Setelah mengantar Gisella pulang, Louise bergegas pergi ke rumah pribadinya yang berada di kawasan puncak untuk memastikan sesuatu. Dirinya benar-benar dibuat tidak tenang, ketika mengingat perkataan opa Bernadi tentang nama cucunya.
Opa Bernadi, jika boleh Louise tahu. Siapa nama cucumu itu?
Evelyn, namanya Evelyn Maryana Bernadi.
Louise memacu kendaraannya lebih cepat lagi, demi memastikan rasa keingintahuan serta rasa penasarannya.
"Apa Evelyn adalah cucunya Opa Bernadi," gumam Louise.
Pria itu merasa yakin, jika cucu Opa Bernadi yang hilang adalah Evelyn. Mengingat ciri-ciri daripada Evelyn yang sangat mirip dengan penuturan Opa Bernadi.
Cucuku sangat cantik, dia memiliki bola mata kebiruan seperti ibunya dan jika cucuku itu masih hidup, dia pasti sudah berusia 16 tahun sekarang ini.
"Siapa lagi yang memiliki bola mata kebiruan dan juga usia yang persis sama," gumam Louise mencocokkan.
...***...
Beberapa jam kemudian.
Louise akhirnya tiba di rumah pribadinya dan bergegas masuk untuk menemui Evelyn, demi memastikan sesuatu.
"Evelyn!" panggil Louise sedikit memekik.
Kedua netranya tidak pernah berhenti mencari keberadaan gadis itu pada sudut dalam rumahnya yang cukup luas.
"Evelyn!" panggilnya sekali lagi.
"Ada apa tuan muda," sahut Selvi dan Mika bersamaan dan menghampiri.
"Dimana Evelyn?" tanya Louise.
"Dia ada dikamarnya, ada apa tuan muda? Evelyn seperti sudah tid---" balas Selvi dan bertanya.
Dirinya tak sempat melanjutkan karena Louise tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Dan setibanya didepan pintu kamar pembantu, Louise berusaha menetralisir rasa penasarannya lalu mengetuk pintu itu perlahan.
"Evelyn ..." sahutnya sesekali.
Dirasa tidak mendapat respon dari dalam kamar, Louise membuka perlahan handle pintu kamar yang ternyata tidak terkunci itu. Sesekali menelan ludahnya susah payah, karena telah lancang memasuki kamar seorang gadis tanpa ijin.
"Evelyn ..." panggilnya lagi.
Louise terdiam sambil menatapi seorang gadis remaja yang sedang tidur di atas pembaringannya, pria itu bergegas mencari benda yang sangat ingin dia ketahui.
Yaitu kalung emas milik Evelyn.
Louise memberanikan diri menyentuh barang-barang pribadi si empunya kamar, mulai dari lemari berisi pakaian serta laci sudut tidak luput dari pencariannya.
Pria itu seperti maling saja, karena melakukan aksinya mencari benda berharga dengan sangat hati-hati agar Evelyn tidak terbangun dari tidurnya.
Louise mendesaah kesal, sudah 15 menit mengutak-atik isi lemari serta benda lainnya, tapi pencariannya kini masih belum membuahkan hasil.
"Ada dimana kalung itu," dumelnya sendiri.
Louise menghembus nafasnya ke udara, kemudian mengedarkan pandangannya kesekitar. Ada satu laci dimana terdapat kotak kecil didalamnya.
"Apa jangan-jangan," duganya sendiri.
Louise segera mengambil kotak kecil berwarna merah itu, sesekali melirik Evelyn yang masih asyik memejamkan mata.
Pria itu meneguk ludahnya kasar dan berganti membuka kotak tersebut agar segera pergi dari ruangan itu.
Louise menemukan kalung Evelyn, lalu mengangkatnya sedikit tinggi agar bisa melihatnya dengan jelas. Ia memandangi kalung itu, lalu mencocokkannya dengan sketsa pembuatan kalung dari Opa Bernadi pada kertas usang yang beliau berikan tadi di tempat pameran berlian.
Louise melengkungkan senyumannya, karena kalung milik Evelyn dengan sketsa milik Opa Bernadi memiliki kemiripan hampir 100 persen.
"Sama!" seru Louise dan itu membuat Evelyn membuka matanya karena terkejut.
"Siapa kau! Tolong ada maling, ada hantu!" pekik Evelyn merapatkan kedua matanya, sesekali melempari apapun pada Louise dengan benda yang berada disekitarnya.
Louise pun menjadi gelagapan. "Evelyn tenanglah ini tuan paman!" ucapnya.
