Bab 13. Kepergian ibu Angel.

"T-tuan ..." lirih Ibu Angel.

"Iya Bu Angel, kau ingin bilang apa? Katakan saja padaku," jawab Louise sambil menggenggam erat tangan ibu Angel.

"Evelyn ... T-tolong jaga putriku ...." pinta ibu Angel dengan sisa nafas terakhirnya.

Louise mengangguk cepat. "Iya aku akan menjaganya, tapi tolong sembuhlah untuknya. Dia sedang menunggumu agar bisa pulang ke rumah bersamanya."

Ibu Angel menggeleng samar, terlihat buliran bening mengalir perlahan dari ujung ekor matanya. Dan tak lama setelah itu, ia mengalami kejang-kejang dan sesak nafas.

Louise pun panik. "Dokter, Suster! Tolong dia!" pekiknya segera memanggil siapapun petugas kesehatan yang berada disana.

"Maaf tuan, tolong menyingkir sebentar. Biar kami periska keadaan pasiennya," pinta sang Dokter dan Louise mengerti, lalu menarik diri dan berdiri disisi lain.

Pria itu begitu cemas, terlebih melihat kondisi tubuh ibu Angel yang semakin melemah dan mulai menolak makanan masuk serta berbagai macam obat lainnya.

Sesekali Louise menelan ludahnya yang tercekat, ketika melihat seseorang sedang berjuang menghadapi sakaratul maut, tepat didepan matanya sendiri.

Louise menutup mulutnya dengan satu tangan yang terkepal dan memalingkan wajahnya segera, karena merasa tidak sanggup melihat kejadian mengerikan tersebut.

Lalu, tak berselang lama kemudian, ibu Angel menghembuskan nafasnya yang terakhir dan Dokter pun menyatakan jika wanita paruh baya itu telah meninggal dunia.

Louise menghembus nafasnya kasar dan meraup wajahnya dengan kedua tangan, begitu sedih rasanya kehilangan orang yang sudah kita kenal selama ini.

Tapi bagaimana dengan Evelyn, gadis itu sudah pasti lebih sedih daripada dirinya.

Louise menghela nafasnya panjang, lalu menghampiri Evelyn yang sedang berdiri membeku di depan pintu kamar mayat, dimana Ibu Angel sedang dimandikan.

Ia berdiri sendirian, tanpa sanak keluarga yang datang menemani. Ataupun seseorang yang dapat membantu meringankan kesedihan hatinya.

Gadis itu terlihat sedih dan Louise yakin, jika hati Evelyn saat ini sedang hancur. Ia bahkan seperti bom waktu, yang siap meledakkan tangisannya kapan saja.

"Evelyn," panggil lembut Louise.

Evelyn menoleh dan tersenyum. "Tuan paman, lihatlah disana. Ibuku baru saja selesai mandi dan dia sedang memakai baju baru," balasnya terdengar lirih.

Louise terkesiap, perkataan Evelyn tersebut nyatanya mampu meluluh lantahkan isi hatinya dalam sekejap.

"Evelyn, sadarlah. Ibu Angel sudah tiada, dia tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini," ucap Louise menyadarkan.

Evelyn menggeleng. "Tidak, ibuku masih hidup. Dia sudah berjanji akan selalu bersama denganku, bahkan dia juga sudah berjanji akan mengajakku jalan-jalan ke supermall," balasnya menolak kenyataan yang ada.

Louise berusaha menelan ludahnya yang tercekat, mau bagaimanapun sulitnya. Ia harus terus berusaha menyadarkan Evelyn, karena jika tidak, maka gadis itu bisa saja kehilangan kewarasannya.

Louise menangkup kedua sisi wajah Evelyn dan menatap tajam matanya. "Evelyn, lihat tuan pamanmu ini! Sadarlah, ibumu sudah pergi dari dunia ini dan kau harus mengikhlaskannya!"

Evelyn menggeleng cepat. "T-tidak, kau salah tuan paman. Ibuku baik-baik saja," balasnya dengan tatapan sendu.

"Kau yang salah Evelyn! Sekarang lihatlah baik-baik ibumu itu! Dia sudah tertutup kain putih! Dia telah tiada, ibumu telah tiada dan kau harus menerima kenyataan itu!" sentak Louise dan Evelyn pun terperanjat.

