Bab 12. Membawa ke rumah sakit.

Louise bersama dengan Pak santos bergegas ke rumah ibu Angel untuk mengetahui kondisi kesehatannya serta memastikan keadaan Evelyn sekarang ini.

Louise berharap dapat bertemu dengan keduanya, agar bisa membantu meringankan beban wanita itu, yang sudah mengabdi kepada keluarganya selama puluhan tahun.

Dan disepanjang perjalanannya menuju rumah ibu Angel, Louise tidak henti-hentinya mengumpat kesal.

Karena entah mengapa ia merasa bersalah sekali, ketika menyadari akan sesuatu. Bahwa dirinya tidak bisa membantu hal kecil kepada orang yang selama ini berada disekitarnya.

Tidak pernah sekali dalam hidupnya, ia sampai dilanda rasa kegelisahan seperti ini. Apalagi itu kepada seorang gadis remaja tanggung, bahkan terpaut 16 tahun jauh lebih muda dari usianya.

Louise mendesaah kesal, sesekali memukul dashboard mobilnya hingga mengagetkan pak Santos yang sedang mengemudi.

"Kenapa, kenapa! Kenapa kau tidak bilang padaku, kalau kau bilang, setidaknya aku bisa membantu kalian dan kau tidak akan pergi seperti ini! Dan mommy, kenapa kau begitu tega kepadanya!" racau Louise tidak jelas.

Sedangkan Pak Santos hanya bisa mendengarkan tuan mudanya yang sedang kesal tanpa sempat bertanya, karena memang ia sedang sibuk memperhatikan jalan raya.

...***...

Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa Louise telah sampai di depan pintu kontrakan dimana Ibu Angel tinggal bersama dengan Evelyn.

"Yang ini rumahnya, pak Santos?" tanya Louise menunjuk satu pintu.

"Ya tuan, seingat saya ini rumahnya." balas pak Santos mengingat-ingat.

"Ya sudah, lebih baik kita coba ketuk saja pintunya." Louise berjalan mendekati pintu rumah itu dan mengetuknya.

"Permisi!" Louise tidak lupa memberi salam.

Tak berapa lama kemudian, pintu itupun terbuka. Walau hanya sedikit celah, namun Louise yakin jika yang berada dibalik pintu itu adalah Evelyn. Karena Louise mengenali sorotan sendu dari bola matanya yang kebiruan.

Namun dengan segera Evelyn menutup pintunya lagi, karena tidak ingin menerima siapapun tamu yang datang ke rumahnya, apalagi itu keluarga dari tuan besar Horisson.

Hatinya telah terluka dan batinnya menjadi trauma, mengingat perlakuan nyonya besar yang kasar dan kejam kepadanya.

Dan karena itulah sang ibu akhirnya dibawa pulang ke rumah karena keterbatasan biaya dan sudah tidak sanggup lagi meneruskan pengobatan serta membawanya ke rumah sakit besar khusus pasien penderita penyakit kanker.

"Evelyn ..." panggil lembut Louise kepada seorang gadis muda yang terdengar seperti menangis tersedu-sedu dibalik pintu.

"Evelyn, ini tuan pamanmu. Tolong ijinkan tuan paman untuk masuk," bujuk Louise tiada henti.

"Tidak! Kau bukan tuan pamanku lagi, pergilah dari sini!" sahut Evelyn terdengar serak.

"Evelyn ..." panggil Louise kembali.

"Pergilah!" sahut Evelyn meninggikan suaranya.

Louise tercengang, segitu kecewakah gadis itu hingga berani membentaknya. "Eve---"

"Tuan muda, biar saya saja yang membujuknya." Pak Santos memotong ucapan Louise yang ingin memanggil Evelyn kembali.

"Baiklah," Louise pun mundur dan menyerahkan kepada pak Santos untuk membujuk Evelyn agar mau membuka pintu.

"Evelyn ... Nak, ini Bapak. Maaf bapak tidak ada pilihan lain selain memberitahu masalah ini kepada tuan muda. Tapi Evelyn, tuan muda datang kesini hanya untuk membantumu dan ingin membawa ibu Angel berobat, kau ingin ibumu sembuh bukan? Jadi tolong ijinkanlah tuan muda untuk membawa ibumu ke rumah sakit yang lebih besar," balas pak Santos masih berusaha membujuk.

Dan tak lama setelah itu, usaha pak Santos membuahkan hasil dan Evelyn akhirnya sudi membukakan pintu untuk mereka masuk ke dalam.

