"T-tuan ..." lirih Ibu Angel.
"Iya Bu Angel, kau ingin bilang apa? Katakan saja padaku," jawab Louise sambil menggenggam erat tangan ibu Angel.
"Evelyn ... T-tolong jaga putriku ...." pinta ibu Angel dengan sisa nafas terakhirnya.
Louise mengangguk cepat. "Iya aku akan menjaganya, tapi tolong sembuhlah untuknya. Dia sedang menunggumu agar bisa pulang ke rumah bersamanya."
Ibu Angel menggeleng samar, terlihat buliran bening mengalir perlahan dari ujung ekor matanya. Dan tak lama setelah itu, ia mengalami kejang-kejang dan sesak nafas.
Louise pun panik. "Dokter, Suster! Tolong dia!" pekiknya segera memanggil siapapun petugas kesehatan yang berada disana.
"Maaf tuan, tolong menyingkir sebentar. Biar kami periska keadaan pasiennya," pinta sang Dokter dan Louise mengerti, lalu menarik diri dan berdiri disisi lain.
Pria itu begitu cemas, terlebih melihat kondisi tubuh ibu Angel yang semakin melemah dan mulai menolak makanan masuk serta berbagai macam obat lainnya.
Sesekali Louise menelan ludahnya yang tercekat, ketika melihat seseorang sedang berjuang menghadapi sakaratul maut, tepat didepan matanya sendiri.
Louise menutup mulutnya dengan satu tangan yang terkepal dan memalingkan wajahnya segera, karena merasa tidak sanggup melihat kejadian mengerikan tersebut.
Lalu, tak berselang lama kemudian, ibu Angel menghembuskan nafasnya yang terakhir dan Dokter pun menyatakan jika wanita paruh baya itu telah meninggal dunia.
Louise menghembus nafasnya kasar dan meraup wajahnya dengan kedua tangan, begitu sedih rasanya kehilangan orang yang sudah kita kenal selama ini.
Tapi bagaimana dengan Evelyn, gadis itu sudah pasti lebih sedih daripada dirinya.
Louise menghela nafasnya panjang, lalu menghampiri Evelyn yang sedang berdiri membeku di depan pintu kamar mayat, dimana Ibu Angel sedang dimandikan.
Ia berdiri sendirian, tanpa sanak keluarga yang datang menemani. Ataupun seseorang yang dapat membantu meringankan kesedihan hatinya.
Gadis itu terlihat sedih dan Louise yakin, jika hati Evelyn saat ini sedang hancur. Ia bahkan seperti bom waktu, yang siap meledakkan tangisannya kapan saja.
"Evelyn," panggil lembut Louise.
Evelyn menoleh dan tersenyum. "Tuan paman, lihatlah disana. Ibuku baru saja selesai mandi dan dia sedang memakai baju baru," balasnya terdengar lirih.
Louise terkesiap, perkataan Evelyn tersebut nyatanya mampu meluluh lantahkan isi hatinya dalam sekejap.
"Evelyn, sadarlah. Ibu Angel sudah tiada, dia tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini," ucap Louise menyadarkan.
Evelyn menggeleng. "Tidak, ibuku masih hidup. Dia sudah berjanji akan selalu bersama denganku, bahkan dia juga sudah berjanji akan mengajakku jalan-jalan ke supermall," balasnya menolak kenyataan yang ada.
Louise berusaha menelan ludahnya yang tercekat, mau bagaimanapun sulitnya. Ia harus terus berusaha menyadarkan Evelyn, karena jika tidak, maka gadis itu bisa saja kehilangan kewarasannya.
Louise menangkup kedua sisi wajah Evelyn dan menatap tajam matanya. "Evelyn, lihat tuan pamanmu ini! Sadarlah, ibumu sudah pergi dari dunia ini dan kau harus mengikhlaskannya!"
Evelyn menggeleng cepat. "T-tidak, kau salah tuan paman. Ibuku baik-baik saja," balasnya dengan tatapan sendu.
"Kau yang salah Evelyn! Sekarang lihatlah baik-baik ibumu itu! Dia sudah tertutup kain putih! Dia telah tiada, ibumu telah tiada dan kau harus menerima kenyataan itu!" sentak Louise dan Evelyn pun terperanjat.
Seketika itu pula kesadarannya kembali, lalu menatap ibu Angel yang sudah tertutup kain putih dan siap untuk dimakamkan.
Gadis itu terdiam cukup lama, sambil membulatkan kedua matanya dan menatap jenazah sang ibu angkat yang sudah terbujur kaku diatas brankar. "I-ibu ..." lirihnya mulai meneteskan air mata.
Louise kembali menangkup kedua sisi wajah Evelyn dan menatap lekat kedua bola mata yang sudah memerah itu. "Evelyn, jangan ditahan. Jika kau ingin menangis, maka menangislah sepuas hatimu dan lepaskan saja semua beban dihatimu itu."