Seketika itu pula kesadarannya kembali, lalu menatap ibu Angel yang sudah tertutup kain putih dan siap untuk dimakamkan.

Gadis itu terdiam cukup lama, sambil membulatkan kedua matanya dan menatap jenazah sang ibu angkat yang sudah terbujur kaku diatas brankar. "I-ibu ..." lirihnya mulai meneteskan air mata.

Louise kembali menangkup kedua sisi wajah Evelyn dan menatap lekat kedua bola mata yang sudah memerah itu. "Evelyn, jangan ditahan. Jika kau ingin menangis, maka menangislah sepuas hatimu dan lepaskan saja semua beban dihatimu itu."

Evelyn memejamkan kedua matanya dengan tangan memegang dadanya yang sesak, gadis itu tahu jika ibunya telah tiada. Tapi apalah daya, ia belum bisa menerima itu semua.

"Ibu!" pekik Evelyn dan dia mulai menangis histeris.

Louise yang kala itu masih berdiri dihadapannya pun, dengan segera menarik Evelyn agar masuk ke dalam pelukannya. Karena dia tahu, gadis itu sedang butuh seseorang untuk bisa menumpahkan semua rasa kesedihannya.

"Tuan, ibuku sudah tiada. Tapi kenapa dia meninggalkanku secepat ini," lirih Evelyn terisak.

Dia bahkan tanpa malu lagi, membenamkan wajahnya pada dada berotot milik tuan pamannya itu, sesekali mencengkram kuat kemeja baju tuannya hingga lusuh tidak beraturan.

Louise hanya memejamkan kedua matanya, tidak banyak kata yang bisa dia ucapkan untuk saat ini. Namun Louise yakin, sebuah pelukan serta sentuhan hangat pada punggung gadis itu dapat membantu meringankan sedikit rasa kesedihannya.

Louise semakin mengeratkan pelukannya itu, dikala Evelyn mulai kalap dan menangis sejadi-jadinya. Karena dia sendiri tahu, kalau kondisi tersebut adalah normal, pada seseorang yang sedang mengalami guncangan hebat dalam hidup.

Yaitu kehilangan orang yang dicintai.

"Teruslah menangis Evelyn dan tumpahkan saja semua kesedihan serta kemarahanmu itu kepada tuan paman," bisik lembut Louise memaklumi semua perlakuan Evelyn yang menangis, sesekali memukuli dadanya karena marah.

Pria itu bahkan mengabaikan selulernya yang bergetar sejak dari tadi dan memilih untuk mematikannya sejenak, demi menjadikan dirinya sebagai tempat bagi Evelyn, agar bisa meluapkan semua kesedihkannya itu tanpa gangguan darimanapun juga.

...----------------...

Sementara itu Gisella nampak kesal, karena ia tidak dapat menghubungi nomor Louise berkali-kali.

"Kemana dia, kenapa nomornya tidak aktif?" gumam Gisella bertanya-tanya.

Lalu wanita cantik itu pun mencoba menghubungi nyonya Grace untuk menanyakan keberadaan Louise sekarang ini.

"Iya Gisella sayang, ada apa menghubungi tante? Apa kau dan Louise sudah mendapatkan cincin pernikahan kalian?" tanya nyonya Grace nampak senang dalam panggilan seluler itu.

"Tante, jangankan membeli cincin pernikahan. Louise bahkan belum menunjukkan batang hidungnya disini," balas Gisella dengan suara sedihnya.

"Kamu bilang apa sayang, Louise sudah pergi dari tadi dan itu berarti dia pasti sudah sampai ke rumahmu. Apa kamu sudah menghubungi ponsel Louise?" tanya Nyonya Grace.

"Itulah masalahnya tante, nomor Louise tidak aktif dari tadi. Dan aku tidak tahu dia ada dimana dan sedang apa dia sekarang," balas Gisella.

"Ah masa sih," ucap nyonya Grace tidak percaya

"Benar Tante, Gisell tidak berbohong. Kalau tidak percaya tante coba hubungi Louise," ucap Grace mulai merajuk.