"T-tuan ... Pak Santos ... " sahut Evelyn lirih. Lalu segera membalikkan badannya sebentar untuk menyeka air matanya yang masih mengalir.

"Evelyn, bolehkah kita berdua masuk?" tanya Louise meminta ijin dengan sopan dan Evelyn hanya mengangguk mempersilahkan.

"Terima kasih," ucap Louise melangkah masuk, sambil mengedarkan pangangannya ke sekeliling rumah kontrakan tersebut.

...***...

Sementara itu di dalam sebuah kamar berukuran 3 x 2,5 meter, seorang wanita paruh baya sedang berbaring lemah tidak berdaya. Wajahnya nampak pias dan tubuhnya semakin kurus saja.

Dia adalah ibu Angel dan siapapun yang melihat, pasti akan terenyuh dibuatnya. Dan itu sedang dirasakan oleh Louise dan pak Santos yang melihat kondisi terbaru dari sang kepala pelayan di rumah besar tuan Horisson sekarang ini.

Louise menghela nafasnya panjang dan menatap Evelyn yang hanya bisa duduk disamping sang ibu. Tatapannya begitu pasrah, seperti sudah mengikhlaskan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sesekali air matanya masih terlihat menetes, jika mendengar suara rintihan dari sang ibu angkat yang sedang kesakitan.

Evelyn membungkam mulutnya dan tidak ingin bicara dengan siapapun, karena menurutnya itu adalah suatu hal yang sia-sia.

"Pak Santos, ayo kita bawa ibu Angel ke rumah sakit Dharmais. Disana dia bisa mendapatkan perawatan khusus penyakit kanker," ucap Louise memberi perintah.

"Baik tuan muda," jawab pak Santos patuh.

Lalu mereka berdua hendak menggendong tubuh ibu Angel, namun ibu Angel segera menolak.

"Tidak perlu tuan muda," ucapnya lirih.

"Tapi Bu Angel, anda harus segera mendapatkan perawatan. Ayo pak segera bawa ibu Angel," Louise dan pak Santos kembali menggotong, walau mendapat penolakan dari ibu Angel sendiri.

...***...

Setelah ibu Angel berhasil masuk ke dalam mobilnya, Louise segera menghampiri Evelyn yang masih terdiam tak mau bicara.

"Ayo Evelyn, kau juga harus masuk. Ibumu harus segera ditangani," ucap Louise menarik tangan Evelyn.

Dan kali ini gadis remaja itu patuh, karena sebagaimana kecewanya dia kepada keluarga Horisson. Akan tetapi perawatan ibunyalah yang terpenting untuk saat ini.

Dengan langkah cepat Evelyn masuk ke dalam mobil dan mendekap ibunya yang duduk disebelahnya. Sesekali menyelimuti tubuh sang ibu agar tidak kedinginan, karena terkena suhu AC dalam mobil.

"Ayo pak Santos, kita berangkat cepat!" titah Louise.

Pak Santos menangguk. "Baik tuan muda!" patuhnya. Lalu menancap gas menuju rumah sakit pusat kanker Dharmais.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, kedua mata Louise tidak ada henti-hentinya menatap bagian belakang kursinya lewat kaca spion dalam mobil.

Tidak pernah dia melihat Evelyn sesedih ini, karena yang dia tahu, Evelyn adalah gadis yang ceria dan selalu bersemangat. Louise bahkan mengingat suara tawa Evelyn yang begitu nyaring dan sangat menggemaskan.

Tapi kali ini, pria itu seperti melihat sisi lain dari sosok seorang gadis yang ia kenal selama ini, Evelyn begitu rapuh dan tatapannya juga kosong tanpa arti. Seperti cahaya lilin yang temaram.

Louise menghembuskan nafasnya dan meminta Pak Santos untuk mempercepat laju kendaraan, agar bisa sampai ke tempat tujuan dengan tepat waktu.

...----------------...

Rumah sakit Dharmais.

Petugas kesehatan dengan sigap membawa ibu Angel masuk ke dalam ruang perawatan menggunakan brankar.

Evelyn tidak henti-hentinya menangis, ketika melihat kondisi sang ibu tiba-tiba menurun drastis.

Louise yang melihat Evelyn menangis tersedu-sedu pun, jadi ikut merasa sesak. Tanpa banyak berpikir pria itu lalu memeluk Evelyn dan berusaha sebisa mungkin menenangkan kesedihannya.

