Evelyn begitu serius mencuci tangan, hingga tidak menyadari, jika ada seseorang yang telah berdiri tepat dibelakangnya.
"Evelyn ..." sapa lembut Louise dibelakang daun telinga gadis itu, hingga sukses membuat dirinya terjingkrak karena kaget.
"Akh!" pekiknya terkejut.
Evelyn segera memutar badan dan menatap siapa pria yang telah mengejutkan dirinya itu. "T-tuan muda," ucapnya terbata. Dengan kedua netra yang telah membola sempurna.
Louise terkekeh. "Akhirnya kau tertangkap juga, hari ini aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi."
Evelyn berusaha menelan ludahnya yang tercekat, sambil meremas pinggiran wastafel kala tuan mudanya itu semakin mendesak tubuhnya hingga berhimpitan.
"T-tuan, apa kabar? Tolong jangan seperti ini, nanti kita bisa dimarahi oleh nyonya besar." Evelyn mendorong Louise agar menjauh darinya.
"Kabarku baik, Evelyn jangan menghindariku terus. Apa kau tidak kangen dengan tuan pamanmu ini hem?" tanya Louise menatapi Evelyn begitu lekatnya.
Evelyn menundukkan kepalanya. "Tuan, aku harus menjalankan perintah nyonya besar dan tidak boleh berinteraksi dengan keluarga ini termasuk dengan anda. Maafkan aku jika menyinggungmu, tapi jangan samakan diriku yang pernah bermain denganmu seperti saat berusia 10 tahun lagi."
"Aku sudah cukup besar dan mengerti tanggung jawab dan juga tugasku disini, jadi ku mohon sekali lagi untuk tidak mencariku atau hanya ingin sekedar bertemu denganku dan berbincang. Tuan," ucap Evelyn kemudian menjauh.
"Kenapa aku tidak boleh bertemu denganmu?" tanya Louise menahan gadis remaja itu agar tidak pergi darinya.
"Tuan muda, kau adalah majikanku. Secara diriku ini hanyalah seorang pelayan rendahan dan tidak pantas berbicara dengan anda apalagi saling berdekatan seperti ini. Jadi tolong mengertilah," balas Evelyn.
Kemudian gadis itu pun undur diri dan meninggalkan Louise yang masih menatapnya hingga menghilang di kejauhan.
Louise berdecih dan menyugar rambutnya kasar. "Ck! Majikan dan pembantu, menurutku itu tidak ada bedanya. Karena bagiku yang berbeda diantara kita adalah kau seorang wanita dan aku adalah pria," ucap pria itu menurut sudut pandangnya.
...----------------...
Perusahaan Horisson.
Louise dipercaya memimpin sebuah rapat besar hari ini, dikarenakan selain perusahaan besar itu akan diwarisi kepada dirinya. Tuan Horisson juga ingin menunjukkan kepada klien serta para tamu undangannya, jika Louise sangatlah pantas memimpin perusahaan itu dikemudian hari menggantikan dirinya kelak.
Suara tepuk tangan bergemuruh mengisi ruangan tersebut, dimana saat Louise telah selesai menyampaikan presentasi perusahaannya dihadapan khalayak ramai.
"Selamat Louise kau telah berhasil memberikan ide luar biasamu itu untuk perusahaan kita!" seru tuan Horisson memberi pujian untuk putranya.
"Terima kasih Daddy," balas Louise dengan senyuman menawannya.
"Putramu luar biasa Horisson, wanita yang akan menjadi pendampingnya dimasa depan, pastilah sungguh amat beruntung," ucap salah satu klien Tuan Horisson.
"Anda bisa saja memujinya Drew," balas Tuan Horisson menepuk pundak kawannya.
"Andaikan saja kawan kita masih ada, mungkin dia sedang berdiri juga disini. Sayang sekali umurnya begitu pendek," ucap Tuan Drew mengingat mendiang sahabatnya.
"Kau benar Drew, andaikan saja Anthoni dan keluarganya masih hidup. Mungkin dia lah yang sekarang memimpin rapat besar ini," ucap Tuan Horisson merasa iba.
"Tapi dari desas desus yang ku dengar, putri Anthoni masih belum ketemu sampai sekarang. Entah anaknya itu masih hidup atau tidak, kita tidak tahu kondisinya sekarang jika masih hidup." balas Tuan Drew.
Tuan Horisson lantas teringat Evelyn di rumah dan memilih untuk menutup mulutnya, hal tersebut ia lakukan mengingat bahwa selama dirinya belum mengetahui siapa orang jahat yang tega menghancurkan keluarga gadis itu.
Dan memastikan jika Evelyn masih belum benar-benar aman, maka selama itu pula dia tidak akan memberi tahu siapapun tentang keberadaan anak sahabatnya.
