Louise bersama dengan Pak santos bergegas ke rumah ibu Angel untuk mengetahui kondisi kesehatannya serta memastikan keadaan Evelyn sekarang ini.
Louise berharap dapat bertemu dengan keduanya, agar bisa membantu meringankan beban wanita itu, yang sudah mengabdi kepada keluarganya selama puluhan tahun.
Dan disepanjang perjalanannya menuju rumah ibu Angel, Louise tidak henti-hentinya mengumpat kesal.
Karena entah mengapa ia merasa bersalah sekali, ketika menyadari akan sesuatu. Bahwa dirinya tidak bisa membantu hal kecil kepada orang yang selama ini berada disekitarnya.
Tidak pernah sekali dalam hidupnya, ia sampai dilanda rasa kegelisahan seperti ini. Apalagi itu kepada seorang gadis remaja tanggung, bahkan terpaut 16 tahun jauh lebih muda dari usianya.
Louise mendesaah kesal, sesekali memukul dashboard mobilnya hingga mengagetkan pak Santos yang sedang mengemudi.
"Kenapa, kenapa! Kenapa kau tidak bilang padaku, kalau kau bilang, setidaknya aku bisa membantu kalian dan kau tidak akan pergi seperti ini! Dan mommy, kenapa kau begitu tega kepadanya!" racau Louise tidak jelas.
Sedangkan Pak Santos hanya bisa mendengarkan tuan mudanya yang sedang kesal tanpa sempat bertanya, karena memang ia sedang sibuk memperhatikan jalan raya.
...***...
Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa Louise telah sampai di depan pintu kontrakan dimana Ibu Angel tinggal bersama dengan Evelyn.
"Yang ini rumahnya, pak Santos?" tanya Louise menunjuk satu pintu.
"Ya tuan, seingat saya ini rumahnya." balas pak Santos mengingat-ingat.
"Ya sudah, lebih baik kita coba ketuk saja pintunya." Louise berjalan mendekati pintu rumah itu dan mengetuknya.
"Permisi!" Louise tidak lupa memberi salam.
Tak berapa lama kemudian, pintu itupun terbuka. Walau hanya sedikit celah, namun Louise yakin jika yang berada dibalik pintu itu adalah Evelyn. Karena Louise mengenali sorotan sendu dari bola matanya yang kebiruan.
Namun dengan segera Evelyn menutup pintunya lagi, karena tidak ingin menerima siapapun tamu yang datang ke rumahnya, apalagi itu keluarga dari tuan besar Horisson.
Hatinya telah terluka dan batinnya menjadi trauma, mengingat perlakuan nyonya besar yang kasar dan kejam kepadanya.
Dan karena itulah sang ibu akhirnya dibawa pulang ke rumah karena keterbatasan biaya dan sudah tidak sanggup lagi meneruskan pengobatan serta membawanya ke rumah sakit besar khusus pasien penderita penyakit kanker.
"Evelyn ..." panggil lembut Louise kepada seorang gadis muda yang terdengar seperti menangis tersedu-sedu dibalik pintu.
"Evelyn, ini tuan pamanmu. Tolong ijinkan tuan paman untuk masuk," bujuk Louise tiada henti.
"Tidak! Kau bukan tuan pamanku lagi, pergilah dari sini!" sahut Evelyn terdengar serak.
"Evelyn ..." panggil Louise kembali.
"Pergilah!" sahut Evelyn meninggikan suaranya.
Louise tercengang, segitu kecewakah gadis itu hingga berani membentaknya. "Eve---"
"Tuan muda, biar saya saja yang membujuknya." Pak Santos memotong ucapan Louise yang ingin memanggil Evelyn kembali.
"Baiklah," Louise pun mundur dan menyerahkan kepada pak Santos untuk membujuk Evelyn agar mau membuka pintu.
"Evelyn ... Nak, ini Bapak. Maaf bapak tidak ada pilihan lain selain memberitahu masalah ini kepada tuan muda. Tapi Evelyn, tuan muda datang kesini hanya untuk membantumu dan ingin membawa ibu Angel berobat, kau ingin ibumu sembuh bukan? Jadi tolong ijinkanlah tuan muda untuk membawa ibumu ke rumah sakit yang lebih besar," balas pak Santos masih berusaha membujuk.
Dan tak lama setelah itu, usaha pak Santos membuahkan hasil dan Evelyn akhirnya sudi membukakan pintu untuk mereka masuk ke dalam.
"T-tuan ... Pak Santos ... " sahut Evelyn lirih. Lalu segera membalikkan badannya sebentar untuk menyeka air matanya yang masih mengalir.
"Evelyn, bolehkah kita berdua masuk?" tanya Louise meminta ijin dengan sopan dan Evelyn hanya mengangguk mempersilahkan.
"Terima kasih," ucap Louise melangkah masuk, sambil mengedarkan pangangannya ke sekeliling rumah kontrakan tersebut.
...***...
Sementara itu di dalam sebuah kamar berukuran 3 x 2,5 meter, seorang wanita paruh baya sedang berbaring lemah tidak berdaya. Wajahnya nampak pias dan tubuhnya semakin kurus saja.
Dia adalah ibu Angel dan siapapun yang melihat, pasti akan terenyuh dibuatnya. Dan itu sedang dirasakan oleh Louise dan pak Santos yang melihat kondisi terbaru dari sang kepala pelayan di rumah besar tuan Horisson sekarang ini.