"Jangan menangis lagi, Ibumu sedang dalam perawatan dan ditangani oleh dokter-dokter ahli. Lebih baik kita berdoa saja untuk kesembuhannya," ucap Louise mendekap erat Evelyn yang sedang menangis didalam pelukannya.

"Tapi dokter bilang ..." ucap lirih Evelyn tidak sanggup melanjutkan. Karena penuturan sang dokter, harapan hidup ibu Angel kini dibawah 20 persen.

Itu disebabkan karena usianya yang sudah berumur dan telatnya penanganan awal menjadikan ibu Angel mengalami masa kritis.

Kankernya pun sudah menyebar dan menyerang organ-organ penting lainnya, ibu Angel juga mengalami anemia akut, akibat trombosit dalam darah yang tiba-tiba turun secara drastis.

...***...

30 menit kemudian.

Louise tiba-tiba dipanggil oleh sang dokter agar masuk ke dalam kamar rawat, ketika ibu Angel mulai menunjukkan kesadaran walau masih begitu lemah. Pria itu termangu sejenak, sesaat melihat kondisi ibu Angel yang begitu memprihatinkan.

Dengan sigap Louise duduk di sisi Ibu Angel disaat wanita paruh baya itu memanggilnya Walau hanya dengan lambaian tangan yang ringkih.

"T-tuan ..." lirih Ibu Angel.

"Iya Bu Angel, kau ingin bilang apa? Katakan saja padaku," jawab Louise.

"T-tolong jaga putriku ...." pinta ibu Angel dengan sisa nafas terakhirnya.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Siti Mujimah

Siti Mujimah

sediihhh untuk Evelyn 😭😭😭😭

2023-11-12

1

auliasiamatir

auliasiamatir

😭😭😭😭😭😭😭

2023-03-04

1

Nana

Nana

krj puluhan thn tp tdk punya duit ....trus gaji'y di kemana'in.....nyekolahin ank jg tdk....mkn tdr gratis dari majikan