Evelyn memejamkan kedua matanya dengan tangan memegang dadanya yang sesak, gadis itu tahu jika ibunya telah tiada. Tapi apalah daya, ia belum bisa menerima itu semua.
"Ibu!" pekik Evelyn dan dia mulai menangis histeris.
Louise yang kala itu masih berdiri dihadapannya pun, dengan segera menarik Evelyn agar masuk ke dalam pelukannya. Karena dia tahu, gadis itu sedang butuh seseorang untuk bisa menumpahkan semua rasa kesedihannya.
"Tuan, ibuku sudah tiada. Tapi kenapa dia meninggalkanku secepat ini," lirih Evelyn terisak.
Dia bahkan tanpa malu lagi, membenamkan wajahnya pada dada berotot milik tuan pamannya itu, sesekali mencengkram kuat kemeja baju tuannya hingga lusuh tidak beraturan.
Louise hanya memejamkan kedua matanya, tidak banyak kata yang bisa dia ucapkan untuk saat ini. Namun Louise yakin, sebuah pelukan serta sentuhan hangat pada punggung gadis itu dapat membantu meringankan sedikit rasa kesedihannya.
Louise semakin mengeratkan pelukannya itu, dikala Evelyn mulai kalap dan menangis sejadi-jadinya. Karena dia sendiri tahu, kalau kondisi tersebut adalah normal, pada seseorang yang sedang mengalami guncangan hebat dalam hidup.
Yaitu kehilangan orang yang dicintai.
"Teruslah menangis Evelyn dan tumpahkan saja semua kesedihan serta kemarahanmu itu kepada tuan paman," bisik lembut Louise memaklumi semua perlakuan Evelyn yang menangis, sesekali memukuli dadanya karena marah.
Pria itu bahkan mengabaikan selulernya yang bergetar sejak dari tadi dan memilih untuk mematikannya sejenak, demi menjadikan dirinya sebagai tempat bagi Evelyn, agar bisa meluapkan semua kesedihkannya itu tanpa gangguan darimanapun juga.
...----------------...
Sementara itu Gisella nampak kesal, karena ia tidak dapat menghubungi nomor Louise berkali-kali.
"Kemana dia, kenapa nomornya tidak aktif?" gumam Gisella bertanya-tanya.
Lalu wanita cantik itu pun mencoba menghubungi nyonya Grace untuk menanyakan keberadaan Louise sekarang ini.
"Iya Gisella sayang, ada apa menghubungi tante? Apa kau dan Louise sudah mendapatkan cincin pernikahan kalian?" tanya nyonya Grace nampak senang dalam panggilan seluler itu.
"Tante, jangankan membeli cincin pernikahan. Louise bahkan belum menunjukkan batang hidungnya disini," balas Gisella dengan suara sedihnya.
"Kamu bilang apa sayang, Louise sudah pergi dari tadi dan itu berarti dia pasti sudah sampai ke rumahmu. Apa kamu sudah menghubungi ponsel Louise?" tanya Nyonya Grace.
"Itulah masalahnya tante, nomor Louise tidak aktif dari tadi. Dan aku tidak tahu dia ada dimana dan sedang apa dia sekarang," balas Gisella.
"Ah masa sih," ucap nyonya Grace tidak percaya
"Benar Tante, Gisell tidak berbohong. Kalau tidak percaya tante coba hubungi Louise," ucap Grace mulai merajuk.
"Ya sudah jangan sedih dan khawatir ya, biar tante yag coba menghubungi Louise dan memintanya untuk segera menjemput kamu," balas nyonya Grace menenangkan.
"Baik tante, jika sudah berhasil menghubungi Louise. Bilang padanya kalau Gisell sudah menunggunya," balas Gisella.
"Tentu sayang, bagaimanapun juga kau menantu keluarga kami. Tidak akan tante biarkan menantu tante sedih seperti itu," ucap nyonya Grace menenangkan.
"Baik tante, terima kasih." ucap Gisella.
"Sama-sama sayang, love you." Nyonya Grace menutup panggilannya dengan Gisella.
Kemudian beralih menghubungi nomor ponsel Louise dan dirinya dibuat gemas, karena nomor putranya itu tidak dapat dihubungi.
"Oh Louise, kau ada dimana sekarang. Kenapa nomormu tidak aktif? Ayolah sayang, angkat telepon dari Mommy. Kalau tidak Gisella pasti akan sedih," gumam nyonya Grace sambil terus mencoba menghubungi Louise.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Naira Anggraeni
sedihhh nya jadi evelyn😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
2025-02-09
0
Siti Mujimah
nyeseeek jd Evelyn 😭😭😭🤧🤧🤧
2023-11-12
1
Senajudifa
biar aja gisela sedih
2023-03-08
1