Keesokan paginya.
Mansion Horisson.
Evelyn pulang ke rumah majikannya dalam kondisi sedih, dia tidak tahu harus bagaimana ketika mengetahui kisaran biaya yang harus ia keluarkan saat ibunya dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.
"Aku harus mencari uang kemana, gajiku saja sudah habis buat biaya ke dokter tadi. Nyonya besar pasti akan marah kepadaku kalau aku meminjam uang lagi padanya," gumam Evelyn.
Deraian air mata dari gadis itu pun akhirnya luruh, jika mengingat tabiat nyonya Grace yang begitu keras kepadanya.
Apalagi saat mengetahui jika tuan Horisson sedang mengurusi beberapa bisnisnya di luar negeri, dan tidak akan pulang ke rumah hingga dua minggu ke depan.
Hal tersebut menyita perhatian Louise yang baru saja tiba dikediamannya. "Evelyn," ucap pria itu kemudian berjalan menghampiri Evelyn yang sedang menangis.
Evelyn bergegas menghapus air matanya, lalu melanjutkan kembali membersihkan lantai teras depan. "Selamat datang T-tuan," sapanya sambil menundukkan kepala.
"Kau habis menangis ya? Ada apa, kenapa kedua mata dan wajahmu sampai merah seperti itu?" tanya Louise curiga.
"Tidak Tuan muda, mungkin kelilipan debu saat menyapu tadi," balas Evelyn sebisa mungkin menghindar dari tuan pamannya agar tidak dimarahi.
"Kelilipan debu? Sini aku lihat," Louise tanpa sungkan menangkup kedua sisi wajah Evelyn, kemudian menariknya agar sedikit mendongak.
Lalu pria itu sedikit membungkukkan diri, sambil menatapi dan meniup lembut kedua manik mata Evelyn yang masih memerah dan sedikit berair.
Namun sayang beribu sayang, nyonya Grace yang melihat hal tersebut langsung murka ditempat.
Bagaimana tidak, karena jika melihat darimana posisi wanita itu berada, ia seperti melihat anaknya sedang berciuman dengan seorang wanita pembantu.
"Louise!"
"Evelyn!"
Kedua manusia itu langsung terperanjat karena terkejut dan Evelyn segera menepis kedua tangan Louise dari wajahnya. Kemudian menyingkir dan menundukan wajahnya saat nyonya Grace datang menghampiri mereka berdua.
Gadis kecil itu hanya bisa menunduk pasrah, karena dia tahu akibat dari kejadian tersebut.
"Louise kau sudah pulang ke rumah, kenapa tidak langsung masuk ke dalam. Dan kenapa malah berdiri disini dan sedang apa?" tanya nyonya Grace.
"Mommy, aku hanya menyapa Evelyn. Dia bilang kelilipan debu, jadi aku membantunya," balas Louise.
"Apa tidak ada hal lain yang kalian lakukan berdua?" tanya nyonya Grace penuh curiga.
"Tidak ada, memangnya apa yang aku lakukan?" balas Louise tidak mengerti.
"Ya sudah ke dalamlah sekarang. Ini sudah hampir waktunya sarapan," ucap nyonya Grace.
"Baiklah, aku juga ingin mandi. Setelah itu aku harus pergi ke kantor," Louise masuk ke dalam rumah dan tinggallah nyonya Grace berdua saja dengan Evelyn.
Wanita bergaya kelas tinggi itu langsung menatap tajam Evelyn yang terdiam menunduk. "Beraninya kau melanggar perintahku, apa kau sedang mencoba merayu putraku hah!" sentaknya.
"T-tidak nyonya besar, anda salah paham. Saya tidak berani melakukan itu pada tuan paman," balas Evelyn.
"Jangan panggil dia tuan paman, panggil dia tuan muda. Tuan Muda Louise Alexander Horisson! Apa kau mengerti!" ucap tegas nyonya Grace.
Evelyn menelan ludahnya susah payah. "B-baik nyonya besar, maaf ..." balasnya.
"Bagus, sekarang kembali ke pekerjaanmu, jangan lupa pekerjaan yang tertunda akibat cuti kemarin kau harus mengerjakannya juga hari ini dan aku ingin semuanya beres," ucap nyonya Grace.
"Nyonya," Evelyn memberanikan diri.
"Ada apa?" tanya nyonya Grace tanpa menatap wajah Evelyn.
"Nyonya, ibu sedang dirawat di rumah sakit. Kemarin saya mendapat rincian biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya berobat selama di sana," ucap Evelyn kemudian menarik nafasnya.
"Hem lalu?" tanya nyonya Grace.
"B-bolehkah kalau s-saya meminjam uang lagi? Karena gaji saya yang kemarin sudah habis nyonya," jawab Evelyn memberanikan diri.
Sesekali menahan tubuhnya yang bergetar hebat sambil menyerahkan selembar kertas rincian biaya rumah sakit kepada nyonya Grace.