"Ya kau benar, kalau dia masih hidup aku yakin gadis itu telah berusia 16 tahun," ucap Tuan Horisson.
"Benar, setahuku anak Anthoni adalah perempuan dan berusia 16 tahun jika bayi mereka benar-benar masih hidup. Anaknya itu pastilah cantik seperti ibunya," ucap Tuan Drew membenarkan hal tersebut.
Louise senantiasa mendengarkan hal tersebut, entah mengapa pembicaraan membosankan kedua orang tua itu berhasil mengundang perhatiannya.
Louise pun memutar otaknya dan ada perkataan yang mengganjal hati serta pikiran pria itu, dimana kata-kata seorang bayi perempuan belum ditemukan dan sekarang gadis itu berusia 16 tahun jika masih hidup.
"Kalau benar-benar masih hidup, lalu ada dimana dia berada?" batin pria tampan itu bertanya-tanya.
Lalu, ada selintas satu nama di dalam benak Louise. "Evelyn!" batinnya menerka.
"Dia ditemukan saat bayi, dia seorang perempuan dan berusia 16 tahun sekarang. Itu tidak menutup kemungkinan jika si gadis cantik dirumahku itu adalah bayi yang belum ditemukan," batin Louise seperti detektiv.
"Tapi tidak juga, kasus seperti ini banyak ditemukan. Dari banyaknya bayi terlantar, aku tidak bisa menafsirkan begitu saja," batin pria itu kembali.
Louise mendesaah kecil dan menyita perhatian seorang pria yang akan menjadi mertuanya nanti. "Louise mengapa kau terlihat pusing seperti itu?" tanya Tuan Anderson mendekati Louise.
"Oh Paman, tidak ada apa-apa hanya sedang memikirkan pekerjaan," jawab Louise.
"Kau pria pekerja keras, terkadang kita harus meluangkan waktu dengan bersenang-senang. Gisella ada waktu senggang malam ini, bagaimana kalau kau mengajak dia jalan-jalan dan buat hatinya senang," ucap Tuan Anderson.
Louise tersenyum. "Paman, aku tidak tahu cara menyenangkan hati wanita. Bagaimana dia bisa senang saat aku mengajaknya jalan-jalan," balasnya malas sekali.
"Tidak apa, cobalah dulu mengajaknya pergi. Dia sangat mencintaimu, sudah pasti akan senang walau tidak melakukan apapun asal bersama dengan dirimu," balas Tuan Anderson.
Louise menghela nafas pelan agar tidak terdengar, lalu tersenyum tipis. "Baiklah Paman, aku akan mengajak dia jalan-jalan nanti malam," balasnya.
Tuan Anderson merasa senang, kemudian pergi menghampiri Tuan Horisson dan juga teman-temannya disana.
Sedangkan Louise merasa kesal, karena selama bersama dengan Gisella enam tahun belakangan ini. Pria itu sudah merasa bosan dengan sikap Gisella yang terlalu formal dan kaku.
...----------------...
Malam harinya.
Evelyn merapihkan beberapa baju-baju bersih yang telah di cuci sebelumnya di dalam ruangan Laundry. Wanita itu benar-benar menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja, hingga tidak sadar jika dibelakangnya sudah ada seseorang yang masuk.
"Evelyn," sapa Ibu Angel.
Evelyn menoleh dan tersenyum. "Iya Ibu, ada apa?" tanyanya.
"Ini sudah malam, kau masih sibuk merapihkan baju. Istirahatlah, biar pelayan lain yang mengurusnya. Lagipula kau belum makan bukan?" tanya Ibu Angel mencegah Evelyn merapihkan baju-baju lain.
"Sebentar lagi kerjaan ini selesai Bu, Ibu duluan saja ke kamar dan istirahatlah." Evelyn enggan meninggalkan tugasnya.
"Ya sudah, setelah pekerjaan ini selesai jangan lupa makan dulu. Setelah itu istirahatlah," balas Ibu Angel kemudian keluar dari ruang laundry.
Evelyn menarik nafasnya dalam-dalam, raganya memang sudah sangat lelah. Namun apalah daya setelah melihat kondisi sang ibu angkat yang kurang baik akhir-akhir ini, membuat gadis itu mengambil semua pekerjaan ibunya.
Agar wanita paruh baya baik hati, yang sudah sudi mengurusnya hingga remaja itu, bisa beristirahat hingga sembuh total.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
auliasiamatir
semangat evelin
2023-02-24
1
Mommy Ghina
jadi Tuan Harisson tahu jati diri Evelyn??? kalau Evelyn anak temannya?
2023-01-07
3