"Ya sudah jangan sedih dan khawatir ya, biar tante yag coba menghubungi Louise dan memintanya untuk segera menjemput kamu," balas nyonya Grace menenangkan.

"Baik tante, jika sudah berhasil menghubungi Louise. Bilang padanya kalau Gisell sudah menunggunya," balas Gisella.

"Tentu sayang, bagaimanapun juga kau menantu keluarga kami. Tidak akan tante biarkan menantu tante sedih seperti itu," ucap nyonya Grace menenangkan.

"Baik tante, terima kasih." ucap Gisella.

"Sama-sama sayang, love you." Nyonya Grace menutup panggilannya dengan Gisella.

Kemudian beralih menghubungi nomor ponsel Louise dan dirinya dibuat gemas, karena nomor putranya itu tidak dapat dihubungi.

"Oh Louise, kau ada dimana sekarang. Kenapa nomormu tidak aktif? Ayolah sayang, angkat telepon dari Mommy. Kalau tidak Gisella pasti akan sedih," gumam nyonya Grace sambil terus mencoba menghubungi Louise.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Naira Anggraeni

Naira Anggraeni

sedihhh nya jadi evelyn😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧

2025-02-09

0

Siti Mujimah

Siti Mujimah

nyeseeek jd Evelyn 😭😭😭🤧🤧🤧

2023-11-12

1

Senajudifa

Senajudifa

biar aja gisela sedih

2023-03-08

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Bayi Evelyn.
2 Bab 2. Evelyn kecil.
3 Bab 3. Lamaran Tuan Horisson.
4 Bab 4. Hanya seorang anak pembantu.
5 Bab 5. Mulai mengajari Evelyn.
6 Bab 6. Menerka.
7 Bab 7. Leukositosis.
8 Bab 8. Harga sebuah kalung.
9 Bab 9. Pergi tanpa ijin.
10 Iklan sejenak
11 Bab 10. Pecat!
12 Bab 11. Mencari Evelyn.
13 Bab 12. Membawa ke rumah sakit.
14 Bab 13. Kepergian ibu Angel.
15 Bab 14. Membawa pulang.
16 Bab 15. Kak Selvi dan Mika.
17 Bab 16. Pameran berlian
18 Bab 17. Mencocokkan.
19 bab 18. Sebuah kebenaran.
20 Bab 19. Sepenggal kisah
21 Bab 20. Mengadu
22 Bab 21. Anak pembantu milik tuan muda.
23 Bab 22. Pembatalan pernikahan.
24 Bab 23. Sanksi tegas.
25 Bab 24. Guru Les
26 Bab 25. Hanya pria kotor.
27 Bab 26. Menginap di puncak.
28 Bab 27. Kembali pulang.
29 Bab 28. Menjenguk.
30 Bab 29. Rahasia besar Louise.
31 Bab 30. Tersesat.
32 Bab 31. Menemukan.
33 Bab 32. Dimarahi habis-habisan
34 Bab 33. Malam pertama Gisella
35 Bab 34. Keberuntungan Gisella
36 Bab 35. Mengerjai Gisella
37 Bab 36. Pergi
38 Bab 37. Terus mencari.
39 Bab 38. Mendadak pulang.
40 Bab 39. Menyebut ciri-ciri
41 Bab 40. Tertangkap.
42 Bab 41. Menggoyahkan pendirian
43 Bab 42. Jujur dan mengakui
44 Bab 43. Membujuk.
45 Bab 44. Pertengkaran.
46 Bab 45. Selamat tinggal.
47 Bab 46. Lima tahun kemudian
48 Bab 47. Telah sampai.
49 Bab 48. Ikut menyusul
50 Bab 49. Siapa dia?
51 Bab 50. Wanita misterius.
52 Bab 51. Tidak menyangka.
53 Bab 52. Terjatuh.
54 Bab 53. Terpana.
55 Bab 54. Jatuh ke kolam renang.