Nyonya Grace berbalik dan menatap Evelyn yang telah berani meminjam uang kepadanya secara langsung. Lalu terlintaslah didalam pikiran wanita kaya itu. Jika gadis kecil ini selalu diberikan uang, bagaimana jika dia sudah dewasa nantinya.
"Anak ini bisa berubah menjadi wanita matrealistis, karena ia pasti akan terus meminta uang kepada keluargaku. Mana bisa aku membiarkan hal itu sampai terjadi," batin nyonya Grace menduga.
"Tidak bisa! Jangan mentang-mentang kau adalah anak pembantu kesayangan suamiku, kau jadi bisa meminta seenaknya! Apa kau tahu, semua pelayan yang bekerja disini tidak pernah ada yang berani meminjam uang kepadaku seperti dirimu! Kau itu sungguh terlalu manja, baru bekerja enam tahun sudah ingin meminjam uang segini banyaknya!" bentak nyonya Grace kemudian melempar kertas tersebut ke sembarang arah.
Lalu wanita itu pergi masuk ke dalam rumahnya, sesekali mengoceh dan mengumpat kata-kata yang menyakitkan hati saja.
...***...
Evelyn termenung, kemudian memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang tersebut. Lalu terpikirkan satu cara yang mungkin bisa menjadi jalan keluar gadis itu.
"Oh iya! Aku kan punya kalung emas, kenapa tidak aku jual saja kalung itu." batin Evelyn. Tapi gadis remaja itu mengurungkan niatnya.
"Tapi, kalau aku jual. Aku tidak bisa mencari identitasku," batin Evelyn lagi.
Karena ia mengingat perkataan sang ibu, dimana hanya kalung itulah satu-satunya petunjuk akan keluarga asli dari Evelyn.
"Tapi kalau tidak dijual ..."
Evelyn memikirkan hal itu sekali lagi, lalu setelah banyak melewati berbagai macam pertimbangan. Akhirnya gadis itupun memutuskan untuk menjual kalung emas bertuliskan nama Evelyn itu ke toko emas terdekat.
...----------------...
Malam harinya.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan di rumah majikannya, Evelyn bergegas pergi ke toko emas sebelum dirinya menjenguk sang ibu di rumah sakit.
Ia menunjukkan kalung emas berbentuk tabung kecil, bertuliskan nama dirinya serta guratan kepala naga mengigit sebuah batu permata berukuran lumayan dibelakang kalung tersebut kepada sang pemilik toko.
"Ini kalung sangat langka, ditempa oleh tangan-tangan ahli. Bisa jadi ini satu-satunya di dunia ini, Nona. Apa kau yakin ingin menjual barang berharga ini?" tanya sang pemilik toko. Setelah dirinya menimbang berat serta mengecek keaslian perhiasan berharga tersebut.
"Ya Paman, aku ingin menjualnya. Karena sedang membutuhkan biaya berobat ibuku," balas Evelyn hanya bisa menjawab yakin dengan keputusannya.
"Ya sudah, tunggu sebentar dihitungi dulu harganya. Apa bawa surat asli saat pembelian kalung ini?" tanya sang pemilik toko.
"Tidak ada, surat pembelian emas itu sudah hilang sejak lama," balas Evelyn berbohong. Karena memang dia tidak ada surat ataupun sertipikat emas berharga tersebut.
"Berarti kena potongan ya," balas sang pemilik toko emas.
Evelyn mengangguk. "Baiklah," balasnya mengikhlaskan dan menunggu si pemilik toko menghitung harga.
Tak butuh waktu lama, pemilik toko datang dan dia segera memanggil Evelyn. "Kalungmu ini harganya segini," ucapnya menunjukkan sebuah kalkulator yang berisi angka.
Evelyn mendadak gugup. "B-banyak sekali nol nya," jawabnya polos sekali.
"Iya siapa sangka, batu permata kecil yang tertanam di mulut naga ini adalah berlian asli yang memiliki kadar 5 carat. Jadi harganya sudah pasti fantastis, tapi sayang Paman tidak bisa membeli kalung ini karena nilainya yang sangat tinggi. Paman tidak mampu membayarnya, karena ini hanyalah toko kecil," ucap sang pemilik toko, lalu menyerahkan kembali kalung tersebut.
Evelyn terdiam, banyak pikiran yang muncul didalam kepala gadis kecil itu. "Apa aku orang kaya?" gumamnya menerka.
"Nona, Bawa kalungmu ini ke toko emas atau berlian yang lebih besar saja. Mereka pasti bisa membayar kalungmu itu," ucap pemilik toko sambil membuyarkan lamunan Evelyn.
"Baiklah," jawab Evelyn mendadak berkeringat saat mengetahui harga kalungnya itu bernilai milyaran rupiah.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Dimas Syadewa
gajiannya selama ini kemana
2023-03-21
2
Yuli Fitria
Baru hadir lagi Kak Novi 🤭🙏
2023-03-11
0
Senajudifa
lanjut lg nt nov
2023-03-08
1