2023-01-26

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Bayi Evelyn.
2 Bab 2. Evelyn kecil.
3 Bab 3. Lamaran Tuan Horisson.
4 Bab 4. Hanya seorang anak pembantu.
5 Bab 5. Mulai mengajari Evelyn.
6 Bab 6. Menerka.
7 Bab 7. Leukositosis.
8 Bab 8. Harga sebuah kalung.
9 Bab 9. Pergi tanpa ijin.
10 Iklan sejenak
11 Bab 10. Pecat!
12 Bab 11. Mencari Evelyn.
13 Bab 12. Membawa ke rumah sakit.
14 Bab 13. Kepergian ibu Angel.
15 Bab 14. Membawa pulang.
16 Bab 15. Kak Selvi dan Mika.
17 Bab 16. Pameran berlian
18 Bab 17. Mencocokkan.
19 bab 18. Sebuah kebenaran.
20 Bab 19. Sepenggal kisah
21 Bab 20. Mengadu
22 Bab 21. Anak pembantu milik tuan muda.
23 Bab 22. Pembatalan pernikahan.
24 Bab 23. Sanksi tegas.
25 Bab 24. Guru Les
26 Bab 25. Hanya pria kotor.
27 Bab 26. Menginap di puncak.
28 Bab 27. Kembali pulang.
29 Bab 28. Menjenguk.
30 Bab 29. Rahasia besar Louise.
31 Bab 30. Tersesat.
32 Bab 31. Menemukan.
33 Bab 32. Dimarahi habis-habisan
34 Bab 33. Malam pertama Gisella
35 Bab 34. Keberuntungan Gisella
36 Bab 35. Mengerjai Gisella
37 Bab 36. Pergi
38 Bab 37. Terus mencari.
39 Bab 38. Mendadak pulang.
40 Bab 39. Menyebut ciri-ciri
41 Bab 40. Tertangkap.
42 Bab 41. Menggoyahkan pendirian
43 Bab 42. Jujur dan mengakui
44 Bab 43. Membujuk.
45 Bab 44. Pertengkaran.
46 Bab 45. Selamat tinggal.
47 Bab 46. Lima tahun kemudian
48 Bab 47. Telah sampai.
49 Bab 48. Ikut menyusul
50 Bab 49. Siapa dia?
51 Bab 50. Wanita misterius.
52 Bab 51. Tidak menyangka.
53 Bab 52. Terjatuh.
54 Bab 53. Terpana.
55 Bab 54. Jatuh ke kolam renang.
56 Bab 55. Terpaksa.
57 Bab 56. Anak pembantu milikku.
58 Bab 57. Perjanjian.
59 Bab 58. Menunggumu kembali.
60 Bab 59. Hari kelulusan.
61 Bab 60. Menagih janji.
62 Bab 61. Memberontak.
63 Bab 62. Meminta ijin.
64 Bab 63. Kematian Anthoni.
65 Bab 64. Memberi pengertian.
66 Bab 65. Keinginan Nyonya Merry
67 Bab 66. Terhipnotis.
68 Bab 67. Kecurigaan Gisella.
69 Bab 68. Ingin bercerai
70 Bab 69. Memijat.
71 Bab 70. Nonton bioskop.
72 Bab 71. Biang kerok.
73 Bab 72. Kakak perempuannya Steve.
74 Bab 73. Kehamilan Gisella.
75 Bab 74. Amarah Evelyn.
76 Bab 75. Permintaan Evelyn.
77 Bab 76. Penyesalan Opa Bernadi
78 Bab 77. Kecemburuan Louise.
79 Bab 78. Kesedihan Evelyn.
80 Bab 79. Menyadari.
81 Bab 80. Perdebatan Louise dengan Steve.
82 Bab 81. Berganti kepemimpinan.
83 Bab 82. Mengambil alih.
84 Bab 83. Tes DNA
85 Bab 84. Menolak membiayai
86 Bab 85. Tidak ada pilihan.
87 Bab 86. Kesulitan Ekonomi.
88 Bab 87. Upaya Gisella.
89 Bab 88. Sisi gelap Steve.
90 Bab 89. Kenyataan pahit.
91 Bab 90. Pertolongan Louise.
92 Bab 91. Mengangkat kasus lama
93 Bab 92. Perhatian Evelyn.
94 Bab 93. Pembacaan tuntutan.
95 Bab 94. Perdebatan panas.
96 Bab 95. Tersadar.
97 Bab 96. Memenangkan kasus
98 Bab 97. Cerai.
99 Bab 98. Karyawan sekaligus pembantu.
100 Bab 99. Akan menikahi.
101 Bab 100. Menghindar.
102 Bab 101. Kedatangan Steve.
103 Bab 102. Lampu Hijau.
104 Bab 103. Bebas.
105 Bab 104. Pacaran.
106 Bab 105. Pergi dua bulan.
107 Bab 106. Hasutan Steve.
108 Bab 107. Mengambil foto
109 Bab 108. Pulang mendadak
110 Bab 109. Berdebat.
111 bab 110. Membuat perhitungan.
112 Bab 111. Jangan pergi.
113 Bab 112. Pesona ketampanan Louise
114 Bab 113. Mahkota yang hilang.
115 Bab 114. Sakit.
116 Bab 115. Hari pernikahan.
117 Bab 116. Malam pertama (21 plus)
118 Bab 117. Kecebong lincah.
119 Bab 118. Kedatangan Tuan dan Nyonya besar
120 Bab 119. Pernikahan Ken dan Selvi.
121 Pengumuman novel baru.
122 Bab 120. Akhir cerita (Tamat)