56 Bab 55. Terpaksa.
57 Bab 56. Anak pembantu milikku.
58 Bab 57. Perjanjian.
59 Bab 58. Menunggumu kembali.
60 Bab 59. Hari kelulusan.
61 Bab 60. Menagih janji.
62 Bab 61. Memberontak.
63 Bab 62. Meminta ijin.
64 Bab 63. Kematian Anthoni.
65 Bab 64. Memberi pengertian.
66 Bab 65. Keinginan Nyonya Merry
67 Bab 66. Terhipnotis.
68 Bab 67. Kecurigaan Gisella.
69 Bab 68. Ingin bercerai
70 Bab 69. Memijat.
71 Bab 70. Nonton bioskop.
72 Bab 71. Biang kerok.
73 Bab 72. Kakak perempuannya Steve.
74 Bab 73. Kehamilan Gisella.
75 Bab 74. Amarah Evelyn.
76 Bab 75. Permintaan Evelyn.
77 Bab 76. Penyesalan Opa Bernadi
78 Bab 77. Kecemburuan Louise.
79 Bab 78. Kesedihan Evelyn.
80 Bab 79. Menyadari.
81 Bab 80. Perdebatan Louise dengan Steve.
82 Bab 81. Berganti kepemimpinan.
83 Bab 82. Mengambil alih.
84 Bab 83. Tes DNA
85 Bab 84. Menolak membiayai
86 Bab 85. Tidak ada pilihan.
87 Bab 86. Kesulitan Ekonomi.
88 Bab 87. Upaya Gisella.
89 Bab 88. Sisi gelap Steve.
90 Bab 89. Kenyataan pahit.
91 Bab 90. Pertolongan Louise.
92 Bab 91. Mengangkat kasus lama
93 Bab 92. Perhatian Evelyn.
94 Bab 93. Pembacaan tuntutan.
95 Bab 94. Perdebatan panas.
96 Bab 95. Tersadar.
97 Bab 96. Memenangkan kasus
98 Bab 97. Cerai.
99 Bab 98. Karyawan sekaligus pembantu.
100 Bab 99. Akan menikahi.
101 Bab 100. Menghindar.
102 Bab 101. Kedatangan Steve.
103 Bab 102. Lampu Hijau.
104 Bab 103. Bebas.
105 Bab 104. Pacaran.
106 Bab 105. Pergi dua bulan.
107 Bab 106. Hasutan Steve.
108 Bab 107. Mengambil foto
109 Bab 108. Pulang mendadak
110 Bab 109. Berdebat.
111 bab 110. Membuat perhitungan.
112 Bab 111. Jangan pergi.
113 Bab 112. Pesona ketampanan Louise
114 Bab 113. Mahkota yang hilang.
115 Bab 114. Sakit.
116 Bab 115. Hari pernikahan.
117 Bab 116. Malam pertama (21 plus)
118 Bab 117. Kecebong lincah.
119 Bab 118. Kedatangan Tuan dan Nyonya besar
120 Bab 119. Pernikahan Ken dan Selvi.
121 Pengumuman novel baru.
122 Bab 120. Akhir cerita (Tamat)
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Bab 1. Bayi Evelyn.
2
Bab 2. Evelyn kecil.
3
Bab 3. Lamaran Tuan Horisson.
4
Bab 4. Hanya seorang anak pembantu.
5
Bab 5. Mulai mengajari Evelyn.
6
Bab 6. Menerka.
7
Bab 7. Leukositosis.
8
Bab 8. Harga sebuah kalung.
9
Bab 9. Pergi tanpa ijin.
10
Iklan sejenak
11
Bab 10. Pecat!
12
Bab 11. Mencari Evelyn.
13
Bab 12. Membawa ke rumah sakit.
14
Bab 13. Kepergian ibu Angel.
15
Bab 14. Membawa pulang.
16
Bab 15. Kak Selvi dan Mika.
17
Bab 16. Pameran berlian
18
Bab 17. Mencocokkan.
19
bab 18. Sebuah kebenaran.
20
Bab 19. Sepenggal kisah
21
Bab 20. Mengadu
22
Bab 21. Anak pembantu milik tuan muda.
23
Bab 22. Pembatalan pernikahan.
24
Bab 23. Sanksi tegas.
25
Bab 24. Guru Les
26
Bab 25. Hanya pria kotor.
27
Bab 26. Menginap di puncak.
28