"Bohong! Tuan paman tidak mungkin masuk ke dalam kamar orang lain tanpa ijin, kau pasti mengaku-ngaku menjadi tuan pamanku dasar maling!" pekik Evelyn.
Semua orang segera berkumpul ke arah sumber suara dan mereka dikejutkan dengan Louise yang begitu berani memasuki kamar seorang pembantu, apalagi itu seorang gadis muda.
Selvi segera menyalakan lampu kamar itu dan memanggil nama Evelyn agar Evelyn berhenti melempari tuan mudanya dengan sesuatu.
"Evelyn, bukalah matamu. Dia benar adalah tuan muda Louise," ucap Selvi.
Evelyn terdiam kemudian membuka matanya, dia begitu terkejut ternyata yang dia sebut maling adalah tuan mudanya sendiri.
"M-maaf," ucapnya kemudian segera turun dari ranjang dan membungkukkan badan.
"Tidak apa, tuan pamanlah yang harusnya minta maaf padamu karena telah masuk ke dalam kamarmu tanpa ijin," ucap Louise.
Kemudian tanpa permisi lagi, pria itu pergi begitu saja dari rumahnya dan meninggalkan semua orang yang sedang dilanda kebingungan.
"Mau apa dia?" batin Evelyn merasa waspada.
...***...
Sementara itu Louise bergegas masuk ke dalam mobil dengan wajah memerah karena malu sekali kepergok masuk ke kamar gadis oleh semua orang.
Tapi rasa malu itu terbayarkan dengan hasil yang memuaskan, dimana akhirnya rasa penasarannya itu terjawab sudah.
"Ternyata dugaan ku benar, Evelyn adalah cucu Opa Bernadi yang hilang selama ini. Aku harus segera memberitahu hal ini kepada semua orang," gumam Louise antusias. Kemudian menyalakan mesin dan pergi dari rumahnya dengan segera.
Selama diperjalanan pulang ke rumah, pria itu selalu saja melengkungkan senyumannya. Tidak tahu pastinya mengapa, akan tetapi dia begitu bersemangat sekali.
Sampai-sampai ia tidak menyadari jika dahinya sedikit berdarah akibat lemparan Evelyn yang membabi buta kepadanya.
...----------------...
Mansion Horisson.
Nyonya Grace berdiri dengan anggunnya dimuka pintu, sesaat mendengar kabar jika suami tercinta sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari perjalanan panjangnya ke negeri sebrang.
Ia memerintahkan kepada semua orang untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan tuan besar Horisson dan tidak boleh ada kekurangan sesuatu walau itu hal kecil.
Dan tak berselang lama kemudian sebuah mobil mewah yang membawa tuan besar Horisson, telah memasuki halaman mansion tersebut.
"Sayang, selamat datang. Akhirnya kau pulang juga, aku sangat merindukanmu," sapa lemah gemulai sang istri menyambut kepulangan suaminya.
Tuan Horisson tersenyum. "Terima kasih, aku juga merindukanmu."
Nyonya Grace mengambil tas dari tangan suaminya, kemudian memberikan tas itu kepada kepala maid baru disana. "Tolong bawakan tas tuan besar ini ke dalam kamarnya!" titahnya kepada Bi Santi.
"Baik nyonya besar," patuh bi Santi.
Tuan Horisson mengedarkan oandangannya ke sekeliling, merasa ada sesuatu yang kurang dalam penyambutan dirinya saat pulang ke rumah.
"Sayang mana Evelyn?" tanya tuan Horisson.
Nyonya Grace mengalihkan pertanyaan suaminya itu dengan memberikan pijatan lembut dikedua bahu. "Sayanh bagaimana dengan pekerjaanmu di London?" tanyanya.
"Pekerjaanku lancar, mana ibu Angel. Tidak biasanya mereka diam jika aku pulang ke rumah, apalagi sudah dua minggu ini aku tidak mendengar kabar mereka," ucap tuan Horisson kembali.
Nyonya Grace mencebik. "Kenapa kau peduli sekali dengan mereka? Apa yang mereka berikan untukmu? Ingatlah ini sayang, mereka hanyalah seorang pembantu. Tidak baik jika keluarga kita terlalu memanjakan mereka," jawabnya.
Tuan Horisson menghela nafas panjang, entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman. Apalagi kepulangan kali ini ia tidak disambut oleh tawa Evelyn dan juga senyuman ibu Angel.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Senajudifa
lha itu istrimu yg ngusir
2023-03-11
0
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Hwaiting Kk
Ry Benci Pakpol mampir
2023-02-20
1
Mommy Ghina
akhirnya pulang juga Tuan Harrison, tuh istrinya yang mengusir Evelyn
2023-01-26
0