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Bab 1. Bayi Evelyn.
2
Bab 2. Evelyn kecil.
3
Bab 3. Lamaran Tuan Horisson.
4
Bab 4. Hanya seorang anak pembantu.
5
Bab 5. Mulai mengajari Evelyn.
6
Bab 6. Menerka.
7
Bab 7. Leukositosis.
8
Bab 8. Harga sebuah kalung.
9
Bab 9. Pergi tanpa ijin.
10
Iklan sejenak
11
Bab 10. Pecat!
12
Bab 11. Mencari Evelyn.
13
Bab 12. Membawa ke rumah sakit.
14
Bab 13. Kepergian ibu Angel.
15
Bab 14. Membawa pulang.
16
Bab 15. Kak Selvi dan Mika.
17
Bab 16. Pameran berlian
18
Bab 17. Mencocokkan.
19
bab 18. Sebuah kebenaran.
20
Bab 19. Sepenggal kisah
21
Bab 20. Mengadu
22
Bab 21. Anak pembantu milik tuan muda.
23
Bab 22. Pembatalan pernikahan.
24
Bab 23. Sanksi tegas.
25
Bab 24. Guru Les
26
Bab 25. Hanya pria kotor.
27
Bab 26. Menginap di puncak.
28
Bab 27. Kembali pulang.
29
Bab 28. Menjenguk.
30
Bab 29. Rahasia besar Louise.
31
Bab 30. Tersesat.
32
Bab 31. Menemukan.
33
Bab 32. Dimarahi habis-habisan
34
Bab 33. Malam pertama Gisella
35
Bab 34. Keberuntungan Gisella
36
Bab 35. Mengerjai Gisella
37
Bab 36. Pergi
38
Bab 37. Terus mencari.
39
Bab 38. Mendadak pulang.
40
Bab 39. Menyebut ciri-ciri
41
Bab 40. Tertangkap.
42
Bab 41. Menggoyahkan pendirian
43
Bab 42. Jujur dan mengakui
44
Bab 43. Membujuk.
45
Bab 44. Pertengkaran.
46
Bab 45. Selamat tinggal.
47
Bab 46. Lima tahun kemudian
48
Bab 47. Telah sampai.
49
Bab 48. Ikut menyusul
50
Bab 49. Siapa dia?
51
Bab 50. Wanita misterius.
52
Bab 51. Tidak menyangka.
53
Bab 52. Terjatuh.
54
Bab 53. Terpana.
55
Bab 54. Jatuh ke kolam renang.
56
Bab 55. Terpaksa.
57
Bab 56. Anak pembantu milikku.
58
Bab 57. Perjanjian.
59
Bab 58. Menunggumu kembali.
60
Bab 59. Hari kelulusan.
61
Bab 60. Menagih janji.
62
Bab 61. Memberontak.
63
Bab 62. Meminta ijin.
64
Bab 63. Kematian Anthoni.
65
Bab 64. Memberi pengertian.
66
Bab 65. Keinginan Nyonya Merry
67
Bab 66. Terhipnotis.
68
Bab 67. Kecurigaan Gisella.
69
Bab 68. Ingin bercerai
70
Bab 69. Memijat.
71
Bab 70. Nonton bioskop.
72
Bab 71. Biang kerok.
73
Bab 72. Kakak perempuannya Steve.
74
Bab 73. Kehamilan Gisella.
75
Bab 74. Amarah Evelyn.
76
Bab 75. Permintaan Evelyn.
77
Bab 76. Penyesalan Opa Bernadi
78
Bab 77. Kecemburuan Louise.
79
Bab 78. Kesedihan Evelyn.
80
Bab 79. Menyadari.
81
Bab 80. Perdebatan Louise dengan Steve.
82
Bab 81. Berganti kepemimpinan.
83
Bab 82. Mengambil alih.
84
Bab 83. Tes DNA
85
Bab 84. Menolak membiayai
86
Bab 85. Tidak ada pilihan.
87
Bab 86. Kesulitan Ekonomi.
88
Bab 87. Upaya Gisella.
89
Bab 88. Sisi gelap Steve.
90
Bab 89. Kenyataan pahit.
91
Bab 90. Pertolongan Louise.
92
Bab 91. Mengangkat kasus lama
93
Bab 92. Perhatian Evelyn.
94
Bab 93. Pembacaan tuntutan.
95
Bab 94. Perdebatan panas.
96
Bab 95. Tersadar.
97
Bab 96. Memenangkan kasus
98
Bab 97. Cerai.
99
Bab 98. Karyawan sekaligus pembantu.
100
Bab 99. Akan menikahi.
101
Bab 100. Menghindar.
102
Bab 101. Kedatangan Steve.
103
Bab 102. Lampu Hijau.
104
Bab 103. Bebas.
105
Bab 104. Pacaran.
106
Bab 105. Pergi dua bulan.
107
Bab 106. Hasutan Steve.
108
Bab 107. Mengambil foto
109
Bab 108. Pulang mendadak
110
Bab 109. Berdebat.
111
bab 110. Membuat perhitungan.
112
Bab 111. Jangan pergi.
113
Bab 112. Pesona ketampanan Louise
114
Bab 113. Mahkota yang hilang.
115
Bab 114. Sakit.
116
Bab 115. Hari pernikahan.
117
Bab 116. Malam pertama (21 plus)
118
Bab 117. Kecebong lincah.
119
Bab 118. Kedatangan Tuan dan Nyonya besar
120
Bab 119. Pernikahan Ken dan Selvi.
121
Pengumuman novel baru.
122
Bab 120. Akhir cerita (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!