Bab 27. Kembali pulang.
29
Bab 28. Menjenguk.
30
Bab 29. Rahasia besar Louise.
31
Bab 30. Tersesat.
32
Bab 31. Menemukan.
33
Bab 32. Dimarahi habis-habisan
34
Bab 33. Malam pertama Gisella
35
Bab 34. Keberuntungan Gisella
36
Bab 35. Mengerjai Gisella
37
Bab 36. Pergi
38
Bab 37. Terus mencari.
39
Bab 38. Mendadak pulang.
40
Bab 39. Menyebut ciri-ciri
41
Bab 40. Tertangkap.
42
Bab 41. Menggoyahkan pendirian
43
Bab 42. Jujur dan mengakui
44
Bab 43. Membujuk.
45
Bab 44. Pertengkaran.
46
Bab 45. Selamat tinggal.
47
Bab 46. Lima tahun kemudian
48
Bab 47. Telah sampai.
49
Bab 48. Ikut menyusul
50
Bab 49. Siapa dia?
51
Bab 50. Wanita misterius.
52
Bab 51. Tidak menyangka.
53
Bab 52. Terjatuh.
54
Bab 53. Terpana.
55
Bab 54. Jatuh ke kolam renang.
56
Bab 55. Terpaksa.
57
Bab 56. Anak pembantu milikku.
58
Bab 57. Perjanjian.
59
Bab 58. Menunggumu kembali.
60
Bab 59. Hari kelulusan.
61
Bab 60. Menagih janji.
62
Bab 61. Memberontak.
63
Bab 62. Meminta ijin.
64
Bab 63. Kematian Anthoni.
65
Bab 64. Memberi pengertian.
66
Bab 65. Keinginan Nyonya Merry
67
Bab 66. Terhipnotis.
68
Bab 67. Kecurigaan Gisella.
69
Bab 68. Ingin bercerai
70
Bab 69. Memijat.
71
Bab 70. Nonton bioskop.
72
Bab 71. Biang kerok.
73
Bab 72. Kakak perempuannya Steve.
74
Bab 73. Kehamilan Gisella.
75
Bab 74. Amarah Evelyn.
76
Bab 75. Permintaan Evelyn.
77
Bab 76. Penyesalan Opa Bernadi
78
Bab 77. Kecemburuan Louise.
79
Bab 78. Kesedihan Evelyn.
80
Bab 79. Menyadari.
81
Bab 80. Perdebatan Louise dengan Steve.
82
Bab 81. Berganti kepemimpinan.
83
Bab 82. Mengambil alih.
84
Bab 83. Tes DNA
85
Bab 84. Menolak membiayai
86
Bab 85. Tidak ada pilihan.
87
Bab 86. Kesulitan Ekonomi.
88
Bab 87. Upaya Gisella.
89
Bab 88. Sisi gelap Steve.
90
Bab 89. Kenyataan pahit.
91
Bab 90. Pertolongan Louise.
92
Bab 91. Mengangkat kasus lama
93
Bab 92. Perhatian Evelyn.
94
Bab 93. Pembacaan tuntutan.
95
Bab 94. Perdebatan panas.
96
Bab 95. Tersadar.
97
Bab 96. Memenangkan kasus
98
Bab 97. Cerai.
99
Bab 98. Karyawan sekaligus pembantu.
100
Bab 99. Akan menikahi.
101
Bab 100. Menghindar.
102
Bab 101. Kedatangan Steve.
103
Bab 102. Lampu Hijau.
104
Bab 103. Bebas.
105
Bab 104. Pacaran.
106
Bab 105. Pergi dua bulan.
107
Bab 106. Hasutan Steve.
108
Bab 107. Mengambil foto
109
Bab 108. Pulang mendadak
110
Bab 109. Berdebat.
111
bab 110. Membuat perhitungan.
112
Bab 111. Jangan pergi.
113
Bab 112. Pesona ketampanan Louise
114
Bab 113. Mahkota yang hilang.
115
Bab 114. Sakit.
116
Bab 115. Hari pernikahan.
117
Bab 116. Malam pertama (21 plus)
118
Bab 117. Kecebong lincah.
119
Bab 118. Kedatangan Tuan dan Nyonya besar
120
Bab 119. Pernikahan Ken dan Selvi.
121
Pengumuman novel baru.
122
Bab 120. Akhir cerita (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!