Louise menghela nafasnya panjang dan menatap Evelyn yang hanya bisa duduk disamping sang ibu. Tatapannya begitu pasrah, seperti sudah mengikhlaskan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sesekali air matanya masih terlihat menetes, jika mendengar suara rintihan dari sang ibu angkat yang sedang kesakitan.
Evelyn membungkam mulutnya dan tidak ingin bicara dengan siapapun, karena menurutnya itu adalah suatu hal yang sia-sia.
"Pak Santos, ayo kita bawa ibu Angel ke rumah sakit Dharmais. Disana dia bisa mendapatkan perawatan khusus penyakit kanker," ucap Louise memberi perintah.
"Baik tuan muda," jawab pak Santos patuh.
Lalu mereka berdua hendak menggendong tubuh ibu Angel, namun ibu Angel segera menolak.
"Tidak perlu tuan muda," ucapnya lirih.
"Tapi Bu Angel, anda harus segera mendapatkan perawatan. Ayo pak segera bawa ibu Angel," Louise dan pak Santos kembali menggotong, walau mendapat penolakan dari ibu Angel sendiri.
...***...
Setelah ibu Angel berhasil masuk ke dalam mobilnya, Louise segera menghampiri Evelyn yang masih terdiam tak mau bicara.
"Ayo Evelyn, kau juga harus masuk. Ibumu harus segera ditangani," ucap Louise menarik tangan Evelyn.
Dan kali ini gadis remaja itu patuh, karena sebagaimana kecewanya dia kepada keluarga Horisson. Akan tetapi perawatan ibunyalah yang terpenting untuk saat ini.
Dengan langkah cepat Evelyn masuk ke dalam mobil dan mendekap ibunya yang duduk disebelahnya. Sesekali menyelimuti tubuh sang ibu agar tidak kedinginan, karena terkena suhu AC dalam mobil.
"Ayo pak Santos, kita berangkat cepat!" titah Louise.
Pak Santos menangguk. "Baik tuan muda!" patuhnya. Lalu menancap gas menuju rumah sakit pusat kanker Dharmais.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, kedua mata Louise tidak ada henti-hentinya menatap bagian belakang kursinya lewat kaca spion dalam mobil.
Tidak pernah dia melihat Evelyn sesedih ini, karena yang dia tahu, Evelyn adalah gadis yang ceria dan selalu bersemangat. Louise bahkan mengingat suara tawa Evelyn yang begitu nyaring dan sangat menggemaskan.
Tapi kali ini, pria itu seperti melihat sisi lain dari sosok seorang gadis yang ia kenal selama ini, Evelyn begitu rapuh dan tatapannya juga kosong tanpa arti. Seperti cahaya lilin yang temaram.
Louise menghembuskan nafasnya dan meminta Pak Santos untuk mempercepat laju kendaraan, agar bisa sampai ke tempat tujuan dengan tepat waktu.
...----------------...
Rumah sakit Dharmais.
Petugas kesehatan dengan sigap membawa ibu Angel masuk ke dalam ruang perawatan menggunakan brankar.
Evelyn tidak henti-hentinya menangis, ketika melihat kondisi sang ibu tiba-tiba menurun drastis.
Louise yang melihat Evelyn menangis tersedu-sedu pun, jadi ikut merasa sesak. Tanpa banyak berpikir pria itu lalu memeluk Evelyn dan berusaha sebisa mungkin menenangkan kesedihannya.
"Jangan menangis lagi, Ibumu sedang dalam perawatan dan ditangani oleh dokter-dokter ahli. Lebih baik kita berdoa saja untuk kesembuhannya," ucap Louise mendekap erat Evelyn yang sedang menangis didalam pelukannya.
"Tapi dokter bilang ..." ucap lirih Evelyn tidak sanggup melanjutkan. Karena penuturan sang dokter, harapan hidup ibu Angel kini dibawah 20 persen.
Itu disebabkan karena usianya yang sudah berumur dan telatnya penanganan awal menjadikan ibu Angel mengalami masa kritis.
Kankernya pun sudah menyebar dan menyerang organ-organ penting lainnya, ibu Angel juga mengalami anemia akut, akibat trombosit dalam darah yang tiba-tiba turun secara drastis.
...***...
30 menit kemudian.
Louise tiba-tiba dipanggil oleh sang dokter agar masuk ke dalam kamar rawat, ketika ibu Angel mulai menunjukkan kesadaran walau masih begitu lemah. Pria itu termangu sejenak, sesaat melihat kondisi ibu Angel yang begitu memprihatinkan.
Dengan sigap Louise duduk di sisi Ibu Angel disaat wanita paruh baya itu memanggilnya Walau hanya dengan lambaian tangan yang ringkih.
"T-tuan ..." lirih Ibu Angel.
"Iya Bu Angel, kau ingin bilang apa? Katakan saja padaku," jawab Louise.
"T-tolong jaga putriku ...." pinta ibu Angel dengan sisa nafas terakhirnya.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Siti Mujimah
sediihhh untuk Evelyn 😭😭😭😭
2023-11-12
1
auliasiamatir
😭😭😭😭😭😭😭
2023-03-04
1
Nana
krj puluhan thn tp tdk punya duit ....trus gaji'y di kemana'in.....nyekolahin ank jg tdk....mkn tdr gratis dari majikan
2023-01-26
2