
"Baik tuan," patuh Evelyn.
Louise memerintahkan kepada security rumahnya itu secara diam-diam untuk menjaga Evelyn agar tidak kabur dari rumahnya. Karena pria itu tahu jika Evelyn masih berusaha melarikan diri darinya.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Siti Mujimah
untung lh Louise punya pemikiran membawa Evelyn ke tempat nya ku pikir mo di bawa LG ke rumah besar nya..kan kasian Evelyn
2023-11-12
1
Yuli Fitria
Baru mampir lagi Kak, maaf ya 🥰
2023-04-20
1
auliasiamatir
bertambah lah nanti kebencian nya pada Eveline
2023-03-12
0